Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibuang Saat Kusam, Kini Aku Jadi Ratu Kemewahan

Dibuang Saat Kusam, Kini Aku Jadi Ratu Kemewahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Single Mom
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

"Wanita yang dulu kau buang seperti sampah, kini menjadi Ratu yang tak sanggup kau beli!"
Demi Fandi, Maya rela melepas statusnya sebagai supermodel ternama dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Namun, pengorbanannya dibalas penghinaan. Begitu penampilannya tak lagi segar, Fandi menceraikannya demi wanita lain dan mengusirnya tanpa membawa apa pun.
Fandi mengira hidup Maya sudah hancur. Namun, ia salah besar.
Di balik kehancurannya, Maya bangkit merintis kembali kerajaannya. Ketika Maya berdiri di puncak kejayaan sebagai wanita paling berpengaruh, Fandi merangkak dalam penyesalan yang tak bertepi.
Sayangnya... Ratu yang dulu disia-siakannya kini melayang terlalu tinggi untuk kembali.

bagaimana ceritanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. DSKKR

Lantai ruang audisi serasa goyah di bawah pijakan Fandi. Pria itu berdiri mematung dengan mulut setengah terbuka, matanya tak berkedip menatap sosok di balik meja pimpinan.

Di sana, Maya duduk dengan aura yang sama sekali baru. Tatapan matanya lurus, bahunya tegap, dan senyumannya begitu tenang yaitu jenis ketenangan yang memancarkan kekuasaan mutlak. Tidak ada lagi sisa-sisa wanita kusam ber daster yang menangis di sudut dapur.

"May... kamu... kok kamu bisa ada di situ?" suara Fandi keluar patah-patah, lenyap sudah gaya gertak dan keangkuhan yang dibawa dari luar.

"Mas Fandi," potong Maya tegas, menghentikan kalimat Fandi sebelum berkembang lebih jauh. "Ini ruang audisi profesional VANE Agency, bukan tempat reuni keluarga. Tolong jaga sikap."

Karin yang duduk di sebelah kanan Maya melirik bingung ke arah Fandi, lalu beralih menatap Maya. "Mbak Maya, mereka ini kenalan Mbak?"

"Bukan," jawab Maya tanpa ragu sedikit pun. "Mereka cuma peserta audisi dan pendampingnya. Tolong fokus pada penilaian."

Wajah Siska mendadak pucat pasi. Lipstik merah menyala di bibirnya tak lagi sanggup menyembunyikan bibirnya yang gemetar. Dia menoleh patah-patah ke arah Fandi, meremas lengan kemeja pria itu dengan panik.

"Mas... ini gimana? Kok mantan istrimu yang jadi jurinya?" bisik Siska panik, suaranya naik setengah oktaf. "Katanya kamu punya relasi orang dalam?!"

Fandi menggerakkan rahangnya yang menegang. Rasa malu dan cemas bercampur aduk memukul dadanya. Dia mencoba menyusun kembali harga dirinya yang berantakan di depan Siska dan tim VANE.

"May.. emm maksud saya, Mbak Maya," Fandi mencoba memperbaiki nada suaranya, berdehem keras untuk menutupi kegugupannya. "Emm begini, Saya memasukkan portofolio Siska atas dasar profesionalitas. Siska ini model berbakat, dia punya eksposur tinggi di media sosial. Pihak VANE pasti rugi kalau melewatkan potensi dia."

Maya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, melipat kedua tangannya di atas meja. Tangannya yang lentik memutar pulpen mahal berukir emas.

"Potensi?" Maya mengangkat sebelah alisnya. Dia meraih lembaran portofolio Siska, membaliknya satu per satu dengan ketelitian yang menyiksa. "Dari dua belas foto di portofolio ini, sepuluh di antaranya pakai sudut pengambilan gambar yang sama. Postur tubuhnya kaku, kontrol emosi wajahnya datar, dan pose-posenya terlalu klise buat kelas VANE."

Maya mendongak, menatap Siska lurus-lurus. Tatapannya bukan tatapan cemburu, melainkan murni penilaian seorang profesional yang berada jauh di tingkat atas.

"Siska," panggil Maya datar. "Coba lakukan tiga pose high fashion dalam waktu lima detik tanpa jeda. Sekarang. Cepat. Satu, Dua,"

Siska terperanjat. "Aapa? Sekarang?"

"Kamu dengar kan?" sahut Maya dingin. "Waktumu berjalan Tiga."

