Indonesia
NovelToon NovelToon
The CEO'S Speed Limit

The CEO'S Speed Limit

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: seasoulune

Raelyn Elamora, mahasiswi cerdas yang keras kepala dan doyan balapan liar, mendadak lemas saat sang papa menjodohkannya demi melunasi utang. Calon suaminya adalah Alvarez Arran Danadiaksa CEO muda super dingin dan cekatan yang menguasai bisnis sekota. Raelyn bersumpah tidak akan tunduk pada si "balok es," sementara Alvarez punya seribu cara pintar untuk menjinakkan istri liarnya. Apakah si kepala batu bisa meluluhkan hati si raja es?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23

Pagi harinya, suasana di tawang mewah kembali riuh rendah. Sesuai rencana, Papa dan Mama Alvarez bersiap untuk pamit pulang ke rumah utama mereka. Setelah sarapan yang untungnya berjalan tanpa insiden tersedak lagi, Raelyn dan Alvarez mengantar kedua orang tua itu sampai ke depan pintu utama.

Raelyn yang kakinya sudah jauh lebih nyaman sudah bisa berdiri tegak tanpa perlu dipapah. Namun, ketenangannya langsung sirna ketika sang mama mertua berbalik dan menggenggam kedua tangannya dengan erat.

"Raelyn sayang, Mama pulang dulu ya. Ingat, jamunya dihabiskan. Jangan malas minumnya," ucap sang mama dengan kedipan mata penuh arti.

"I-iya, Mah. Pasti," jawab Raelyn dengan senyum yang dipaksakan.

Papa Alvarez yang berdiri di samping istrinya kemudian menepuk bahu tegap Alvarez dengan kencang, lalu menatap anak dan menantunya bergantian dengan ekspresi wajah yang sangat serius.

"Al, ingat pesan Papa semalam ya. Latihannya pelan-pelan saja, jangan terlalu bersemangat sampai membuat Raelyn lecet-lecet lagi. Kasihan maintains Papa ini, badannya kecil begitu kamu pakai buat latihan ekstrem," ujar sang papa dengan nada bicara yang teramat polos, frontal, dan tanpa beban.

Blush!

Wajah Raelyn seketika berubah menjadi merah membara. Rasanya seluruh pasokan oksigen di bumi mendadak lenyap. Kalimat 'latihan ekstrem' dan 'mainnya pelan-pelan' yang keluar dari mulut papa mertuanya benar-benar sukses membuat Raelyn ingin menghilang dari bumi detik itu juga, atau minimal berdoa agar ada alien yang menculiknya ke planet pluto.

Sementara Raelyn sudah mati kutu menahan malu, Alvarez hanya berdehem pendek dengan ekspresi wajah yang tetap sekaku tripleks kayu.

"Iya, Pah. Aku mengerti," jawab Alvarez datar, seolah-olah wejangan mesum ayahnya adalah laporan perkembangan saham bulanan perusahaan.

"Yasudah, Mama sama Papa pulang dulu. Jaga kesehatan kalian ya, biar bulan depan Mama sudah bisa dengar kabar baik tentang cucu!" seru sang mama gembira sembari melambaikan tangan sebelum pintu tawang akhirnya tertutup rapat.

...----------------...

Sore harinya, setelah menahan diri selama berhari-hari di dalam rumah karena masa pemulihan, jiwa bebas Raelyn mulai meronta-ronta kembali. Dia merindukan suasana luar. Dengan pakaian kasual berupa jaket jins longgar dan celana denim kesayangannya, Raelyn menghampiri Alvarez yang sedang duduk membaca berkas kerja di ruang tengah.

"Al, gue izin keluar ya. Mau main sama Tisha sama Angel. Udah lama banget gue gak nongkrong," ucap Raelyn, mencoba meminta izin dengan sesopan mungkin.

Alvarez mengalihkan pandangannya dari berkas, menatap Raelyn dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan mata yang dingin.

"Gak boleh."

