⚠️ PERINGATAN
Jika Anda hanya ingin membaca kisah salah satu karakter utama, silakan loncat tujuh bab sejak kemunculan pertama kali dari tujuh tokoh utama.
Contoh Fang Ye 1 > 8 > 15 >... >... >.. dst
Dalam berbagai legenda, Tujuh Kembaran dipercaya sebagai tujuh sosok yang berasal dari satu sumber, tetapi lahir dengan jalan hidup yang berbeda.
Ada yang mengatakan mereka adalah pecahan jiwa. Ada yang menyebut mereka sebagai tujuh kemungkinan dari satu keberadaan. Sebagian bahkan percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar ada.
Namun semua legenda memiliki satu kesamaan:
Tujuh Kembaran bukanlah tujuh orang yang sama. Mereka adalah tujuh kehidupan yang memilih menjadi berbeda.
Di tempat yang tidak memiliki nama, seseorang telah hidup terlalu lama. Ia telah melihat kerajaan bangkit dan runtuh, para penguasa menjadi debu, cinta berubah menjadi kebencian, dan kehidupan yang begitu panjang hingga tidak lagi memiliki arti.
Ketika seseorang telah memiliki segala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Gu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zhuo Xuanchen [FRAGMEN KETIGA: ZHUO XUANCHEN]
Kota Formasi Qiyun tidak punya tembok.
Itu bukan karena kota itu tidak mampu membangunnya. Itu karena penduduknya sudah lama sepakat bahwa tembok hanya berguna untuk menghentikan orang yang tidak cukup pintar untuk masuk lewat cara lain—dan orang seperti itu jarang membawa masalah yang benar-benar berarti.
Zhuo Xuanchen duduk di lantai dua Kedai Teh Tujuh Arah, cangkir di tangan kiri, kipas lipat di tangan kanan yang sesekali ia buka-tutup bukan untuk mengipasi diri, tapi karena ia berpikir lebih jernih saat tangannya sibuk melakukan sesuatu yang tidak penting.
Di bawahnya, di alun-alun kota, tiga puluh pedagang karavan Klan Yun berdiri berhadapan dengan dua puluh anggota Klan Bao, masing-masing memegang senjata yang belum dicabut sepenuhnya—belum, tapi tinggal menunggu satu kata yang salah.
Zhuo Xuanchen menyesap tehnya.
"Menarik," gumamnya, kepada tidak ada siapa-siapa, "melihat dua puluh tahun perselisihan dagang hampir meledak dalam waktu tiga puluh menit hanya karena satu pengiriman rempah yang salah alamat."
Ia sudah tahu apa yang akan terjadi di alun-alun itu sejak tiga hari lalu—bukan karena ia bisa melihat masa depan, tapi karena ia sudah menghabiskan tiga hari mengatur setiap keping papan caturnya sebelum permainan bahkan dimulai.
Klan Yun mengira mereka dicurangi. Klan Bao mengira mereka difitnah. Keduanya benar sebagian, salah sebagian, dan tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa pengiriman rempah yang "salah alamat" itu telah melewati tiga tangan perantara yang, jika ditelusuri cukup jauh, semuanya pernah menerima bayaran dari kios kecil tak bertanda di sudut kota—kios milik seseorang yang tidak pernah muncul dalam catatan resmi mana pun sebagai pemiliknya.
Zhuo Xuanchen tidak melakukan itu karena benci pada salah satu klan.
Ia melakukannya karena Klan Yun dan Klan Bao, selama sepuluh tahun terakhir, secara diam-diam mengontrol delapan puluh persen jalur dagang formasi di Benua III—dan monopoli, dalam pengalamannya, selalu berakhir buruk bagi semua orang kecuali yang memonopoli.
Ia hanya perlu mereka saling curiga cukup lama untuk membuka jalur bagi seratus pedagang kecil lainnya yang selama ini terjebak di luar sistem.
Perang bukan tujuannya.
Perang hanya alat yang, jika digunakan dengan takaran yang tepat, bisa dihentikan tepat sebelum ada yang benar-benar mati—dan berakhir dengan keseimbangan baru yang lebih baik daripada sebelumnya.
