Indonesia
NovelToon NovelToon
Keira: Tersisihkan Dari Keluarga

Keira: Tersisihkan Dari Keluarga

Status: tamat
Genre:Penyesalan Keluarga / Teen Angst / Teen School/College / Tamat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Sejak kecil, Keira hidup jauh dari keluarganya. Ketika akhirnya mereka kembali dan ia berharap menemukan kehangatan yang selama ini dirindukannya, kenyataan justru menghancurkan harapannya.

Di rumah itu, ada seorang anak yang diperlakukan bak permata, sementara Keira hanya dianggap sebagai seseorang yang kebetulan memiliki hubungan darah dengan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Setelah sarapan pun selesai. Keira melangkah mendekat kepada ayahnya, berniat berpamitan sebelum berangkat ke sekolah.

"Ada apa?" tanya Bara tanpa menoleh sedikit pun.

"Aku mau pamitan, Ayah," ucapnya pelan.

"Pergilah saja. Tak perlu banyak bicara," jawabnya singkat, matanya tetap tertuju pada Keyna yang sedang menyantap makanannya dengan wajah yang terlihat begitu menggemaskan.

Keira hanya mengangguk pelan dan melangkah pergi membawa jawaban yang tak pernah berubah sejak dulu.

Keira tiba di sekolah lebih awal dari biasanya. Halaman sekolah masih sepi, dan ia sengaja datang lebih pagi agar tak perlu berdesak-desakan bersama yang lain. Ia melangkah menuju bangku paling belakang yang menghadap ke jendela, lalu menatap ke luar tanpa sadar hingga pandangannya mulai kabur dan pikirannya melayang jauh.

"Ra! Hei, Keira!"

Suara panggilan itu terdengar cukup keras hingga membuat Keira tersentak kaget. Ia menoleh dengan tatapan yang masih kosong.

"Ada apa?" tanyanya dengan nada yang tak begitu ramah.

"Maaf ya, tadi aku memanggil berkali-kali tak kau dengar," ucap gadis itu sambil duduk di sebelah Keira. Ia adalah Dinda, teman sebangku dan satu-satunya orang yang sesekali menyapanya. "Ada tugas yang harus dikumpulkan hari ini?"

"Tidak ada," jawab Keira singkat.

Waktu istirahat pun tiba. Dinda berpamitan pergi ke kantin bersama teman-teman yang lain. Keira hanya menundukkan kepalanya kembali di atas lipatan tangannya. Ia memilih tidur di atas meja daripada menghabiskan uang untuk makan seorang diri di tempat yang ramai.

Sejak kecil, Keira memang terbiasa hidup dalam kesendirian. Orang-orang menjauhinya karena tak ada orang tua yang mendampinginya.

Bahkan di antara mereka yang mendekat, tak sedikit yang memanfaatkannya semata-mata karena belas kasihan atau keuntungan yang bisa didapat. Termasuk Dinda pun tak sepenuhnya tulus bersahabat dengannya namun itulah yang mampu ia miliki saat ini.

Pulang sekolah, Keira tak langsung pulang. Ia sengaja mengikuti latihan bela diri hingga senja turun, mencoba melampiaskan segala rasa sakit yang menyayat hatinya lewat gerakan yang ia lakukan.

Selain itu, ia pun memiliki keahlian yang tak banyak diketahui orang, ia pandai melukis. Di atas kertas, ia menuangkan segala rasa yang tak terucap, menggambarkan bayang-bayang kesedihan yang kelak akan hilang bersama lukisan itu.

Sesampainya di rumah, ayahnya sudah menunggunya dengan wajah yang tak ramah.

"Dari mana saja kau?"

"Berlatih olahraga, Ayah," jawab Keira tenang.

"Untuk apa? Tak ada gunanya hal-hal demikian. Lebih baik kau belajar tekun agar kelak bisa bekerja di kantor seperti yang aku inginkan. Warisilah pekerjaanku."

Keira mengangkat wajahnya dengan tekad yang tak tergoyahkan. "Maaf, Ayah. Aku nggak mau bekerja di kantor. Aku bercita-cita menjadi seorang penerbang."

Bara tertawa sinis dan menatapnya dengan pandangan yang penuh hinaan. "Aku tak peduli dengan cita-citamu yang tak masuk akal itu. Ikutlah keinginanku, atau tinggallah rumah ini."

"Apa Keyna juga menuruti kehendak Ayah?" tanya Keira tak mau menyerah. "Mengapa kau tak pernah memaksakan kehendak yang sama kepadanya?"

"Jangan kau libatkan Keyna dalam urusanmu! Dia tak akan pernah menentangku seperti dirimu!" bentak Bara tak sabar.

Keira tersenyum getir lalu melontarkan satu kata yang menyakiti namun jujur adanya. "Dasar egois, Ayah."

Wajah Bara seketika memerah menahan amarah. "Jaga ucapanmu!"

"Mengapa Ayah begitu lembut kepada Keyna namun begitu kasar kepadaku? Bukankah kami berdua sama-sama putrimu?" tanya Keira dengan mata yang berkaca-kaca namun tak satu pun air mata yang jatuh.

"Ini semua demi kebaikanmu," jawab Bara dingin, lalu berbalik pergi meninggalkannya sendirian.

Keira menatap punggung ayahnya yang menjauh, lalu menelan rasa perih yang semakin menjadi-jadi. Demi kebaikankah? Atau demi kebahagiaan putri kesayangannya saja? Pertanyaan itu kembali menggema di hatinya yang tak pernah sekalipun mendapat jawaban yang jujur dari bibir ayahnya sendiri.

1
Sulati Cus
g usah berharap py temen klu semua palsu, mending sendiri apapun akan aman jika sendiri🤔
Sulati Cus
km nya aneh msh bertahan dg keluarga toxic😔 mending pergi kerja sambil sekolah, ku dulu kg kek gitu pdhl jmn dulu tu susah nyari duit g kek sekarang dg ngoten, nulis online apapun keknya menghasilkan uang😅
Herlina Susanty
buat Keira pergi thor
Herlina Susanty: pergi ke mana aj lah thor yg penting gag kecewa trus 🤣🤣💪
total 2 replies
Cty Badria
karena kamu bodoh 1000% bodoh
Cty Badria
kok cmn 1 up nya
lily
masih membaca kpn bangkitnya ni si keira...
Murni Dewita
ya udah gak usah aja gabung sama orang2 yg spt t
Cty Badria
lupakan saja mereka dari pd sakit hati. buat hekulah hatimu tuk mereka
Cty Badria
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Cty Badria
kenapa g keluar Dr rmh itu setiap hr dipukuli...aj rasanya bodoh banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!