Raelyn langsung mengernyitkan dahi, sifat keras kepalanya kembali tersulut.

"Aku bosen di rumah terus, Al!" rengek Raelyn, tidak sadar kembali mengubah panggilannya menjadi 'aku'.

"Yaudah, aku temenin," tawar Alvarez santai, melipat berkasnya.

"Gak mau!" tolak Raelyn cepat.

Mana seru nongkrong bersama sahabat-sahabatnya jika harus membawa kulkas berjalan yang auranya bisa membuat seluruh kafe membeku.

"Yaudah, kalau begitu gak boleh keluar," balas Alvarez mutlak, kembali membuka berkas kerjanya seolah keputusan sudah final.

Raelyn mendengus kesal, menghentakkan kakinya ke lantai dengan dongkol.

"Terserah aku lah! Bye!" ketus Raelyn, langsung berbalik dan melangkah lebar menuju pintu keluar, berniat kabur secara terang-terangan.

Namun, baru tiga langkah berjalan, tubuh tegap Alvarez yang bergerak secepat kilat sudah lebih dulu bergeser dan menghadang jalur jalannya tepat di depan pintu. Dada bidang Alvarez yang kokoh menghalangi pandangan Raelyn.

"Minggir gak!" sentak Raelyn, menatap suaminya dengan pandangan tajam menantang.

"Gak mau," jawab Alvarez tenang tanpa riak.

Raelyn membuang napas panjang yang sarat akan rasa frustrasi. Dia melipat kedua tangannya di dada, mendongak menatap pria yang jauh lebih tinggi darinya itu.

"Mau lo apa sih, Al? Selama tiga bulan ini gue udah nurut banget sama lo. Gue gak balapan, gue gak pergi ke klub malam, gue bener-bener gak macam-macam! Gue cuma mau main sebentar sama temen gue ke kafe, masa gak boleh?!" cecar Raelyn berapi-api.

Alvarez menatap mata bulat istrinya yang berkilat marah namun terlihat sangat menggemaskan. Pria itu menghela napas pendek, lalu seulas senyum licik dan jahil terukir di bibir tipisnya.

"Oke, kamu boleh keluar," ucap Alvarez perlahan, membuat mata Raelyn sempat berbinar lega.

"Tapi... cium aku dulu."

Mata Raelyn langsung membelalak sempurna.

"Gak mau!" tolaknya mentah-mentah.

"Yaudah, kalau begitu gak boleh pergi," jawab Alvarez santai, kembali melipat tangannya.

"iiih! Nyebelin banget sih lo jadi cowok!" umpat Raelyn kesal, meremas ujung jaket jinsnya karena gemas setengah mati dikerjai.

Alvarez menaikkan sebelah alisnya, memundurkan wajahnya sedikit.

"Cepat. Mau keluar ketemu temanmu atau gak?"

Karena rasa ingin bertemunya dengan Tisha dan Angel sudah di ubun-ubun, Raelyn akhirnya terpaksa mengalah. Dia berjinjit sedikit, lalu dengan gerakan kilat mendaratkan sebuah ciuman pendek di pipi kanan Alvarez.

Cup.

"Udah!" ketus Raelyn, bersiap menerobos samping tubuh Alvarez.

Namun, tangan kekar Alvarez menahan bahunya dengan mudah.

"Yang bener dong ciumnya," protes Alvarez tidak terima.

"Itu kan udah, Al!" cerocos Raelyn, wajahnya mulai menghangat.

Alvarez menggunakan jari telunjuknya untuk menunjuk bibirnya sendiri dengan santai. "Di sini."

"Al! Udah deh, jangan aneh-aneh! Gue udah ditungguin sama temen gue, kasihan mereka!" seru Raelyn panik, melirik jam tangannya yang sudah lewat dari waktu janjian.

"Makanya cepat. Semakin kamu menunda, semakin lama mereka menunggu," desak Alvarez, menggunakan logika waktu untuk menjebak pertahanan istrinya.

