Indonesia
NovelToon NovelToon
MENGULANG LUKA

MENGULANG LUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:TimeTravel / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:24.9k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

Valencia Florence mengira penderitaannya telah usai setelah palu hakim meresmikan perceraiannya dengan Julian Edgar. Namun, sebuah fenomena misterius justru melempar jiwanya melakukan time travel kembali ke tiga tahun lalu—tepat di tahun kedua pernikahan mereka yang dingin.

Kembali menjadi Nyonya Edgar berarti Valencia harus mengulang fajar pernikahan tanpa cinta. Dia kembali menghadapi Julian, suami sedingin es yang menguburnya dalam kemewahan finansial dan fasilitas jet pribadi, namun memperlakukannya tak lebih dari sekadar pajangan rumah. Valencia sadar diri, dia hanyalah pengantin pengganti untuk mendiang saudara kembarnya, Gracia Florence, yang tewas menjelang pernikahan. Di kesempatan kedua ini, Valencia bersumpah tidak akan lagi mengemis cinta yang tidak pernah ada. Dia akan menjalani sisa waktu pernikahan ini dengan caranya sendiri, bersiap untuk pergi sebelum hatinya hancur untuk kedua kalinya.

#by_Parkha

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENGULANG LUKA Bab 9: Penolakan Ego

...MENGULANG LUKA...

...Bab 9: Penolakan Ego...

Langkah kaki Julian terdengar begitu berat dan konstan saat menaiki undakan tangga marmer menuju lantai dua. Di dalam genggaman tangan kanannya, sebuah ponsel pintar yang menampilkan foto kebersamaan Valencia dan Lucas Frederick dicengkeram teramat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa bersalah yang sempat menyergap dadanya setelah mendengar kabar kecelakaan dua minggu lalu kini bertabrakan dengan rasa panas yang membakar seluruh isi dadanya.

Namun, Julian Edgar menolak keras menyebut rasa panas yang menyiksa itu sebagai sebuah kecemburuan. “Aku tidak cemburu,” batinnya menyangkal dengan ketat, mengabaikan denyut asing yang berdegup tidak nyaman di balik rusuknya. “Aku hanya tidak terima barang milikku diusik oleh rival bisnisku sendiri. Ini murni masalah harga diri keluarga Edgar.” Dia terus membisikkan kalimat itu, meyakinkan egonya yang terluka bahwa kemarahannya saat ini tidak ada hubungannya dengan perasaan pribadi terhadap Valencia. Dia hanya seorang pria berkuasa yang sedang menjaga teritorinya agar tidak diinjak-injak oleh musuh bebuyutannya.

Julian berjalan lurus menyusuri koridor lantai dua yang sepi. Namun, alih-alih melangkah masuk ke dalam kamar tidur utama mereka yang penuh memori cangkang kosong, perhatiannya mendadak tersedot pada sebuah pintu kayu ek di sudut terjauh yang tampak sedikit terbuka. Ruangan itu adalah tempat yang selama ini hampir tidak pernah dia lirik—studio lukis pribadi milik Valencia.

Julian mendorong pintu itu perlahan, membiarkan derit halus memecah keheningan sore. Bau menyengat dari perpaduan cat minyak, minyak turpentine, dan aroma kain kanvas baru langsung menyapa indra penciumannya. Ruangan itu tampak berantakan, namun di satu sisi terlihat sangat hidup dan artistik. Sinar matahari senja yang kemerahan masuk menembus jendela kaca besar, menerangi seluruh sudut ruangan.

Di tengah-tengah studio, sebuah kanvas berukuran besar berdiri tegak di atas tripod kayu. Julian melangkah mendekat, langkah kakinya tidak menimbulkan suara di atas karpet bulu. Sepasang matanya yang setajam elang menyipit dramatis saat melihat objek yang tergambar di sana.

Itu bukan potret wajah dirinya seperti yang biasa Valencia lukis secara sembunyi-sembunyi dulu. Di masa lalu, setiap kali Julian tidak sengaja melewati ruangan ini, dia selalu melihat kanvas yang penuh dengan sketsa wajahnya—sebuah bentuk pemujaan Valencia yang selalu dia abaikan dengan dingin. Namun kini, lukisan itu telah berubah total. Kanvas besar itu menggambarkan siluet seorang wanita yang berdiri kokoh di tepi tebing tinggi yang curam, menatap hamparan laut luas yang tengah bergejolak hebat oleh badai hitam. Guratan kuasnya begitu tegas, tebal, liar, sekaligus memancarkan emosi kebebasan yang teramat pekat.

Julian terpaku. "Kau benar-benar berubah, Valencia," bisik Julian rendah, suaranya mengudara di antara keheningan studio yang mati.

Melihat lukisan yang begitu hidup dan bernyawa ini seolah menjadi bukti fisik yang menampar Julian bahwa Valencia memang sengaja menarik diri dari jangkauannya. Wanita itu sedang mencoba membangun dunianya sendiri yang tidak melibatkan sosok Julian Edgar di dalamnya.

