⚠️ PERINGATAN
Jika Anda hanya ingin membaca kisah salah satu karakter utama, silakan loncat tujuh bab sejak kemunculan pertama kali dari tujuh tokoh utama.
Contoh Fang Ye 1 > 8 > 15 >... >... >.. dst
Dalam berbagai legenda, Tujuh Kembaran dipercaya sebagai tujuh sosok yang berasal dari satu sumber, tetapi lahir dengan jalan hidup yang berbeda.
Ada yang mengatakan mereka adalah pecahan jiwa. Ada yang menyebut mereka sebagai tujuh kemungkinan dari satu keberadaan. Sebagian bahkan percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar ada.
Namun semua legenda memiliki satu kesamaan:
Tujuh Kembaran bukanlah tujuh orang yang sama. Mereka adalah tujuh kehidupan yang memilih menjadi berbeda.
Di tempat yang tidak memiliki nama, seseorang telah hidup terlalu lama. Ia telah melihat kerajaan bangkit dan runtuh, para penguasa menjadi debu, cinta berubah menjadi kebencian, dan kehidupan yang begitu panjang hingga tidak lagi memiliki arti.
Ketika seseorang telah memiliki segala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Gu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARGA DARI SEBUAH KESEMBUHAN [POV FRAGMEN KEDUA: GU MOYUAN]
Denyut itu tidak berhenti sepanjang malam.
Gu Moyuan duduk di depan formula yang masih tergantung di udara, benang cahaya merahnya kini berdenyut dengan ritme yang stabil, seperti jantung yang baru saja belajar cara berdetak. Ia tidak tidur. Ia tidak ingin melewatkan detik saat percobaan ketiga puluh delapan akhirnya menunjukkan apakah dua tahun kerjanya berbuah, atau berakhir seperti tiga puluh tujuh sebelumnya—dengan kegagalan yang, betapapun ia berusaha membiasakan diri, selalu terasa seperti sesuatu yang hilang.
Di tengah ruangan, dalam sangkar kristal yang ia rancang khusus, seekor makhluk berbaring—Rusa Salju Berkilau, salah satu dari mungkin tidak lebih dari dua puluh ekor yang masih tersisa di seluruh Benua II, bulunya memancarkan cahaya pucat yang biasanya hanya terlihat saat purnama penuh.
Ia sudah menghabiskan enam bulan mencarinya. Membujuknya keluar dari persembunyian dengan kesabaran yang jarang ia tunjukkan untuk hal lain, memberinya makan, merawatnya, membangun kepercayaan yang aneh dan rapuh antara alkemis dan makhluk yang sudah lama dianggap punah oleh kebanyakan orang.
Ia tidak suka bagian selanjutnya dari prosesnya.
Tapi tiga puluh tujuh percobaan sebelumnya sudah mengajarkannya sesuatu yang penting: esensi yang dibutuhkan hanya bisa diambil dari makhluk yang hidup dalam kesadaran penuh, dan hanya dalam jumlah sangat kecil, dengan proses yang—jika dilakukan dengan benar—tidak akan membunuhnya.
Jika dilakukan dengan benar.
---
Ia mendekati sangkar kristal, jarum tipis di tangannya, formula yang sudah sempurna melayang di udara di belakangnya, siap menerima esensi terakhir yang dibutuhkan.
Rusa Salju itu menatapnya, mata besarnya tenang, tidak takut—entah karena kepercayaan yang sudah terbangun enam bulan terakhir, atau karena makhluk itu, dengan cara yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan siapa pun, memahami sesuatu yang lebih besar sedang dipertaruhkan.
"Aku janji ini tidak akan sakit lebih dari sengatan lebah," Gu Moyuan berkata pelan, suaranya kehilangan nada bercandanya yang biasa untuk sesaat. "Dan setelah ini, kau akan bebas, aku bersumpah tidak akan mengambil lebih dari yang kubutuhkan."
Ia menusukkan jarum itu dengan presisi yang hanya bisa dimiliki seseorang yang sudah melakukan gerakan yang sama tiga puluh tujuh kali sebelumnya, gagal setiap kali karena satu variabel kecil yang baru ia pahami sepenuhnya minggu lalu: waktu.
Bukan jumlah esensi. Bukan konsentrasinya.
Waktu yang tepat, di detik yang tepat, saat bulan purnama mencapai puncaknya.