Karena posisinya yang sudah sangat terdesak dan pasrah, Raelyn akhirnya memejamkan matanya rapat-rapat. Dia memajukan wajahnya, lalu menempelkan bibirnya ke atas bibir Alvarez, berniat melakukannya secara kilat saja.

Namun, seorang Alvarez Arran Danadiaksa tentu saja tidak akan menyia-nyiakan momen emas dan kesempatan berharga tersebut.

Sebelum Raelyn sempat menarik diri mundur, lengan kekar Alvarez sudah lebih dulu merangkul pinggang ramping Raelyn dengan erat, mengunci tubuh gadis itu agar menempel sempurna pada dada bidangnya.

Alvarez memperdalam ciumannya. Sentuhan itu tidak lagi kaku seperti siang kemarin, melainkan terasa sangat hangat, menuntut, dan penuh dengan luapan perasaan yang selama ini dia pendam sendiri.

Raelyn yang sempat tersentak kaget dan membelalakkan matanya, perlahan-lahan mulai kehilangan kekuatannya untuk memberontak. Terbawa oleh atmosfer yang begitu intim, Raelyn perlahan memejamkan mata dan mulai mengikuti permainan lembut dari suaminya.

Setelah momen panas dan mendebarkan itu berlangsung selama beberapa saat, Alvarez perlahan melepaskan tautan bibir mereka. Napas Raelyn tampak sedikit terengah dengan wajah yang sudah semerah buah stroberi.

Alvarez mengulurkan ibu jarinya, mengusap sudut bibir Raelyn yang sedikit basah dengan gerakan yang teramat lembut dan penuh kasih sayang.

"Udah sana. Tapi pulangnya jangan malam-malam ya," ucap Alvarez, suaranya terdengar lebih rendah dan seksi di telinga Raelyn.

Raelyn hanya bisa mengangguk pelan dengan pandangan mata yang sedikit linglung, seluruh keberanian dan kegarangannya menguap habis tak bersisa karena ciuman barusan.

Alvarez merogoh saku celananya, mengeluarkan dompet kulitnya, dan menyerahkan selembar kartu hitam tak terbatas limit miliknya (Black Card) ke tangan Raelyn.

"Ini buat kamu jajan sama temanmu. Mau aku antar sendiri, atau diantar sopir?" tanya Alvarez menawari.

"Dianter sopir aja," jawab Raelyn dengan volume suara yang mendadak berubah menjadi sangat pelan dan kalem, kehilangan seluruh energi ketusnya.

"Yaudah, hati-hati di jalan ya," ucap Alvarez, mengacak rambut cepol Raelyn sekilas dengan gemas.

"Hmm... makasih ya," cicit Raelyn, lalu buru-buru membalikkan badannya dan melangkah keluar menuju mobil sedan mewah yang sudah disiapkan di depan lobi.

...----------------...

Di dalam mobil mewah yang melaju membelah jalanan kota, Raelyn duduk diam di kursi belakang sembari menatap ke luar jendela. Namun, pandangan matanya kosong.

Pikirannya terus-menerus berputar otomatis mengingat setiap detail kejadian mendebarkan di depan pintu tadi. Sentuhan tangan Alvarez di pinggangnya dan bagaimana hangatnya bibir pria itu terasa begitu nyata melekat di ingatannya.

Raelyn meremas kartu hitam di tangannya, lalu mengacak-acak rambutnya sendiri dengan frustrasi.

Aaaarggh! Bisa gila gue lama-lama di rumah itu! Masa iya... masa iya gue beneran mulai suka sama si kulkas berjalan itu?! Gak mungkin, Raelyn! Inget, ini cuma pernikahan bisnis! batin Raelyn menjerit, mencoba menolak kenyataan bahwa hatinya sudah runtuh sepenuhnya.

Sesampainya di sebuah kafe estetik di kawasan elit, Raelyn langsung melangkah masuk. Di sudut ruangan dekat jendela besar, Tisha dan Angel sudah melambaikan tangan dengan heboh melirik kantong kosong yang dibawa Raelyn.

