kisah seorang anak yang bernama Nina yang tinggal di desa dan bertahun-tahun di tinggal ayahnya, kemudian saat beranjak dewasa , ia di ambil kembali dan di paksa menikah untuk menggantikan saudara tirinya dengan laki-laki kejam seperti serigala.
yuk.. ikuti kisahnya... , akankah Nina bisa bertahan hidup di sarang serigala yang isinya manusia kejam berhati iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Kembali dari kantor polisi, suasana rumah mewah itu langsung berubah menjadi neraka. Faris membanting pintu utama hingga suaranya menggelegar ke seluruh penjuru ruangan. Wajahnya merah padam, urat-urat di lehernya menegang menahan amarah yang meledak-ledak.
Uang cadangan di tabungan pribadinya terkuras habis, ratusan juta melayang dalam semalam demi membayar pengacara mahal dan menyuap sana-sini agar Hadin lolos dari pasal pengedar.
"Wanita tidak becus!" bentak Faris sembari menunjuk wajah Anggun yang tersungkur di sofa. "Lihat anak laki-laki kesayanganmu itu! Mau jadi apa dia?! Brengsek! Kamu tidak bisa mendidik anak sampai dia jadi pencandu narkoba dan menghancurkan nama baikku!"
Anggun hanya bisa menangis sesenggukan, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Namun, Hazel yang berdiri di samping ibunya tidak terima. Gadis manja itu melangkah maju dengan mata melotot, menatap Faris penuh kebencian.
"Cukup, Papa! Jangan cuma bisa menyalahkan Mami!" teriak Hazel dengan suara melengking. "Ingat ya, Papa! Kedudukan Papa di rumah ini cuma pekerja!, Papa hanya menumpang hidup disini..., Ingat posisi Papa! Kalau Papa tidak menikah dengan Mama, Papa itu cuma laki-laki miskin!"
PLAKKKK!
Tamparan keras mendarat mulus di pipi mulus Hazel. Tubuh Hazel terpental sedikit ke samping, mencengkeram pipinya yang mendadak panas dan memerah.
"Hei, anak bodoh! Anak tidak berguna yang cuma bisa foya-foya!" sembur Faris dengan napas memburu, matanya seolah hendak melompat keluar. "Asal kamu tahu ya, kalau aku tidak menikahi Anggun, kalian berdua sudah pasti jadi gelandangan di jalanan! Ibumu ini cuma wanita bodoh yang tidak tahu cara menjalankan perusahaan! Kalau bukan aku yang memeras otak dan menyuntikkan dana hasil menjual aset ibu kandung Nina, perusahaan itu sudah dari dulu gulung tikar!"
Kalimat Faris bagaikan sembilu yang merobek dada Anggun. Wanita itu terisak makin histeris, menyadari bahwa pria yang dicintainya dan dibelanya mati-matian belasan tahun lalu ternyata hanya memandangnya sebagai wanita bodoh yang dimanfaatkan hartanya.
"Faris... tega kamu..." rintih Anggun tersedu-sedu di antara tangisnya. "Aku yang membantumu naik... kenapa kamu seperti ini...".
"tetap saja... perusahaan itu kalau tidak ada aku pasti sudah bangkrut..., semua orang di sini bodoh..., tidak berguna..." Semprot Fariz dengan kesal lalu pergi ke ruang kerjanya...
Keluarga terpandang yang dulu tampak begitu harmonis dan kaya raya itu kini pecah berantakan. Teriakan, makian, dan tangisan saling bersahutan di ruang tamu yang megah...
Hazel memeluk mamanya, saling menguatkan.
Sedangkan Anggun menangis tersedu-sedu dengan apa yang menimpanya kini.
Sementara itu, di balik kegelapan koridor lantai atas, Nina berdiri bersandar di balik pilar. Ia memegang segelas air hangat, menikmati setiap detik pertengkaran di bawah sana layaknya menonton drama gratis yang sangat menghibur.
Tak ada riak kesedihan di wajah cantik nya. Hanya ada senyum tipis yang amat dingin dan mematikan. Topeng keharmonisan yang dibangun Faris dan Anggun di atas penderitaan almarhumah ibunya kini hancur berkeping-keping oleh kesombongan mereka sendiri.
“Saling cakarlah sampai kalian habis,” batin Nina sembari menggoyangkan gelas yang berisi air hangat perlahan. “Karena ini baru awal dari kehancuran total kalian.”
____
Di dalam jet pribadi yang membelah kegelapan malam menuju Jakarta, Jafar memajukan tubuhnya. Sepasang mata tajamnya yang dingin berkilat di balik layar monitor. Kamera pengawas rahasia di penthouse dan rumah Faris menyiarkan semuanya dengan jelas,termasuk detik-detik saat Faris menampar Hazel dan membongkar kepalsuan pernikahannya dengan Anggun.
