Dunia tersusun atas struktur kosmologi yang agung: tujuh lapis langit yang suci, dunia bawah yang kelam, dan bumi yang terhampar di tengah-tengahnya.
Sejak awal penciptaan, Tuhan telah melahirkan dua entitas yang saling bertolak belakang demi mengisi semesta ras Elf Cahaya yang menguasai dunia langit, dan ras Iblis Kegelapan yang mendiami dunia bawah. Sementara di antaranya, hiduplah umat manusia yang mendiami bumi.
Namun, kedamaian itu runtuh akibat keserakahan manusia. Melalui ambisi tanpa batas, manusia menggali tanah teramat dalam demi mengeruk sumber daya, sekaligus menembak langit menggunakan uji coba senjata pemusnah massal terlarang yang bernama Nuklir.
Tanpa diduga, hantaman destruktif tersebut bergetar hebat hingga menjebol dinding dimensi semesta. Batas dunia runtuh; ras Iblis merangkak naik ke permukaan, sementara ras Elf turun ke bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIKI RIFEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Latihan kejam ala Altur
Leo, Cheeta, dan Rheno sempat tersudut oleh si bos mafia dan anak buahnya. Ketika situasi buruk mereka sudah mencapai puncaknya, seorang pria cantik berambut panjang yang pernah mentraktir mereka di kedai datang menyelamatkan mereka. Tanpa pilihan lain, mereka pun memutuskan untuk mengikutinya.
Langkah kaki Altur yang konstan akhirnya membawa mereka keluar dari jaringan gang sempit menuju ke pinggiran kota. Mereka berhenti di sebuah bangunan kokoh dari batu hitam yang menyemburkan asap tipis dari cerobongnya. Tempat itu rupanya sebuah bengkel penempaan senjata yang tersembunyi di balik sisa-sisa kastel kuno.
Begitu mereka melangkah masuk, Altur berjalan menuju sebuah landasan besi besar di tengah ruangan. Tanpa beban, ia meletakkan palu raksasanya hingga terdengar bunyi dentuman berat yang menggetarkan lantai.
Altur kemudian menduduki palu raksasa tersebut, menjadikannya seperti sebuah kursi takhta yang tidak biasa. Ia menatap tiga remaja yatim piatu di depannya dengan pandangan datar.
"Tempat ini aman. Pasukan mafia berjas itu tidak akan berani membuat keributan di wilayahku," ucap Altur. Suaranya terdengar merdu namun memiliki penekanan yang berwibawa.
Ia kemudian mengangkat kedua tangannya ke belakang kepala, mengumpulkan helai demi helai rambut panjangnya yang indah, lalu mengikatnya dengan rapi.
Seiring dengan tersingkapnya rambut tersebut, sepasang telinga yang tegak dan berujung runcing perlahan menyembul keluar, menampakkan identitas aslinya yang selama ini tersembunyi.
"Kalian pasti pemakan buah magis baru, kan?" lanjut Altur dingin. Mata tajamnya langsung mengunci pendaran energi alam yang bergejolak tidak stabil di dalam tubuh trio gubuk tersebut.
Melihat sepasang telinga runcing itu, mata Cheeta langsung membelalak horor. Tubuhnya menegang seketika. "E-Elf...?" bisik Cheeta dengan nada suara yang bergetar.
“Mohon maaf sebesar-besarnya!” Ketiganya kompak menundukkan kepala dalam-dalam, meminta maaf dengan tulus. Mereka teringat sempat menghujat dan memfitnah bangsa elf saat masih berada di karavan.
Altur hanya bisa melongo tidak mengerti. Namun, karena sudah mengawasi mereka sejak pertama kali menginjakkan kaki di kota Nova Castra, elf itu akhirnya hanya tersenyum kepada memaklumi mereka.
“Salah satu dari kalian mencurigaiku sejak pertama kita bertemu,” ucap Altur.
Seketika itu juga, Leo dan Rheno menoleh ke arah Cheeta dengan tatapan sinis. Tanpa bicara pun sudah sangat jelas arti dari ekspresi wajah mereka: kamu ya?
“I-iya, aku! Memang kenapa? Itu normal, kan?!” protes Cheeta. Ia merasa tindakan waspadanya sudah sangat normal, tetapi masih saja disalahkan oleh kedua temannya.
“Hahaha... Iya, itu normal. Justru mereka yang tidak curiga itulah yang tidak normal,” ucap Altur sambil melirik Leo dan Rheno.
Leo dan Rheno kompak membungkuk hormat. “Terima kasih banyak, Nyonya!” ucap mereka serentak.
“Aku sedang tidak memuji, dan aku ini laki-laki! Ya sudahlah...” ucap Altur, bingung harus merespons bagaimana lagi.
Percakapan santai mereka diakhiri dengan pengakuan resmi dari Altur yang mengonfirmasi kecurigaan Cheeta.
