When the Extra Writes the Rules/ Ketika karakter tambahan menulis aturan.
Kisah seorang pekerja kantoran modern Kirana yang masuk ke tubuh Evelyn Rosenberg, karakter figuran kaya raya namun berpenyakit kronis dalam novel fantasi favoritnya.
Karena tahu takdir karakter pendukung dan dunia novel tersebut akan berujung bad ending, Evelyn bertekad mengubah alur dengan memanfaatkan pengetahuan ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 : Jebakan
Beberapa hari kemudian.
Aroma minyak lavender dan seduhan daun rosemary yang menenangkan memenuhi seluruh sudut kamar.
Evelyn sedang bersantai di atas ranjangnya.
Meskipun dokter sudah mewanti-wanti agar ia tak banyak bergerak, di atas selimutnya justru tergelar peta wilayah Kekaisaran Arkania.
Jemari Evelyn menelusuri garis-garis hitam di atas kertas itu.
"Sektor transportasi bagian barat... tidak, daerah sana terlalu cepat terpengaruh gejolak harga pangan," bisik Evelyn pada dirinya sendiri.
Tangannya bergerak mengambil pena, lalu menggoreskan lingkar merah tipis di sebuah area lembah terpencil yang diapit dua pegunungan es.
"Sektor energi mana murni. Di novel asli, daerah Obsidian Keep hanya dianggap tanah gersang bersalju yang nggak guna. Tapi dalam waktu dua tahun, dari sana bakal tercipta teknologi mana radiator yang ditemukan oleh peneliti."
Pintu kamar mendadak terdorong pelan, membuat Evelyn dengan cepat menutup sebagian peta itu dengan selimutnya.
Seorang wanita paruh baya bermata teduh masuk membawa nampan. Duchess Eleanor tersenyum manis saat melihat putrinya sibuk memegang pena.
Di belakang sang ibu, dua pelayan muda membawa satu meja lipat kecil yang langsung dipasang dengan hati-hati di atas tempat tidur Evelyn.
"Aduh, anak Mama... Baru ditinggal sebentar ke ruang ganti, sudah sibuk pegang pena lagi," ujar Eleanor seraya menggeleng halus.
Ia duduk di pinggir kasur, mengambil cangkir berisi cairan hijau keemasan yang masih berasap tipis.
"Coba ditaruh dulu penanya. Ini diminum dulu teh daun mint hangat sama madu murninya. Chef dapur khusus membawakannya dari perbukitan timur."
Evelyn meletakkan pena itu, lalu mengukir senyum manis. "Makasih, Mama. Evelyn cuma lagi coret-coret sebentar kok. Mati gaya kalau cuma natap langit-langit kamar seharian."
"Mati gaya? Bahasa aneh dari mana lagi itu?" Eleanor tertawa kecil sambil menyuapkan sendok teh hangat ke bibir Evelyn dengan teramat sabar.
"Lagipula, kata Julian, kamu belakangan ini sering minta berkas-berkas lama. Jangan dipaksa ya, Lyn. Kepala kamu bisa pusing lagi kalau terlalu banyak mikir."
"Evelyn cuma pengin belajar sedikit tentang cara Papa mengelola tempat usaha kita, Ma. Siapa tahu nanti Evelyn bisa bantu-bantu sedikit dari kasur," celetuk Evelyn santai sebelum menyesap teh yang disodorkan ibunya.
Eleanor mengusap pipi Evelyn. Matanya berbinar penuh keharuan.
"Kamu itu cukup bernapas dengan lega dan senyum setiap pagi, itu sudah bantu Mama sama Papa bahagia setengah mati. Nggak usah mikirin hal-hal berat begitu."
Saat Eleanor sibuk merapikan selimut Evelyn, pintu kamar ketukan pelan berbunyi tiga kali.
Sosok Julian melangkah masuk. Ia masih menggunakan pakaian latihan dengan bekas peluh tipis di pelipisnya.
Tatapan matanya langsung tertuju pada Evelyn, lalu memberi isyarat mata samar—isyarat bahwa perintah rahasia yang kemarin mereka bicarakan sudah berhasil diproses.
