Seorang penyihir terkuat nomor satu Lucien yang tidak tertandingi, memasuki raga seorang pria lemah yang ternyata adalah pelayan setia dari Putri Aurelia. Aurelia adalah anak haram dari pimpinan klan Es yang selalu diremehkan oleh Ayahnya.
Apa lagi Aurel terlahir tanpa memiliki inti roh murni.
Namun segalanya berubah saat Lucien memasuki raga Arthur. Rahasia nya terungkap saat nyawa Aurel dalam bahaya. Aurel memohon padanya. Dan sejak saat itu--- Lucien sang penyihir terkuat menjadi guru dari Aurel.
Tujuan Aurel satu--- membalaskan setiap hinaan yang dia Terima dan merampas kepemimpinan klan Es dari Ayah dan Kakak tiri nya. Tentu saja, itu semua hanya bisa terjadi jika Lucien berdiri di sampingnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan 2
Guntur menyambar dahsyat, membelah langit malam yang pekat. Sepersekian detik kemudian, kilatan petir menyerang Erabus dengan kecepatan yang tidak masuk akal, memancarkan gelombang kejut yang menggetarkan tanah.
Sang iblis tersentak. Sayap hitamnya yang legam mengepak kuat ke sisi lain, menghindar dalam gerakan yang nyaris terlambat.
Di bawah medan perang yang hancur, ribuan pasang mata menoleh ke atas. Bayangan raksasa muncul dari balik robekan awan; pasukan Klan Petir dengan lambang Elang biru di dada mereka datang bergabung.
Di barisan paling depan, Tetua Thor duduk dengan angkuh di atas seekor Elang raksasa berbulu biru terang, yang di sekujur tubuhnya dialiri percikan energi murni dari petir abadi.
"Itu... Klan Petir! Mereka benar-benar datang!" teriak salah satu pasukan Klan Api, tangan nya gemetar saat menunjuk ke atas.
Pangeran Edwin, yang sedari tadi berlutut sambil meremas dadanya akibat luka bakar hitam dari serangan Erabus, perlahan menegakkan tubuh.
Darah segar menetes dari sudut bibirnya, namun matanya menyala. "Klan Petir..." gumamnya, sudut bibirnya sedikit terangkat.
Namun, kejutan malam itu belum berakhir. Di saat yang bersamaan, atmosfer di sekitar mereka yang tadinya membara panas layaknya neraka jahanam, tiba-tiba bergeser drastis.
Udara berubah menjadi sejuk, lalu menusuk tulang. Kobaran api yang membakar sisa-sisa reruntuhan di sekitar mereka tiba-tiba membeku, berubah menjadi kristal es yang memantulkan cahaya redup.
Semua orang kembali tersentak. Mereka menoleh ke belakang dengan napas memburu. Di sana, dari balik kabut hitam yang tebal, pasukan Klan Es berjalan beriringan dengan langkah kaki yang konstan dan mengintimidasi.
Langkah mereka dipimpin oleh Tetua Frost, yang kedua telapak tangannya memancarkan energi biru laut pekat—sumber hawa dingin yang membekukan udara di sekitar mereka.
"Klan Es juga..." gumam Pangeran Edwin lagi, suaranya tercekat di tenggorokan.
Tak hanya itu, seketika itu pula alam seolah mengamuk. Udara di sekitar medan tempur menjadi kacau balau, pusaran angin bertiup kencang hingga menerbangkan debu dan puing-puing batu.
Semua kembali menoleh ke sisi lain barat. Di sana, membelah badai yang berputar, pasukan Klan Badai melesat cepat dipimpin oleh Storm, sang tetua bertopeng perak yang memegang kendali atas angin topan.
Melihat kepungan dari berbagai penjuru, Erabus tiba-tiba mendongak. Iblis purba itu tertawa terbahak-bahak. Suara tertawanya begitu menggelegar, bergaung di dalam kepala setiap makhluk hidup yang mendengarnya, membawa teror yang nyata.