Di alun-alun, seorang pemimpin muda Klan Yun—Yun Feiyan, cucu kepala klan, dengan pedang setengah tercabut—berteriak sesuatu tentang kehormatan yang diinjak-injak.
Zhuo Xuanchen sudah menghitung: dalam sebelas detik, seseorang dari pihak Klan Bao akan salah mengartikan gerakan itu sebagai ancaman, dan pedang pertama akan benar-benar tercabut.
Ia membuka kipasnya sekali lagi.
Sebuah formasi—tersembunyi dalam ukiran halus di lantai batu alun-alun, dipasang bukan hari ini atau kemarin, tapi berbulan-bulan lalu, disamarkan sebagai hiasan dekoratif biasa untuk perayaan musim semi yang sudah lama berlalu—mulai bekerja.
Bukan formasi serangan. Bukan formasi pertahanan.
Formasi itu hanya melakukan satu hal sederhana: memperkuat suara.
Tepat saat Yun Feiyan membuka mulut untuk berteriak perintah menyerang, suara seorang anak kecil—entah dari mana, mungkin memang kebetulan, mungkin tidak—terdengar jauh lebih keras daripada seharusnya, memantul di seluruh alun-alun dengan kejernihan yang tidak wajar:
"Kakek, itu pedagang yang memberiku permen kemarin!"
Suara polos seorang anak, diperkuat hingga terdengar oleh semua orang di alun-alun, dalam suasana yang sudah setegang ini, punya efek yang aneh: ia memecah momentum.
Beberapa orang tertawa kecil, canggung. Yun Feiyan berhenti di tengah teriakannya, kehilangan ritme kemarahannya sendiri. Seseorang dari pihak Bao menurunkan senjatanya sedikit, hanya karena semua orang di sekitarnya juga melakukannya.
Sebelas detik yang seharusnya menjadi awal pertumpahan darah berubah menjadi sebelas detik kebingungan kolektif.
Dan dalam kebingungan itu, seorang tetua tua dari kedua klan—yang sejak tadi berdiri di belakang, terlalu tua untuk ikut memegang senjata tapi cukup bijaksana untuk mengenali kesempatan—melangkah maju dan berteriak lebih keras: "Cukup! Turunkan senjata kalian!"
Momentum sudah berbalik. Perang batal terjadi hari itu, bukan karena seseorang menang argumen, tapi karena seseorang, di suatu tempat yang tidak akan pernah mereka ketahui, telah menyusun panggungnya sedemikian rupa hingga kemarahan mereka kehilangan tempat berpijak tepat pada detik yang dibutuhkan.
Zhuo Xuanchen menutup kipasnya dan menyandarkan punggung ke kursi, puas seperti seseorang yang baru saja menyaksikan pertandingan catur yang ia mainkan sendiri, sendirian, melawan dirinya sendiri, dan menang tanpa ada yang tahu ia pernah bermain.
Pelayan kedai teh, seorang wanita paruh baya yang sudah lama mengenalnya sebagai "tuan muda aneh yang selalu duduk di sana," mengisi ulang cangkirnya.
"Kau tersenyum," katanya. "Terjadi sesuatu yang bagus di bawah sana?"
"Sesuatu yang tidak terjadi," Zhuo Xuanchen menjawab. "Itu selalu lebih sulit diatur daripada sesuatu yang pasti akan terjadi."
Wanita itu tertawa, tidak sepenuhnya paham, dan pergi.
Zhuo Xuanchen kembali menatap alun-alun yang kini mulai membubar, orang-orang saling berjabat tangan canggung, tegang yang belum sepenuhnya hilang tapi setidaknya tidak lagi berujung darah.
Ia seharusnya merasa bangga.
Yang ia rasakan justru sesuatu yang lebih rumit.
Anak kecil yang berteriak tadi—ia sudah tahu siapa itu sejak awal, karena tentu saja, ia yang mengatur agar anak itu berada di sana, pada waktu yang tepat, dengan permen yang tepat diberikan tiga hari lalu oleh seorang "pedagang baik hati" yang sebenarnya bekerja untuknya. Anak itu tidak tahu bahwa teriakannya sendiri sudah direncanakan sejak sebelum ia bahkan bangun pagi ini.
