*THE HEIR'S MISTAKE*
*Kesalahan Sang Pewaris*
Mereka tidak pernah ditakdirkan untuk saling mencintai.
Dia adalah pewaris keluarga terpandang. Dingin, arogan, dan punya reputasi buruk.
Pertunangan yang diatur kedua orang tuanya adalah mimpi buruknya.
Dia adalah gadis baik-baik, putri dari sahabat orang tuanya.
Sama-sama benci perjodohan ini. Sama-sama ingin bebas.
Sampai satu malam menghancurkan segalanya.
Alkohol. Amarah. Dan satu kesalahan besar.
Dia hamil. Tanpa pernikahan. Tanpa cinta.
Penuh benci dan malu, dia memilih pergi.
Menghilang selama 5 tahun. Membesarkan anak itu sendirian.
Bersumpah tidak akan pernah kembali.
Kini dia kembali. Lebih kuat. Lebih dingin.
Menggandeng tangan putra yang wajahnya mirip sekali dengan sang pewaris.
Dia tidak butuh istri.
Tapi dia akan melakukan apa saja demi anaknya...
Bahkan jika itu berarti berlutut di hadapan wanita yang bersumpah akan membencinya selamanya.
_Beberapa kesalahan tidak bisa dihapus.
Kau harus menikahinya._
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga
# Tiga
Seperti kelelawar, dunia Leon dibolak-balik. Siang jadi malam dan sebaliknya.
Malam ini, di sebuah tempat hiburan malam. Leon sedang menikmati jamuan, Zura sudah stand by di sisinya. Siap men services pria itu tanpa ampun.
Rupanya mereka punya rencana gila untuk dilakukan malam ini. Kini keduanya sedang menikmati wine, entah gelas ke berapa. Tidak ada toleransi bagi Leon, libas semuanya sampai habis.
Sampai dahaganya terpuaskan, namun sayang. Biarpun habis ber gelas-gelas, nyatanya kerongkongan pria tersebut masih terasa kering kerontang.
Zura sendiri sudah duduk dengan posisi menggoda, ia akan merayu bosnya tersebut sampai mendapat apa yang ia mau.
Gadis itu sedang kepincut dengan tas branded keluaran terbaru. Tidak punya banyak uang, tapi ia punya ATM berjalan. Sedikit sentuhan, Leon akan memberikan apa saja padanya.
Saat ia sedang asik merayu bos tampan dan loyal itu, tiba-tiba ponsel Leon berdering.
'Kenapa lagi, ini sih Mama!' Leon kesal, momen hangatnya jadi terganggu.
"Iya, Ma!" Leon menepis tubuh Zura yang terus menempel padanya. Bila terus di desak sekretarisnya itu, ia tak bisa konsentrasi.
"Kamu di mana? Pulang segera!"
"Ada apa sih, Ma?" Leon keberatan, dia sudah bukan anak ingusan lagi. Masa di suruh pulang segala.
"Sudah Leon! Kamu pulang... ini gawat!"
"Ada apa, Ma?" wajah Leon mulai serius. Sepertinya memang ada hal buruk yang terjadi.
Mama Yesy mulai terbata-bata, bila sebelumnya ia bicara tanpa emosional. Kini suaranya sedikit terisak.
"Hanum..."
"Ada apa dengan Hanum?" Leon mulai malas, ternyata yang dibahas malah Hanum.
"Rumahnya kebakaran!"
"Mama jangan bercanda," Leon menduga Mamanya sedang main-main dengannya.
"Mama serius, Leon! Barusan Mama dapat kabar. Kamu cepat ke rumah sakit, Mama juga akan ke sana. Cepat!"
Mama Yesy langsung mematikan ponsel, ia bergegas ke rumah sakit.
Ruma sakit, di sebuah ruang UGD. Hanum sedang terisak di depan sebuah kamar. Di dalam sana, Ibunya mengalami luka bakar parah.
Rumahnya hangus terbakar, saat dirinya sedang ke luar rumah. Kebetulan ia sedang ke rumah temannya. Begitu pulang, ia sangat terkejut. Asap mengepul di atap rumahnya. Bu Ratih yang sedang tertidur hampir hangus terbakar kalau tidak ada pemadam kebakaran yang datang dengan cepat.
"Hanum!" Mama Yesy langsung memeluk Hanum yang sudah sembab matanya.
Hanum menangis dalam dekapan Mama Yesy, ibunda Leon. Tak tahu harus mengadu ke siapa lagi, karena hatinya saat ini sedang kalut. Tak punya tempat bersandar, Hanum larut dalam kesedihannya.
"Apa yang terjadi?" Setelah tenang, Mama Leon tersebut mencoba menanyakan kronologi kebakaran yang menimpa hunian Ratih, kawan lamanya.
