Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Transmigrasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nyvara

Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

​Tiga hari setelah insiden pembentukan Satuan Tugas Administrasi (Satgas Admin), ruang rapat dewan guru SMA Garuda yang biasanya suram dan penuh keluhan kini terasa seperti markas startup teknologi yang sedang beroperasi di masa sprint. ​Di papan tulis utama, Gantt Chart yang digambar Bella dipenuhi dengan tanda centang hijau, progres pekerjaan berjalan dengan efisiensi yang menakutkan. Di sudut ruangan, sebuah pemandangan yang secara sosiologis mustahil sedang terjadi yaitu sinergi antara Geng Bone Breakerz dan pengurus inti OSIS.

​Dion yang biasanya memegang tongkat bisbol atau rokok, kini memegang mesin pelubang kertas (hole puncher) dengan tingkat keseriusan seolah ia sedang menjinakkan bom C4. Di sebelahnya, Siska sang Sekretaris OSIS yang sebelumnya menganggap Dion sebagai sampah masyarakat pun kini sedang menyortir dokumen berdasarkan alfabet.

​"Heh, Siska," panggil Dion dengan suara serak, menggeser setumpuk kertas ke arah gadis berkacamata itu. "Ini dokumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) punya Pak Heru udah gue lubangin. Presisi di tengah, nggak miring satu milimeter pun. Lo input nomor serinya sekarang ke Excel."

​Siska menerima tumpukan kertas itu dengan mata sedikit melebar, ia mengecek lubang kertas tersebut. Benar-benar presisi.

​"Rapi banget," gumam Siska tanpa sadar. "Makasih, Dion. Kecepatan input dataku jadi naik dua kali lipat kalau kertasnya udah disiapin sedetail ini."

​Dion mendengus bangga, membusungkan dadanya. Ego lelakinya meroket mendapat pujian dari anak OSIS. "Yaiyalah. Bos Bella bilang ke gue, 'Dion, akurasi fisik adalah kekuatanmu. Aplikasikan itu ke hal-hal klerikal.' Nah, lo lihat sendiri kan hasilnya? Mesin fotocopy aja kalah presisi sama gue."

​Di sisi lain ruangan, Rindi sedang berdebat dengan Bendahara OSIS mengenai alokasi dana pembelian map dan kertas HVS.

​"Lo beli map kertas harga tiga ribu perak per buah?!" pekik Rindi dengan nada tidak percaya, menunjuk nota pembelian dari toko buku besar. "Bego banget! Kalau lo beli di grosir belakang pasar pakai sistem bulk order (pembelian partai besar), lo bisa dapat harga seribu lima ratus! Lo lagi bakar uang organisasi, tahu nggak?!"

​Bendahara OSIS itu menciut diomeli oleh mantan tukang palak sekolah. "T-tapi kan... kita biasa beli di toko langganan depan sekolah..."

​"Mulai sekarang, semua urusan procurement (pengadaan barang) lewat gue," potong Rindi telak. "Gue yang bakal negosiasi harganya. Selisih anggarannya bisa kita pakai buat beli konsumsi tim, kita butuh asupan gula buat kerja rodi begini."

​Bella Anastasia duduk di kursi Kepala Sekolah di ujung meja utama, sebuah posisi yang secara de facto diserahkan oleh Pak Surya kepadanya karena sang Kepala Sekolah lebih memilih duduk santai meminum kopi di sofa. Bella mengamati interaksi antar-divisi ini dari balik layar laptop-nya dengan kepuasan seorang CEO.

*​Pembentukan Cross-Functional Team (Tim Lintas Fungsi) sukses* batin Sarah Paramitha. Menyatukan dua departemen yang sebelumnya bermusuhan (Geng dan OSIS) ke dalam satu proyek dengan tenggat waktu yang ketat (Time-bound Project) adalah cara tercepat untuk menghancurkan mentalitas silo. Mereka tidak lagi melihat latar belakang satu sama lain, melainkan mereka hanya melihat fungsionalitas.

​Pak Surya berjalan mendekati meja Bella, meletakkan cangkir kopinya perlahan. Wajah pria paruh baya itu tampak lebih muda lima tahun karena beban stresnya terangkat.

