Indonesia
NovelToon NovelToon
Namamu Di Mata Yang Salah (Remake Storm)

Namamu Di Mata Yang Salah (Remake Storm)

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Alina Maheswari percaya bahwa cinta selalu menemukan jalannya. Lima tahun bersama Birendra Adhyaksa membuatnya yakin bahwa lelaki itu adalah rumah tempat dimana ia akan pulang selamanya.

Namun sebuah kecelakaan merenggut segalanya.

Ketika sang kakak—Keira Maheswari kehilangan suaminya, dan terjebak dalam trauma yang membuatnya mengira Birenda adalah lelaki yang telah tiada, Alina dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan yaitu mempertahankan cintanya atau merelakannya demi menyembuhkan satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Disaat pengorbanan mulai mengikis hatinya, masa lalu datang mengetuk, sementara rahasia demi rahasia perlahan mengubah arti cinta, kehilangan, dan kesetiaan. Sebab terkadang, yang menghancurkan sebuah hubungan bukanlah hadirnya orang ketiga, melainkan seseorang yang namamu di mata yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 – Malam yang Mengubah Arah Pulang

“Takdir jarang mengetuk pintu dengan keras. Ia lebih sering menggeser engselnya sedikit demi sedikit, sampai kita sadar rumah yang kita kenal sudah berubah bentuk.”

--

Pagi setelah kejadian itu datang bersama langit yang tampak terlalu tenang, seolah hujan semalam tidak pernah turun dan tangisan Keira yang menggema di kamar rawat hanyalah mimpi buruk yang selesai ketika matahari terbit. Namun bagi keluarga Maheswari, malam itu belum benar-benar berakhir.

Jejak itu masih tertinggal di mata yang sembab, di bahu yang semakin membungkuk, dan di keheningan yang kini lebih sering hadir dibanding percakapan.

Alina datang lebih awal daripada biasanya. Ia berhenti beberapa detik di depan pintu kamar rawat sebelum menarik napas panjang. Di balik pintu itu, ada dua orang yang sama-sama ia cintai, dan mulai hari itu, keadaan akan meminta keduanya saling berbagi sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan.

Keira masih tertidur ketika Alina masuk. Wajah wanita itu tampak jauh lebih damai dibanding malam sebelumnya. Napasnya teratur, jemarinya tidak lagi mencengkeram selimut seperti orang yang takut ditinggalkan.

Di sisi ranjang, sebuah kursi masih sedikit bergeser, bekas tempat Birendra duduk semalaman menenangkan kepanikannya. Alina memperhatikan kursi itu cukup lama, benda mati itu tiba-tiba memiliki arti yang terlalu besar, lalu ia menggeleng pelan—tidak, ia tidak boleh membiarkan pikirannya berpikir terlalu jauh.

Dokter Arman datang tepat pukul delapan. Hari itu ia tidak lagi terdengar seperti seseorang yang sedang memberikan kemungkinan, karena ia sudah membawa sebuah keputusan yang akan ia berikan kepada keluarga Maheswari.

"Setelah melihat perkembangan beberapa hari terakhir," katanya tenang, "Kami memutuskan untuk memulai terapi pendamping." Ruangan kembali sunyi.

Alina menggenggam ujung cardigan yang dikenakannya, Hendra duduk dengan kedua tangan bertumpu di lutut, Dian yang baru datang beberapa menit sebelumnya ikut menahan napas. Sementara Birendra, ia hanya menatap dokter tanpa berkedip.

"Terapi ini bersifat sementara." Dokter menekankan dua kata terakhir. "Tujuannya bukan memperkuat kesalahpahaman Bu Keira, justru sebaliknya. Kami ingin membangun rasa aman terlebih dahulu, supaya nantinya proses menerima kenyataan bisa dilakukan secara bertahap." Birendra mengangguk pelan.

"Lalu apa yang harus saya lakukan?" Dokter menjelaskan satu per satu. Mulai mendampingi Keira saat waktu makan, menemaninya ketika jadwal kontrol, dan untuk sementara berada di kamar saat malam hari. Kalimat terakhir itu terucap begitu pelan, namun cukup berat untuk membuat seluruh ruangan kehilangan suara.

Tidak ada yang langsung menolak keputusan tersebut, karena mereka semua menyaksikan sendiri apa yang terjadi semalam, namun menerima kenyataan tetap tidak pernah mudah. Dian memandang putranya lama sekali, karena ia tahu putranya, pria itu akan menjalankan apa pun jika itu bisa menyelamatkan seseorang. Masalahnya, kali ini yang harus diselamatkan bukan hanya Keira, melainkan hati Alina juga.

Usai dari rumah sakit, Birendra terpaksa kembali ke kantor selama beberapa jam. Beberapa kontrak Aurora membutuhkan tanda tangan langsung. Media masih terus menghubungi, investor baru mulai berdatangan, Adhyaksa Jewellery sedang berada di puncak keberhasilannya. Ironisnya, CEO perusahaan itu bahkan tidak sempat menikmati keberhasilan tersebut. Begitu memasuki gedung utama, hampir semua karyawan berdiri menyambutnya.

“Selamat, Pak. Pesanan Aurora naik tiga puluh persen, dan media dari Singapura meminta bapak untuk di wawancara.” Birendra hanya tersenyum tipis mendengar pernyataan tersebut, karena tidak ada yang tahu lelaki yang mereka ucapkan selamat itu baru saja menerima keputusan paling berat dalam hidupnya.

Di lantai yang berbeda, Maya sedang merapikan beberapa berkas ketika resepsionis menghubunginya.

“Mbak Maya.”