"Bagus... Bagus sekali! Semua klan tikus ini akhirnya telah berkumpul di satu lubang yang sama!" seru Erabus dengan suara bas yang menyeramkan, memamerkan taring-taring tajamnya.
Matanya yang merah menyala menatap remeh ke arah para tetua. "Ini justru mempermudah tugasku. Aku akan mengisap jiwa kalian, menghancurkan sisa kejayaan dunia, dan membuat kalian semua berlutut menjadi pengikut kegelapan abadi!"
Tetua Frost melangkah maju, lalu meludah ke tanah yang kini telah dilapisi es tipis. "Cih, simpan bualanmu itu di dalam mimpimu, Iblis!" serunya dengan nada dingin sekaku es utara.
Matanya menatap tajam, mengunci pergerakan sang musuh abadi. "Hari ini, kegelapanmu yang akan membeku dan hancur berkeping-keping."
"Bersiaplah, Erabus! Langit tidak akan mengampuni dosamu!" guntur Tetua Thor dari atas elangnya, mengangkat palu petirnya tinggi-tinggi, memanggil badai halilintar yang siap membumihanguskan tanah.
Seketika itu juga, pertarungan kembali pecah dalam skala yang jauh lebih kacau dan megah. Kali ini, tidak ada lagi ego individu.
Semua klan memutuskan untuk melupakan sejarah kelam, dendam masa lalu, dan permusuhan berdarah yang pernah ada di antara mereka.
Ambisi mereka kini melebur menjadi satu keyakinan tunggal: menghancurkan kegelapan yang sedang berdiri congkak di depan mereka.
Di tengah medan perang yang hancur lebur dan bersimbah darah, kerja sama kelima klan mencapai puncak kejayaan yang luar biasa.
Kombinasi kekuatan api, petir, es, badai dan bumi bersatu padu, menciptakan simfoni kehancuran yang agung saat mereka bersama-sama menerjang maju demi menumbangkan Iblis Erabus.
Di sisi lain, di garda depan yang paling berbahaya, Pangeran Edwin berdiri dengan armor yang telah koyak dan tubuh yang bersimbah darahnya sendiri. "Aku tidak akan mundur! Kerajaan tidak akan jatuh hari ini!" teriak Pangeran Edwin dengan lantang, mengabaikan rasa sakit yang menusuk tulang-tulangnya.
Ia mengangkat pedangnya tingg-tinggi, memimpin pasukannya untuk bertindak sebagai jangkar harapan terakhir. "Demi fajar yang baru, pancarkan cahaya!" serunya, melepaskan gelombang energi suci yang memancar terang layaknya energi matahari, membakar kabut kegelapan dan memberi perlindungan bagi para prajurit di sekitarnya.
Namun, Erabus bukanlah iblis yang mudah ditundukkan; dengan kekuatan yang begitu kuat dan tak terbendung, monster itu justru mengamuk secara membabi buta setelah menerima rentetan serangan maut tersebut.
"Makhluk-makhluk yang tidak tahu diri!" geram Erabus dengan suara yang menggetarkan isi dada.
Sepasang sayap kegelapannya mengepak dahsyat, menciptakan badai tekanan angin bermuatan energi gelap yang seketika meruntuhkan formasi kokoh Pangeran Edwin dan kelima klan.
Belum sempat mereka memulihkan posisi, cakar-cakarnya yang sekeras baja mencabik-cabik ruang kosong dan barikade pertahanan sihir tanpa ampun, menyisakan lolongan ngeri para prajurit.
"Awas! Hindari tatapannya!" jerit Pangeran Edwin, namun terlambat.
Sepasang mata Erabus yang merah menyala terus menyapu medan tempur dengan dingin, menembakkan berkas cahaya yang meledakkan apa pun yang disentuhnya menjadi serpihan debu dalam sekejap mata.
Seolah kehancuran itu belum cukup, rahangnya yang mengerikan terbuka lebar, mengeluarkan raungan tawa yang menyakitkan telinga bersamaan dengan tersemburnya kabut racun yang mampu melelehkan daging manusia dan batuan kokoh hingga menjadi cairan hitam yang mendidih.