"Ma, bisa minta tolong suruh dapur siapkan kue bolu kenari favorit Evelyn?" tanya Julian seraya menyandarkan diri di tiang ranjang dengan gaya santai.
"Kayaknya adik kecil kita ini butuh gula biar pipinya nggak kelihatan makin tirus."
Eleanor mendongak, lalu menepuk pelan lengan baju Julian. "Kamu ini, baru selesai latihan pedang bukannya mandi dulu malah langsung ke sini. Ya sudah, Mama ke dapur sebentar. Kamu jangan goda adikmu, nanti batuknya kumat lagi."
"Siap, Mama Duchess," seloroh Julian penuh canda.
Begitu pintu kamar tertutup dan langkah kaki ibunya menjauh, raut wajah Julian berubah. Ia mendekati Evelyn, memajukan badan, lalu berbisik pelan.
"Laporan dari Pasukan Shadow sudah keluar sejam lalu," bisik Julian.
"Kamu benar, Lyn. Pasukan yang Kakak kirim ke Lembah Oakhaven melakukan pengeboran sedalam dua belas meter di dekat sungai utama. Tanah bagian dalamnya memuntahkan lumpur hitam berbau busuk yang mengandung racun sihir pekat. Kalau Papa tetap beli tanah itu... kita bakal tamat."
Evelyn menghela napas lega. Dadanya terasa agak lebih ringan.
"Hasil tes laboratoriumnya sudah keluar, Kak?" tanya Evelyn, menatap mata kakaknya.
Julian merogoh bagian dalam mantelnya, mengeluarkan sebuah gulungan kertas kecil dengan segel lilin warna biru tua—segel khusus dari guild alchemist netral.
"Ini dia. Dokter kimia di kota bawah kaget setengah mati pas lihat kandungan racunnya. Dia bilang ini jenis racun sihir purba yang bisa merusak struktur tanah. Count Malakor jelas-jelas mau menjebak Papa," desis Julian, jarinya mengepal erat.
"Kakak rasanya mau langsung seret Count Malakor ke tengah alun-alun terus tak tebas lehernya!"
"Jangan emosi dulu, Kak," sergah Evelyn cepat. "Kalau Kakak main tebas, yang ada kita yang disalahkan kerajaan atas tuduhan pembunuhan bangsawan tanpa bukti pengadilan. Kita harus main cantik." Evelyn kembali membuka peta yang disembunyikan di balik selimutnya.
Julian menatap adiknya dengan tatapan campuran antara kagum dan takjub. "Main cantik gimana? Papa rencana mau tanda tangan kontrak pelunasan lusa di perjamuan makan malam."
Evelyn menyunggingkan senyum tipis. Ia meraih pena, lalu menunjuk sebuah poin di sudut peta wilayah Utara.
"Pertama, simpan dulu gulungan hasil tes ini, aku udah menyiapkan satu rencana agar Papa tidak menandatangani dokumen itu" terang Evelyn.
"Terus uang kas yang tadinya mau dipakai Papa buat beli Oakhaven... mau dikemanakan?" tanya Julian penasaran.
"Nah, itu poin utamanya," Evelyn mengetukkan ujung penanya pada area salju gersang di dekat Obsidian Keep—wilayah kekuasaan Duke Cassian, sang antagonis utama novel.
"Alihkan seluruh dana itu untuk membeli hak guna tanah kosong di wilayah pegunungan dingin bagian Utara ini."
Julian membelalakkan matanya. Ia menunduk, menatap titik yang ditunjuk Evelyn dengan dahi berkerut tajam. "Kamu gila, Lyn? Itu wilayah Obsidian! Tanah salju gersang yang cuma diisi batu es dan monster. Nggak ada tumbuhan yang bisa tumbuh di sana, nggak ada kristal mana murni juga. Buat apa kita buang-buang uang kas di sana?"
Evelyn tertawa pelan. "Di permukaan memang cuma es, Kak. Tapi dalam buku catatan geologi tua yang pernah tak baca, di bawah lapisan es tebal wilayah itu ada urat batu Luminite terbesar di benua ini. Kristal khusus yang bisa menyimpan energi panas mana lima kali lipat lebih stabil dibanding kristal biasa."
