Indonesia
NovelToon NovelToon
DIA YANG DATANG BERSAMA HUJAN

DIA YANG DATANG BERSAMA HUJAN

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:722
Nilai: 5
Nama Author: AME author

menceritakan Akira Riyuma seseorang siswa SMA yang pindah sekolah dan pergi dari rumahnya karena rumah lamanya sudah tidak sehangat dulu.
Dia anak pendiam. Dunianya yang terasa sepi.
Sampai dia bertemu Riyumi Asuma.
Gadis yang ceria dan suaranya bikin tenang, tapi entah kenapa... membuat hari-hari Akira jadi ramai.
Di antara hujan, tawa, dan tatapan yang tidak pernah Akira mengerti,
muncul satu pertanyaan di kepalanya:
apa arti sebuah keluarga,rasa yang belum pernah dia rasakan.

akira yang sudah banyak kehilangan seseorang yang berharga di hiduupnya.

apakah akira bisa menemukan kebahagiaan itu ?
apakah akira juga bisa berubah menjadi yang lebih baik dengan bantuan riyumi asuma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENJELANG DETIK-DETIK TERINDAH

Waktu bergulir dengan begitu cepat tanpa terasa. Enam bulan telah berlalu sejak malam penuh kehangatan di kedai kopi Yasiro dan Nana. Kini, usia kehamilan Yuki telah resmi menginjak usia delapan bulan—memasuki trimester ketiga yang kian mendebarkan sekaligus dinanti-nantikan oleh keluarga besar Meguro.

Perubahan fisik pada tubuh Yuki terlihat begitu nyata dan anggun. Perutnya yang dahulu datar kini sudah membuncah bulat sempurna. Langkah kakinya tak lagi sesigap saat ia beraksi di atas panggung catwalk, melainkan perlahan, mengayun lembut dengan kedua tangan yang refleks sering menopang pinggang serta perut bawahnya. Pendar keibuan (maternity glow) memancar semakin kuat dari wajah cantiknya, membuat Akira kian hari kian terpesona dan enggan berpaling sedikit pun dari sang istri.

Di rumah baru mereka, sebuah ruangan di samping kamar utama yang dulunya merupakan ruang baca cadangan kini telah disulap sepenuhnya menjadi kamar bayi yang sangat hangat. Dindingnya dicat warna krem lembut dengan hiasan awan pastel. Sebuah boks bayi kayu berwarna cokelat hangat, meja khusus mengganti popok, serta lemari kecil berisi tumpukan baju-baju mungil berwarna pastel sudah tertata dengan sangat rapi.

Malam itu, jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Di dalam kamar bayi yang baru selesai didekorasi, Akira tampak sedang berlutut di atas karpet empuk, memeriksa kembali kekencangan baut-baut pada boks bayi kayu tersebut dengan sebuah obeng kecil.

Meskipun petunjuk perakitan boks bayi itu begitu sederhana bagi seorang Profesor ilmu sains bereputasi tinggi, Akira tetap memeriksanya hingga tiga kali. Ia memegang tiang kayu itu, menggoyangkannya perlahan dengan tenaganya untuk memastikan tidak ada celah yang longgar atau bagian kayu yang terasa kasar.

"Akira... kamu sudah memeriksa baut boks bayi itu sejak jam tujuh malam, lho," tegur Yuki halus.

Yuki melangkah masuk ke dalam kamar bayi secara perlahan. Ia mengenakan daster rajut longgar berwarna gading yang menyorot jelas bentuk perut besarnya. Yuki berjalan mendekati suaminya, lalu duduk perlahan di tepi kursi menyusui yang empuk di sebelah boks bayi.

Akira meletakkan obengnya ke dalam kotak perkakas, menyapu sedikit peluh tipis di keningnya. Ia mendongak, menatap istrinya dengan pendar mata yang sarat akan ketelitian sekaligus rasa kasih yang dalam.

"Aku hanya ingin memastikan konstruksinya benar-benar kokoh, Yuki," jawab Akira serius, menyisir rambut hitamnya ke belakang. "Bayi kita akan menghabiskan banyak waktunya di sini. Keamanannya adalah variabel paling penting yang tidak boleh memiliki toleransi kesalahan sekecil apa pun."

Yuki terkekeh renyah, geleng-geleng kepala melihat alur berpikir suaminya yang sangat ilmiah namun terasa begitu manis. "Profesor kita ini benar-benar tidak berubah ya. Tapi, kasihan tanganku ini... dari tadi sepi tidak ada yang menggenggam."

