Theo adalah seorang laki laki yang baru saja menikah dengan perempuan bernama Tiara. keduanya adalah pasangan yang bahagia yang tinggal cukup sederhana di Kota. namun ketenangan mereka berubah ketika Thao mendapatkan warisan rumah dan tinggal di rumah tersebut.
keanehan demi keanehan ia alami selama tinggal di rumah tua yang memang sudah terkenal angker sejak lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iephe Tyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Pandangan Theo terkunci pada rimbunan daun pohon kelengkeng tua di sudut halaman. Di tengah temaram lampu halaman, detik demi detik berlalu hingga napasnya tertahan seketika.
Di antara gelapnya sela-sela dahan yang merunduk, Theo melihat ada sepasang titik cahaya merah menyala tajam, menatapnya lurus dari atas sana.
Seketika itu juga, bayangan malam horor bertahun-tahun lalu kembali menghantam kepalanya. Sosok tinggi besar berbulu lebat dengan seringai mengerikan berkelebat jelas di ingatan. Rasa takut yang sempat terkubur mendadak bangkit merayapi tulang belakangnya. Tidak ingin berlama-lama terjebak dalam teror masa lalu, Theo langsung memalingkan wajah, berdiri dengan tergesa, dan melangkah cepat meninggalkan teras. Ia masuk ke dalam rumah, mengunci pintu belakang, dan berjalan buru-buru menuju kamar tidurnya di lantai atas.
Joko dan beberapa warga yang berada di halaman depan garasi pun terheran melihat Theo yang tiba tiba beranjak dan bergegas masuk ke dalam rumah dengan tergesa gesa.
"Kenapa Mas Theo ? Kok aneh gitu Jok." ucap Arya saat melihat Theo pergi.
"capek kali ya, udah biarin aja... namanya juga masih berduka. Yok bikin kopi ah, ngantuk ini." ucap Joko mencoba mengalihkan pembicaraan.
.
.
.
Di dalam kamar, suasana terasa jauh lebih hangat. Tiara , istri Theo tengah duduk bersandar di headbed tempat tidur, jemarinya lincah menggulir layar ponsel di genggamannya. Mendengar pintu kamar terbuka dan melihat napas suaminya yang sedikit terengah-engah, Tiara menghentikan aktivitasnya. Ia meletakkan ponsel di nakas, lalu menatap Theo dengan kening berkerut heran.
"Sayang? Kamu dari mana, kok mukanya pucat begitu? Ada apa di luar?" tanya Tiara lembut, suaranya sarat akan kekhawatiran.
Theo menutup pintu kamar rapat-rapat, mencoba menormalkan debaran jantungnya sebelum melangkah mendekati ranjang. Ia menggeleng pelan, berusaha memasang senenang setenang mungkin agar istrinya tidak ikut merasa cemas.
"Ah, nggak apa-apa kok, Sayang. Cuma angin malam di luar tadi lumayan dingin, bikin badan agak meriang dikit," elak Theo, memilih menyembunyikan penampakan mengerikan yang baru saja ia lihat di pohon kelengkeng.
Tiara menyipitkan matanya, jelas tidak langsung percaya. Ia bergeser duduk, menepuk ruang kosong di sampingnya, lalu meraih tangan Theo yang terasa dingin.
"Bohong. Wajah kamu pucat pasi begini, Sayang. Kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu, cerita sama aku. Jangan dipendam sendiri, ya? Kita kan sudah janji buat selalu hadapi apa pun bersama-sama, ingat?" bujuk Tiara tulus, menatap lekat ke dalam mata suaminya.
Theo menghela napas panjang. Kehangatan dari genggaman tangan Tiara sedikit banyak berhasil meredakan gemetar di tubuhnya. Ia naik ke tempat tidur, lalu duduk bersandar di samping sang istri dan merangkul bahunya dengan penuh kasih.
"Aku cuma... lagi mikirin pesan mendiang Kakung semalam, Sayang. Dan rasanya masih agak berat buat nerima kenyataan kalau beliau benar-benar sudah nggak ada," ujar Theo, memilih alasan yang mendekati kebenaran tanpa harus membuat Tiara ketakutan.