Julian terpaku. "Kamu... yakin? Dari mana kamu tahu hal-hal mendetail begini?"
"Kakak lupa kalau Evelyn ini hobi mendekam di perpustakaan tua keluarga sejak kecil?" alih Evelyn lancar tanpa berkedip sedikit pun.
"Tahun depan, musim dingin yang menghantam kerajaan bakal sepuluh kali lipat lebih ekstrem dari tahun ini. Seluruh bangsawan bakal panik cari sumber energi penghangat. Kalau kita kuasai tanah itu dari sekarang, saat harganya masih dianggap 'murah' oleh orang-orang... keluarga Rosenberg bakal memegang kendali atas pasokan energi seluruh benua."
Julian menatap adiknya lama sekali. Ruangan itu mendadak hening, otaknya dipaksa bekerja keras mencerna rencana jangka panjang adiknya.
"Kamu..." Julian akhirnya bersuara, nada suaranya bergetar pelan. "Kamu bukan cuma mau menyelamatkan Papa dari jebakan, tapi kamu mau bikin keluarga kita makin tak tersentuh oleh pihak kerajaan?"
"Bukan cuma tak tersentuh, Kak," sahut Evelyn dengan pandangan mata yang dingin.
"Evelyn mau memastikan... sampai kapan pun, nggak ada satu orang pun di kerajaan ini—termasuk Putra Mahkota atau bangsawan mana pun—yang punya keberanian buat mengusik keluarga kita. Kita harus punya daya tawar yang bikin mereka tunduk."
Julian menarik napas, "Baiklah," kata Julian mantap.
"Kakak bakal bantu kamu. Kakak akan urus pembelian tanah Utara itu atas nama anak perusahaan rahasia milik keluarga, biar pihak kerajaan nggak curiga kalau itu manuver kita."
"Gunakan nama 'Perusahaan Asteria'," bisik Evelyn. "Nama yang nggak mencolok."
"Siap," jawab Julian sambil mengukir senyum bangga. Tangannya terulur mengusap kepala Evelyn dengan penuh kasih sayang. "Tapi ingat... semua transaksi dan rencana ini akan kuurus dengan satu syarat."
Evelyn mengangkat alisnya. "Syarat apa?"
"Mangkuk obatmu harus diminum tanpa menyisakan satu tetes pun," tegas Julian dengan raut wajah berlagak galak. "Dan tidak boleh pingsan lagi minggu ini. Paham?"
Evelyn tertawa pelan, mengangguk setuju. "Paham, Kakak."
Tak lama kemudian, suara langkah kaki ibunya kembali terdengar di luar koridor. Julian dengan cepat melipat peta itu dan menyembunyikannya di dalam lemari buku kecil di sudut kamar, sementara Evelyn memposisikan dirinya kembali bersandar santai di bantal, berpura-pura baru saja menguap mengantuk.
Eleanor masuk membawa nampan berisi potongan kue bolu kenari yang harum semerbak.
"Nah, ini kuenya sudah siap," kata Eleanor riang, meletakkan piring kecil di meja lipat Evelyn. "Lho, Julian... kok wajahmu kelihatan tegang begitu? Kamu ajak adikmu bicara apa?"
"Nggak ada apa-apa, Ma," jawab Julian lancar sambil mencuri sepotong kue dari piring Evelyn. "Cuma lagi diskusi soal gaun apa yang cocok buat Evelyn kalau nanti dia sudah makin segar dan bisa ikut pesta kebun bulan depan."
"Wah, benaran?" mata Eleanor berbinar gembira. "Mama punya puluhan kain sutra impor baru dari wilayah Selatan yang belum dipotong! Nanti Mama suruh penjahit istana datang ke sini!"
Evelyn tersenyum melihat interaksi di antara ibu dan kakaknya.
Rencana intervensi pertamanya sudah siap diluncurkan. Jebakan untuk Count Malakor bakal berbalik menghantam dirinya sendiri.
Satu per satu alur cerita ini bakal tak ubah, batin Evelyn optimis.
semangat nulisnya 💪