Indonesia
NovelToon NovelToon
Dulu Pemulung Kini Raja Dua Dunia

Dulu Pemulung Kini Raja Dua Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Raka menatap sekeliling alun-alun desa yang kini dipenuhi senyum lega dari para warga.

Pasukan kerajaan sudah mundur ketakutan dan tembok beton berdiri kokoh sebagai pelindung mutlak.

"Aku harus kembali ke duniaku sekarang Karta, ada urusan bisnis yang harus aku selesaikan," pamit Raka santai.

"Baik Tuan Dewa Raka, hamba dan seluruh warga akan menjaga desa ini dengan nyawa kami," jawab Karta membungkuk sangat rendah.

Lin maju selangkah dan menyerahkan sebuah bungkusan daun pisang berisi daging rusa panggang.

"Ini untuk bekal Tuan Dewa di perjalanan, semoga dewa selalu dilindungi langit," ucap Lin tersenyum malu-malu.

Raka menerima bungkusan hangat itu dan mengangguk pelan sebagai tanda terima kasih.

Ia berjalan menuju sudut sepi di dekat gerbang desa lalu menggenggam gagang pintu naga di sakunya.

"Buka gerbang dunia," batin Raka memberi perintah.

Sring.

Celah cahaya keemasan terbuka lebar dan Raka langsung melangkah menembus batas dimensi tersebut.

Wush.

Suasana tenang desa kuno langsung digantikan oleh udara pengap dan berdebu di dalam gudang industrinya di Jakarta.

Raka berjalan menuju mobil Range Rover putihnya dan melempar bungkusan daging itu ke kursi penumpang.

Brummm.

Suara mesin mobil menderu saat Raka memacu kendaraannya keluar dari kawasan gudang menuju pusat kota.

Tujuannya pagi ini adalah gedung Grup Farmasi Bintang untuk menemui Sasa dan menagih hasil lelang mereka.

Jalanan ibu kota cukup padat tapi Raka menyetir dengan sangat santai sambil mendengarkan musik dari radio.

Satu jam kemudian mobil putih besar itu sudah terparkir rapi di area parkir khusus direksi gedung Farmasi Bintang.

Raka melangkah masuk ke lobi dan kali ini tidak ada satupun satpam yang berani mencegatnya.

Mereka semua sudah tahu kalau pemuda berjaket kulit ini adalah tamu VIP yang paling ditakuti oleh bos mereka.

Ting.

Pintu lift terbuka di lantai teratas dan Raka langsung melangkah menuju ruang kerja pribadi Sasa.

Ceklek.

Raka membuka pintu tanpa mengetuk dan melihat Sasa sedang duduk santai menikmati secangkir teh kamomil.

"Pagi bos cantik, wajahmu cerah sekali hari ini seperti orang yang baru menang lotere," sapa Raka duduk di sofa seberang Sasa.

Sasa meletakkan cangkir tehnya lalu tersenyum sangat lebar memancarkan aura kemenangan.

"Tentu saja aku senang Raka, uang dari panitia lelang sudah masuk ke rekening perusahaanku pagi ini."

Sasa mengambil sebuah tablet dari mejanya dan menekan beberapa tombol di layar tersebut.

"Aku baru saja mentransfer bagianmu ke rekening pribadimu, silakan dicek sendiri."

Ting.

Ponsel Raka berbunyi nyaring menerima notifikasi pesan singkat dari layanan perbankannya.

Raka membuka ponselnya dan matanya langsung terbelalak melihat deretan angka nol yang sangat panjang di layarnya.

Tiga puluh miliar rupiah bersih sudah mendarat dengan selamat di rekening tabungannya.

"Gila, potongannya ternyata tidak sebesar yang aku kira," gumam Raka mengusap layar ponselnya tidak percaya.

"Panitia lelang memberikan diskon pajak karena aku adalah klien VIP mereka selama bertahun-tahun."

Sasa menyilangkan kakinya dan menatap Raka dengan pandangan bangga.

"Sekarang kau resmi menjadi salah satu pemuda paling kaya di kota ini Raka Mahesa."

