Selama bertahun-tahun, Akbar dicap sebagai pembawa sial oleh seluruh warga kampung, bahkan disalahkan atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kelelahan dengan hidup yang penuh penderitaan dan cemoohan, Akbar memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan melompat dari atas jembatan. Namun, tepat sebelum tubuhnya jatuh, sebuah layar hologram mendadak muncul dan memberinya "Sistem Dewa Hoki". Kini, berbekal keberuntungan absolut dari sistem tersebut, Akbar siap membalikkan keadaan, membungkam mulut orang-orang yang merendahkannya, dan membongkar rahasia kelam di balik kematian orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Brummm!
Suara mesin Scoopy hitam milik Akbar menderu halus membelah kemacetan jalanan kota kabupaten.
Perjalanan dari desa menuju pusat kota ini memakan waktu sekitar empat puluh lima menit.
Udara pagi yang tadinya sejuk kini mulai terasa sedikit panas dan bercampur debu jalanan.
Cittt.
Akbar mengerem motornya tepat di pelataran parkir sebuah kawasan pasar tradisional yang sangat luas.
Sebuah gapura besi berkarat bertuliskan Pasar Barang Antik dan Loak Beringin menyambut kedatangannya.
Tempat ini adalah surga dunia bagi para kolektor barang antik, sekaligus neraka jebakan bagi orang awam yang mudah ditipu.
Akbar melepas helmnya dan merapikan rambutnya sebentar menggunakan pantulan dari kaca spion motor.
"Ayo kita lihat seberapa akurat kacamata gaib ini bekerja di lapangan sungguhan," gumam Akbar sambil tersenyum percaya diri.
Tap tap tap.
Langkah kakinya terdengar mantap menyusuri lorong sempit yang dipenuhi ratusan kios tenda terpal.
Aroma dupa tua, debu kayu lapuk, dan karat besi langsung menyerbu indra penciumannya dari segala arah.
Berbagai macam barang aneh ditumpuk sembarangan di atas tikar maupun meja kayu yang sudah reyot.
Ada keris karatan, piring keramik kusam, mesin tik tua, sampai patung kayu berwajah seram yang tidak jelas fungsinya.
Para pedagang bermuka garang duduk santai sambil merokok mengawasi setiap pengunjung yang lewat dengan tatapan menilai.
Akbar berjalan pelan sambil mengaktifkan kemampuan gaib Kacamata Penilai Harta Karun di matanya.
Tiba-tiba saja dunia di depannya dipenuhi oleh ribuan teks hijau kecil yang melayang terang di atas setiap barang.
[Keris Kuningan Palsu. Nilai Jual Pasar: Rp 35.000.]
[Piring Keramik Pabrikan Modern. Nilai Jual Pasar: Rp 15.000.]
[Lukisan Pemandangan Reproduksi. Nilai Jual Pasar: Rp 50.000.]
Mata Akbar menyapu ratusan barang di sepanjang lorong itu dengan sangat cepat tanpa henti.
"Gila, sembilan puluh persen barang di sini ternyata cuma rongsokan palsu murahan hasil cetakan pabrik," batin Akbar sedikit kecewa.
"Pantas saja banyak kolektor amatir yang menangis kehilangan uang puluhan juta karena ditipu pedagang licik di pasar seperti ini."
"Mari mampir ke kiosku Mas anak muda, barangnya asli semua peninggalan keraton zaman dulu!" teriak seorang pedagang paruh baya berambut gondrong.
Pedagang itu tersenyum lebar memamerkan gigi kuningnya ke arah Akbar yang kebetulan sedang melintas perlahan.
Akbar berhenti sejenak dan menoleh ke arah hamparan barang dagangan milik pria berambut gondrong tersebut.
Tentu saja teks hijau dari kacamata gaibnya langsung menunjukkan angka-angka yang sangat menyedihkan dan murah.
Hampir semua barang antik di kios itu nilainya tidak ada yang menyentuh nominal seratus ribu rupiah sedikit pun.
"Ada barang yang paling langka dan harganya paling mahal tidak Pak di sini?" tanya Akbar sekadar basa-basi menguji kejujuran si pedagang.
"Oh tentu saja ada Mas, lihat patung kuda perunggu gagah ini," jawab pedagang itu bersemangat sambil mengangkat sebuah patung yang lumayan berat.
"Ini patung peninggalan bangsawan Belanda abad delapan belas, harganya saya lepas murah lima juta rupiah saja buat penglaris pagi ini."
Akbar menatap patung kuda itu dan langsung membaca teks hijau yang menyala terang di atas kepalanya.
[Patung Kuda Cetakan Tembaga Modern. Nilai Jual Pasar: Rp 120.000.]