Tiara menyandarkan kepalanya di dada Theo, mendengarkan debaran jantung suaminya yang perlahan mulai melambat. Tangan halusnya mengusap lembut lengan Theo.
"Aku tahu ini berat banget buat kamu Sayang. Tapi, percaya sama aku, kamu nggak sendirian. Aku bakal selalu ada di sini, nemenin kamu di suka maupun duka, persis seperti janji kita dan pesan terakhir Kakung," ucap Tiara lembut, suaranya menenangkan jiwa Theo yang sempat kacau.
Theo mengecup puncak kepala istrinya penuh rasa syukur. Kehadiran Tiara malam ini adalah jangkar yang menahannya agar tidak hanyut kembali dalam ketakutan masa lalu di rumah penuh misteri itu.
Meskipun kehangatan Tiara berhasil meredakan debaran di dadanya, sisa-sisa kecemasan masih menggelayut di benak Theo. Ada rasa takut yang teramat sangat untuk menceritakan penampakan sepasang mata merah di pohon kelengkeng atau kengerian masa lalunya dengan makhluk berbulu hitam itu. Theo tidak ingin istrinya merasa ketakutan atau hidup dalam bayang-bayang teror rumah tua ini.
Namun di sisi lain, ia juga tidak bisa mengabaikan wasiat mutlak sang kakek dan pembicaraannya dengan sang ayah di teras tadi.
Dengan helaan napas berat, Theo merenggangkan pelukannya sejenak untuk menatap langsung ke kedua mata istrinya. jemarinya menggenggam jemari Tiara dengan lembut.
"Sayang..." suara Theo terdengar parau dan penuh keraguan. "Ada hal penting lain yang tadi sempat aku bahas sama Ayah di luar."
Tiara merespons dengan tatapan penuh perhatian. Ia merapikan duduknya, bersiap mendengarkan. "Tentang apa, Sayang? Cerita aja, aku dengerin."
Theo menelan ludah, mencoba merangkai kata-kata yang tepat. "Tadi Ayah menegaskan kembali soal wasiat Kakung... Bahwa rumah ini, beserta peternakan di ujung desa, diamanatkan sepenuhnya untuk aku jaga. Ayah dan keluarga besar sudah sepakat menyerahkan semuanya ke aku. Tapi... aku sempat nolak, karena aku mikirin kamu, Tiara. Pekerjaan kita di Jakarta, kehidupan kita..."
Kalimat Theo menggantung. Ia menunduk, merasa tidak enak hati harus menyeret istrinya ke dalam lingkaran tanggung jawab yang begitu besar dan penuh misteri ini.
Namun, di luar dugaan Theo, Tiara justru tersenyum tipis. Tangan halusnya terangkat, menangkup pipi Theo dan mendongakkan wajah suaminya agar kembali menatapnya.
"Sayang, dengar aku ya," ucap Tiara dengan nada suara yang begitu tulus dan menenangkan. "Kalau memang itu amanah dan wasiat terakhir dari Kakung, kita harus hargai. Soal pekerjaan di Jakarta, kita bisa urus nanti perlahan-lahan. Aku ini istrimu, ke mana pun kamu melangkah, tugas aku adalah mendampingi kamu. Kalau kamu harus tinggal di desa ini untuk menjaga rumah peninggalan Kakung dan merawat Uti Sri, aku ikhlas, Sayang. Apapun keputusan kamu, aku pasti dukung."
Mendengar ketulusan yang luar biasa dari sang istri, dada Theo mendadak terasa sesak oleh keharuan yang membuncah. Ia sama sekali tidak salah memilih pendamping hidup. Tiara bukan hanya sekadar istri yang penurut dan baik, tetapi juga tempatnya berlabuh dan berlindung di saat-saat paling berat dalam hidupnya.
Theo kembali merengkuh tubuh Tiara ke dalam pelukannya, mendekapnya erat-erat seolah menyalurkan seluruh rasa terima kasih dan cintanya.
"Terima kasih, Sayang... Terima kasih karena selalu ada buat aku," bisik Theo penuh kelegaan di keheningan malam kamar warisan tersebut.
.
.
.
