Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Mengira Itu Kamu

Aku Mengira Itu Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:121
Nilai: 5
Nama Author: Ri7

"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa yang Dia Pikirkan Tentangku

“Poin terakhir adalah tikrar. Mengulang-ulang bacaan.”

Aku menarik napas sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan.

“Memang, setiap orang diberi kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang cukup mengulang lima kali, langsung hafal. Ada juga yang harus mengulang sepuluh, dua puluh, bahkan lima puluh kali baru bisa benar-benar melekat.”

Aku tersenyum tipis.

“Dan tidak apa-apa. Jangan pernah merasa rendah hanya karena hafalan kita lebih lambat daripada orang lain. Jangan merasa gagal hanya karena orang lain sudah sampai jauh sementara kita masih harus mengulang ayat yang sama.”

Aku terdiam sebentar.

“Karena yang Allah lihat bukan hanya seberapa cepat kita sampai. Tapi seberapa sungguh-sungguh kita berusaha untuk sampai.”

Ruangan mendadak terasa lebih hening.

“Bisa jadi, bagi seseorang menghafal satu halaman hanya membutuhkan waktu sebentar. Tapi bagi orang lain, satu halaman itu membutuhkan perjuangan berhari-hari. Dan boleh jadi, justru di setiap pengulangan yang terasa berat itulah Allah mencatat pahala dari kesabaran dan ikhtiarnya.”

Aku menundukkan pandangan sesaat sebelum kembali berkata,

“Allah tidak pernah mewajibkan kita untuk selesai sampai ujungnya. Allah memerintahkan kita untuk berusaha. Tugas kita adalah terus melangkah, terus mengulang, terus mencoba. Selebihnya, serahkan kepada Allah.”

Aku terdiam beberapa detik. Ada sesuatu dalam kalimat itu yang tiba-tiba terasa begitu dekat dengan diriku sendiri.

“Jadi, jangan bandingkan perjalananmu dengan perjalanan orang lain. Kalau hari ini baru mampu menghafal satu ayat, maka perjuangkan satu ayat itu. Kalau harus mengulang lima puluh kali, ulangilah lima puluh kali. Selama kita masih mau berusaha, berarti kita belum kalah.”

Aku tersenyum kecil.

“Semoga penjelasan saya bisa dipahami. Ada yang ingin ditanyakan?”

Beberapa tangan terangkat. Aku pun menjawab satu per satu pertanyaan yang diajukan. Setelah semua selesai, rapat itu akhirnya ditutup dengan doa.

Namun entah mengapa, kalimat yang baru saja kuucapkan tadi terus terngiang di kepalaku.

Selama kita masih mau berusaha, berarti kita belum kalah.

Mungkin bukan hanya mereka yang perlu mendengarnya.

Mungkin aku juga.

Setelah salat Magrib berjamaah, rapat tersebut akhirnya ditutup dengan makan malam bersama.

Satu per satu para ustadz mulai meninggalkan tempat. Suasana yang sebelumnya cukup ramai perlahan menjadi lebih lengang. Aku masih berdiri di sekitar rumah makan ketika tanpa sengaja pandanganku menangkap sosok Ustadz Muhsin yang berdiri sendirian di depan rumah makan. Tangannya menggenggam telepon genggam, sesekali matanya melihat ke arah jalan seolah sedang menunggu seseorang.

Aku menghampirinya.

“Ustadz, menunggu siapa?” sapaku.

“Menunggu barengan, Ustadz,” jawab beliau santai.

“Kalau begitu bareng saya saja, ustadz," tawarku.

“Istri antum tidak hadir, Ustadz?”

“Iya. Habis lahiran, jadi cuti dulu,” jawab beliau sambil tersenyum kecil.

Belum sempat percakapan kami berlanjut, tiba-tiba terdengar suara memanggil dari arah belakang.

“Ustadz Alam!”

Aku menoleh.

“Labbaikum, Umi,” jawabku.

Beliau adalah salah satu pengurus pondok putri. Kami biasa memanggil beliau dengan sebutan Umi.

“Minta tolong, ya. Antar ustadzah-ustadzah. Bisa? Ditemani Ustadz Muhsin, kan?”

Aku mengangguk.

“Iya, Umi. Insyaallah bisa.”

Tak lama kemudian, tiga ustadzah asrama datang mendekat.

Aku sempat tersenyum biasa.

Sampai akhirnya pandanganku berhenti pada salah satu dari mereka.

Ustadzah Aisyah.

Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa sedikit kikuk.

Padahal sebelumnya aku bisa berbicara dengan siapa saja tanpa banyak berpikir. Namun kali ini berbeda. Aku bahkan mendadak tidak tahu harus meletakkan pandangan ke mana.

Tenang, Alam. Biasa saja.

