Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Selama bertahun-tahun, Akbar dicap sebagai pembawa sial oleh seluruh warga kampung, bahkan disalahkan atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kelelahan dengan hidup yang penuh penderitaan dan cemoohan, Akbar memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan melompat dari atas jembatan. Namun, tepat sebelum tubuhnya jatuh, sebuah layar hologram mendadak muncul dan memberinya "Sistem Dewa Hoki". Kini, berbekal keberuntungan absolut dari sistem tersebut, Akbar siap membalikkan keadaan, membungkam mulut orang-orang yang merendahkannya, dan membongkar rahasia kelam di balik kematian orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Kring kring kring.

Suara alarm dari ponsel retak Akbar berbunyi nyaring di pagi hari yang cerah.

Akbar membuka matanya dan langsung duduk bersila di atas kasur lipatnya.

Hari ini kepalanya terasa sangat segar dan suasana hatinya luar biasa bagus.

"Sistem, keluarkan Kotak Item Misteri kelas Emas yang aku dapatkan semalam," panggil Akbar di dalam hatinya.

[Permintaan diterima. Membuka Kotak Item Misteri Kelas Emas sekarang juga.]

Ding.

Sebuah peti kecil berwarna emas yang sangat menyilaukan muncul mengambang di depan wajah Akbar.

Peti itu terbuka perlahan diiringi suara paduan suara gaib yang terdengar sangat agung di telinganya.

[Selamat! Tuan beruntung mendapatkan Skill Pasif Legendaris: Aura Penglaris Tingkat Dewa.]

[Fungsi: Memancarkan gelombang kenyamanan dan daya tarik gaib di area bisnis milik Tuan.]

[Efek: Setiap pelanggan yang masuk akan merasa sangat betah dan hasrat belanjanya meningkat hingga tiga ratus persen.]

Mata Akbar terbelalak lebar membaca deskripsi skill pasif yang baru saja dia dapatkan itu.

"Ini gila, skill ini benar-benar mesin pencetak uang otomatis kalau dipasang di minimarket baruku nanti," gumam Akbar tertawa pelan.

"Sistem, apakah skill ini langsung aktif sekarang?"

[Skill Pasif Aura Penglaris Tingkat Dewa akan otomatis aktif saat Host meresmikan pembukaan toko pertama Tuan.]

Akbar mengangguk paham dan segera melompat dari kasurnya untuk mandi pagi.

Dua minggu kemudian.

Suasana di sebelah balai desa Sukamaju benar-benar berubah total seratus delapan puluh derajat.

Tanah kosong penuh rumput liar itu kini telah disulap menjadi sebuah bangunan ruko tiga lantai yang sangat megah.

Catnya berwarna perpaduan putih dan biru muda yang terlihat sangat modern dan bersih.

Sebuah papan nama neon raksasa bertuliskan Toko Grosir Hoki Pratama terpasang gagah di bagian depan lantai dua.

Brummm.

Akbar memarkir motor Scoopy hitamnya di area parkir toko yang sudah dipelur halus.

Hari ini adalah hari peresmian pembukaan toko atau grand opening yang sudah ditunggu-tunggu warga sekecamatan.

Akbar melangkah masuk melewati pintu kaca otomatis yang langsung terbuka menyambutnya.

Hawa dingin dari empat buah AC besar langsung menyejukkan kulitnya.

Di dalam sana, ratusan rak besi kokoh sudah tersusun sangat rapi layaknya supermarket di Jakarta.

"Bar, kamu sudah datang rupanya," sapa Risa yang terlihat sangat cantik memakai seragam kemeja biru muda khas manajer toko.

"Bagaimana persiapan grand opening kita jam sepuluh nanti Mbak Risa? Semuanya aman?" tanya Akbar santai.

Risa mengangguk cepat sambil memegang sebuah papan jalan berisi daftar catatan stok barang.

"Semua stok barang sudah naik ke rak Bar, kasir juga sudah siap dengan mesin komputer barunya."

"Tapi ada satu masalah kecil Bar, perwakilan distributor besar dari Jakarta yang aku hubungi minggu lalu baru saja sampai di depan."

Akbar mengerutkan dahinya heran mendengar laporan tersebut.

"Distributor besar? Kenapa mereka datang langsung ke mari bukannya mengirimkan barang pesanan kita?"

"Katanya mereka mau survei lokasi dulu Bar, karena pesanan grosir kita nilainya menembus angka lima ratus juta rupiah."

"Mereka tidak percaya kalau ada toko di desa terpencil ini yang sanggup memesan barang sebanyak itu secara tunai."

Cittt.

Terdengar suara rem mobil sedan yang berhenti tepat di halaman parkir depan toko mereka.

Sebuah mobil Honda Civic putih mengkilap terparkir mulus di sebelah motor Akbar.

