Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.
Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.
Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Sujud Penyesalan dan Dekapan yang Melelehkan Salju
Suara ketukan pintu itu terdengar lagi, kali ini lebih keras dan diiringi isakan yang sangat jelas.
"Senja! Tolong buka pintunya, Nak! Ini Pak Yanto!"
Di dalam ruangan berukuran tiga kali empat meter itu, Senja Kirana berdiri mematung. Kakinya seolah terpaku pada lantai semen. Matanya yang masih basah oleh air mata menatap daun pintu kayu jati yang kokoh tersebut dengan perasaan campur aduk. Antara rasa takut, bingung, dan tak percaya.
Gadis itu menoleh perlahan ke arah Arga Danendra. Pria bertubuh raksasa itu masih duduk di tepi kasur, menatapnya dengan senyum tipis yang begitu menenangkan. Anggukan pelan dari kepala Arga seolah menyalurkan sebuah keberanian magis ke dalam aliran darah Senja.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Senja melangkah mendekati pintu, memutar kunci, dan menarik gagangnya ke dalam.
Udara malam yang membawa sisa-sisa rintik hujan langsung menyapu wajahnya. Dan pemandangan di ambang pintu seketika membuat napas Senja tercekat.
Pak Yanto, bos kedai roti yang selalu berwibawa dan dihormatinya itu, kini berdiri dengan wajah sembap, rambut yang berantakan, dan bahu yang merosot jatuh. Begitu melihat pintu terbuka dan wajah pucat Senja muncul dari baliknya, pria paruh baya itu tidak ragu sedetik pun.
Pak Yanto menjatuhkan kedua lututnya ke lantai teras yang basah. Ia bersujud tepat di depan kaki Senja.
"P-Pak Yanto! Ya Ampun, apa yang Bapak lakukan?! Bangun, Pak! Jangan seperti ini!" jerit Senja panik. Ia buru-buru berjongkok, berusaha menarik bahu bosnya itu agar berdiri.
Namun Pak Yanto menolak untuk bangkit. Pria tua itu menangis tersedu-sedu, air mata penyesalan mengalir deras membasahi kerutan di wajahnya.
"Maafkan Bapak, Senja... Maafkan kelancangan dan kebodohan Bapak tua ini..." isak Pak Yanto, suaranya parau dan bergetar hebat. "Bapak telah dibutakan oleh fitnah. Bapak telah mengusir anak sebaik dirimu, menghinamu di depan umum... Bapak sungguh berdosa, Nak..."
"P-Pak... tolong berdiri dulu. Kita bicara di dalam," Senja yang tidak tegaan merasa hatinya ikut hancur melihat pria yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri menangis tersungkur memohon ampun padanya.
Dengan susah payah, Senja memapah Pak Yanto masuk ke dalam rumah.
Saat melewati ambang pintu, mata Pak Yanto sempat menangkap sosok pria bertubuh besar dan tegap yang sedang duduk di atas kasur di sudut ruangan. Aura pria itu, meski hanya mengenakan kaus oblong abu-abu yang lusuh, terasa begitu menekan dan mendominasi. Insting Pak Yanto menciut seketika. Ia teringat ancaman dari pria berjas mewah (Raka) di kedai tadi siang yang menyebutkan tentang 'Bos Besar' pelindung Senja.
Namun Pak Yanto buru-buru menundukkan pandangannya kembali pada Senja.
"Senja," Pak Yanto merogoh saku celananya dengan tangan gemetar, mengeluarkan ponsel miliknya, lalu memutar sebuah video rekaman CCTV yang telah dikirimkan oleh anak buah Raka ke ponselnya. Ia menyodorkan layar itu ke hadapan Senja.
"Kebenaran sudah terungkap, Nak. Lihat ini..."
Senja menatap layar ponsel yang menyala itu. Matanya membelalak lebar. Di layar itu, terpampang dengan sangat jelas dan jernih rekaman Siska yang sedang mengendap-endap mengambil amplop cokelat dari laci, lalu menyelinap ke gudang tepung dan menyelipkan amplop itu ke dalam tas kain Senja.
Rasa sesak yang sedari tadi mencekik dada Senja seketika menguap, digantikan oleh gelombang kelegaan yang begitu besar hingga membuat lututnya lemas.
Ia tidak bersalah. Bukti itu ada di sana. Nama baiknya, harga dirinya, dan janji sucinya pada almarhum ibunya untuk selalu jujur... semuanya telah dibersihkan.
