Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.
Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Pukul tujuh pagi.
Han Ji-eun sudah menginjakkan kaki di hotel. Ia berdiri di dekat jendela kaca besar di ruang kerjanya, memandangi lanskap kota yang mulai riuk seraya memegang cangkir kopi hangat.Ketika tiba-tiba, ponsel di meja kerjanya bergetar. Satu pesan masuk.
Sudah bangun?
Ji-eun mengerutkan dahi. Tanpa perlu menyimpan nomor itu, ia sudah hafal betul siapa pengirimnya, Seo Tae-jun.
Ia menatap layar itu cukup lama. Pria itu tidak pernah berinisiatif mengontaknya lebih dulu seperti ini. Bahkan kemarin malam, usai mengantarnya pulang, Tae-jun hanya mengirimkan satu instruksi singkat. Besok jangan terlambat.
Dan sekarang? Sudah bangun?
Ji-eun mengetik balasan.
Sudah. Ada apa, Direktur?
Tak sampai satu menit, balasan kembali muncul,
Tidak apa-apa.
Ji-eun memicingkan mata, tak sanggup menahan kekehannya. "Dia yang bertanya, dia sendiri yang bilang tidak apa-apa."
Belum sempat meletakkan ponsel, benda pipih itu bergetar lagi.
Sudah sarapan?
Ji-eun menahan senyum, lalu membalas.
Sudah.
Makan apa?
Langkah jemari Ji-eun terhenti. Ia berpikir sejenak sebelum mengetik,
Kenapa? Kau mau berganti profesi jadi nenekku?
Indikator tiga titik muncul di layar. Menghilang. Muncul lagi. Akhirnya, sebuah balasan terkirim.
Tidak. Aku hanya bertanya.
Senyum Ji-eun terukir tanpa sadar. Ia baru saja hendak membalas lagi ketika ketukan di pintu membuyarkan fokusnya.
"Manajer Han," panggil supervisor-nya dari luar.
Ji-eun seketika menyimpan ponselnya. "Masuk."
Seorang supervisor melangkah terburu-buru membawa tumpukan dokumen. "Maaf mengganggu, Manajer. Ada masalah mendesak terkait reservasi kamar VIP untuk nanti malam."
"Masalah apa?"
"Ada dua pemesan presidential suite atas nama yang persis sama, dan keduanya terkonfirmasi untuk jadwal malam ini."
Ji-eun langsung mengambil alih dokumen tersebut. "Sudah periksa identitas dan jalur pemesanannya?"
"Sudah," sahut supervisor itu seraya menyerahkan berkas pendukung. "Keduanya ternyata berasal dari instansi yang berbeda."
Ji-eun meneliti deretan nama di lembaran kertas itu. Salah satunya adalah direktur utama perusahaan investasi multinasional, sedangkan yang lainnya adalah pejabat tinggi pemerintah. Jika masalah ini tidak diselesaikan secara bijak, reputasi hotel berada dalam taruhan besar.
"Baik," Ji-eun langsung berdiri. "Saya yang akan menangani ini."
Dua jam berlalu, namun situasi belum juga mencair. Salah satu tamu penting sudah tiba di lobi, sementara tamu yang lain dijadwalkan tiba sore nanti.
Ji-eun memutar otak mencari jalan keluar tanpa membuat salah satu pihak merasa dinomorduakan. Ia bahkan berniat mengalihkan salah satu tamu ke presidential suite cadangan yang sebenarnya disiapkan khusus untuk keluarga besar Seo Group.
Namun tepat sebelum keputusan diambil, sebuah suara berat dan berwibawa terdengar dari ambang pintu.
"Jangan gunakan kamar itu."
Ji-eun menoleh refleks. Seo Tae-jun berdiri tegak di sana, dibalut jas hitam terpotong rapi, dasi gelap, dan raut wajah dingin tanpa ekspresi seperti biasa.
"Direktur Seo?"
"Saya dengar ada double booking." Ucap Tae-jun dengan "mode" formal.
Ji-eun mengangguk pelan. "Sedang saya tangani."
Tae-jun melangkah mendekat, memancarkan aura dominan yang mengintimidasi. "Bagaimana solusi anda, Manager Han?"
"Saya berniat menawarkan upgrade ke suite keluarga."
"Ditolak?"
"Belum ditawarkan, baru opsi."
