Di dunia mafia Italia, putri seorang Capo tidak pernah berhak memilih.
Di hari pernikahannya—dengan pria yang belum pernah ia lihat—Alessia Castelli justru diculik. Bukan oleh perampok jalanan, melainkan oleh Fabiano Conti, Capo La Corona yang paling ditakuti di seluruh negeri. Bagi Fabiano, Alessia hanyalah kartu tawar: satu-satunya cara merebut kembali saudari kembarnya dari tangan kakak Alessia yang kejam.
Tapi ada yang salah dengan penculikan ini.
Pintu kamarnya tak dikunci. Tak ada yang memaksanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang berkata bahwa tubuhnya adalah miliknya sendiri—keputusannya sendiri. Lelaki paling berbahaya yang pernah ia temui ternyata memperlakukannya jauh lebih lembut daripada keluarganya sendiri.
Alessia tahu ia seharusnya membenci penculiknya. Ia tahu ia seharusnya melarikan diri. Jadi kenapa, di wilayah musuh, untuk pertama kalinya ia justru merasa aman?
Namun perang antar-klan tak mengenal cinta. Ketika pertukaran tak terhindarkan dan darah mulai tumpah, Alessia harus memilih antara keluarga tempatnya dilahirkan dan pria yang mengajarinya arti kebebasan—sementara Fabiano bersumpah akan membakar seluruh Italia sebelum membiarkan seorang pun merenggutnya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yesenia Stefany Bello González, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tubuhku
Alessia
Aku mencoba pakaian yang ditaruh Fabiano di kamarku beberapa menit lalu.
Ini bukan gaya yang biasa kukenakan, bukan karena aku tak suka, tapi karena di rumah aku selalu harus tampil rapi sempurna. Sedangkan pakaian ini ringan, nyaman, dan rasanya mengembalikan sesuatu yang telah hilang dariku.
"Tidak," aku meralat diri. "Mengembalikan sesuatu yang tak pernah kumiliki."
Aku mencoba celana pendek berbahan denim dan atasan hitam mungil.
Aku merasa seperti gadis delapan belas tahun yang hendak keluar berkumpul dengan teman-temannya.
Aku berputar di depan cermin dan tersenyum.
Aku punya pakaiannya. Sepertinya aku hanya kurang seorang teman.
Sandal kecil ini cocok sekali untuk cuaca seperti ini dan untuk hari berjalan-jalan di tepi pantai.
Tak ada lagi gaun.
Tak ada lagi perhiasan.
Hanya aku, tanpa bra, dengan pakaian tercantik dan ternyaman yang pernah kukenakan seumur hidup.
Fabiano benar. Kebebasan cocok untukku.
Ini pikiran konyol. Aku tahu. Aku diculik di luar kehendakku, tapi aku tak pernah merasakan geli kebebasan yang bersarang di dadaku ini saat di rumah.
Aku memandang lautan dari jendela dan memutuskan menguji kata-kata Fabiano. Ia bilang aku boleh bergerak bebas ke seluruh area ini. Sepertinya sebentar lagi aku akan tahu ia bohong atau tidak.
Aku berjalan ke pintu dan memutar gagangnya tanpa harapan sedikit pun.
Mulutku ternganga saat pintu itu terbuka.
Di luar ada seorang pengawal, yang menatapku dengan penasaran.
Sial.
Apa yang harus kulakukan?
"Butuh sesuatu, Nona?"
"Tidak. Aku hanya mau turun ke pantai," ucapku dengan bisikan nyaris tak terdengar.
Pengawal itu mengangguk dan menyingkir agar aku bisa lewat.
Aku menyusuri jalan yang sama seperti tadi bersama Fabiano dan menemukan pengawal di setiap beberapa meter.
Tak ada yang menghentikanku.
Tak ada yang berkata sepatah pun.
Aku keluar lewat dapur sambil memandang penuh damba pada para perempuan yang sedang memasak.
Di rumah aku tak diizinkan masuk dapur. Para pelayan benci melihatku dekat wilayah mereka, dan Papa tak pernah mau aku mengerjakan apa pun di rumah. Katanya pekerjaan seperti itu tak pantas untukku, tapi aku selalu cinta dapur.
Aku sudah menonton semua acara kompetisi memasak, dan menyimpan ribuan resep di ponselku… Ponsel yang kini tak lagi kupunya.
Aku maju menyusuri jalan setapak berbatu yang menurun ke pantai pribadi.
Aku menghirup angin laut dan tersenyum begitu tiba di pasir.
Kulepas sandalku dan berlari di atas pasir hangat.
Pasirnya mendingin di dekat garis pantai, dan aku memekik saat air membasahi kakiku.
Andai aku bisa berenang, tapi di pakaian pemberian Fabiano tak ada baju renang sama sekali.
Sayang sekali.
Bagaimana kalau…
Aku melihat ke sekeliling dan perutku berubah jadi simpul yang perih.
Beranikah aku?
Beranikah aku berenang telanjang di lautan?
Para pengawal berjalan jauh, dan dari jarak sejauh itu tak banyak yang bisa mereka lihat.
Apa aku peduli?
Tidak.
Aku tidak peduli.
Kalau Mama tahu apa yang hendak kulakukan, ia pasti akan berteriak sekencang-kencangnya.
Kalau Lucio tahu… ia akan membunuhku.