Air mata kembali menetes dari pelupuk mata Senja, menuruni pipinya, jatuh ke atas layar ponsel tersebut.
"M-Mbak Siska... kenapa dia setega itu padaku?" bisik Senja pilu, tak habis pikir bagaimana seorang manusia bisa memiliki hati sebusuk itu hanya karena rasa iri.
"Dia sudah mendapat balasannya, Nak," jawab Pak Yanto cepat, menghapus air matanya sendiri dengan punggung tangan. "Perwakilan dari pemilik baru gedung kedai kita datang membawa bukti CCTV ini. Siska sudah ditangkap polisi sore tadi, dan dia di-blacklist dari semua pekerjaan di kota ini. Dia tidak akan pernah bisa menyakitimu lagi."
Mendengar kata 'pemilik baru', alis Senja sedikit bertaut, namun pikirannya terlalu kalut oleh kelegaan untuk memikirkan detail tersebut.
"Senja," Pak Yanto kembali menangkupkan kedua tangannya memohon. "Bapak tahu kesalahan Bapak sangat fatal. Bapak meragukanmu. Tapi Bapak mohon, kembalilah bekerja di Kedai Harum Manis. Kedai itu tidak akan sama tanpamu. Bapak akan menaikkan gajimu dua kali lipat, dan kau tidak perlu lagi membersihkan meja... kau bisa mulai belajar memanggang dan menjadi pembuat roti utama seperti mimpimu. Bapak mohon, Nak... kembalilah..."
Permohonan itu sangat tulus, diiringi oleh rasa bersalah yang nyata.
Dari sudut ruangan, Arga mengamati interaksi itu dalam diam. Matanya yang tajam menatap Senja. Arga penasaran, apakah gadis yang terlalu baik hati ini akan menggunakan kesempatan ini untuk membalas dendam dengan menolak Pak Yanto dan membiarkan pria tua itu tersiksa oleh rasa bersalah, ataukah...
"Pak Yanto," suara Senja terdengar lembut, murni, tanpa ada setitik pun dendam di dalamnya.
Gadis itu meraih kedua tangan Pak Yanto yang gemetar, menggenggamnya dengan kehangatan. "Bapak tidak perlu berlutut atau menaikkan gaji saya hanya karena merasa bersalah. Saya tahu Bapak hanya berusaha melindungi kedai. Saya memaafkan Bapak, sungguh."
Arga mengembuskan napas pelan. Tentu saja, batinnya dengan senyum tipis. Bidadariku ini tidak memiliki ruang untuk kebencian di dalam hatinya.
"T-Tapi... kau mau kembali bekerja kan, Nak?" tanya Pak Yanto penuh harap, teringat ancaman Raka bahwa kedainya akan diratakan dengan bulldozer besok pagi jika Senja menolak.
Senja tersenyum lebar, senyuman yang menyapu bersih seluruh mendung di wajahnya. "Tentu saja, Pak. Besok pagi saya akan datang tepat waktu untuk menyiapkan adonan roti manis. Harum Manis adalah rumah kedua saya, saya tidak akan meninggalkannya."
Mendengar jawaban itu, Pak Yanto menangis lega. Beban seberat gunung baru saja terangkat dari pundaknya (dan kedainya selamat dari kehancuran). Pria tua itu mengucapkan terima kasih berkali-kali, mendoakan kebaikan untuk Senja, sebelum akhirnya pamit undur diri dan melangkah pergi menembus malam dengan hati yang ringan.
Pintu kayu jati itu kembali ditutup dan dikunci dari dalam.
Klik.
Suara putaran kunci itu bagaikan penanda bahwa badai hari ini telah benar-benar berlalu. Ruangan kontrakan itu kembali sunyi, hanya diisi oleh suara detak jarum jam dan napas dua manusia di dalamnya.
Senja berbalik perlahan. Ia menyandarkan punggungnya ke daun pintu yang kokoh. Matanya yang masih basah menatap lurus ke arah Arga.
Pria raksasa itu membalas tatapannya. Arga masih duduk di tepi kasur, satu lengannya bertumpu santai di atas lutut yang ditekuk. Cahaya dari lampu pijar kuning lima watt jatuh tepat di atas wajah maskulinnya, menonjolkan rahangnya yang tegas dan bayangan bulu matanya yang panjang. Ia tampak seperti sesosok dewa pelindung yang sedang menunggu umatnya pulang.
