Seluruh keluarga menganggap Ashlyn adalah anak pembawa sial. Sejak kecil ia dihina dan dipukuli hanya karena tak memiliki kecerdasan seperti anak kecil pada umumnya. Demi menyingkirkan Ashlyn untuk selamanya, sang ibu tiri membuang Ashlyn di perbatasan dan berbohong bahwa suami Ashlyn adalah Jenderal Ethan Harold, seorang jenderal perang yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Mereka yakin Ashlyn akan dibunuh saat berani mengaku sebagai istri sang jenderal.
"Suami mu adalah Jenderal Ethan Harold."
"Suami Ashlyn?" tanya Ashlyn dengan polosnya.
"Iya, kalau kamu tersesat, cari saja dia. Katakan bahwa kamu adalah istrinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IISJ Bab 11 - Ketenangannya Goyah
"Sampai puas," jawab Ashlyn dengan tersenyum lebar. Ketampanan Ethan benar-benar membuatnya terpesona. Bagi Ashlyn, Ethan adalah satu-satunya keberuntungan yang dia punya di dalam hidup.
Dan jawaban itu membuat Ethan terdiam, karena dia sendiri tak menyangka Ashlyn akan menjawab seperti ini. Rasa-rasanya Ashlyn bicara seperti apa yang dia rasakan dan diinginkannya, tanpa melewati pemikiran yang panjang.
Sangat berbeda jauh dengan Ethan yang bahkan tiap katanya selalu dipikirkan matang-matang. Perbedaan pola pikir itu terlihat dengan sangat jelas, harusnya Ethan merasa risih dan terganggu tapi nyatanya malah tidak.
Belum sempat Ethan merespons, Ashlyn perlahan mengangkat salah satu tangannya. Dengan gerakan yang begitu lembut, jemari Ashlyn menyentuh garis rahang Ethan.
Ujung jarinya mengusap pelan sedang memastikan bahwa pria di hadapannya ini benar-benar nyata.
Sentuhan itu membuat tubuh Ethan seketika menegang. Untuk sesaat napasnya bahkan tertahan di tenggorokan.
Tatapan mereka bertemu.
"Apa?" tanya Ashlyn polos, tatapan Ethan seperti ingin menyampaikan sesuatu tapi mulutnya terkunci rapat.
Ethan menatap tangan kecil yang masih berada di rahangnya.
"Kamu berani menyentuhku?" tanya Ethan dengan suara rendah, ada gejolak di dalam dirinya yang ingin dia pendam.
Ashlyn justru terlihat bingung mendengar pertanyaan itu. "Kenapa tidak berani?"
"Karena..." Ethan menghentikan ucapannya sendiri, karena jawabannya yang masuk akal pun pasti akan sulit diterima oleh gadis tersebut.
Sementara Ashlyn langsung menjawab dengan senyum polos. "Jenderal Ethan kan Suamiku."
Kalimat itu kembali membuat Ethan terdiam. Di dunia militer, semua orang menjaga jarak darinya. Tak seorang pun berani menyentuhnya tanpa izin.
Namun bagi Ashlyn semuanya terasa begitu wajar. Seolah memegang wajah Ethan sama sederhananya dengan memegang tangan sendiri.
Belum selesai sampai di situ. Ashlyn tiba-tiba meraih tangan kanan Ethan. Gerakannya begitu lembut, Ia membawa telapak tangan besar itu mendekati wajahnya sendiri.
Lalu Ashlyn menempelkan telapak tangan Ethan pada pipinya yang lembut. "Suamiku juga boleh menyentuh Ashlyn."
Senyumnya semakin lebar, menikmati sekali tangan besar dan hangat milik Ethan yang menempel di wajahnya. Seumur-umur Ashlyn pun tak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini, jadi Ashlyn sangat senang.
"Karena Suami adalah orang yang paling dekat dengan Ashlyn."
Deg! Jantung Ethan seolah berdetak satu kali lebih keras. Telapak tangannya masih menempel di pipi gadis ini, kiulit Ashlyn terasa begitu hangat.
Sementara Ashlyn hanya tersenyum tanpa mengetahui bahwa tindakan sederhananya membuat Ethan semakin sulit bersikap setenang biasanya.
Ethan perlahan menarik napas panjang. Ia tahu Ashlyn sama sekali tidak memahami makna dari semua yang dilakukannya.
Namun Ethan adalah pria dewasa yang sehat. Apa pun niat Ashlyn yang polos, tetap saja semua itu memengaruhi dirinya.
Dengan hati-hati Ethan menarik kembali tangannya. Ia berdeham pelan, berusaha mengembalikan ketenangan. "Ashlyn," panggil Ethan, kini suaranya jadi lembut sekali. Seperti mengimbangi bagaimana caranya Ashlyn bicara.
"Iya, Suamiku."
"Kamu ingin makan buah?" tanya Ethan, akhirnya dia pilih untuk mengubah arah pembicaraan mereka.
Ashlyn langsung berkedip. "Buah?"
"Iya."
Mata Ashlyn seketika berbinar. "Ashlyn suka buah."