"Terima kasih bos, kerja sama kita memang selalu membawa hoki yang luar biasa," puji Raka mengangkat jempolnya.

Brak.

Pintu ruang kerja Sasa tiba-tiba dibuka dengan sangat kasar dari luar membuat mereka berdua terkejut.

Bima melangkah masuk dengan nafas terengah-engah dan wajah datarnya kini berubah menjadi sangat tegang.

"Maaf mengganggu Nona Sasa, ada masalah darurat yang sangat mendesak," lapor Bima cepat.

"Masalah apa Bima? Jangan bilang Kevin berulah lagi," tebak Sasa dengan dahi berkerut keras.

"Benar Nona, sekelompok preman bayaran sedang menghancurkan toko-toko pemasok herbal kita di pasar Glodok."

Mendengar nama pasar Glodok disebut, mata Raka langsung menyipit tajam.

"Mereka memukuli para pedagang dan melarang mereka mengirim pasokan herbal biasa ke pabrik kita Nona," tambah Bima serius.

Sasa menggebrak meja kerjanya dengan keras karena emosinya langsung memuncak.

Brak.

"Kevin keparat! Dia sengaja memutus rantai pasokan bahan baku obat biasa kita karena tidak bisa mendapatkan ginsengnya!" maki Sasa marah.

Pasar Glodok memang pemasok utama untuk bahan-bahan obat herbal standar yang diproduksi secara massal oleh pabrik Sasa.

Kalau pasokan dari sana terhenti, pabrik Sasa bisa lumpuh produksi dalam waktu beberapa hari saja.

"Siapkan tim keamanan kita Bima, kita akan ke sana dan mengusir preman-preman itu sekarang juga," perintah Sasa berdiri dari kursinya.

"Tunggu dulu Nona Sasa, Anda duduk manis saja di sini minum teh," potong Raka ikut berdiri.

Sasa menoleh ke arah Raka dengan pandangan tidak setuju.

"Ini urusan perusahaanku Raka, aku tidak bisa diam saja melihat rekan kerjaku dipukuli di jalanan."

"Pasar Glodok itu tempat main saya dulu bos, saya kenal betul bagaimana cara menghadapi kecoa-kecoa pasar di sana."

Raka merapikan kerah jaket kulitnya dan menatap Sasa dengan pandangan yang sangat meyakinkan.

"Kalau Anda bawa pasukan keamanan resmi, urusannya akan panjang sampai ke polisi dan media."

"Biar saya yang turun tangan sendirian ke sana untuk membereskan tikus-tikus suruhan Kevin itu."

Sasa terdiam sejenak mencerna logika jalanan yang diucapkan Raka barusan.

Urusan preman memang paling cepat diselesaikan dengan cara preman juga tanpa melibatkan hukum formal.

"Baiklah Raka, tapi kau harus bawa alat komunikasi ini agar aku bisa memantau kondisimu dari sini."

Sasa menyerahkan sebuah earpiece kecil berwarna hitam pada Raka.

"Siap bos, saya pergi dulu mencari keringat pagi ini," jawab Raka memasang alat itu di telinganya.

Raka berjalan cepat meninggalkan ruang kerja Sasa dan langsung turun kembali ke tempat parkir.

Ia melajukan mobil Range Rovernya membelah kemacetan ibu kota menuju kawasan pasar herbal Glodok.

Brummm.

Jalanan di sekitar pasar Glodok ternyata sudah sangat kacau dan macet total.

Banyak pembeli yang berlarian panik keluar dari area pasar karena ketakutan.

Raka memarkirkan mobilnya secara sembarangan di pinggir jalan dan langsung melompat turun.

Prang. Brak.

Suara kaca pecah dan kayu patah terdengar sangat nyaring dari arah deretan toko herbal utama.

Raka berjalan santai memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket sambil mengamati situasi.

Di depan toko herbal paling besar, puluhan preman berwajah beringas sedang menghancurkan barang dagangan.