Pandangan Julian kemudian beralih ke atas meja kayu kecil di dekat palet warna yang masih basah. Di sana, tergeletak sebuah brosur pameran seni kontemporer—galeri yang sama persis dengan tempat Valencia tertangkap kamera sedang menjabat tangan Lucas Frederick kemarin.

Amarah Julian yang sedari tadi dia sebut sebagai 'masalah harga diri' kembali tersulut dengan instan. Darahnya mendidih seketika. Dia langsung berasumsi bahwa Valencia pergi sore ini dengan alasan mengerjakan pesanan lukisan hanya sebagai kedok untuk menemui Lucas kembali di luar sana. Membayangkan istrinya yang selama ini selalu menatapnya dengan penuh ketakutan kini justru melemparkan senyum manis pada pria lain membuat rahang Julian mengeras dengan brutal. Dia tidak bisa duduk diam di mansion ini sementara harga dirinya dipertaruhkan di luar sana.

Julian berbalik dengan cepat. Jubah hitam panjangnya berkibar seiring dengan pergerakannya yang dipenuhi amarah. Aura dingin dan intimidasi yang pekat menguar dari tubuh tingginya yang setinggi 190 sentimeter itu, membuat atmosfer di dalam studio lukis tersebut mendadak mencekik.

Julian merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponsel, dan menekan satu nomor panggilan cepat ke asisten pribadinya. Begitu panggilan tersambung, dia tidak memberikan kesempatan bagi seberang telepon untuk menyapa.

"Cari tahu di mana keberadaan Valencia sekarang juga. Lacak mobilnya, lacak posisinya, dan kirimkan lokasinya ke ponselku dalam lima menit," perintah Julian dengan suara bariton yang bergetar menahan geram yang teramat sangat. "Jika kau terlambat satu detik, kau tahu apa konsekuensinya."

Tanpa menunggu jawaban, Julian mematikan sambungan telepon dengan kasar, lalu melangkah lebar keluar dari mansion untuk menyusul sang istri.

1
Shuttttttttttt
up up up up up, kepo bgttt
Shuttttttttttt
haa, knp sih gak jujur aja. biasanya pintar ini malah bodoh, gak curiga k klo seila2 itu sdh atur dgn sngja ksh tau vale kya gitu ihh
Shuttttttttttt
mending lo jujur dri pada vale tau dri lucas, bisa hbis rumah tangga loh
Park ha
🤣
Shuttttttttttt
up up up up up up up up up up
Park ha: tinggalkan like klo suka dan mau lanjut ka 🤭🤭..klo gk suka .gk like juga gpp sih hehe
total 1 replies
Shuttttttttttt
up up up up up
Shuttttttttttt
up up up up
Shuttttttttttt
yaaah, blm up lagi yaa thorrr🤭
Shuttttttttttt: cemangat thorrr, pembaca setiamu menunggu wkwkw😍🫂🤭🤣
total 2 replies
Shuttttttttttt
OMG😍😍😍😍
Shuttttttttttt
semangat thorrr😍❤️
Park ha: ku selalu semangat klo kalian suka cerita yang aku buat ♡♡♡🤭🤭🤭
total 3 replies
Shuttttttttttt
aku suka deehyy
Shuttttttttttt
makin seruh deeh, aku suka bgttt🤭🤣👍❤️
Shuttttttttttt
up up up up
Shuttttttttttt
wkwkw sok² sih, bgus² udh di anggap baik sma vale, ehh malah pnya niat buruh ke rmh tangga org, akhirnya kena kan. terlalu terfokus sma masa depan mknya ceroboh, pdhal klo kita udah tau masa depan gmn dan seandainya kita melakukan tindakan yg gak sesuai sma apa yg terjadi brrti ada kemungkinan masa depan berubah. contoh kecilnya: julian sadar akan kesalahannya terhadap vale, vale yg sdh melihat masa depannya bersama julian, akhirnya memilih tetap bersama, naah brrti ada pergerakan yg berbeda sma masa lalu
Park ha: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Shuttttttttttt
senang deeh valee akhirnya sadar klo kepolosan dan kebaikan-nya di manfaatkan spya rumah tangga nya hancur
Shuttttttttttt
knp blm up kak
Park ha: 🙏UDAH UPDATE ..MAAF TELAT.. CIBUK
total 1 replies
Shuttttttttttt
nohh gk dngr²an sihh.... pdhal dia udah tau klo pertarungan antara lucas dan julian gak sesederhana itu tapi tetap ngeyel dan anggap julian laki-laki posesif yg kekanak kanakan.
Shuttttttttttt
naah, julian benar nih, gak perlu angkat telpn atau dngr penjelasan-nya vale, biarkan bukti audit yg menjelaskan klo lucas kali ini hnya berusaha pertahankan bisnis dan istrinya
Siti Kamisah Hasnul
Valencia yang tidak peka akhirnya kena jebak
Shuttttttttttt
julian, aku menunggu balasan utk si pebinor lucas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!