Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.
Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.
Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.
Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.
Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.
Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33: Kontroversi Pakaian Kotor yang Singkat
Selesai makan siang, Azka hanya duduk terpaku di kursi, menatap sisa mangkuk yang sudah kosong. Sedangkan Visha mulai merapikannya.
Wajah Azka tampak gelisah. Otaknya kembali memikirkan ke satu hal yang belum terselesaikan, bagaimana caranya kembali ke daerah dengan aman.
Langkah ini tak mudah karena akan berkaitan langsung pada risiko kecurigaan Visha yang sama sekali tidak boleh bertemu Kayla. Meskipun dalam hati kecilnya, ia masih ingin mengupayakan agar bisa pulang bersama Kayla. Tapi rasanya sekarang sudah tidak mungkin lagi.
Dalam kebingungan, Azka kemudian kepikiran memanfaatkan Noval. Kebetulan esok hari, ia punya jadwal rapat bersama tim dari manajemen proyek.
Tapi ia sedang memikirkan tentang bagaimana cara mengatakannya pada Visha. Sungguh tidak masuk akal kalau tiba-tiba Azka minta pulang tanpa memberikan alasan yang jelas.
Ia harus segera memutuskan sebelum waktu semakin sore. Apalagi ia juga perlu memberitahu Kayla tentang perubahan jadwal kepulangannya.
Azka masih merasa berat merelakan rencana menghabiskan lebih banyak waktu bersama Kayla akibat dari Visha yang menyusul. Belum lagi saat ini jadi terkesan sangat mubazir karena Visha baru datang, tapi harus kembali lagi ke daerah.
“Aku mandi dulu ya, gerah sekali,” kata Visha membuyarkan lamunan Azka sambil membuka lemari kamar hotel.
Sebelumnya, ia sudah memindahkan semua pakaian dari koper ke dalam lemari. “Mau ikut mandi?” ajak Visha.
Tidak seperti sebelumnya, Azka menolak. Ia sedang fokus mematangkan rencana pulang tanpa dicurigai Visha.
“Kamu saja duluan, aku masih ingin menikmati rebahan di ranjang ini, membayangkan apa yang sudah kita lakukan tadi,” jawab Azka nakal.
Visha memandangnya geli lalu masuk ke dalam kamar mandi. Ketika istrinya mandi, Azka mengatur rencana sandiwara kepulangannya yang mendadak. Ia akan berpura-pura menelpon seseorang.
Beberapa menit berlalu. Visha keluar dari kamar mandi, ia langsung dikejutkan Azka sedang berbicara dengan nada tinggi di telepon.
“Kalau seperti ini jadinya, kamu membuat saya repot, tahu tidak!” ucapnya.
Azka mengakhiri panggilannya sambil memperlihatkan wajah kesal. Sontak saja Visha bertanya tentang apa yang terjadi. Melanjutkan sandiwara, Azka berlagak tidak ingin memberitahu Visha. Ia melanjutkan aktingnya, duduk lalu berpose seperti tengah memikirkan sesuatu.
Setelah didesak, ia akhirnya mengatakan apa yang sudah direncanakan sejak awal.
“Sepertinya kita harus kembali ke rumah. Kantor cabang mengalami masalah. Noval tidak becus bekerja. Ada kelalaian yang membuat proyek terancam rugi banyak karena kesalahan manajemen. Kita berangkat sore ini, aku akan urus tiketnya,” jelas Azka.
Tanpa diduga, wajah Visha terlihat senang. Rupanya ia juga memikirkan hal yang sama karena merasa tidak betah. Lingkungan daerah ibukota bagian barat sangat berbeda dengan wilayah tempat tinggal mereka yang berada di bagian timur.
“Baiklah, kita pulang sore ini!” ucapnya langsung membuka lemari, mengangkat tumpukan baju untuk dimasukkan ke dalam koper.
Azka terkejut. Ternyata rencana ini tidak sesulit yang dibayangkan. Padahal ia sudah mempersiapkan banyak antisipasi jawaban jika Visha bertanya, tapi rasanya itu semua sia-sia.
Sekarang ia hanya perlu memikirkan pembelian tiket dan bagaimana cara memberitahu Kayla terkait kepulangan mendadak ini.
Usai melakukan pembelian tiket pesawat yang akan berangkat sore ini, Azka mencuri kesempatan mengirimkan pesan whatsapp secara diam-diam ke Kayla.
Ia tidak menjelaskan alasan jelas terkait perubahan jadwal kepulangannya. Ia hanya mengucapkan permohonan maaf karena Kayla harus pulang sendirian.
Tak berapa lama, Kayla membalasnya berisi kekhawatiran, “Tapi kamu baik-baik saja kan, Pak?”
Namun Azka memutuskan untuk mengabaikannya. Ia juga menghapus semua riwayat pesan mereka. Tanpa diduga, Azka dikejutkan oleh Visha yang melemparkan handuk ke tubuhnya. Ia memberikan perintah, “Ayo mandi! Siap-siap”.