"Hancurkan semuanya! Jangan sisakan satu akar pun untuk pabrik Bintang!" teriak seorang pria berbadan kekar yang memimpin aksi itu.

Raka langsung mengenali wajah pria kekar yang memiliki bekas luka codet memanjang di pipi kanannya itu.

Pria itu adalah Bang Codet, preman penguasa wilayah yang dulu sering menendang dan merampas hasil pulungan Raka.

Di bawah kaki Bang Codet, Koh Ahong si pemilik toko sedang meringkuk ketakutan dengan wajah memar.

"Ampun Bang Codet, saya ini cuma pedagang kecil yang cari makan," tangis Koh Ahong memohon belas kasihan.

"Banyak bacot lu sipit! Bos gue udah beli wilayah ini, jadi lu semua harus tunduk sama aturan Naga Mas!" bentak Codet mengangkat tongkat bisbolnya.

Bang Codet bersiap mengayunkan tongkat besi itu ke arah kepala Koh Ahong yang sudah pasrah.

Syut. Bugh.

Sebuah batu sebesar kepalan tangan melayang deras dari arah belakang dan menghantam tepat di belakang kepala Bang Codet.

"Aduh anjing! Siapa yang berani lempar batu ke kepala gue!" teriak Codet berbalik badan sambil memegangi kepalanya yang berdarah.

Semua preman di sana langsung menghentikan aktivitas perusakan mereka dan menoleh ke arah jalanan.

Raka berdiri di sana dengan senyum mengejek yang sangat lebar.

"Sejak kapan kecoa got seperti kalian naik pangkat jadi babu naga?" sapa Raka dengan suara keras.

Koh Ahong yang masih meringkuk di tanah membelalakkan matanya mengenali wajah pemuda itu.

Itu adalah Raka si gembel gila yang tempo hari menjual ginseng bernilai miliaran di depan tokonya.

1
Rizky Fadillah
kan benar td baru aja aku cek di melolo judulnya pengemis dua dunia kalo ga salah
Rizky Fadillah: namanya juga sama raka tp beda nya di melolo raka wijaya
total 1 replies
Astiana 💕
🤣🤣Astaga, aku ngakak di bagian ini
kiyoe: hehehe 🙏👍
total 1 replies
Was pray
gak punya harta hidup sengsara karena sulit untuk makan, setelah kaya hidupnya gak semakin nyaman tapi semakin runyam, kamu terlalu mengumbar kekayaannya didepan publik Raka apa gunanya punya harta banyak tapi hidup selalu was was ? langkah awalmu di pelelangan gingseng dengan memunculkan identitas sebagai pemilik gingseng adalah kesalahan besar mu, sehingga kamu jadi incaran para mafia konglomerat,sifat Sik pamer adalah bumerang
Was pray
kuat dan pintar itu syarat utama sukses Raka. kaya aja gak cukup, otot dan otak bersinergi akan menghasilkan manusia tangguh
Was pray
satu keteledoran Raka lagi, membawa karung gingseng di depan publik
Was pray
aku kasih like kalau Raka udah cerdas gak blo'on lagi
Was pray
makanya belajar cerdas Raka, jangan miskin ganda , miskin harta dan miskin ilmu. harta mu akan musnah sia2 kalau kamu terlalu polos, kamu jadi ATM berjalan bagi orang yg rakus seperti sasa
Was pray
menang goblog si Raka ini, ngapain seratus gingseng langsung dikeluarkan bersamaan!? kalau langsung banyak ya kamu gak bisa main harga.... ah dasar jiwa miskin ya tetap miskin.... otaknya juga miskin
Was pray
kamu dibodohi dan diperalat Sasa gak nyadar kah Raka? berpikir mu terlalu pendek
Was pray
sasa lebih kejam dari preman pasar, dada mafia kelas kakap yg berkedok pengusaha kalau raka tetap polos tentang dunia mafia ya bisa mati jadi rempeyek...
Rifqy Channel
kok aku makin gak suka ya sama sasa itu selalu saja dipantau terus mana lagi disogok tuh 😒😒😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!