Di benak Senja, rentetan kejadian ajaib ini memutar kembali ingatan beberapa jam yang lalu. Saat ia menangis hancur lebur di dapur, pria inilah yang memeluknya, yang meyakinkannya bahwa ia percaya padanya tanpa butuh bukti. Pria inilah yang mengucapkan kalimat, "Kebenaran memiliki jalannya sendiri untuk mencari cahaya. Percayalah padaku... sebentar lagi akan ada seseorang yang datang mengetuk pintu ini untuk memohon maaf padamu."
Ramalan itu menjadi kenyataan dengan presisi yang sangat menakutkan, sekaligus sangat indah.
"Kak Arga..." panggil Senja dengan suara bergetar.
Arga menaikkan sebelah alisnya, senyum lembut tak pernah luntur dari bibirnya. "Ya, Bidadari?"
Mendengar panggilan 'Bidadari' itu lagi, dada Senja terasa seperti akan meledak oleh luapan emosi. Tanpa aba-aba, pertahanan Senja runtuh. Bukan oleh kesedihan, melainkan oleh kebahagiaan dan rasa syukur yang teramat sangat.
Gadis mungil itu berlari menyeberangi ruangan kecil tersebut.
Langkahnya tergesa-gesa, mengabaikan segala kecanggungan dan batas kesopanan yang biasanya ia jaga. Begitu tiba di depan kasur, Senja menjatuhkan dirinya berlutut di lantai tepat di sela-sela kaki Arga, lalu melingkarkan kedua lengan kecilnya ke pinggang pria itu dengan sangat erat.
Ia membenamkan wajahnya di perut Arga, menangis tersedu-sedu.
"Hiks... Kak Arga... Kakak benar... Kebenaran itu terungkap... Hiks... Mbak Siska terekam CCTV... Namaku bersih, Kak... Namaku bersih..." racau Senja di sela-sela tangisan bahagianya.
Arga membeku di tempatnya.
Sebagai pria yang mengidap mysophobia ringan dan trauma masa lalu, Arga benci disentuh. Setiap kali ada wanita—entah itu relasi bisnis atau sosialita—yang mencoba menyentuh lengannya secara agresif, insting Arga selalu merespons dengan rasa jijik yang luar biasa dan dorongan kasar untuk menyingkirkan mereka.
Namun kali ini, berbeda.
Saat lengan kecil Senja melingkari pinggangnya, yang Arga rasakan bukanlah rasa jijik, melainkan sebuah sengatan listrik hangat yang mengalir langsung ke jantungnya, menghidupkan kembali sel-sel jiwanya yang telah lama mati. Beban tubuh gadis itu, getaran dari tangisannya, dan aroma vanila lembut yang menguar dari rambutnya... semuanya terasa begitu benar. Begitu pas. Seolah-olah ada sebuah kepingan puzzle raksasa yang selama ini hilang dari dada Arga, dan kepingan itu baru saja terpasang sempurna.
Selama beberapa detik, posisi mereka terasa sangat canggung. Arga tidak tahu harus meletakkan tangannya di mana. Kedua lengannya kaku tertahan di udara, sementara matanya membelalak kaget menatap puncak kepala gadis yang sedang memeluknya dengan putus asa itu.
"T-Terima kasih, Kak Arga... Terima kasih..." isak Senja, semakin mengeratkan pelukannya seolah takut pria itu akan hilang jika ia melonggarkannya sedikit saja. "Saat dunia mengira aku ini penjahat, hanya Kakak yang percaya padaku... Kakak adalah keajaibanku. Kakak adalah jimat keberuntunganku... Sejak Kakak ada di sini, keajaiban selalu datang padaku..."
Kalimat pengakuan yang begitu jujur dan murni itu meruntuhkan sisa-sisa kecanggungan terakhir di tubuh Arga.
Gadis ini menganggapnya sebagai keajaiban, padahal yang Arga lakukan hanyalah membereskan kekacauan menggunakan kekuasaan kotornya. Arga merasa dirinya adalah iblis yang menyamar menjadi malaikat, namun di dalam pelukan Senja, ia merasa pantas untuk diampuni.
Perlahan, kedua lengan Arga yang menggantung di udara mulai bergerak turun.
Pria raksasa itu mencondongkan tubuhnya ke depan. Tangan kanannya melingkar kuat di punggung sempit Senja, sementara tangan kirinya naik ke belakang kepala gadis itu. Dengan satu tarikan lembut namun posesif, Arga mengangkat tubuh Senja dari lantai semen, membawanya naik untuk duduk di tepi kasur, menempel tepat di sebelahnya.
Arga tidak melepaskannya. Ia memeluk Senja seutuhnya.