Perkataan Cheeta sebelumnya tentang berguru kepada sesama pemakan buah magis yang sudah berpengalaman, atau setidaknya orang yang mengerti soal kekuatan tersebut, ternyata adalah sebuah kebenaran.
Kebetulan saat di kedai, Altur duduk tidak jauh dari mereka dan mendengar semua percakapan trio gubuk tersebut. Karena itulah Altur memutuskan untuk melatih mereka.
Tanpa basa-basi, mereka langsung dibawa ke area utama tempat penempaan. Di sana, sang elf memberikan penjelasan singkat.
“Alasan kekuatan kalian hilang adalah karena kalian tidak menggunakannya lagi,” jelas Altur singkat, jelas, dan padat. Tentu saja Altur tau mereka tidak akan mengerti dan berharap mereka akan bertanya lebih lanjut, namun...
“Oke, iya, paham,” jawab Leo dan Rheno sambil mengangguk-angguk sok tahu.
“Iya, tidak mungkin kalian paham! Ayo tanya!” seru Altur dengan nada suara yang mulai meninggi karena gemas.
“Cih... Meremehkan sekali. Aku ini bisa mengerti seratus segel tangan ninjutsu Narto dan kekuatan dewa matahari mika satu kotak di one pack dalam satu kali baca!” ucap Leo, kesombongannya kambuh lagi.
“Tsundere!” celetuk Rheno asal-asalan.
Melihat tingkah ajaib kedua temannya, Cheeta mulai memijat pelipisnya karena pusing.
“Siapa yang kalian maksud tsundere?!” bentak Altur. “Kalian ini selalu sukses bikin orang kesal, ya? Pantas saja tidak ada satu pun tempat yang mau menerima kalian bekerja!”
Mendengar itu, trio gubuk menoleh bersamaan. Mereka merasa heran dari mana Altur bisa tahu nasib apes mereka yang ditolak di mana-mana.
“Aku sudah bilang kalau aku sudah mengawasi kalian sejak lama. Begitu saja tidak mengerti,” seru Altur sambil menghela napas.
“Oke, oke, cukup,” lanjut Altur, lalu menepuk pundak Cheeta dengan prihatin. “Hebat sekali kamu bisa bertahan menghadapi mereka berdua...”
Cheeta menatap Altur dengan mata berkaca-kaca. Baru kali ini ada orang luar yang mengerti seberapa hebat penderitaan batinnya selama ini.
“Baik, dengarkan baik-baik,” ucap Altur, raut wajahnya mulai berubah serius. “Saat kalian memakan buah magis, tubuh manusia kalian akan berubah secara cepat dan sinyal saraf kalian berubah total.
Namun, otak kalian tidak mengenali sinyal saraf baru itu. Hal ini membuat otak menjadi blank karena adanya perbedaan jenis dan kekuatan sinyal saraf yang jauh lebih besar.
Kalian menyerap energi magis dari alam tanpa sadar, hingga membuat kalian kehilangan kesadaran lalu dikendalikan oleh insting dan sifat dari energi magis itu sendiri. Apa kalian mengerti? Tentu saja tidak! Ikut aku!”
Setelah memberikan penjelasan yang rinci, Altur langsung membawa mereka ke sebuah ruangan bawah tanah yang sangat tertutup.
“Untuk menggunakan kekuatan kalian lagi, kalian harus menyerap energi magis dari alam dengan kesadaran kalian sendiri. Normalnya, kalian baru akan bisa menguasainya secara mandiri dalam waktu dua sampai tiga bulan.
Tapi dengan metode ini, kalian akan bisa melakukannya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam,” ucap Altur sesampainya mereka di bawah.
Di ruangan yang sunyi itu, Altur tiba-tiba mengeluarkan aura magisnya secara menggebu-gebu. Tekanan auranya terasa begitu berat, pekat, dan sangat mengintimidasi.
Merasakan tekanan yang mengerikan itu, Leo dan Rheno langsung mengambil langkah seribu ke belakang. Mereka berdua bersembunyi di balik tubuh kecil Cheeta yang berdiri paling depan.
“Keluar! Keluar! Itu pasti dia! Kucing oren... Kucing oren ekor sembilan!” ucap Leo histeris, didampingi anggukan cepat dari Rheno yang sama paniknya.
Ekspresi Cheeta yang tadinya sempat tegang seketika berubah menjadi lemas dan kehilangan semangat hidup. Dalam benaknya, ia hanya bisa membatin, 'Kucing oren ekor sembilan? Aku mau pelihara satu kalau makhluk itu benar-benar ada.'
Melihat kelakuan absurd dua remaja di depannya, energi magis Altur sempat turun mengayun karena mendadak kehilangan fokus akibat rasa kesal yang memuncak.
