Indonesia
NovelToon NovelToon
Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:621
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Update Setiap Hari dijam yang sama 12.00 WIB


Bagaimana jika jodoh ternyata bukan pilihan sendiri, tetapi dari kiriman ayah?

Reina Lunox harus menghadapi Tuan Muda Angkuh dari anak sahabat ayahnya. Meski, awal ia menolak untuk perjodohan itu. Reina tidak bisa menolak kemauan ayahnya.


Apa yang akan Reina lakukan untuk menaklukkan Tuan Muda Angkuh, Jino West? Ikuti kisah mereka!!


Karya Author// DILARANG PLAGIAT//

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jebakan Manis di Bawah Lampu Remang

Pukul tujuh malam lewat sepuluh menit, Reina Lunox mendorong pintu kaca The Velvet Loft, sebuah kafe eksklusif bernuansa industrial modern yang terletak di kawasan distrik komersial pusat kota. Tempat itu terkenal tenang, remang, dan biasa dijadikan tempat berkumpul para pebisnis muda atau mahasiswa tingkat akhir dari universitas elite untuk berdiskusi serius tanpa gangguan bising kota.

Langkah kaki Reina terhenti sejenak di dekat pintu masuk. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan yang didominasi oleh interior kayu tua dan lampu gantung berwarna kuning hangat. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menemukan sosok yang ia cari.

Di sudut paling belakang dekat dinding kaca besar yang menghadap langsung ke jalanan malam kota, Jino West duduk dengan postur elegan. Pemuda itu mengenakan turtleneck hitam berbalut mantel wol abu-abu gelap, membuat auranya tampak semakin misterius dan mematikan. Di hadapannya, sebuah laptop ultrabook menyala terang, memantulkan cahaya ke wajah tegasnya yang tengah fokus menatap layar.

Reina menarik napas dalam-dalam, menata kembali sisa-sisa harga dirinya yang sempat terkoyak siang tadi. Ia melangkah mendekati meja tersebut dengan dagu terangkat, berusaha menunjukkan bahwa kehadirannya di sana bukanlah bentuk ketundukan, melainkan sebuah bentuk profesionalisme terpaksa.

Mendengar suara langkah kaki mendekat, Jino tidak langsung mendongak. Ia hanya menyesap pelan kopi hitam di cangkirnya sebelum akhirnya mengangkat wajah dan menatap tajam ke arah Reina.

"Kau terlambat sepuluh menit, gadis desa," tegur Jino rendah, suaranya terdengar dingin namun tanpa ada nada kemarahan yang sesungguhnya.

Reina mendengus pelan, langsung menarik kursi di seberang Jino dan duduk dengan kasar tanpa menunggu aba-aba. Ia meletakkan tas jinjing berisi tumpukan kertas skripsinya dengan bunyi gedebuk yang cukup keras di atas meja marmer tersebut.

"Aku terjebak macet di jalan raya, bukan sengaja membuang waktu berhargamu, Tuan Muda Jino," balas Reina ketus. Ia membuka tasnya dan mengeluarkan lembaran kertas revisian yang penuh coretan merah, lalu melemparkannya tepat di depan laptop Jino. "Nah, silakan tunjukkan kehebatanmu. Kalau ternyata koreksimu tidak lebih baik dari dosenku, awas saja!"

Jino menatap tumpukan kertas itu sekilas, lalu beralih menatap wajah Reina yang tampak kelelahan di balik riasan tipisnya. Ada lingkaran hitam samar di bawah mata cokelat gadis itu—bukti nyata bahwa Reina menghabiskan banyak malam tanpa tidur nyenyak akibat tekanan skripsi dan perjodohan sepihak ini. Alih-alih melontarkan komentar pedas seperti biasanya, Jino justru terdiam sejenak.

"Geser kursimu ke sini," titah Jino tiba-tiba dengan nada mutlak.

Reina mengerjap, menatap pemuda itu dengan sebelah alis terangkat tinggi. "Ha? Buat apa? Aku bisa duduk di sini."

"Jangan membantah, Reina. Kalau kau mau melihat dengan jelas perbaikan variabel yang kumaksud, duduklah di sebelahku. Atau otakmu yang keras itu tidak akan sanggup mencernanya dari kejauhan?" sindir Jino telak, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang menyebalkan.

Darah Reina mendidih seketika, namun rasa penasarannya jauh lebih besar. Dengan mendengus kesal dan bibir mengerucut, Reina menarik kursinya dan bergeser duduk tepat di sebelah kursi Jino, menyisakan jarak tidak sampai setengah meter di antara mereka. Bau parfum woody yang khas kembali menyeruak, berpadu dengan aroma kopi pekat yang menenangkan.

Jino mendekatkan laptopnya ke tengah meja. Jemari tangan pemuda yang panjang dan lentik mulai bergerak lincah di atas keyboard, membuka dokumen spreadsheet baru yang berisi rumusan data statistik modern.