Pelukan itu jauh dari kata canggung sekarang. Pelukan itu begitu dalam, kokoh, dan melindungi, menenggelamkan tubuh mungil Senja di dalam dada bidang Arga yang sekeras batu karang. Arga menumpukan dagunya di puncak kepala Senja, memejamkan mata elangnya, dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh gadis itu.
"Menangislah, Senja. Menangislah karena bahagia, dan biarkan ini menjadi terakhir kalinya air matamu jatuh untuk hal-hal yang menyakitkan," bisik Arga tepat di telinga Senja, suaranya bergetar oleh emosi yang ia tahan mati-matian.
Senja mengangguk dalam pelukan itu. Ia membalas rengkuhan Arga, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher pria itu. Hawa hangat dari tubuh Arga menjalar ke setiap saraf di tubuh Senja, mengusir sisa-sisa dingin dan rasa takut yang bersemayam sejak siang tadi.
Mereka berdua terdiam dalam pelukan yang berlangsung sangat lama itu. Tidak ada nafsu. Tidak ada paksaan. Hanya ada dua jiwa yang sama-sama hancur oleh kejamnya dunia, kini saling merangkai kembali pecahan diri mereka melalui kehangatan satu sama lain.
Bagi Senja, pelukan Arga adalah benteng perlindungan terkuat yang belum pernah ia rasakan sejak ayahnya meninggal. Berada di dalam rengkuhan lengan pria ini membuat Senja merasa bahwa langit bisa runtuh besok, dan ia akan tetap aman.
Sedangkan bagi Arga... pelukan ini adalah segalanya. Menahan tubuh Senja di dalam lengannya membuat Arga sadar, bahwa memegang seluruh saham di Asia tidak akan pernah sebanding dengan memegang wanita ini. Ia baru saja menemukan "Rumah" nya, dan ia rela membakar dunia demi menjaga rumah ini tetap berdiri.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, tangisan Senja perlahan mereda. Napas gadis itu kembali teratur.
Ia mulai menyadari posisinya. Wajahnya menempel di leher Arga, dadanya bersentuhan dengan dada bidang pria itu, dan lengan kuat Arga mengunci pinggangnya dengan erat. Jarak mereka tak lebih dari setebal kemeja.
Seketika, rona merah yang sangat panas menjalar dari leher Senja hingga ke ujung telinganya. Kesadarannya baru saja kembali, dan rasa malu yang luar biasa menyergapnya.
"E-Ehm... K-Kak Arga..." cicit Senja gugup. Ia mencoba mendorong pelan dada Arga untuk melepaskan diri.
Namun, alih-alih melepaskan, Arga justru mengencangkan sedikit pelukannya di pinggang Senja selama dua detik penuh—sebuah bentuk protes tanpa suara karena tak rela melepaskan kehangatan itu—sebelum akhirnya pria itu melonggarkan lengannya dengan enggan.
Senja menarik tubuhnya mundur sedikit, menundukkan kepalanya dalam-dalam karena tidak berani menatap mata Arga. Wajahnya semerah tomat ceri yang baru dipetik.
"M-Maaf... aku kelancangan memeluk Kakak secara tiba-tiba... kemeja Kakak jadi basah karena air mataku..." gumam Senja sambil memilin ujung seragam cokelatnya.
Arga menatap gadis yang sedang tersipu salah tingkah itu dengan sorot mata yang menggelap, dipenuhi oleh kasih sayang yang nyaris tumpah ruah. Ia mengangkat sebelah tangannya, menyentuh dagu Senja dengan ujung jemarinya, dan perlahan mengangkat wajah gadis itu agar menatapnya.
Mata cokelat jernih Senja yang masih basah bertemu dengan mata elang hitam legam milik Arga. Tatapan Arga saat ini begitu lembut, tak ada lagi benteng es, tak ada lagi aura membunuh. Yang ada hanyalah sosok pria yang sedang jatuh cinta sedalam-dalamnya.
"Jangan pernah meminta maaf karena telah mencari perlindungan padaku, Senja," bisik Arga, ibu jarinya bergerak mengusap lembut sisa air mata di sudut mata gadis itu. "Dan kapan pun dunia di luar sana terlalu keras untukmu... lenganku akan selalu terbuka untuk menjadi tempatmu bersembunyi. Kau mengerti?"
Deg. Deg. Deg.
