Indonesia
NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN SANG PEWARIS SAKTI

KEBANGKITAN SANG PEWARIS SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Selama tiga tahun, Ye Chen hidup sebagai menantu benalu di keluarga Su. Dia mencuci pakaian, memasak, dan menerima setiap hinaan tanpa melawan demi melindungi istrinya yang dingin namun cantik jelita, Su Yuhan. Semua orang memanggilnya anjing pecundang, tanpa tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah keluarga paling berkuasa di ibu kota.
​Ketika sebuah konspirasi mengancam nyawa istrinya dan mertuanya memaksanya untuk bercerai demi menikahkan Yuhan dengan tuan muda kaya, sebuah liontin giok peninggalan ibunya menyerap darah Ye Chen dan membangkitkan Warisan Tabib Naga Sakti. Di saat yang sama, iring-iringan Rolls-Royce hitam dari ibu kota tiba di depan rumahnya.
​Mulai hari ini, sang naga telah membuka matanya. Mereka yang pernah menghinanya harus berlutut!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Penengah dari Balik Bayangan dan Runtuhnya Ratu Berbisa

​Kehadiran Tetua Agung seolah membekukan waktu di seluruh Kediaman Utama Keluarga Ye.

​Pria tua buta berjubah abu-abu itu tidak memancarkan aura membunuh yang meledak-ledak seperti Empat Raja Iblis. Sebaliknya, auranya begitu tenang, setenang sumur kuno yang tak berdasar. Namun, justru ketenangan itulah yang membuat Ye Chen merasakan bahaya absolut.

​Setiap kali tongkat kayu Tetua Agung itu mengetuk lantai pualam, Ye Chen merasakan gelombang energi tak kasat mata menghantam dadanya, memaksa True Qi di dalam meridiannya melambat secara drastis.

​Master Alam Ilahi Puncak (Peak Divine Realm)... batin Ye Chen, menggertakkan giginya menahan rasa sakit dari luka-lukanya yang kembali terbuka. Bahkan di masa jayaku dengan Warisan Tabib Naga, butuh waktu bertahun-tahun kultivasi untuk mencapai tahap ini. Dengan tubuhku yang sekarang, aku tidak akan bertahan lebih dari tiga serangan.

​Melihat kedatangan sang Pelindung Bayangan, Zhao Xinlan yang tadinya mengesot di lantai ketakutan tiba-tiba menemukan harapan hidup.

​Ia merangkak maju, memeluk kaki Tetua Agung sambil menangis tersedu-sedu. Air mata membasahi wajahnya yang kacau.

​"Tetua Agung! Anda harus menolong saya!" jerit Zhao Xinlan dengan nada paling menyedihkan yang bisa ia buat. "Anak haram ini telah gila! Dia membawa ilmu iblis dari luar, membantai para tamu, dan berniat membunuh saya serta Kakeknya sendiri demi merebut kekuasaan malam ini juga! Tolong eksekusi dia demi nama baik Keluarga Ye!"

​Mendengar fitnah keji itu, Su Yuhan yang berada di dalam kamar yang hancur tak bisa menahan amarahnya. "Kau pembohong besar! Ye Chen yang menyelamatkan Kakek dari racunmu!"

​Namun, sebuah isyarat tangan dari Ye Chen membuat Yuhan terdiam. Ye Chen tidak ingin istrinya menarik perhatian pria tua berbahaya itu.

​Tetua Agung tidak menunduk untuk menatap Zhao Xinlan. Mata yang tertutup rapat itu perlahan "menatap" ke arah Ye Chen. Meski buta, Ye Chen merasa seolah seluruh rahasia di dalam tubuhnya, aliran darahnya, dan luka-lukanya sedang ditelanjangi oleh pandangan spiritual pria tua itu.

​"Anak Muda," suara Tetua Agung menggema tenang. "Aku telah mengawasi klan ini selama seratus tahun. Aku tidak peduli siapa yang duduk di takhta Kepala Keluarga, selama darah klan Ye tetap mengalir. Tapi malam ini, kau menumpahkan lautan darah di dalam kediaman utama. Kau melanggar pantangan leluhur."

​Ye Chen berdiri tegak. Meski kemejanya bersimbah darah dan tubuhnya gemetar menahan batas kelelahan, tulang punggungnya tidak bengkok sedikit pun. Ia mengangkat Plakat Pewaris Utama di tangan kanannya.

​"Aku adalah pewaris sah. Darah yang kutumpahkan malam ini bukanlah darah keluarga, melainkan darah anjing-anjing liar pembawa racun yang menyusup ke rumahku," jawab Ye Chen lugas, suaranya tidak mengandung sedikit pun rasa takut.