Namun tetap saja… Aku tak peduli.
Kulepas atasan mungilku sampai telanjang dari pinggang ke atas.
Kutahan godaan menutupi dadaku sambil melawan panas yang menjalar ke wajahku.
Kuturunkan celana pendekku bersama celana dalamku, lalu mulai berjalan ke arah air.
Sensasi air yang menerpa kulit telanjangku sungguh luar biasa.
Aku menghela napas sebelum melompat ke air.
Aku berenang mengelilingi teluk kecil berwarna toska ini.
Aku berenang sampai otot-otot lenganku terbakar hebat, tapi aku tak berhenti.
Aku berenang sampai matahari mulai lenyap di atas lautan.
Sensasi yang luar biasa…
Aku mengapung telentang dan membiarkan ombak perlahan mengembalikanku ke pantai.
Setiba di garis pantai aku bangkit dan berjalan ke tempat pakaianku kutinggalkan.
"Aku senang memastikan kamu masih hidup."
Aku tersentak saat mendengar suara Fabiano.
Ia duduk di samping pakaianku dengan senyum yang menarik bibirnya.
Aku menciut, menanti teriakan, omelan, bahkan pukulan, seperti yang akan dilakukan kakakku, tapi tak terjadi apa-apa.
Fabiano mengambil pakaianku dan berdiri.
"Kamu akan kedinginan," ucapnya sebelum menyerahkan pakaianku.
Kudekap pakaian itu ke dadaku sambil menanti omelan.
Kalau Papa atau Lucio memergokiku berenang telanjang di lautan dekat para pengawal… aku tak akan hidup sampai hari ini.
"Kamu boleh membentakku."
"Membentakmu?" tanyanya sambil menyerahkan sweter besar padaku, yang kuduga miliknya. "Aku tak mau kamu masuk angin. Penculik macam apa aku kalau membiarkan tawananku sakit?"
Aku tersenyum. "Yang cukup normal," kataku meyakinkannya sambil berpakaian di depannya.
Entah kenapa, aku tak merasa malu atau takut.
"Kamu suka berenang."
"Ya. Kamu tak akan membentakku karena berenang telanjang di depan prajuritmu?"
Ia tersenyum. "Kenapa aku harus membentakmu? Itu tubuhmu, Alessia. Kalau kamu tak keberatan, aku tak lihat alasan aku harus keberatan."
Kukenakan sweter besarnya sambil memikirkan apa yang baru saja ia katakan.
"Kamu benar. Ini tubuhku. Tapi aku tak bisa berkeliaran memamerkannya."
"Kenapa tidak? Ini tubuhmu. Keputusanmu."
"Karena itu hak istimewa untuk calon suamiku."
Fabiano memutar bola matanya.
Aku tersenyum.
"Menurutku itu konyol," katanya. "Memberikan ciuman pertamamu di hari pernikahanmu… tak bercinta dengan siapa pun sebelumnya… Bagaimana kamu tahu apa yang kamu suka kalau tak pernah melakukannya dengan orang lain?" tanyanya. "Bagaimana kamu tahu suamimu hebat di ranjang atau justru gagal total?"
"Aku…"
"Ini tubuhmu, Less. Kamu bisa memakainya sesukamu. Tak ada yang berhak melarangmu apa pun sama sekali."
"Kamu akan bilang hal yang sama kalau Cloe berenang telanjang?" tanyaku penasaran saat teringat nama kekasihnya. Seluruh tubuhnya menegang. Rahangnya mengeras dan matanya memancarkan kebencian yang begitu dalam. "Maaf," ucapku meminta maaf. "Itu bukan urusanku."
"Ayo pulang," katanya.
Rumah.
Kata itu.
Seharusnya kata itu berarti sesuatu, tapi sayangnya tidak.
Sepertinya aku tak pernah merasa benar-benar berada di rumah di mansion Castelli.
"Viola dan pelayan lain libur malam ini. Aku akan pesan sesuatu untuk makan malam." Aku berhenti mendadak dan memandang kedua tanganku dengan gugup. "Alessia?"
"Aku… aku tak keberatan menyiapkan sesuatu untuk kita berdua," ucapku cepat sementara panas membanjiri pipiku.
"Kamu tak harus melakukannya. Kamu bukan pelayanku."
Aku langsung mengangkat wajahku.
"Aku ingin melakukannya," kataku. Aku mendekat dan menggenggam tangannya. "Kumohon, biarkan aku memasak. Aku janji tak akan mengotori apa pun dan bersumpah akan menyapu sampai remah makanan terakhir."
Mata gelapnya menyusuri wajahku.
"Kamu boleh melakukan apa pun yang kamu mau, Alessia," gumamnya.
Kata-kata itu menghantam dadaku.
Keras.
Tak ada seorang pun yang pernah mengatakan kata-kata itu kepadaku seumur hidupku.
Sebelum menyadari apa yang kulakukan, aku berjinjit dan mencium pipinya.
Aku terpaku sedetik.
Apa aku baru saja mencium penculikku?
Aku berlari sebelum ia atau aku bisa berkata apa-apa.
"Kamu tak akan menyesal!" teriakku sambil menaiki jalan berbatu.
"Aku sudah mulai menyesal," gumamnya begitu pelan hingga aku tak tahu apa ia ingin aku mendengarnya, tapi tak penting.
Banyak yang harus kukerjakan.