​"Bella," panggil Pak Surya pelan, seolah tidak ingin merusak ritme kerja di ruangan itu. "Saya baru saja mengecek tumpukan odner di lemari arsip, progres kita sudah mencapai 85%. Guru-guru bahkan punya waktu untuk makan siang dengan tenang hari ini. Ini sungguh sebuah keajaiban."

​"Ini bukan keajaiban, Pak Surya. Ini murni manajemen operasional," jawab Bella tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. "Sistem yang buruk akan membuat orang cerdas terlihat bodoh dan lambat, tapi sebaliknya sistem yang baik akan membuat orang awam bekerja seperti spesialis."

​Bella menekan tombol Enter dan menutup laptop-nya. Ia berdiri, merapikan rok seragamnya.

​"Fase pengarsipan dokumen legal dan kurikulum selesai. Besok kita masuk ke fase final, Audit Fasilitas. Saya butuh data inventaris OSIS untuk dicocokkan, apakah Bapak bisa menginstruksikan Ketua OSIS untuk menyerahkan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) keuangan mereka kepada saya?"

​Pak Surya mengangguk tanpa ragu, beliau nampaknya sudah sepenuhnya menyerahkan kendali kapal ini kepada Bella. "Tentu. Reyhan, Ketua OSIS kita, akan menyiapkan datanya untukmu besok pagi. Lanjutkan pekerjaanmu yang luar biasa ini, Manajer Bella."

​Ada nada humor dan rasa hormat yang kental saat Pak Surya memanggilnya 'Manajer Bella'. Di kehidupan sebelumnya, Sarah Paramitha harus berdarah-darah bekerja belasan tahun untuk dihormati oleh direksi. Di kehidupan ini, ia hanya butuh waktu kurang dari sebulan untuk menundukkan institusi pendidikan. Namun, insting auditornya mencium ada sesuatu yang busuk di dalam tubuh OSIS yang sebentar lagi akan ia bongkar.

~​Keesokan harinya, di Ruang Sekretariat OSIS~

​Ruangan ini seharusnya menjadi pusat intelektual siswa, namun kondisinya lebih mirip gudang rongsokan. Spanduk-spanduk acara tahun lalu menumpuk di sudut, piala-piala berdebu, dan papan tulisnya penuh dengan jadwal acara yang berbenturan satu sama lain.

​Reyhan, Ketua OSIS SMA Garuda. Seorang siswa kelas dua belas berwajah lelah dengan rambut belah samping yang rapi, duduk berhadapan dengan Bella. Di sebelah Bella, Dion berdiri menyilangkan tangan, bertindak sebagai Bodyguard merangkap pengawas logistik.

​Di atas meja, terbentang dua buku besar tebal: Buku Kas Umum OSIS dan Daftar Inventaris Ekstrakurikuler.

​"Aku... aku tidak mengerti kenapa Pak Surya menyuruh OSIS menyerahkan buku keuangan ini padamu, Bella," kata Reyhan,nada suaranya defensif. Ego sebagai pemimpin tertinggi siswa merasa terluka karena harus diaudit oleh seseorang yang catatan kedisiplinannya (di masa lalu) adalah yang terburuk di sekolah.

​"Mari kita kesampingkan sentimen pribadi, Reyhan," jawab Bella dingin. Ia mengambil pulpen merahnya, senjata andalan seorang auditor. "Pak Surya mendelegasikan wewenang ini kepadaku karena tim Asesor Akreditasi akan mengevaluasi alokasi dana pembinaan kesiswaan. Jika aliran dana kalian tidak memiliki Return on Investment (ROI) yang jelas, nilai akreditasi sekolah akan dipotong. Dan jujur saja, melihat buku kas ini membuat mataku perih."

​Bella membalik halaman buku kas tersebut dengan cepat, matanya memindai angka-angka yang berjejer.

​"Mari kita lakukan pembedahan (Financial Autopsy)," ucap Bella. Ia menunjuk satu baris transaksi dengan ujung pulpen merahnya. "Bulan lalu, alokasi dana operasional untuk Klub Jurnalistik/Mading adalah Rp 750.000. Untuk apa dana sebesar itu? Mading kita hanya berisi kliping koran bekas dan puisi galau yang diganti sebulan sekali."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!