​"Kurang ajar! Kau berani membantah Tetua Agung?!" teriak Zhao Xinlan.

​"Diam."

​Satu kata dari Tetua Agung membuat Zhao Xinlan seketika membeku, pita suaranya seolah tercekik oleh energi gaib.

​Tetua Agung perlahan melangkah melewati Zhao Xinlan, berjalan memasuki kamar yang telah hancur berantakan itu. Ia berhenti di depan sisa-sisa mayat Raja Iblis berjubah abu-abu, lalu menggunakan ujung tongkat kayunya untuk menyentuh genangan darah hitam di lantai.

​Sisa-sisa energi dari Gu Pemakan Jiwa masih menguar dari darah tersebut.

​Alis putih Tetua Agung sedikit bertaut. "Ilmu Hitam dari Pegunungan Utara. Racun Gu."

​"Benar," Ye Chen menunjuk ke arah ranjang. "Dan parasit itu bersarang di jantung Kepala Keluarga Ye selama berbulan-bulan, dimasukkan oleh wanita yang sedang memeluk kakimu itu. Jika aku tidak datang malam ini, Kakek tidak akan melihat matahari terbit besok pagi."

​Tetua Agung berjalan mendekati ranjang.

​Di sana, Kakek Ye Tianlong duduk bersandar dibantu oleh Yuhan. Pria tua yang dulu ditakuti sebagai 'Harimau Utara' itu menatap pamannya dengan pandangan penuh kekecewaan.

​"Paman Besar," suara Kakek Ye serak dan lemah. "Apa yang dikatakan Ye Chen adalah kebenaran mutlak. Zhao Xinlan telah mengkhianati klan. Dia menyewa Empat Raja Iblis untuk mengurungku, memalsukan wasiatku, dan berniat menghabisi Ye Chen. Anak ini... cucuku ini, telah mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk menyelamatkanku dari gerbang kematian."

​Mendengar kesaksian langsung dari Kepala Keluarga, kerumunan tamu elit di luar paviliun meledak dalam bisik-bisik keterkejutan. Fitnah Zhao Xinlan hancur berantakan di depan publik!

​Wajah Zhao Xinlan berubah menjadi abu-abu. Ia tahu, di hadapan Tetua Agung, kebohongan tidak ada artinya jika Kepala Keluarga sendiri yang bersuara.

​Tetua Agung menghela napas panjang. Udara malam yang tadinya berat dan mencekam perlahan kembali normal. Ia berbalik, menatap Zhao Xinlan yang kini menggigil hebat.

​"Kau membawa ilmu hitam ke dalam rumah ini. Kau meracuni darah daging leluhur," ucap Tetua Agung. Suaranya tidak bernada marah, namun membawa vonis kematian. "Dosa ini tidak bisa diampuni."

​"T-Tetua Agung! S-Saya melakukan ini demi masa depan keluarga! Ye Tian lebih pantas memimpin—"

​BAM!

​Tetua Agung hanya mengetukkan tongkatnya perlahan ke lantai.

​Namun, Zhao Xinlan menjerit histeris layaknya babi yang disembelih. Sebuah gelombang energi spiritual yang luar biasa brutal menghantam pusaran Dantian di perut wanita itu. Seluruh titik meridian Zhao Xinlan hancur lebur dalam satu detik!

​Wanita angkuh yang selama bertahun-tahun mengandalkan kultivasi tingkat Master untuk menindas orang lain itu, kini lumpuh total, jatuh ke lantai sebagai manusia cacat tanpa setitik pun energi bela diri.

​"P-Pusat energiku... Kultivasiku..." Zhao Xinlan meratap, memuntahkan darah, mencengkeram lantai kayu dengan keputusasaan yang tak terbayangkan. Baginya, kehilangan kekuatan dan kecantikan kultivator jauh lebih menyiksa daripada kematian itu sendiri.

​Tetua Agung menoleh ke arah Ye Chen.

​"Anak Muda, kematian terlalu mudah bagi pengkhianat klan. Biarkan dia hidup dalam kehinaan, dikurung di Penjara Bawah Tanah Es Seumur hidup, meratapi dosa-dosanya tanpa bisa menggerakkan kakinya lagi. Apakah itu cukup untuk menebus kemarahanmu?"

​Ye Chen menatap ibu tirinya yang kini melolong seperti anjing gila. Rasa dendam yang telah ia simpan selama tiga tahun akhirnya terbayar. Mengambil nyawa wanita itu sekarang tidak akan memberinya kepuasan lebih dari melihat wanita itu hancur secara mental dan fisik.