"Dosen pembimbingmu itu benar dalam satu hal: metode korelasimu sudah kedaluwarsa," ujar Jino mulai serius, jari telunjuknya menunjuk ke arah barisan angka di layar. "Di era digital seperti sekarang, variabel ekonomi regional tidak bisa hanya dihitung berdasarkan pertumbuhan PDRB konvensional. Kau harus memasukkan indikator penetrasi digital dan arus logistik e-commerce."

Reina mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya fokus menatap layar laptop sementara telinganya mendengarkan penjelasan Jino yang meluncur lancar, terstruktur, dan sangat logis. Suka atau tidak suka, di balik sifatnya yang arogan dan menyebalkan, Jino memiliki otak brilian yang mendominasi dunia akademik maupun bisnis. Setiap kalimat yang diucapkan pemuda itu membuat logika berpikir Reina terbuka lebar, memecahkan kebuntuan yang sudah menghantuinya selama berminggu-minggu.

Tanpa sadar, Reina terhanyut dalam penjelasan tersebut. Ia mulai mengajukan beberapa pertanyaan kritis yang langsung dijawab oleh Jino dengan presisi tinggi. Untuk pertama kalinya sejak mereka pertama kali bertemu, tidak ada benturan kata-kata tajam atau sindiran sinis di antara mereka. Yang ada hanyalah diskusi akademis yang intens di bawah temaram lampu kafe.

Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, sudah hampir dua jam mereka duduk berdampingan membahas kerangka bab tiga hingga bab empat skripsi Reina. Layar laptop kini menampilkan draf baru yang jauh lebih rapi, sistematis, andal, dan siap untuk diajukan kembali ke dosen pembimbing.

Reina menghela napas lega, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil merenggangkan otot-otot lehernya yang terasa kaku. "Fiuuh... Tiba-tiba rasanya beban hidupku berkurang setengah," gumam Reina pelan, tanpa sadar tersenyum tulus untuk pertama kalinya di hadapan Jino.

Jino yang duduk di sampingnya menghentikan gerakan mengetiknya. Pemuda itu menoleh ke arah Reina, menatap wajah gadis di sampingnya yang tengah tersenyum. Untuk sepersekian detik, manik mata kelam Jino tampak melunak. Senyuman tipis dan alami di wajah Reina membuat gadis itu terlihat jauh berbeda—jauh lebih lembut, menawan, dan tanpa pertahanan diri yang biasanya selalu ia pasang setiap kali mereka berdua bertatap muka.

Menyadari dirinya tengah diperhatikan secara intens, Reina buru-buru menoleh. Jarak di antara mereka yang sangat dekat membuat napas mereka seolah bergesekan. Jantung Reina berdegup kencang secara tidak normal; bukan lagi karena marah, melainkan karena gelombang keintiman yang tiba-tiba menyerbu ruang di antara mereka.

Manik mata cokelat Reina mengunci pandangan pada mata kelam Jino. Suasana kafe mendadak terasa senyap, seolah dunia di sekitar mereka berhenti berputar.

"Kenapa... kenapa kau menatapku begitu?" tanya Reina dengan suara sedikit tercekat, mendadak kehilangan keberaniannya yang biasa.

Jino tidak langsung menjawab. Perlahan, tangan kokoh pemuda itu terulur, merapikan sehelai anak rambut Reina yang jatuh menutupi dahi gadis itu, menyelipkannya dengan lembut di balik telinga. Sentuhan hangat itu begitu kontras dengan sikap dingin dan arogan yang biasa ia tunjukkan.

"Jangan salah paham, gadis desa," bisik Jino dengan suara rendah yang berat, begitu dekat hingga bibirnya nyaris menyentuh pelipis Reina. "Aku hanya tidak ingin istri masa depanku menjadi bahan tertawaan di sidang kelulusannya nanti."

Mendengar kata "istri masa depan", kewarasan Reina mendadak kembali sepenuhnya. Sihir sesaat yang tercipta di antara mereka seketika menguap, digantikan oleh gelombang defensif yang langsung meronai pipinya karena salah tingkah bercampur kesal.

Reina segera menepis tangan Jino dari rambutnya, lalu menegakkan tubuhnya dengan cepat sambil merapikan tasnya. "Ih! Siapa juga yang mau jadi istrimu selamanya? Jangan terlalu percaya diri, Tuan Muda!" serunya setengah bergeser menjauh, berusaha menutupi detak jantungnya yang menggila.

Jino justru tersenyum miring—bukan senyuman sinis yang biasa, melainkan senyuman penuh kemenangan yang membuat Reina merasa telah masuk ke dalam perangkap yang dibuat pemuda itu sendiri.

"Simpan tenaga dan protesmu untuk minggu depan, Reina Lunox," ucap Jino tenang sambil menutup laptopnya. "Karena pertunangan kita resmi dimulai, dan kau tidak akan bisa lari ke mana pun lagi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!