Jantung Senja berdetak menggila. Tatapan intens Arga dan sentuhan lembut di wajahnya itu mengirimkan ribuan kupu-kupu yang mengepakkan sayap secara brutal di dalam perutnya. Ini bukan lagi sekadar kebaikan dari seorang 'teman yang menumpang'. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam, lebih romantis, dan lebih mendebarkan dalam dinamika mereka saat ini.
Senja menelan ludah, mengangguk pelan seolah terhipnotis. "I-Iya, Kak..."
[Pesan Tersembunyi untuk Pembaca:]
(Ada sebuah kutipan lama yang mengatakan: "Memaafkan adalah atribut dari orang yang kuat." Hari ini, Senja membuktikan bahwa memiliki hati yang pemaaf bukanlah tanda kelemahan atau kebodohan, melainkan puncak tertinggi dari kedewasaan jiwa.
Saat ia memaafkan Pak Yanto yang telah mengusirnya, ia tidak menempatkan dirinya di posisi korban, melainkan membebaskan dirinya dari beban dendam yang bisa merusak masa depannya. Dan alam semesta selalu memiliki cara yang indah untuk menghargai kebesaran hati. Sebagai hadiah dari sifat pemaafnya, Senja tidak hanya mendapatkan kembali pekerjaan dan nama baiknya, tetapi ia juga mendapatkan hadiah terbesar yang dikirimkan takdir padanya: rengkuhan pelindung sejati dari seorang pria yang bersedia menaklukkan dunia untuknya. Kekuatan sejati seorang wanita kadang bukan diukur dari seberapa keras ia membalas dendam, melainkan dari seberapa lapang ia memaafkan, sementara ia tahu persis bahwa ia dilindungi oleh kekuatan yang tak terlihat.)
"Nah," Arga berdeham pelan, memecah ketegangan romantis yang membuat mereka berdua nyaris lupa bernapas itu. Ia menarik tangannya dari wajah Senja, meski ia sangat membenci hilangnya kehangatan kulit gadis itu di ujung jarinya.
"Kau belum makan malam, kan? Tadi siang kau bilang padaku akan memasak sayur sop," ucap Arga dengan nada yang kembali normal, santai, dan menggoda.
Senja tersentak sadar, wajahnya seketika kembali cerah oleh semangat. "Astaga, iya! Sayur sop-nya! Aku bahkan belum memotong wortelnya! Kak Arga pasti sudah lapar sekali menunggu aku pulang sambil menangis tadi. Maaf, Kak!"
Gadis itu buru-buru berdiri dari kasur, merapikan seragamnya yang kusut dengan tergesa-gesa. "Kakak tunggu sepuluh menit! Tidak, lima belas menit! Aku akan memasak sayur sop paling enak dengan kaldu tulang ayam sisa kemarin yang akan membuat perut Kakak hangat!"
Senja berlari kecil menuju dapur, mengikat kembali rambutnya yang berantakan, dan mulai sibuk mencuci sayuran di bawah keran air sumur dengan senandung kecil yang kembali menghiasi bibirnya. Beban di pundaknya telah sirna, menyisakan kebahagiaan murni yang meletup-letup di hatinya.
Arga duduk di atas kasur, menatap punggung mungil yang sedang sibuk memotong sayuran itu dengan senyum yang terus mengembang di wajah maskulinnya.
Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, sang CEO tiran itu tertawa. Sebuah tawa renyah yang lepas, rendah, dan bergema pelan di dalam ruangan kecil tersebut.
Arga menatap telapak tangannya sendiri—tangan yang baru saja memeluk gadis itu. Rasa hangat tubuh Senja masih tertinggal di sana, mencetak sebuah janji tak kasat mata di atas garis nasibnya.
Tunggulah, Senja, batin Arga dengan tekad yang bulat. Sebentar lagi. Saat semua ancaman dari duniaku benar-benar bersih, aku akan membuka topeng amnesia ini. Aku akan berlutut di hadapanmu, menyerahkan seluruh kerajaan yang kubangun dengan darah ini ke tanganmu, dan membawamu keluar dari gang gelap ini menuju dunia yang seharusnya menjadi milikmu.
Malam itu, diiringi suara pisau yang memotong sayuran dan aroma kaldu hangat yang mulai menguar, dua jiwa yang berbeda kasta itu menikmati kebersamaan mereka yang paling jujur. Pelukan pertama yang canggung itu telah berlalu, namun ia meninggalkan jejak abadi yang kelak akan menjadi pondasi terkuat saat badai sesungguhnya—badai dari masa lalu Arga dan kembalinya sang mantan, Natasha—menghantam kehidupan mereka.