Siska yang biasanya dipuja-puja Fandi di studio kecil mereka mendadak gagap. Di bawah kilatan lampu spotlight dan tatapan menilai dari Maya, tubuhnya mendadak kaku. Dia mencoba berpose miring dengan menaruh tangan di pinggang, lalu berganti pose memegang leher, tapi gerakannya berantakan dan kelihatan sangat canggung.

"Empat, Cukup," potong Maya sebelum lima detik usai.

Keheningan yang menyengat langsung memenuhi ruangan. Karin dan kurator senior di sebelah Maya menggeleng-gelengkan kepala pelan, sibuk mencatat nilai rendah di lembar penilaian mereka.

"Kamu tidak sadar kalau posturmu itu kaku, transisi posemu tidak mengalir, dan kamu terlalu mengandalkan riasan tebal untuk menutupi kurangnya karakter wajah," analisis Maya tajam tanpa ampun, menjabarkan tiap kekurangan Siska sampai ke akar-akarnya. "Kamu mungkin cocok untuk model produk baju toko online lokal, tapi untuk koleksi Summer Royalty VANE? Kamu jauh dari standar."

"Mbak Maya! Mbak sengaja kan?!" Siska akhirnya meledak, tak terima ditelanjangi kekurangannya di depan umum. "Mbak dendam sama saya gara-gara Mas Fandi, kan?! Mbak cuma mau balas dendam! Enggak transparan sekali sih" Lanjut nya.

Fandi yang tak terima calonnya dipojokkan ikut melangkah maju. "Maya! Jangan kekanak-kanakan! Jangan bawa masalah pribadi ke pekerjaan! Kamu cuma beruntung bisa duduk di situ, jangan sok ngerasa paling hebat!"

Tiba-tiba, terdengar suara seseorang, "Mas Fandi!" Suara berat dan dalam bergema dari arah pintu samping.

Pintu terbuka lebar, dan Arch melangkah masuk dengan setelan jas yang sangat rapi. Aura dominan pria bule itu langsung menekan seluruh isi ruangan, membuat Fandi refleks mundur satu langkah.

"Mr. Arch..." cicit Fandi, mendadak kuncup.

Arch melangkah tenang mendekati meja juri, berdiri tepat di samping kursi Maya. Tangan kirinya masuk ke saku celana, sementara tangan kanannya dengan alami mendarat di atas sandaran kursi Maya sebuah gestur perlindungan dan kepemilikan yang sangat jelas.

"Ada masalah di sini?" tanya Arch dingin, matanya menatap Fandi dan Siska seolah mereka hanyalah debu yang mengganggu pemandangan.

"Mr. Arch," Fandi mencoba mengadu. "Maya, maksud saya Mbak Maya ini tidak objektif! Dia menolak model saya cuma karena dendam pribadi!"

Arch tersenyum tipis sebuah senyuman penuh cemoohan yang sangat dingin.

"Dendam?" Arch terkekeh pelan. "Fandi, kamu terlalu percaya diri. Maya adalah Head Creative Director bertangan dingin yang saya rekrut khusus dengan nilai kontrak miliaran. Keputusannya adalah keputusan mutlak VANE Agency."

Arch mencondongkan badan, menatap Fandi dengan mata cokelat terangnya yang tajam.

"Kalau Maya bilang modelmu tidak memenuhi standar, artinya modelmu memang sampah di mata kami," lanjut Arch tanpa keraguan. "Keamanan, tolong antar dua orang ini keluar dari gedung VANE. Mereka mengganggu waktu kerja tim saya."

Dua petugas keamanan berseragam hitam yang bertubuh tegap langsung melangkah masuk, berdiri di kanan dan kiri Fandi serta Siska.

"Mari, Pak, Mbak. Silakan keluar," tegur petugas itu tegas.

Wajah Fandi merah padam menahan malu yang luar biasa, sementara Siska mulai meneteskan air mata kekalahan. Mereka berdua digiring keluar dari ruang audisi di bawah tatapan dingin Maya dan senyuman tajam Arch.

Maya menatap punggung mantan suaminya yang berjalan gulai keluar. Tidak ada rasa puas yang berlebihan, hanya sebuah kepastian: panggung ini kini sepenuhnya milik sang Ratu.

"Ckck.. sangat percaya diri sekali." Gumam ku.

Bersambung..

1
Heny
Sdh pergi baru nyesal
Heny
Sudah sukses lupa daratan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!