Pintu mobil terbuka dan turunlah seorang wanita muda berpakaian sangat modis ala orang ibu kota.

Wanita itu memakai kacamata hitam besar, kemeja putih tanpa lengan, dan celana kulot berwarna krem.

Dia melangkah masuk ke dalam toko dengan ekspresi wajah yang sedikit meremehkan sambil melihat sekeliling.

"Selamat pagi, saya Siska perwakilan dari PT Makmur Jaya Jakarta," sapa wanita itu dengan nada suara agak tinggi.

"Apakah manajer bernama Risa yang memesan barang setengah miliar itu ada di sini?"

Risa buru-buru berjalan mendekat dan menjulurkan tangannya dengan sopan.

"Selamat pagi Mbak Siska, saya Risa manajer toko ini yang kemarin menghubungi kantor Mbak."

Siska melepas kacamata hitamnya dan menjabat tangan Risa sekilas saja tanpa banyak senyum.

Dia lalu menatap Akbar yang berdiri santai di sebelah Risa dengan kemeja flanel kotaknya.

"Toko kalian lumayan besar juga untuk ukuran desa terpencil yang jalannya berlubang semua," komentar Siska langsung blak-blakan.

"Tapi sejujurnya bos saya di Jakarta masih ragu untuk menyetujui kontrak suplai barang ke tempat ini."

Akbar melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Siska dengan sorot mata tenang.

"Ragu kenapa Mbak Siska? Uang tunai kami sudah siap ditransfer kapan saja barang kalian sampai," balas Akbar santai.

Siska mendengus pelan dan berkacak pinggang menatap Akbar dari atas sampai bawah.

"Masalahnya bukan cuma soal uang Mas, tapi soal perputaran barang yang berkelanjutan," jelas Siska sok pintar.

"Kalau kami kirim barang setengah miliar ke sini, lalu ternyata toko kalian sepi pembeli dan bangkrut bulan depan, kami yang repot."

"Kami mencari mitra bisnis jangka panjang, bukan sekadar toko musiman yang sepi setelah sebulan buka."

Mendengar nada merendahkan dari gadis kota itu, Risa mulai terlihat agak ciut dan menundukkan kepala.

Namun Akbar malah tersenyum sangat lebar dan melangkah maju satu langkah mendekati Siska.

"Mbak Siska takut toko kami ini sepi pembeli dan bangkrut?" tanya Akbar bernada menantang.

"Iya jelas dong, penduduk desa ini ada berapa banyak sih sampai kalian berani bikin toko grosir sebesar ini?" remeh Siska lagi.

"Kalau begitu, mari kita buat taruhan kecil pagi ini Mbak Siska yang terhormat," tawar Akbar memancing emosi.

Siska mengerutkan dahinya dan menatap Akbar dengan tatapan penuh rasa penasaran.

"Taruhan macam apa maksud Mas ini?"

"Sepuluh menit lagi toko ini akan resmi dibuka untuk umum," ucap Akbar sambil melirik jam di dinding toko.

"Kalau dalam waktu satu jam pertama omzet penjualan kami tidak menembus angka seratus juta rupiah, Mbak boleh batalkan kontraknya."

Risa langsung terbelalak kaget dan menarik ujung baju Akbar dari belakang dengan panik.

"Bar kamu gila ya? Seratus juta dalam satu jam itu mustahil buat toko baru buka begini!" bisik Risa sangat panik.

Siska malah tertawa pelan mendengar tantangan yang menurutnya sangat tidak masuk akal itu.

"Seratus juta dalam satu jam di desa sepi begini? Kamu pasti sedang berkhayal Mas."

"Tapi baiklah, aku terima taruhan konyolmu itu, aku akan duduk di sudut sana memperhatikan kalian menangis."

Akbar hanya mengangguk santai dan berjalan menuju pintu utama toko yang masih ditutup rolling door kaca.

"Sistem, pastikan Skill Aura Penglaris Tingkat Dewa bekerja maksimal begitu pintu ini terbuka," perintah Akbar dalam diam.

[Skill Pasif siap diaktifkan seratus persen. Menunggu instruksi pembukaan pintu dari Tuan.]

Teng teng teng.

Jam dinding di atas meja kasir berbunyi menunjukkan tepat pukul sepuluh pagi.

"Buka pintunya sekarang Mbak Risa," perintah Akbar dengan suara lantang dan penuh wibawa.

Risa menekan tombol remote kecil di tangannya dan pintu rolling door besi itu perlahan naik ke atas.

Wush.

Begitu pintu terbuka lebar, sebuah gelombang energi transparan yang sangat sejuk memancar keluar dari tubuh Akbar.

Energi itu menyebar dengan sangat cepat menutupi seluruh area bangunan tiga lantai tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!