"Hanum gak tahu, Tante. Begitu Hanum pulang, asap sudah mengepul memenuhi rumah." Hanum bicara dengan sedikit terisak.
Dari jauh, nampak Leon datang. Mama yang melihat putranya datang, langsung menghampiri Leon.
"Lama sekali kamu ini!" baru juga sampai, sang Mama sudah ngomel-ngomel. Kuping Leon panas seketika.
"Bau apa ini? Leon...!" sambung Mama. Ia kembali kesal, karena aroma yang tertangkap hidungnya.
'Anak ini! Sempat-sempatnya minum!' gumam Mama Leon dengan geram.
"Apa yang terjadi, Ma?" ingin mengalihkan perhatian sang Mama, biar berhenti ngomel tak jelas. Leon mengalihkan perhatian dengan menanyakan keadaan Hanum dan keluarganya.
"Rumah mereka terbakar, hangus tak bersisa. Untung Hanum lagi di luar rumah. Tapi, malang bagi Tante Ratih. Karena dia ada di dalam rumah."
Meskipun tak sadar sepenuhnya karena pengaruh minuman. Leon masih bisa mencerna semuanya.
Ia yang biasanya cuek dengan urusan orang lain, kali ini ikut merasa simpati. Baru juga sesaat lalu mereka bertemu. Tapi malam harinya sebuah tragedy terjadi.
Leon lantas menatap Hanum yang tertunduk lesu. Didekatinya gadis yang sedang dirundung kesedihan itu.
"Tante Ratih akan baik-baik saja," Seolah ingin menghibur hati Hanum. Itu kata-kata terakhir yang bisa Leon katakan.
Sebab selanjutnya bibirnya keluh, ketika tangis Hanum pecah di depannya.
'Ya Tuhan, apa ini...?' Leon tak suka rasa simpati yang seperti ini. Sebuah rasa yang lama-lama akan berkembang tanpa ijinnya.
Tak ingin ikut larut dalam kesedihan Hanum, ia pun memilih meninggalkan gadis itu. Kini ia mendekati Mamanya.
"Hanum, kamu ikut Tante pulang ya? Sepertinya Ratih masih harus mengalami banyak serangakaian perawatan. Dan percuma kamu menunggu di luar. Ikut Tante pulang ya?"
Mama Leon mencoba mengajak Hanum malam ini menginap di rumahnya.
Leon melirik sang Mama, apa-apaan Mamanya ini. Main ngajak orang tinggal begitu saja. Ia tak berani protes, hanya melirik saja.
"Tidak Tante, terima kasih. Hanum mau temenin Ibu di sini."
Kasian bila Hanum tidur di kursi depan ruangan, wanita paruh baya tersebut memaksa calon mantunya untuk ikut bersamanya.
"Sudah, nurut sama Tente!"
Mama Yesy ini orangnya memang pemaksa sekali, begitu bertemu Dokter. Ia pun langsung pulang membawa Hanum bersamanya. Karena percuma, Ibu Ratih harus menjalani perawatan intensive. Tidak bisa dijenguk hingga besok harinya.
Dengan berat hati, Hanum pun ikut. Meski hatinya tak tega meninggal ibunya sendirian.
"Kamu jangan khawatir, Tante sudah siapkan Dokter terbaik untuk ibumu. Dan lagi, besok pagi-pagi... Leon akan mengantar ke sini!"
'Idih Mamah, enak bener nyuruh-nyuruh!' gerutu Leon. Lagi-lagi ia hanya bisa melakukan apa kata Mamanya. Dasar Leon, di luar ia bisa saja menjadi singa liar. Akan tetapi bila di rumah ia menjelma jadi kucing anggora. Jinak-jinak meong.
Mereka bertiga pun masuk mobil yang sama, menuju rumah Mama Yesy.
Setelah menempuh perjalanan cukup melelahkan, akhirnya sampai juga di sebuah rumah. Dengan pagar gagah yang menjadi pintu pembatasnya.
"Ayo masuk, sayang!" Mama merangkul pundak Hanum. Seolah gadis itu kini resmi menjadi anak mantu.
Di belakang, ada Leon yang mendesis kesal. Perhatian sang Mama ia rasa sangat berlebihan terhadap Hanum.
"Bik Surti!"
Seorang wanita bertubuh gelambir lari-lari kecil saat namanya disebut.
"Iya, Nyonya!"
"Siapin kamar tamu ya. Kita kedatangan tamu."
"Baik Nyonya."
Bik Surti bergegas menyiapkan kamar untuk tamu yang baru datang.
Sementara itu, Leon yang merasakan pusing karena pengaruh minuman. Memilih masuk ke kamarnya.
"Ma, Leon istirahat dulu."
Tak menunggu jawaban sang Mama, Leon ngeloyor ke kamarnya.
Hanum jadi merasa tak enak, ia sudah merasa merepotkan.