Tae-jun mengambil alih dokumen reservasi dari tangan Ji-eun. "Kamar mana yang bermasalah?"
Ji-eun menunjuk layar monitor. "Presidential Suite nomor satu."
"Lalu kamar nomor dua?"
"Sedang dipersiapkan untuk anggota keluarga Anda yang akan berkunjung minggu depan."
"Alihkan kamar nomor dua sekarang," tegas Tae-jun tanpa ragu.
Ji-eun mendongak terkejut. "Batalkan untuk keluarga Anda?"
"Gunakan untuk tamu kedua."
"Tapi, Direktur..."
"Lakukan saja yang saya perintahkan, Manajer Han."
Ji-eun terdiam sejenak. "Bagaimana jika keluarga Anda mendadak datang?"
Tae-jun menatap mata Ji-eun lurus. "Mereka bisa memakai suite lain. Saya tidak suka tamu hotel terlantar hanya karena kecerobohan sistem."
Ji-eun tersenyum lega. "Baik, mengerti."
Ia segera membagikan instruksi tegas kepada timnya. Hanya dalam waktu kurang dari dua puluh menit, krisis tersebut berhasil teratasi. Supervisor yang sejak tadi tegang akhirnya membuang napas lega.
"Terima kasih banyak, Direktur Seo," ujar supervisor itu membungkuk hormat.
Tae-jun hanya mengangguk singkat. Setelah para staf mengundurkan diri untuk kembali bertugas, ruangan itu mendadak hening. Hanya menyisakan Tae-jun dan Ji-eun.
Ji-eun menatap pria di hadapannya. "Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Sudah membantu mengambil keputusan."
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang direktur," sahut Tae-jun datar.
"Tentu saja," Ji-eun tersenyum tipis.
Tae-jun memperhatikan wajah wanita itu, lalu pandangannya jatuh pada cangkir kopi dingin di atas meja. "Kamu sudah makan?"
Ji-eun berkedip heran. Pertanyaan itu terasa sangat tak asing. "Kau serius?"
"Maksudmu?"
"Tadi pagi kau menanyakan hal yang sama di pesan."
Tae-jun membisu, raut wajahnya tetap terkontrol.
Ji-eun menyandarkan tubuhnya di tepi meja kerja seraya melipat tangan di dada. "Ada apa?"
"Tidak ada."
Ji-eun terkekeh pelan. "Kalau begitu, aku anggap kau memang hobi bertanya hal-hal tidak penting."
Tae-jun menatapnya lekat. "Kau selalu seperti ini?"
"Seperti apa?"
"Tidak ada rasa takut sama sekali padaku."
Ji-eun menguraikan senyum kecil. "Haruskah aku takut?"
"Tidak."
"Nah, kalau begitu tidak masalah, kan?" Ji-eun kembali mengalihkan pandangannya ke berkas di meja. "Masalah kamar sudah selesai."
Tae-jun tidak bergeming. Ia masih berdiri kaku di tempatnya.
Merasa diperhatikan, Ji-eun akhirnya mendongak kembali. "Masih ada hal lain yang ingin dibicarakan?"
"Tidak."
"Kalau begitu..."
"Ikut makan siang denganku," potong Tae-jun cepat.
Ji-eun terpaku. "Kenapa?"
"Aku lapar."
Tawa Ji-eun hampir saja menyembur. "Kau selalu pakai alasan itu."
"Memang kenyataannya aku lapar."
"Kemarin malam juga alasannya sama."
"Memang."
Ji-eun menatap pria di hadapannya selama beberapa detik, mencoba mencari celah kebohongan, namun mata Tae-jun terlalu datar. Ia akhirnya meraih tas tangannya. "Baiklah."
Tae-jun berbalik melangkah lebih dulu. Namun di ambang pintu, ia menyempatkan diri menoleh. "Dan ingat satu hal..."
Ji-eun menanti.
"Jangan panggil 'Direktur Seo' saat hanya ada kita berdua."
Ji-eun tersenyum simpul. "Baik, Tae-jun-ssi."
Tanpa disadari Ji-eun, pendengaran Tae-jun merespons hangat. Pria itu menunjukkan kedutan tipis di sudut bibirnya, ekspresi yang sangat samar, namun Ji-eun berhasil menangkapnya.
...****************...