Anak itu mengira ia bertindak atas kemauannya sendiri.
Ia tidak salah, secara teknis. Tidak ada yang memaksanya berteriak. Ia hanya kebetulan melihat seseorang yang ia kenal, dan bereaksi seperti anak-anak biasanya bereaksi.
Tapi "kebetulan" itu sendiri sudah disusun, ditanam, dijadwalkan.
Zhuo Xuanchen memutar kipasnya perlahan, memikirkan pertanyaan yang selalu muncul setiap kali ia berhasil melakukan sesuatu seperti ini—dan ia selalu berhasil, itulah masalahnya.
Apakah anak itu benar-benar bebas ketika ia berteriak tadi?
Apakah siapa pun benar-benar bebas, jika seseorang yang cukup sabar dan cukup jeli selalu bisa menyusun lingkungan mereka sedemikian rupa hingga "pilihan bebas" mereka berakhir tepat seperti yang diinginkan orang lain?
Ia tidak punya jawaban untuk itu.
Yang lebih mengganggu: ia sendiri, yang duduk di sini sekarang, menikmati tehnya, merasa puas dengan rencananya sendiri—apakah keputusannya untuk melakukan semua ini pagi tadi benar-benar miliknya sendiri, atau hanya hasil dari seribu kebiasaan dan pengalaman yang membentuknya menjadi seseorang yang selalu memilih jalan ini?
Pertanyaan itu tidak nyaman.
Jadi, seperti biasa, ia menaruhnya di sudut pikirannya, di tempat yang sama di mana ia menyimpan semua pertanyaan yang belum siap ia jawab, dan kembali menyesap tehnya yang mulai dingin.
Malam harinya, sendirian di kamarnya di lantai tertinggi menara pribadinya—satu-satunya bangunan di Kota Qiyun yang punya tembok, meski hanya karena ia butuh privasi untuk merancang formasi tanpa gangguan—Zhuo Xuanchen membentangkan cetak biru baru di mejanya.
Formasi ini berbeda dari yang lain. Lebih besar. Lebih ambisius. Sesuatu yang, jika berhasil, bisa menghubungkan tujuh kota formasi terbesar di Benua III menjadi satu jaringan yang tak seorang pun bisa memanipulasi tanpa sepengetahuan yang lain—ironisnya, sebuah sistem yang dirancang untuk mencegah orang seperti dirinya sendiri melakukan apa yang baru saja ia lakukan hari ini.
Ia tidak sepenuhnya yakin mengapa ia ingin membangunnya.
Sambil menggambar garis pertama dari formasi itu, sesuatu yang aneh terjadi—bukan gangguan pada tintanya, bukan getaran pada mejanya, tapi sesuatu yang lebih halus: perasaan sesaat bahwa seseorang, di suatu tempat yang sangat jauh, sedang mengamati caranya menyusun garis-garis ini, seolah menilai apakah ini "sesuatu yang belum pernah dilihat."
Ia berhenti menggambar.
Tidak ada suara. Tidak ada bisikan yang jelas seperti yang mungkin dialami orang lain di tempat lain di dunia yang sama—hanya kesan, samar, seperti seseorang tersenyum di kejauhan karena baru saja melihat sesuatu yang menarik perhatiannya untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat, sangat lama.
Zhuo Xuanchen memandangi cetak birunya lagi.
"Siapapun dirimu dan apapun tujuanmu, dengan probabilitas yang tak terpetakan di alam semesta ini, itu membuatku tak terkejut," gumamnya, kepada kesan yang tidak bisa ia jelaskan, kipasnya berhenti bergerak untuk pertama kalinya malam itu, "Hm.. mari kita lihat apakah aku bisa membuatmu terkejut atau tidak."
Ia melanjutkan menggambar, garis demi garis, tidak menyadari bahwa di dua benua lain, dua bagian lain dari dirinya yang tidak pernah ia temui sedang, pada malam yang sama, merasakan hal yang persis serupa.