Setetes cahaya pucat mengalir dari jarum ke dalam formula yang menunggu.
---
Formula itu menyala.
Bukan ledakan seperti tiga puluh tujuh kegagalan sebelumnya—kali ini, cahaya merah dan cahaya pucat berpilin bersama, menyatu, membentuk sesuatu yang perlahan mengeras menjadi wujud fisik: sebuah pil kecil, berwarna keperakan dengan urat-urat merah tipis di permukaannya, mengambang di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya jatuh pelan ke telapak tangan Gu Moyuan yang terulur menunggu.
Ia menatapnya lama.
Dua tahun. Tiga puluh delapan percobaan. Enam bulan membangun kepercayaan dengan makhluk yang mungkin adalah salah satu yang terakhir dari jenisnya.
Dan di telapak tangannya sekarang: sebuah pil yang, jika teorinya benar, bisa menghentikan penyakit yang selama ini menghapus ingatan seseorang sampai mereka lupa nama anak mereka sendiri.
Ia tertawa—tawa yang bergetar aneh, campuran kelegaan dan sesuatu yang lebih rumit yang tidak biasa ia rasakan.
"Kita berhasil," ia berbisik, entah kepada dirinya sendiri, entah kepada Rusa Salju yang masih berbaring tenang di sangkar kristal, kini dengan bercak kecil di lehernya yang sudah mulai menutup dengan sendirinya. "Kita benar-benar berhasil."
---
Keesokan harinya ia melepaskan Rusa Salju itu, seperti janjinya, menyaksikannya berlari kembali ke hutan dengan langkah yang tidak menunjukkan tanda-tanda lemah sama sekali—hanya sengatan lebah, seperti yang ia janjikan, tidak lebih.
Ia seharusnya merasa sepenuhnya puas.
Tapi saat ia kembali ke laboratoriumnya, menatap pil tunggal yang berhasil ia ciptakan, satu pertanyaan mulai mengganggu kepuasannya, tumbuh lebih keras setiap jam yang berlalu.
Satu pil membutuhkan satu Rusa Salju Berkilau, satu esensi, satu proses selama bulan purnama.
Ada—menurut catatan terakhir yang ia kumpulkan dari pemburu dan pedagang di seluruh Benua II—kemungkinan tersisa antara lima belas hingga dua puluh ekor Rusa Salju Berkilau di seluruh dunia.
Dan penyakit yang bisa disembuhkan pil ini, menurut perkiraan paling konservatif yang pernah ia dengar dari tabib-tabib yang ia kenal, menjangkiti setidaknya tiga ribu orang di seluruh benua, dengan jumlah yang terus bertambah setiap tahun.
Tiga ribu orang.
Lima belas hingga dua puluh rusa.
---
Gu Moyuan duduk di kursinya, pil itu masih di telapak tangannya, dan untuk pertama kalinya sejak ia mulai proyek ini dua tahun lalu, ia merasakan sesuatu yang jarang sekali ia biarkan dirinya sendiri rasakan sepenuhnya.
Kebuntuan.
Ia bisa menyembuhkan satu orang sekarang juga—orang pertama yang membutuhkannya, siapa pun yang paling mendesak kasusnya. Tapi metode ini, dalam bentuknya sekarang, tidak bisa diskalakan. Tidak tanpa memburu spesies yang sudah nyaris punah hingga benar-benar hilang selamanya, demi menyembuhkan sebagian kecil dari mereka yang membutuhkan.
Ia bisa membiarkan resep ini mati bersamanya, menyembuhkan satu-dua orang secara diam-diam, tanpa pernah mengungkap caranya kepada dunia, demi melindungi rusa-rusa yang tersisa.
Atau ia bisa mencari cara lain—metode alternatif, bahan pengganti, sesuatu yang tidak bergantung pada makhluk yang begitu langka—meski itu berarti kembali ke titik awal, entah berapa tahun lagi, sementara tiga ribu orang terus kehilangan ingatan mereka satu per satu.
"Kalau hasilnya menyelamatkan seribu orang," ia sudah bertanya pada dirinya sendiri malam sebelumnya, "apakah cara yang mengerikan ini masih salah?"
Ia baru sadar sekarang bahwa pertanyaan itu terlalu sederhana.