“Iya?”

“Ada tamu.”

“Janji temu?”

“Enggak.” Maya mengernyit.

“Siapa?”

"Katanya... mau mencari seseorang."

Beberapa menit kemudian, seorang pria memasuki ruang tamu perusahaan. Usianya sekitar tiga puluh tahun, tubuhnya tinggi, kemeja biru muda yang dikenakannya tampak sederhana, tetapi rapi. Di tangannya ada sebuah map cokelat yang sudut-sudutnya sudah sedikit rapuh, kemudian pria itu memperkenalkan diri dengan suara tenang.

"Nama saya Arga Pratama." Maya tersenyum sopan.

"Ada yang bisa saya bantu?" Arga mengangguk kecil.

"Saya sedang mencari seseorang."

“Siapa?”

Arga membuka map yang dibawa olehnya, dari dalamnya keluar sebuah foto lama. Foto dua anak kecil berseragam SD, salah satunya adalah Alina.

“Saya mencari Alina Maheswari.” Maya sedikit terkejut saat mendengar pria dihadapannya mendengar nama Alina disebut secara lengkap.

"Kenal dari mana?" Arga menatap foto itu beberapa detik sebelum menjawab.

“Teman lama.” Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi di baliknya ada perjalanan bertahun-tahun yang belum diketahui siapa pun.

Arga sebenarnya sudah beberapa minggu berada di Jakarta. Kepindahan pekerjaannya sebagai konsultan branding membuatnya kembali ke kota tempat masa kecilnya tertinggal. Ia tidak pernah benar-benar berhenti mencari Alina.

Beberapa kali ia mencoba mencari lewat media sosial, nomor lama sudah tidak aktif, alamat rumah lama berubah, sampai beberapa hari lalu, ia melihat sebuah artikel bisnis Duo di Balik Cahaya Aurora.

Di dalam artikel itu ada satu foto—wajah Alina yang sedih lebih dewasa. Tetapi tetap wanita yang sama, wanita yang dulu memberinya separuh roti saat jam istirahat, dan berjanji akan bertemu lagi, meski janji itu tidak pernah sempat ditepati.

“Maaf, Pak.” Maya tersenyum hati-hati. “Alina sedang cuti.” Lanjut Maya.

“Cuti?”

“Iya. Dia lagi ada urusan keluarga.” Arga mengangguk pelan mendengar hal itu. Ia juga tidak memaksa, tidak meminta alamat maupun meminta nomor telepon, ia hanya menerima kartu nama perusahaan yang diberikan Maya.

"Kalau nanti Mbak Alina sudah masuk, tolong bilang..” Arga berhenti sejenak. “… Arga pernah datang.” Hanya itu, lalu ia pergi meninggalkan rasa penasaran yang bahkan belum disadari Alina keberadaannya.

Sementara itu, sore di rumah sakit. Keira sedang berada dalam suasana hati yang cukup baik, ia bahkan meminta Alina mengepang rambutnya seperti dulu.

"Dulu Mas Raka selalu bilang kepangan dua bikin aku kelihatan lebih muda." Alina tersenyum sambil menyelesaikan kepangan terakhir. "Masih cocok." Keira tertawa kecil. Suara tawa itu terdengar tulus, dan justru karena ketulisan itu, dada Alina kembali terasa sesak.

Menjelang malam, perawat mulai meredupkan lampu kamar. Sofa lipat yang kemarin hanya dipindahkan kini dirapikan lebih permanen di dekat jendela. Birendra membuka tas kecil berisi pakaian gantinya. Ia mengeluarkan kaus lengan panjang berwarna abu-abu dan meletakkannya di kursi.

Tidak ada satu pun gerakannya yang menunjukan kenyamanan, semua dilakukan seperti seseorang yang sedang belajar tinggal di tempat yang bukan rumahnya. Alina berdiri di ambang pintu, beberapa langkah dari sana.

Keduanya saling menatap, dan tak perlu banyak kata, karena tatapan itu sendiri sudah cukup menceritakan kelelahan yang sama.

“Aku pulang ya." Suara Alina terdengar pelan, Birendra mendekat, tangannya menggenggam kedua tangan wanita itu, hangat dan masih sama seperti biasanya.

“Alin,” sang pemilik nama berdeham dan mendongak pelan. “Tunggu aku.” Kalimat itu keluar tanpa berpikir, dan membuat Alina mengangguk kecil.

“Aku tahu.” Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan, mereka tidak berpelukan sebelum berpisah, bukan karena tidak ingin, melainkan karena di balik mereka, seseorang sedang memandang dengan keyakinan bahwa lelaki itu adalah suaminya, dan mereka tidak ingin membuat dunia rapuh itu runtuh malam ini.

Setelah Alina pergi, Birendra duduk di sofa dekat jendela. Jarak antara sofa dan ranjang sengaja ia sisakan beberapa langkah, ia tidak pernah mendekati ranjang lebih dari yang diperlukan. Batas itu adalah satu-satunya hal yang masih bisa ia pertahankan, Keira memandangnya seraya tersenyum kecil.

“Mas.” Birendra berdeham. “Makasih ya.” Birendra membalas dengan senyum tipis.

Di luar jendela, lampu-lampu kota mulai menyala. Di suatu tempat di kota yang sama, Arga menggenggam kembali foto masa kecil yang sudah bertahun-tahun ia simpan. Sementara di rumah sakit, tiga orang sedang menuju takdir yang perlahan mempertemukan sekaligus menguji mereka, dan tidak ada seorang pun yang tahu, bahwa langkah pertama menuju pertemuan itu sudah dimulai hari itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!