Aku mencoba mengendalikan diri.

Bagaimanapun juga, kami hanya akan mengantar mereka kembali ke asrama.

Tidak ada yang istimewa.

Setidaknya, itulah yang berusaha kuyakinkan kepada diriku sendiri.

Suasana di dalam mobil cukup lengang. Hanya suara mesin yang terdengar menemani perjalanan. Sesekali Ustadz Muhsin mengajakku berbicara, sementara tiga ustadzah di belakang lebih banyak diam.

Hingga salah seorang ustadzah tiba-tiba nyeletuk,

“Wah, di sini banyak perumahan, ya. Dari perumahan elit sampai yang sederhana.”

“Iya, Ustadzah. Dulu di sini masih banyak tanah kosong. Sekarang sudah berubah jadi perumahan,” jawab Ustadz Muhsin.

Beliau kemudian bertanya,

“Ustadzah mau tinggal di perumahan dekat sini?”

“Pengen, Ustadz. Kalau masih lanjut mengajar di pondok.”

“Itu pun kalau suamimu nanti mau,” sahut ustadzah yang lain.

Ustadz Muhsin tersenyum. Mereka memang belum menikah, sehingga pembicaraan tentang suami sepertinya menjadi bahan candaan yang cukup ringan di antara mereka.

Aku hanya mendengarkan sambil tetap fokus menyetir.

Sampai akhirnya Ustadz Muhsin bertanya,

“Kalau Ustadzah Aisyah?”

Aku sedikit terdiam.

Sejak tadi, Ustadzah Aisyah memang lebih banyak diam. Anehnya, aku justru menyadari keheningannya. Bahkan tanpa sadar, aku penasaran dengan apa yang akan dia jawab.

“Eh, kalau aku...” Ustadzah Aisyah tampak berpikir sejenak.

“Al-jaaru qablad daari.”

Aku mengangkat pandangan melalui kaca spion.

“Yang penting tetangganya dulu sebelum rumahnya,” lanjutnya. “Tergantung lingkungannya, Ustadz. Tidak masalah mau tinggal di perumahan atau tidak. Karena nanti lingkungan itu juga akan berpengaruh kepada anak-anak. Baik buruknya lingkungan pasti sedikit banyak akan membentuk mereka.”

Aku terdiam.

Jawabannya sederhana. Tapi entah kenapa, terasa berbeda.

Ada sesuatu dari cara dia memandang kehidupan yang membuatku terkesan. Dia tidak sedang berbicara tentang rumah yang besar, lingkungan yang mewah, atau kenyamanan semata. Yang dia pikirkan justru tentang lingkungan yang kelak akan membentuk anak-anaknya.

Aku tidak tahu kenapa jawaban sesederhana itu membuatku kembali memperhatikannya.

“Wah, betul sekali, Ustadzah,” kata Ustadz Muhsin. “Kalau begitu cocok dong antum di lingkungan pesantren.”

Beberapa ustadzah tertawa kecil.

Aku hanya tersenyum tipis.

Tanpa sadar, mataku kembali melirik kaca spion.

Ustadzah Aisyah sedang melihat ke arah lain. Wajahnya tetap tenang, seolah percakapan tadi bukan sesuatu yang istimewa.

Aku segera mengalihkan pandangan kembali ke jalan.

Tapi sebuah pertanyaan justru muncul dalam pikiranku.

Apakah dia sama sekali tidak menyadari keberadaanku?

Aku mencoba mengingat kembali pertemuan kami sebelumnya.

Jangan-jangan dia belum membuka CV ta'aruf-ku?

Kalau memang sudah membacanya, mengapa ekspresinya begitu datar?

Tidak ada tanda-tanda gugup. Tidak ada perubahan sikap. Bahkan seolah-olah aku hanyalah orang biasa yang kebetulan sedang mengantar mereka.

Aku melirik kaca spion sekali lagi.

Dia masih terlihat tenang.

Sementara aku justru sibuk menebak-nebak sesuatu yang bahkan belum tentu benar.

Kenapa aku jadi penasaran begini?

Aku menghela napas pelan dan kembali memusatkan perhatian pada jalan.

Mungkin memang lebih baik aku tidak terlalu banyak berpikir.

Namun semakin aku mencoba mengabaikannya, semakin pertanyaan itu justru berputar-putar di kepalaku.

Sudahkah Ustadzah Aisyah membaca CV ta'aruf-ku?

Dan kalau sudah...

sebenarnya apa yang dia pikirkan tentangku?

1
MF015
menarik novelnya 👍
R
Nama yang sama orang yang berbeda😄
Dini
Agak mendayu, bagai riak kecil yang akhirnya menjadi akhir perpisahan bersama teman-temannya.

jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!