Pertanyaan yang sebenarnya jauh lebih rumit: apa yang terjadi ketika menyelamatkan yang banyak berarti menghancurkan yang sedikit sampai habis—dan yang sedikit itu tidak pernah diberi pilihan untuk menyetujuinya?
---
Ia menghabiskan tiga hari berikutnya mengurung diri di laboratorium, tidak menerima pelanggan, tidak membuka kios "SOLUSI"-nya, hanya duduk mengelilingi tumpukan catatan lama, mencoba mencari alternatif yang mungkin sudah ia lewatkan.
Pada hari ketiga, seseorang mengetuk pintu belakang laboratoriumnya—pintu yang hanya diketahui segelintir orang yang pernah benar-benar ia percaya.
Seorang wanita tua, bungkuk, wajahnya penuh kerutan yang menceritakan lebih banyak penderitaan daripada usia semata, berdiri di ambang pintu.
"Kudengar dari seseorang di pasar," katanya, suaranya gemetar, "bahwa ada alkemis di kota ini yang sedang membuat obat untuk penyakit lupa. Cucuku... cucuku sudah lupa namaku sendiri minggu lalu."
Gu Moyuan menatapnya lama.
Ia belum punya jawaban untuk dilema besar yang menghantuinya. Ia tidak tahu bagaimana menyembuhkan tiga ribu orang tanpa menghabisi spesies yang tersisa.
Tapi di depannya sekarang bukan tiga ribu orang abstrak dalam catatan tabib.
Hanya satu wanita tua, dan satu cucu yang sudah lupa nama neneknya sendiri.
---
"Aku punya satu pil," Gu Moyuan akhirnya berkata, suaranya lebih pelan daripada biasanya, kehilangan seluruh nada teatrikalnya yang biasa mewarnai setiap percakapannya dengan pelanggan. "Hanya satu. Dan aku tidak tahu kapan aku bisa membuat yang berikutnya, atau apakah aku bahkan seharusnya membuat yang berikutnya."
"Aku tidak mengerti."
"Kau tidak perlu mengerti," ia berkata, mengambil pil itu dari kotak kecil di mejanya, menatapnya sekali lagi sebelum menyerahkannya ke tangan wanita tua itu yang gemetar menerimanya seolah menerima seluruh dunia dalam butiran sekecil itu. "Bawa cucumu kemari besok pagi. Aku akan memberikannya sendiri, memastikan dosisnya benar."
Wanita itu menangis, membungkuk berkali-kali, mengucapkan terima kasih yang tidak sanggup ia rangkai jadi kalimat utuh.
Setelah wanita itu pergi, Gu Moyuan duduk sendirian lagi, menatap tangannya yang kosong sekarang, satu-satunya hasil dari dua tahun kerja dan pengorbanan seekor makhluk langka baru saja diberikan kepada satu keluarga, meninggalkan ribuan lainnya yang masih menunggu jawaban yang belum ia temukan.
---
"Aku belum menyelesaikan apa pun," gumamnya kepada laboratorium kosong, malam itu. "Aku hanya menunda pertanyaannya satu keluarga lebih lama."
Ia tahu ia harus mencari alternatif sekarang—bukan lagi karena penasaran ilmiah, tapi karena ia baru saja melihat, dalam mata wanita tua itu, seberapa nyata taruhannya bagi orang-orang yang bahkan tidak tahu namanya.
Sebelum tidur malam itu, sambil mencatat rencana penelitian barunya di buku catatan yang sudah setengah penuh, ia berhenti sejenak, pena masih di tangannya, merasakan sesuatu yang samar—bukan gema kalimat seperti beberapa minggu lalu, hanya kesan singkat bahwa seseorang, entah di mana, sedang memikirkan pertanyaan yang sama persis dengannya: bagaimana menyeimbangkan kebaikan bagi yang banyak dengan harga yang harus dibayar oleh yang sedikit.
Ia tidak tahu siapa itu.
Tapi entah kenapa, mengetahui bahwa ia tidak sendirian memikirkan pertanyaan serumit ini terasa sedikit lebih ringan daripada semalam sebelumnya.
Ia menutup buku catatannya, meniup lilin, dan untuk pertama kalinya dalam tiga hari, tidur tanpa mimpi yang mengganggu—hanya kegelapan yang tenang, menyimpan pertanyaan itu untuk dihadapi lagi esok pagi.