"Wah, akhirnya Nyonya Danadiaksa keluar dari sangkar emasnya!" goda Angel begitu Raelyn mendudukkan diri di kursi.

"Diem lo, gue butuh minum dingin sekarang juga!" ketus Raelyn, langsung memesan segelas es americano untuk meredakan suhu tubuhnya yang mendadak terasa panas jika mengingat kejadian di tawang tadi.

Mereka bertiga mulai mengobrol dengan seru, melepas rindu setelah berminggu-minggu tidak berkumpul bersama. Raelyn menceritakan perkembangan skripsinya yang hampir rampung berkat bantuan Alvarez, tentu saja dengan melewati bagian-bagian intim yang memalukan.

Namun, di pertengahan obrolan mereka yang seru, ekspresi wajah Tisha mendadak berubah menjadi agak serius. Dia condong ke depan meja, menatap Raelyn lekat-lekat.

"Lyn... lo udah tahu belum? Elang udah balik ke Indonesia," ucap Tisha dengan volume suara yang sengaja direndahkan.

Mendengar nama 'Elang' disebut kembali secara tiba-tiba, gerakan tangan Raelyn yang hendak mengaduk minumannya mendadak terhenti sejenak.

Nama mantan kekasihnya di zaman SMA yang meninggalkannya karena menolak hubungan jarak jauh lima tahun lalu itu kembali mengetuk memorinya.

Namun anehnya, kali ini hatinya tidak lagi merasakan rasa perih atau sakit hati yang mendalam seperti dulu. Fokus hatinya entah mengapa sudah penuh terisi oleh sosok lain.

Raelyn kembali mengaduk minumannya dengan ekspresi wajah yang diusahakan sedatar mungkin.

"Hmm... terus? Hubungannya sama gue apa?" jawab Raelyn santai.

"Ya... lo hati-hati aja, siapa tahu kalian malah CLBK. Kan dulunya lo berdua bucin banget waktu SMA," timpal Angel ikut menggoda.

Raelyn langsung mendengus sinis, menggelengkan kepalanya dengan tegas.

"Enggak lah, gak akan ada cerita begituan lagi. Gue kan sekarang udah nikah secara sah. Lagian... gue juga gak bakal bisa macam-macam atau aneh-aneh di luar rumah," jelas Raelyn mantap.

Dia melirik kartu hitam di atas meja. "Bisa-bisa gue dibunuh sama Alvarez kalau berani main belakang."

Tisha dan Angel kompak bergidik ngeri mendengar nama Alvarez disebut dalam konteks tersebut.

"Iya juga sih, Lyn. Bener kata lo," ucap Angel setuju dengan wajah agak ngeri.

Di dunia luar, selain dikenal sebagai pengusaha muda yang jenius dan kaya raya, nama Alvarez Arran Danadiaksa memang terkenal memiliki reputasi yang sangat kejam dan dingin dalam urusan persaingan bisnis.

Siapa pun orang yang berani mengusiknya, mencari masalah dengannya, atau mencoba mengkhianatinya, dipastikan akan dibuat menyesal seumur hidup mereka.

Gurita koneksi keluarganya yang sangat luas mampu membuat seseorang kehilangan seluruh aset, karier, bahkan bisa dibuat "menghilang" dari permukaan bumi dan dunia sosial dalam sekejap mata, walaupun tanpa perlu melakukan tindakan pembunuhan fisik secara langsung.

Kekuasaan mutlak seorang Danadiaksa bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan bahan permainan.

Raelyn tersenyum tipis, menyesap kopi dinginnya dengan tenang.

Di balik reputasi kejam suaminya yang ditakuti seluruh dunia luar itu, Raelyn tahu betul ada sisi lain dari seorang Alvarez yang teramat lembut, perhatian, dan rela mengalah demi menjaga keselamatannya di rumah. Dan perlahan namun pasti, sisi lembut itulah yang kini telah mengunci hati sang ratu jalanan seutuhnya.

1
Muchammad Shobris
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!