Ethan mengangguk tipis. "Kalau begitu, mintalah pada pelayan."
"Apa yang harus Ashlyn bilang?"
"Katakan padanya kamu ingin buah."
"Apa pelayan akan memberi Ashlyn buah?"
"Mereka adalah pelayan mu, apapun yang kamu minta mereka pasti akan penuhi."
"Benarkah? Tapi Ashlyn takut," balas Ashlyn dengan raut wajah yang mendadak berubah sendu. Mana mungkin dia memberi perintah pada orang lain, rasanya Ashlyn tidak pantas. Baginya pelayan memiliki kekuasaan yang lebih tinggi dibanding dirinya yang hanya pembawa sial.
Ashlyn menunduk, tidak lagi menatap kedua mata Ethan dengan berbinar..
"Takut kenapa?" tanya Ethan yang juga mendadak jadi bingung, mudah sekali suasana hati Ashlyn berubah-ubah seperti ini.
"Ashlyn takut pada pelayan, Ashlyn hanya punya suami," jawab Ashlyn lirih, rasa sedihnya sampai ingin membuat Ashlyn menangis.
Namun sebelum ait mata itu jatuh, buru-buru Ethan menyentuh dagu Ashlyn dan mengangkat wajahnya, sampai tatapan mereka kembali bertemu. "Dengarkan aku baik-baik," ucap Ethan dengan sangat serius. Dia tahu semua rasa takut yang Ashlyn miliki sekarang adalah bawaan dari hidupnya di masa lalu, tapi sekarang Ashlyn telah bersamanya, jadi Ashlyn tak perlu merasa takut pada apapun lagi.
"Sekarang kamu bersamaku, jadi jangan pernah takut pada apapun lagi," timpal Ethan.
Ashlyn terdiam dan mencerna kata-kata itu dengan hati-hati, pelan-pelan ia resap di dalam kepalanya.
"Tidak akan ada lagi orang yang akan memukulmu, tidak akan ada lagi orang yang akan memakimu dengan kata-kata kasar. Karena..." tiba-tiba Ethan menghentikan ucapannya sendiri, dua ingin mengatakan karena kini Ashlyn adalah istrinya. Tapi ternyata kalimat itu tertahan di ujung lidah.
Tak pernah selama ini Ethan membuat kebohongan sebesar itu, membuatnya seperti mengkhianati hati nurani.
"Karena apa?" tanya Ashlyn lirih, ingin sang suami menyelesaikan kata-katanya agar ia benar-benar paham. Benarkah ia tak boleh takut lagi?
Benarkah tak akan ada yang akan memukulnya lagi?
Benarkah tak akan ada yang memakainya dengan kata-kata kasar lagi?
Tapi Ethan tak bisa langsung menjawab, untuk beberapa detik mulutnya benar-benar terkunci. Ethan hanya mampu melihat kedua mata Ashlyn yang menatapnya dengan tulus.
"Karena ada aku di sisimu, tak akan ada yang berani melawan Jenderal," jawab Ethan akhirnya.
Ashlyn baru ingat bahwa Jenderal adalah seseorang yang paling disegani dan ditakuti, pemimpin ribuan pasukan di perbatasan. Dan sekarang Jenderal itu adalah suaminya. Pemikiran itu seketika membuat Ashlyn tersenyum.
"Jika ada yang jahat pada Ashlyn, apa Jenderal akan memanggil ribuan pasukan?" tanya Ashlyn yang kembali ceria.
Ethan hanya bisa mengangguk, karena semakin banyak bicara maka akan semakin banyak kemungkinan kebohongan yang akan tercipta. Bicara dengan Ashlyn dia harus hati-hati sekali.
Ashlyn kemudian langsung berdiri dari pangkuan Ethan. "Baik, aku akan menemui pelayan sekarang. Ashlyn tidak boleh takut lagi."
Baru setelah tubuh kecil itu benar-benar turun, Ethan merasakan kedua pahanya terasa lebih longgar.
Ashlyn berjalan beberapa langkah menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia kembali berbalik. "Suamiku."
"Hm?"
"Ashlyn akan cepat kembali."
Ethan mengangguk. "Pakai sandal mu lebih dulu."
"Baik." Ashlyn pun membuka pintu dengan wajah ceria, lalu berlari kecil menyusuri koridor mencari kepala pelayan. Karena dari semua pelayan di sini, rasanya Ashlyn lebih merasa aman pada sang kepala pelayan.
Begitu pintu ruang kerja kembali tertutup, Ethan pun menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia mengangkat satu tangan dan mengusap pelan wajahnya sendiri.
"Hah." Ethan mengembuskan napas lega. Setidaknya untuk beberapa menit ke depan Ia bisa menenangkan pikirannya terlebih dahulu, sebelum gadis polos itu kembali datang dengan sederet pertanyaan dan tingkah laku yang selalu berhasil membuat ketenangannya goyah.
"Ashlyn hanya anak kecil," gumam Ethan, tak ingin menganggapnya sebagai wanita.
aslyn ga kenal anda yah
jadi jangan coba2 mendekati aslyn