​Terlebih lagi, Ye Chen sangat sadar. Tetua Agung turun tangan bukan hanya untuk menghukum Zhao Xinlan, tetapi juga untuk mencegah Ye Chen mengotori tangannya di depan ratusan tamu, yang bisa merusak legitimasi Ye Chen sebagai calon Kepala Keluarga. Pria tua buta ini sedang melindungi fondasi klan.

​"Itu cukup," jawab Ye Chen, menarik kembali seluruh auranya. "Tapi hak waris Ye Tian harus dicabut permanen, dan dia diusir dari Ibu Kota."

​"Itu adalah urusanmu sebagai Pewaris Utama selanjutnya. Aku tidak ikut campur dalam urusan administrasi," Tetua Agung mengangguk pelan. Ia mengetukkan tongkatnya, berbalik, dan berjalan keluar dari paviliun dengan langkah perlahan.

​Sebelum benar-benar menghilang ke dalam kegelapan, suara pria tua itu terdengar di benak Ye Chen melalui telepati.

​"Tubuhmu menyembunyikan warisan yang mampu mengguncang langit, Ye Chen. Rawat Kakekmu. Ketika kau telah mencapai Alam Ilahi kelak, datanglah ke paviliunku. Ada rahasia leluhur yang harus kuserahkan padamu."

​Begitu Tetua Agung pergi, suasana di paviliun seketika runtuh dalam kekacauan.

​Para pengawal keluarga segera menyeret Zhao Xinlan yang terus meracau gila ke penjara bawah tanah. Para tamu elit Ibu Kota yang tadinya mencemooh Ye Chen, kini berlutut massal di halaman, meneriakkan ucapan selamat ulang tahun kepada Kakek Ye dan menyembah Ye Chen sebagai Tuan Muda Pewaris Sah yang tak terbantahkan.

​Ye Chen menatap kerumunan itu dengan pandangan dingin.

​Dendam masa lalunya telah tuntas. Posisi kakeknya telah aman. Ibu Kota Jingcheng kini berada di bawah pijakan kakinya.

​Namun, seiring dengan surutnya ketegangan dan bahaya, efek samping dari Pembalikan Darah Naga dan luka robek di sekujur tubuhnya akhirnya datang menagih harga.

​Pandangan Ye Chen mendadak kabur. Warna dunia di sekitarnya memudar menjadi abu-abu. Rasa sakit yang melumpuhkan menjalar dari tulang belakangnya, seolah ada ribuan jarum yang ditusukkan ke otaknya.

​Kaki Ye Chen yang kokoh layaknya gunung akhirnya goyah. Ia terhuyung ke depan.

​"Ye Chen!"

​Su Yuhan menjerit panik. Ia berlari dan menangkap tubuh suaminya tepat sebelum Ye Chen membentur lantai. Gaun merah Yuhan kini sepenuhnya ternoda oleh darah Ye Chen.

​Merasakan aroma parfum lembut dan pelukan hangat istrinya, Ye Chen memaksakan senyum tipis di bibirnya yang pucat pasi.

​"Maafkan aku, Yuhan..." bisik Ye Chen dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Sepertinya... malam ini kau yang harus menggendongku pulang..."

​Setelah mengucapkan kalimat itu, mata Ye Chen tertutup rapat.

1
Arinto Ario Triharyanto
yoiii mantep coy 😎
andi widya
mantap karyamu teruskan
Arinto Ario Triharyanto
good muantaffff 👍
sibaweh abduh
sangat bagus sekali ceritanya thor
Arinto Ario Triharyanto
yoooiiiii
Fajar Fathur rizky
bikin yechen bantal ibu tirinya itu beserta anaknya pas tetua agung itu pergi
Arinto Ario Triharyanto
mana updatenya nih
yos helmi
sdh banyak cerita seperti alur ini.. tp semua ng pernah tamat.. cerita ciplakan/saduran.. jd jgn harap tamat
Marthen
dari teknik bela diri penakluk naga apakah ada sutra naga penyerap energi agar kultivadinya naik lagi kan sayang energi musuh yg terbuang....?
Arinto Ario Triharyanto
mantap ini😎
Marthen
banjir darah mewarnai pesta ulangtahun
Arinto Ario Triharyanto
tegas lugas gak pake lama... mantul 😎
Marthen
seru sekaLi.....
Marthen
keren....suka dgn jalan ceritanya.....
Fajar Fathur rizky
cepat bantai Asosiasi bela diri sampai ke akar akarnya
Fajar Fathur rizky
cepat bantai semua musuhnya sampai ke akar akarnya
Fajar Fathur rizky
cepat bantai su zheng bikin dia menyaksikan sendiri pas yechen bantai semua klan su sampai ke akar akarnya bikin su zheng mengutuk putranya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!