“Haaah...” Altur menghela napas panjang untuk menenangkan diri. “Baik, kalian sudah tahu, kan, bahwa energi magis dari alam adalah energi dunia elf dan iblis yang bocor ke dunia manusia? Tugas kalian semua sekarang hanyalah mendekat dan rasakan energi magis ini dengan kulit kalian.”
Pletak! Pletak!
Tanpa belas kasihan, Cheeta menjitak kepala kedua temannya itu agar mereka berhenti bertingkah konyol. Setelah mendapat "pencerahan" berharga dari Cheeta, mereka bertiga pun akhirnya mulai serius dan fokus.
Leo, Cheeta, dan Rheno mulai bergerak maju mendekati Altur. Namun baru beberapa langkah, hawa panas yang ekstrem langsung menyengat tubuh mereka.
Secara mengejutkan, permukaan kulit mereka mulai robek dan memunculkan luka goresan tipis yang mengeluarkan darah. Rasa perih yang mendadak itu membuat mereka refleks melompat mundur ke posisi semula.
"Itu adalah tahap awal," ucap Altur datar dari tempat duduknya. "Energi magis pekat jika diserap akan menjadi kekuatan yang luar biasa. Namun tanpa diserap atau terjadi kontak fisik secara langsung, energi magis itu sangat berbahaya."
Setelah memberikan penjelasan itu, Altur kembali duduk tegak di atas palu besarnya. Ia mengangkat sebelah tangan, lalu mulai menciptakan pusaran angin bertekanan tinggi yang mendorong kuat ke arah luar, memenuhi seluruh ruangan bawah tanah.
"Dengan begini kalian akan aman. Kekuatan fisik manusia biasa akan langsung terpental jika nekat mendekat. Ini akan memastikan kalian sudah menyerap energi magis saat bergerak maju, agar tubuh kalian tidak hancur," lanjut Altur memperingatkan.
Mendengar itu, ketiganya menelan ludah. Angin di depan mereka tidak lagi terlihat seperti udara kosong, melainkan untaian energi keperakan yang tajam seperti bilah pisau transparan. Latihan ini bukan lagi sekadar meditasi tenang, melainkan ujian bertahan hidup yang nyata.
Leo, Cheeta, dan Rheno mengepalkan tangan, membulatkan tekad di dalam hati. Tujuan mereka hanya satu: harus bisa menguasainya.
Dua jam sudah berlalu. Entah berapa kali mereka bertiga terpental ke arah luar. Tubuh mereka pun dipenuhi luka goresan dalam. Dengan napas yang terengah-engah, mereka bertanya-tanya di dalam hati tentang ketahanan energi sang elf.
"Hahaha..." Altur tertawa terbahak-bahak. "Aku yakin kalian semua mengira energi magisku tidak habis-habis walaupun sudah dua jam," ucap Altur, menebak apa yang mereka pikirkan dari raut wajah mereka.
"Ruangan ini sangat tertutup sehingga energi magis tidak bisa keluar. Aku hanya menyerap dan mengeluarkannya kembali, jadi jumlahnya tidak berubah sama sekali. Setelah kalian menguasainya, kalian pun bisa melakukan hal ini," jelas Altur.
Seketika itu juga, mereka bertiga mulai berdiri kembali dengan wajah serius, tersulut motivasi untuk segera menguasainya.
Setelah enam belas jam terpental berkali-kali, kondisi tubuh mereka mulai memprihatinkan. Mereka mulai sempoyongan saat berjalan.
Bahkan sekilas, tubuh mereka terlihat seperti habis tersiram cat warna merah. Walaupun hanya bisa masuk satu sampai dua langkah artinya hanya luka ringan, jumlah luka goresan yang sangat banyak membuat mereka mandi darah.
Altur terkesima dengan tekad mereka. Meskipun trio gubuk ini kocak, urakan, serta ugal-ugalan, jika sudah fokus pada satu tujuan, mereka bisa berubah menjadi seperti orang yang sama sekali berbeda.
Kini mereka sudah berada di ambang batas. Inilah sisa tenaga terakhir mereka. Dalam prediksi Altur, beberapa langkah lagi kesadaran mereka akan hilang dan mereka akan pingsan.
“AAaaaaa…!!!”
Mereka berteriak lantang sembari menerjang maju dari tiga sisi berbeda. Saat mereka mencapai zona berbahaya, kesadaran mereka mulai hilang.
“Hem..!” Altur tersenyum. “Akhirnya!” lanjutnya.
Ketika kesadaran mereka sudah hampir menyentuh titik nol, tubuh mereka secara otomatis bereaksi untuk menyerap energi magis. Seketika itu juga, tubuh mereka menguat dan sebagian luka mereka mulai menyembuh.
Kesadaran mereka kembali penuh, dan mereka berhasil menembus zona maut tersebut hingga ketiga tangan mereka menyentuh tubuh Altur. Mereka pun berhasil mendekati Altur.
Bersambung