Medan perang kembali berubah menjadi neraka yang menguji batas akhir semua Klan.
"Pertahankan posisi! Jangan biarkan garis pertahanan ini runtuh!" teriak Frost dari balik kekacauan, namun suaranya tenggelam.
Korban berjatuhan dalam jumlah yang mengerikan. Jerit kesakitan bergema memilukan saat beberapa prajurit terhempas ratusan meter, terluka parah dengan luka bakar hitam, atau bahkan tewas seketika di bawah amukan sang iblis tanpa sempat mengucapkan kata terakhir.
Meski begitu, tidak ada kata mundur di kamus mereka. Dengan kelincahan dan koordinasi yang luar biasa, para Penyihir itu terus melompat menghindar dari batu-batu yang runtuh.
Mereka saling menutupi celah rekannya yang jatuh, merapalkan mantra penyembuh instan, dan bangkit kembali dengan tatapan yang kian menantang maut.
Darah yang tumpah di atas tanah itu justru menjadi bahan bakar bagi tekad mereka yang tak tergoyahkan. Setiap raungan mantra kekuatan bumi, es, api, petir, dan pusaran badai yang mereka panggil membuktikan satu hal: gabungan elemen alam jauh lebih abadi ketimbang teror kehancuran yang dibawa oleh Erabus.
Erabus menghentikan serangannya sejenak. Ia menunduk, menatap sekumpulan makhluk di bawahnya yang bersimbah darah namun masih berani mengarahkan senjata kepadanya.
"Kalian benar-benar ingin melawan ku, ya?" gumam Erabus, suaranya bergetar rendah seperti guntur yang menggetarkan dada, sementara matanya berkilat dingin penuh penghinaan.
"Selama matahari masih ada, kegelapanmu tidak akan pernah memenangkan dunia ini, Erabus!" balas Pangeran Edwin, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, mengalirkan seluruh sisa energinya ke ujung bilah baja.
Melihat perlawanan yang tak kunjung padam dan kesombongan manusia di depannya, Erabus semakin murka. Ia melepaskan kekuatan amukan yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.
Kali ini, monster itu tidak lagi mencakar atau menyemburkan racun. Ia berdiri tegak, merentangkan sayapnya lebar-lebar, dan menghimpun seluruh energi kegelapan murni dari inti dimensi hitam untuk melancarkan satu serangan pamungkas berskala besar.
Sebuah kubah hitam berdiameter raksasa tercipta di atas kepalanya, memancarkan ledakan mahadahsyat yang getarannya seketika mengguncang fondasi langit hingga memecahkan awan, serta meretakkan hamparan bumi dalam retakan-retakan besar hingga ke intinya.
Gelombang kehancuran murni yang gelap, pekat, dan mematikan itu menyapu seluruh medan perang tanpa terkecuali, menghempaskan tubuh para prajurit dan pasukan klan bagaikan daun kering di tengah badai, memaksa darah segar menyembur keluar dari mulut mereka saat kesadaran mereka berada di ambang batas kehancuran.
"HAHAHAHAHAHAHA!" Erabus tertawa menggelegar, kepuasan terpancar dari wajah kejamnya. "Dunia ini... milikku," gumamnya, namun suara anehnya terdengar sangat jelas di telinga setiap makhluk yang tersisa, bergema langsung di dalam sanubari mereka yang ketakutan.
Pangeran Edwin yang kini terluka parah dan berlumuran darah, berlutut menggunakan pedangnya untuk menahan tubuh agar tidak ambruk.
Di sampingnya, para pimpinan Klan dengan napas terengah-engah dan luka bakar yang merusak kulit mereka—menatap Erabus dengan penuh kebencian yang mendalam.
Kebencian yang membakar sisa-sisa harga diri mereka, namun bercampur dengan kengerian yang nyata.
Apakah ini akhirnya? Pikiran mereka sama. Mungkinkah mereka gagal dan akan mati hari itu?