Suara lantunan azan Subuh berkumandang merdu dari surau desa, membelah keheningan pagi yang masih diselimuti embun tebal. Di dalam kamar berarsitektur klasik itu, Theo membuka matanya perlahan. Di sampingnya, Tiara—yang terbiasa terbangun oleh deru kendaraan dan bisingnya ibu kota—tampak mengerjap pelan, menyesuaikan diri dengan suasana pagi pedesaan yang begitu tenang.
Perlahan Tiara mulai beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan perlahan menuju ke jendela dan membuka sedikit jendela kamarnya. Setelah jendela dibuka sedikit, Udara subuh yang sejuk menusuk kulit, berpadu dengan suara jangkrik, kokokan ayam jantan, dan desau angin pagi yang menembus celah kecil jendela berteralis besi tersebut. Bagi Tiara, yang sepanjang hidupnya tumbuh di Jakarta, suasana sakral dan asri ini adalah pengalaman yang sepenuhnya baru. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Selepas menunaikan salat Subuh berjemaah di kamar, Theo segera bersiap. Sesuai dengan tradisi yang mengakar kuat di desa tersebut, keluarga dan warga bersepakat untuk rutin mengunjungi makam dan mendoakan almarhum selama tujuh hari berturut-turut sejak hari pertama kematian. sementara Tiara di ajak oleh Bu Ani untuk membantu menyiapkan masakan di dapur umum dadakan yang di buat di garasi samping rumah.
Ditemani sang ayah dan beberapa anggota keluarga, Theo dan Pak Wibowo berjalan kaki menyusuri jalan setapak menuju pemakaman umum desa. Setibanya di pusara Pak Harto yang masih tertutup taburan bunga segar, mereka memanjatkan doa dengan khusyuk. Doa-doa tulus terlantun demi ketenangan sang kakek tercinta yang telah berpulang.
Sementara di rumah duka, suasana di halaman belakang rumah warisan sudah sangat hidup dan ramai. Para ibu-ibu tetangga berbondong-bondong datang sejak pagi, untuk membantu keluarga Bu Sri menyiapkan sedekah makan bersama—sebuah tradisi gotong royong untuk menghormati arwah almarhum sekaligus menjamu para pelayat yang ikut berziarah di pagi itu.
Asap tipis mengepul dari dapur kayu di belakang rumah. Gelak tawa kecil dan percakapan hangat terdengar bersahut-sahutan di antara para ibu yang sibuk memotong sayur dan mengaduk masakan di dalam kuali besar.
"Almarhum Pak Harto itu benar-benar orang baik ya, Bu," ujar Mbok Darmi sambil terus mengupas bawang merah. "Dulu waktu suami saya sakit keras, beliau sendiri yang datang bawa bantuan ke rumah tanpa diminta."
Bu Ani—ibu Theo—yang sedang merapikan piring di dekat sana tersenyum getir, namun matanya berbinar haru mendengar kenangan itu. "Bapak memang selalu begitu, Mbok. Selalu lebih memikirkan warga dibanding dirinya sendiri."
"Makanya tidak heran kalau warga antusias sekali datang membantu seperti ini. Rasa terima kasih kami tidak akan pernah cukup untuk keluarga Pak Harto," timpal Bu Siti mengangguk setuju.
Melihat kehangatan dan kekeluargaan yang begitu kental di antara warga desa, Tiara merasa hatinya tersentuh. Di balik misteri dan kengerian yang menyimpan tanda tanya di rumah ini, tersimpan jiwa masyarakat yang begitu tulus, membuat niatnya untuk tinggal dan mendampingi Theo terasa semakin bulat.
.
.
.
Di area pemakaman, bapak bapak yang di pimpin oleh Pak Umar mulai mengambil posisi masing masing dan mulai membacakan segenap doa dan tahlil di depan pusara Pak Harto. Semua tampak khusyuk berdoa termasuk Theo dan Pak Wibowo. Namun ditengah kekhusyukan, tanpa sengaja Theo menoleh dan melihat ....
Tiba-tiba hawanya dingin begitu...
🤨🤨🤨
Kira-kira, suara rintihan dari sosok siapa atau apa yang di denger sama neneknya Theo, ya???
🤨🤨🤨🤨🤨