Akbar mendengus pelan menahan tawa mendengar kebohongan tingkat tinggi dari pria gondrong penipu itu.
"Lain kali saja Pak, uang saya belum cukup kalau harus bayar lima juta," tolak Akbar dengan nada sopan lalu berjalan pergi meninggalkannya.
"Dasar anak miskin cuma mau numpang cuci mata saja buang-buang waktuku," umpat pedagang itu pelan namun masih terdengar tajam oleh telinga Akbar.
Akbar sama sekali tidak mempedulikan umpatan receh itu dan terus masuk menjelajah ke lorong pasar yang posisinya lebih dalam dan gelap.
Kios-kios di bagian dalam pasar ini terlihat jauh lebih kumuh dan berantakan daripada di bagian depan tadi.
Namun insting baru Akbar mengatakan bahwa biasanya harta karun sungguhan selalu tersembunyi di tempat yang paling kotor dan diabaikan orang.
Langkah kaki Akbar akhirnya terhenti tepat di depan seorang pedagang kakek tua yang sedang tertidur pulas di kursi goyang bambunya.
Barang dagangan kakek ini sangat sedikit dan ditumpuk asal-asalan berdebu di atas sebuah meja kayu panjang yang reyot.
Ada tumpukan buku bekas yang kertasnya sudah menguning, beberapa koin kuno berkarat pekat, dan sebuah mangkuk kecil kotor.
Akbar memindai barang-barang sisa tersebut satu per satu dengan pandangan kacamata gaibnya.
[Buku Resep Tua Tahun 1980. Nilai Jual Pasar: Rp 10.000.]
[Koin Benggol Belanda Tahun 1945. Nilai Jual Pasar: Rp 25.000.]
Tatapan Akbar akhirnya jatuh pada sebuah mangkok kecil berwarna putih kusam yang dipenuhi debu tebal di sudut meja yang nyaris jatuh.
Mangkok itu terlihat sangat biasa saja, ukurannya bahkan tidak lebih besar dari mangkok bubur ayam pinggir jalan.
Bahkan ada sedikit noda hitam menempel sangat keras di bagian pinggirannya yang tampak mirip seperti kerak lumpur kering.
Namun, teks yang mendadak muncul melayang di atas mangkok kotor itulah yang membuat jantung Akbar nyaris melompat keluar dari dadanya.
Warnanya kali ini bukan lagi teks hijau biasa, melainkan pendaran cahaya emas menyilaukan yang sangat terang benderang.
[Mangkok Porselen Putih Dinasti Ming Asli Abad 15. Kondisi: Sangat Utuh Namun Tertutup Debu Tebal.]
[Nilai Jual Pasar Kolektor Saat Ini: Rp 2.500.000.000 Dua Miliar Lima Ratus Juta Rupiah.]
Glek.
Akbar menelan ludahnya sendiri dengan sangat kasar hingga tenggorokannya terasa sedikit sakit.
"Dua miliar rupiah?" teriak Akbar sekuat tenaga di dalam hatinya dengan kedua mata terbelalak sempurna.
"Benda kotor seukuran telapak tangan ini harganya nyaris setara dengan seluruh aset rumah warga di kampung halamanku?"
Akbar menarik nafas dalam-dalam berulang kali untuk mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdebar gila-gilaan tak karuan.
Dia sadar betul tidak boleh terlihat panik atau terlalu tertarik, karena pedagang loak biasanya sangat pintar membaca gerak-gerik pembeli dan akan menaikkan harga seenaknya.
Tok tok tok.
Akbar mengetuk meja kayu reyot itu dengan pelan menggunakan koin untuk membangunkan si kakek penjual.
"Permisi Kek, saya mau numpang lihat-lihat barang dagangannya sebentar," sapa Akbar dengan suara seramah mungkin.
Kakek tua itu membuka sebelah matanya perlahan dan menguap lebar memamerkan gusinya yang sudah hitam dan ompong.
"Silakan saja Nak dipilih bebas, tapi hati-hati pegangnya jangan sampai jatuh pecah ya," jawab si kakek dengan suara serak parau khas perokok berat.
Akbar pura-pura sama sekali tidak peduli pada mangkok porselen itu dan malah mengambil tumpukan buku bekas terlebih dahulu.
"Buku-buku tua kertas kuning ini harganya berapa Kek kalau saya borong?" tanya Akbar sambil membolak-balik halaman buku yang sudah sangat rapuh itu.
"Ambil saja semua tumpukan buku itu seharga lima puluh ribu rupiah Nak," jawab kakek itu santai sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan potongan kertas koran.
Akbar mengangguk pelan berpura-pura sedang berpikir keras menimbang apakah harga tersebut masuk akal atau tidak.