"Nyonya, kamarnya sudah siap." Bik Surti datang menghampiri Mama Yesy dan Hanum.
"Nah, kamarnya udah siap. Malam ini tidur di sini saja. Besok Tante akan suruh Leon antar kamu ke rumah sakit."
"Makasih banyak, Tante."
Mama Yesy menggeleng pelan, kemudian pergi ke kamarnya setelah memastikan Hanum masuk kamar yang sudah disiapkan bik Surti.
Sepanjang malam Hanum tak bisa memejamkan mata, segala posisi tidur sudah ia coba. Miring kiri, miring kanan, terlentang bahkan tengkurap.
Tetap saja tak bisa membuat matanya terpejam. Ia terjaga sampai pukul 2 dini hari.
Karena merasa haus, Hanum pun ke luar kamar. Sepertinya bik Surti lupa membawakan teko ke kamarnya. Dan lagi tak ingin membangunkan orang yang ada di dalam rumah.
Hanum pun pergi sendiri, ia berjalan masuk ke dalam. Ia yakin itu pasti dapur. Dugaannya benar, setelah melangkah semakin dalam. Dilihatnya sebuah lemari es dengan ukuran empat kali lipat miliknya di rumah.
Tanpa menoleh lagi, dibalik cahaya temaram. Hanum membuka pintu kulkas. Di raihnya botol mineral dari lemari tersebut.
Ia meminumnya Langsung dari botol, karena kesulitan mencari gelas.
Saat akan menutup pintu, matanya terbelalak lebar.
dan Leon sudah tidak di marahin lagidi usir di dorong dan tidak pakai baju ya hanya koloran saja wong kadung nesu ga ngertio ulah calon Leon Junior 👍👍🌹🌹😂😂
Su TREMOSI. hampir meledak kaya gunung Krakatau ,,, memuntahkan lahar koyo wedus gembel 😆 gregeten sama dua orang itu,,,,sudah di panghil sayang ga terima,,,di galak i mewek,,,di belani hanya pakai kolor ijo. ngopo ga pakai kaca mata riben nya Hanum Leon,,,,,biar kocak. ,
coba acak cerita bagaimana awal ketemu nya ,,,tapi lagi senang ketemu pak Su nya beruntung Lo ga di bikin amnesia. sapa sang jawara penulis 😂 baik Lo Jeng Sept
wong di buat jebur berenang lama,,
mempermain kan wanita Ahir sekarang
sedang di uji,, kasian Hanum dan Shian
sabar ya shean ,,,jadi kantor nya siapa yang pegang,,,apa di jarah
anak dan istrinya berpisah dalam keadaan tidak tau mati opa urip,,,😭😭 penuh air mata
namanya juga pELaKoR dan dia juga mau balas dendam menggunakan anak pria lain dodol kuprettt Leon,,,
Leonardo ko ga cerds si sewa dong mata mata,,,masa percaya begitu saja. dan jujur pah agar ada tempat untuk curhat jangan
malah jadi takut,,, justru malah ketauan
bobrok nya cerdas dong Leon. jangan terlbat,,,,ehhh protes sama penulis nya keles 😄😄 ngapa sama Leonardo di ke
pruk i,,😈😈
berat Leon. menjaga hati sang istri dan buah hati,,,
dengan sendirinya lebih baik jujur dan seperti tadi bilang seandainya terjadi sesuatu di masa lalu jangan tinggalkan Ak ya Hanum gitu dan jangan bawa Sean,,,
ya katakan juga mengapa baru bilang ya
karena baru tau dan yang tau justru mama Yesi ,,,
seandainya tau ternyata kebaikan Leon
saat ini ada Nido besar di masa lalu kini,,
tinggal menunggu Bom nya meledak ,,,,
beruntung Hanum tidak keluar dari kerjanya. jadi apabila kelak terjadi percekcokan karena masa lalu sang Suami sebagai pemain wanita ternyata membuahkan anak laki-laki tak berdosa,,,
berarti lebih cerdas Hanum. memang si di tolong Hendra. tetapi tidak pacaran apa
lagi menikah,,,lebih baik hanya hidup berduaan dengan putrinya,,
yang sudah sudah kalau abis bahagia biasanya di bikin sedih sengsara. mudah mudahan kali ini ga ya kasian sudah sama sama menderita 4 th dah cukuplah tinggal meraih kebahagiaan saja,,,,tapi masih ada Anak nya Zura bikin dah dig dug derrrr,,,,
menyesal karena merusak Anak gadis
wanita yang sangat di kenal,,,duh kayanya akan ada perang dunia ke empat 😂👍
semoga Leon benar' benar insyaf ,,,menjadi suami dan Ayah terbaik dan Mama Yesy. menjadi orang tua yang sangat bangga 👍🤲🤲♥️♥️