"Budget nya ini terlalu berlebihan, harus lebih efisien!"
Kenzo Swara, memberikan revisi untuk Rain Edelweis tak terhitung jumlahnya.
Lelah dan ingin marah, tapi nasib sial Rain memang ada di tangan Teman Rival kantornya itu. Kepala Tim Marketing vs Kepala Tim Perencanaan memang sering bentrok.
Di sisi lain, ada Divisi Humas yang selalu jadi penengah.
Apa jadinya kalau rival kantor Rain malah diam diam suka sama Rain?
Padahal setiap hari Rain selalu mencacinya.
Simak kisah mereka disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapat Evaluasi dan debat kusir
Dua minggu sejak Bandung, proyek besar itu mulai memasuki fase eksekusi. Rapat evaluasi mingguan jadi rutinitas yang, anehnya, mulai Rain nantikan meski dia sendiri enggan mengakui alasan sebenarnya.
"Angka engagement campaign minggu pertama di bawah target," kata Kenzo, menunjuk grafik yang ditampilkan di layar proyektor. "Turun delapan persen dari proyeksi."
"Itu wajar, minggu pertama biasanya masih tahap awareness," Rain membela, mencoba tetap tenang meski dalam hati mulai gusar. "Konversi biasanya baru kelihatan minggu ketiga."
"Delapan persen bukan angka kecil buat budget sebesar ini," Kenzo membalas, nadanya tetap datar tapi tegas. "Kalau tren ini lanjut, kita bakal jauh dari target akhir kuartal."
"Kalau kamu maunya instan, ya, harusnya dari awal nggak usah pilih strategi jangka panjang," Rain menyahut, mulai terbawa emosi.
Ruangan hening sesaat. Dua staf lain yang ikut rapat saling melirik, canggung berada di tengah perdebatan yang mulai memanas.
"Aku nggak bilang mau instan," Kenzo menjawab, suaranya tetap tenang meski tatapannya makin tajam. "Aku cuma bilang, kita perlu mitigasi kalau tren ini berlanjut. Itu namanya antisipasi, bukan panik."
Rain menghela napas, mencoba menahan diri. "Oke. Aku akan siapkan opsi mitigasi minggu ini."
"Bagus," Kenzo menutup topik itu, kembali ke ekspresi datarnya seperti biasa.
Rapat berlanjut dengan agenda lain, tapi suasana canggung masih terasa sampai rapat berakhir.
---
Selesai rapat, Rain buru-buru keluar duluan, langsung menuju ruangan proyek untuk menenangkan diri. Belum lama duduk, Kenzo menyusul masuk, menutup pintu di belakangnya.
"Kamu marah?" tanya Kenzo langsung, tanpa basa-basi.
"Nggak," jawab Rain, meski nadanya jelas menunjukkan sebaliknya. "Cuma capek didebat terus di depan orang lain."
"Aku nggak sengaja bikin kamu malu," kata Kenzo, jarang-jarang terdengar seperti mau minta maaf. "Tapi aku juga nggak bisa diem kalau ada risiko yang perlu diomongin."
"Aku tahu," Rain menghela napas, meredakan emosinya sendiri. "Cuma... kadang aku pengen didengerin dulu, bukan langsung dikritik."
Kenzo terdiam sejenak, mencerna kalimat itu. "Oke. Lain kali, aku dengerin dulu penjelasan kamu sebelum kasih pendapat."
Rain menatapnya, agak kaget dengan responsnya yang tanpa pembelaan lebih lanjut. "Kamu jarang banget ngalah kayak gini."
"Bukan ngalah," Kenzo membetulkan. "Belajar."
---
Sore harinya, saat Rain sibuk menyiapkan opsi mitigasi seperti yang dijanjikan, sebuah file muncul di folder bersama proyek dikirim tanpa pemberitahuan apa pun oleh Kenzo. Isinya analisis mendalam soal tren engagement campaign serupa di industri sejenis, lengkap dengan rekomendasi taktis yang belum pernah Rain pikirkan sebelumnya.
Tidak ada pesan pengantar. Cuma nama file sederhana: *"referensi_mitigasi_mungkin_membantu.xlsx"*
Rain tersenyum kecil melihat itu, menggelengkan kepala. Ini pola yang mulai dia kenali, Kenzo nggak pernah bilang langsung "aku bantu kamu", tapi tindakannya selalu bicara lebih keras dari kata-kata.
---
Di sisi lain kantor, Pandu duduk di mejanya, mendengar sekilas cerita dari staf lain soal rapat panas tadi siang.
"Katanya Rain sama Pak Kenzo berantem lagi di rapat," celetuk salah satu staf ke arah Pandu, yang kebetulan lewat.
"Berantem soal kerjaan doang," jawab Pandu, sedikit membela tanpa benar-benar tahu detailnya.
"Tapi katanya abis itu Pak Kenzo nyusul masuk ke ruangan Rain, berduaan lama banget," staf itu menambahkan, dengan nada penuh selidik.
Pandu tersenyum kaku, berusaha kelihatan santai. "Ya udah biar mereka selesaikan sendiri urusan kerjanya."
Tapi begitu staf itu berlalu, senyum Pandu perlahan hilang. Dia menatap layar laptopnya tanpa benar-benar fokus, pikirannya melayang ke satu pertanyaan yang belakangan semakin sering muncul.
*Kalau aku terus nunggu waktu yang tepat, jangan-jangan waktu itu emang nggak pernah ada atau lebih parahnya, keburu direbut orang lain yang lebih berani ambil langkah.*
se mistery apa dia...
biasany kalo rival gitu kan harus deket buat saling cekcok 🤭 tpi nyatanya ada hati disana...