Tapi Azka mengernyitkan alis ketika melihat Visha mengeluarkan pakaian kotor yang sebelumnya dilipat rapi. Oleh karena Visha tidak mengetahuinya, ia menyiapkan pakaian itu untuk digunakan Azka.
Sebenarnya ia merasa geli karena harus mengenakan pakaian kotor tersebut. Tapi Azka tidak berani mempermasalahkannya, ia tidak ingin mengambil risiko.
Setelah mandi, Azka terpaksa mengenakan pakaian kotor, lalu menyemprotkan minyak wangi. Tapi bukan aroma yang menjadi problem, ia merasa seperti lengket bekas keringat, membuat tidak nyaman.
***
Sore itu bandara terlihat cukup ramai. Azka dan Visha duduk berdampingan di deretan kursi tunggu, hanya koper milik Visha yang terlihat sedangkan koper Azka sudah dimasukkan ke dalam bagasi pesawat.
Suara pengumuman keberangkatan sesekali menggema, namun Azka nyaris tak memperhatikan. Matanya memandang lurus ke depan, tapi pikiran berkelana ke arah lain.
Nama itu kembali muncul di benaknya, Kayla. Namun ia segera menarik nafas dalam, menghembusnya pelan. Tidak sekarang, batin berusaha membuat ia sadar. Ia memaksa diri menutup pintu-pintu yang belum dikunci sepenuhnya.
Saat panggilan boarding terdengar, mereka berdiri, melangkah cepat menuju lorong pesawat.
Semua berjalan mulus.
Langit cerah, turbulensi nyaris tak terasa. Waktu seakan mengalir tanpa hambatan, membawa mereka perlahan menjauh dari hiruk pikuk ibukota.
Ketika roda pesawat menyentuh landasan di tanah yang lebih akrab, hati Azka seperti ikut mendarat. Kepulangan kali ini tak pernah terasa seaneh ini.
Melanjutkan perjalanan menggunakan mobil taksi online, mereka akhirnya sampai di rumah.
“Home sweet home!” ucap VIsha.
Azka menanggapinya dengan tertawa. Ia meledek Visha yang terlihat berlebihan karena ia hanya pergi satu hari, tapi sudah merindukan rumah seakan pergi selama bertahun-tahun.
“Biarkan saja sih, memangnya tidak boleh?” respon Visha cemberut manja.
“Iya, iya, begitu saja marah, nanti cantiknya hilang, lho,” kata Azka.
Kini Azka masuk ke dalam kamar, membawa dua koper yang mereka bawa. Sedangkan Visha pergi menuju dapur membuat minuman dingin.
Setelah meletakkan koper, Azka menyusul ke dapur. Ia mengambil segelas minuman yang disiapkan Visha.
Ia mengajak Visha makan malam di sebuah restoran kafe yang baru saja buka di dekat rumahnya. Mereka sempat melihat dalam perjalanan pulang tadi, Visha menyetujuinya.
“Tapi hari sabtu kita tetap jadi, kan?” tanya Visha menatap sinis.
“Jelas dong, itu perayaan hari ulang tahunmu. Mana mungkin batal,” jawab Azka santai.
Visha kemudian mengatakan kalau ia menemukan restoran baru yang ia ingin kunjungi. “Hugo Grill namanya. Nanti kita ke sana saja ya,” ucap Visha.
“Oke!” jawab Azka singkat.
Visha kemudian pergi ke dalam kamar, memisahkan pakaian kotor untuk dicuci. Tapi rupanya ia menemukan kejanggalan dari satu pakaian tercium bau parfum yang meski sudah lama, tapi ia yakin itu wangi parfum milik Azka.
Ia berpikir, bagaimana mungkin pakaian masih bersih tapi sudah tercium wangi parfum. Tapi ia sempat berusaha tidak terlalu memikirkannya lebih jauh.
Namun saat ia memikirkannya kembali, ia menilai tidak ada salahnya bertanya kepada Azka.
“Azka, sini deh,” teriaknya.
Mendengar itu, Azka menghampirinya. Visha langsung bertanya tentang wangi parfum pada pakaian yang ada di dalam kopernya.
“Ini pakaian masih bersih, kan? Kenapa ada wangi parfum ya?” tanya Visha.
Ternyata Azka sudah mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan tersebut. Ia menjelaskan dirinya sempat ingin mengenakan pakaian tersebut lalu menyemprotkan minyak wangi, tapi sayang tidak jadi digunakan karena ia keburu sakit.
Visha masih merasa heran, “Terus, kamu lipat lagi?”
Penjelasan Azka mulai berbelit tapi berusaha tetap santai agar tidak dicurigai.
Meskipun tak terlalu ingat detailnya, Visha mencoba percaya ucapan Azka. Menurutnya tidak ada alasan bagi Azka berbohong.
Visha membawa pakaian yang terkena wangi parfum dibawa ke belakang. “Aku cuci saja deh.”
Kesekian kalinya Azka tertolong berkat kepolosan Visha. Ia merasa bersyukur karena tidak harus menggunakan pakaian kotor lagi.
“Maaf ya, aku jadi merepotkan kamu harus mencucinya lagi,” kata Azka.