Namun, bukan pertengkaran hebat itu yang menyita perhatian Jafar. Pandangannya terkunci pada sosok Nina yang berdiri tenang di balik pilar lantai dua.
Jafar mengusap dadanya yang berdegup penuh tanda tanya. Ia melihat jelas bagaimana bibir Nina menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kepuasan mendalam, menikmati perpecahan keluarganya sendiri layaknya sebuah pertunjukan drama yang menyenangkan.
"Dako..." panggil Jafar dengan suara berat dan dalam. "Sebenarnya apa yang terjadi dengan gadis desa itu? Kenapa wajahnya terlihat begitu puas menyaksikan keluarganya hancur?"
Dako yang berdiri tegap di samping kursi Jafar menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Asisten pribadi sekaligus kepala pengawal itu merasa pusing sendiri. Tim peretas dan intelijen mereka belum berhasil menembus lapisan masa lalu Nina yang ternyata sengaja disembunyikan dengan sangat rapi oleh Tania dan suaminya.
Karena bingung harus menjawab apa, Dako terpaksa menjawab seadanya berdasarkan kiasan cerita rakyat yang pernah ia dengar saat kecil.
"Emm... Anu, Tuan," ujar Dako ragu-ragu, mencoba merangkai kata. "Sepertinya... kisah kehidupan Non Nina itu mirip cerita Bawang Merah dan Bawang Putih."
Alis tebal Jafar bertaut tajam. "Bawang Merah? Bawang Putih? Apa hubungannya bumbu dapur dengan gadis desa itu?"
Dako menelan ludah, berusaha menjelaskan dengan raut wajah serius. "Itu... cerita rakyat, Tuan. Nina itu ibarat Bawang Putih, anak tiri yang baik hati, selalu disiksa, dan ditindas. Sedangkan Hazel itu Bawang Merah, anak kandung yang manja, jahat, dan suka membully. Nah, biasanya di akhir cerita, Bawang Putih akan dapat balasan manis dan Bawang Merah beserta ibunya yang jahat bakal hancur kena kualat."
Mendengar penjelasan Dako, mata Jafar membelalak tak percaya . Sepasang matanya menatap Dako seolah-olah asistennya itu baru saja kehilangan akal sehat. Seumur hidupnya yang dihabiskan di dunia bisnis internasional, hukum jalanan, dan lembaran saham, Jafar belum pernah mendengar dongeng konyol seperti itu!
"Kamu sedang mendongeng di depanku, Dako?" desis Jafar dengan suara menekan yang membuat hawa di kabin jet mendadak mendingin.
"T-tidak, Tuan! Saya cuma mengumpamakan!" tangkis Dako cepat dengan peluh dingin mulai menetes di pelipisnya. "Maksud saya, Non Nina kemungkinan besar menyimpan dendam masa lalu yang sangat dalam pada keluarga Faris. Mengingat Non Nina baru saja di bawa ke jakarta,dan Fariz mengaku kalau non Nina itu putri kandungnya yang tinggal bertahun-tahun di desa. Makanya beliau sangat puas melihat mereka saling hancur."
Jafar kembali menyandarkan punggungnya ke kursi kulit. Sorot matanya menatap lekat-lekat bayangan Nina di layar monitor. Dongeng konyol Dako justru membuat teka-teki tentang sosok Nina kian membakar rasa penasarannya. Gadis ini bukan sekadar "Bawang Putih yang pasrah, ia adalah serigala berbulu domba yang sedang mencabik musuhnya dari balik bayangan" bisiknya pelan.
"Cari tahu semuanya," perintah Jafar dingin dan mutlak, ketukannya di lengan kursi terdengar sangat berirama. "Kupas tuntas masa lalu Nina di desa, siapa ibunya, siapa pamannya, dan apa hubungan sebenarnya antara Faris dan almarhumah ibu Nina. Jangan ada satu detail pun yang terlewat saat aku mendarat di Jakarta besok."
"Baik, Tuan! Segera saya laksanakan!" tegas Dako sembari membungkuk hormat.
Jafar menyesap minumannya pelan, menyunggingkan senyum misterius di balik masker hitamnya. "Bawang Putih, hm?" batin Jafar penuh intrik. "Kita lihat seberapa tajam taring yang kamu sembunyikan di balik kepolosanmu itu, tawanan ku."
sungguh terlalu kamu Faris
gantung banget cerita nya Thorrrr
next 💪💪🥰🥰