Mendengar bisikan manja dari istrinya, raut wajah tegas Akira seketika luluh. Senyuman tipis yang sangat hangat terbit di bibirnya. Tanpa membuang waktu, Akira merangkak pelan di atas karpet empuk, lalu berlutut di hadapan Yuki. Ia meraih jemari lembut istrinya, menggenggamnya erat dan mendaratkan kecupan hangat di punggung tangan Yuki.

"Maafkan aku, Sayang," bisik Akira lembut.

Akira kemudian meletakkan telapak tangan kekarnya yang hangat di atas perut membesar Yuki. Ia memejamkan mata sejenak, merasakan suhu hangat yang terpancar dari rahim istrinya.

Tiba-tiba, dari dalam perut Yuki, sebuah gerakan dorongan yang cukup kuat terasa menendang tepat di bawah telapak tangan Akira.

Duk!

Mata Akira seketika terbuka lebar. Sang Profesor membeku di tempat, napasnya tertahan selama beberapa detik. Ini bukanlah kali pertama ia merasakan pergerakan bayinya, namun setiap kali tendangan kecil itu hadir, rasa haru yang membuncah di dadanya selalu terasa seolah-olah itu adalah pengalaman pertama.

"Dia menendangmu lagi, Akira," bisik Yuki penuh kelembutan, mengusap rambut belakang suaminya. "Sepertinya dia tahu Papanya sedang ada di dekatnya."

Akira mendekatkan wajahnya, menempelkan telinganya perlahan di permukaan perut Yuki, mendengarkan dengan penuh rasa takjub. "Halo, Nak... Ini Papa," bisik Akira dengan suara parau yang amat lembut. "Jangan terlalu kencang menendangnya ya, kasihan Mamamu nanti kesakitan. Tumbuhlah dengan sehat di dalam sana... Papa dan Mama sudah sangat tidak sabar untuk memelukmu."

Seolah merespons suara bas yang dalam dari sang Ayah, gerakan lembut kembali terasa mengelus perut Yuki dari dalam, membuat Yuki terenyuh hingga matanya berkaca-kaca.

Keesokan harinya, suasana di rumah Meguro terasa lebih ramai dari biasanya. Mama Akira dan Ibu Yuki datang berkunjung untuk membantu memeriksa kesiapan perlengkapan persalinan. Kedua wanita paruh baya itu membawa beberapa tas berisi pakaian bayi baru lahir yang sudah dicuci bersih dan disetrika rapi, lengkap dengan selimut rajut buatan tangan Mama Akira sendiri.

Di ruang tengah, kedua ibu sedang duduk bersila di dekat meja, sibuk melipat baju-baju mungil sambil mengobrol riang.

"Lihat ini, Yuki! Mama sengaja merajut sepatu bayi kecil ini dengan benang wol paling lembut," ujar Mama Akira bangga sambil memamerkan sepasang sepatu wol mungil berwarna kuning lemon. "Mama dulu juga membuatkan sepatu seperti ini untuk Akira waktu dia baru lahir."

Ibu Yuki tersenyum lebar sambil menata popok kain ke dalam tas rumah sakit. "Aduh, lucunya! Ibu jadi teringat masa-masa Yuki kecil dulu. Waktu hamil Yuki, Ibu sering sekali mengidam makan buah persik segar di tengah malam. Kasihan Ayahnya Yuki dulu sampai harus keliling kota."

Yuki yang duduk bersandar di sofa empuk sambil meminum teh herbalnya terkekeh pelan. "Kalau Yuki malah tidak pernah mengidam aneh-aneh, Bu. Justru Akira yang beberapa bulan lalu sempat heboh mual-mual di pagi hari."

"Ah, itu namanya sindrom kehamilan simpatik (Couvade Syndrome)!" sahut Mama Akira seraya tertawa geli. "Itu buktinya kalau Akira sangat menyayangimu dan kepikiran terus tentang kondisi kehamilanmu, Yuki. Akira itu persis seperti Almarhum Papanya dulu."

Di saat ketiga wanita itu sedang asyik tertawa dan berbagi cerita, pintu depan rumah terbuka. Akira melangkah masuk dengan setelan kemeja kerjanya yang rapi, membawa dua kantong plastik besar berisi perlengkapan medis tambahan, susu khusus ibu hamil, serta berbagai jenis buah-buahan segar.

"Selamat sore, Mama, Ibu," sapa Akira sopan. Ia melepaskan sepatu kerjanya, lalu melangkah menghampiri mereka.

"Wah, Akira sudah pulang! Kenapa membawa belanjaan sebanyak ini, Nak?" tanya Ibu Yuki takjub melihat banyaknya barang yang dibawa menantunya.

"Saya sekalian mampir ke apotek dan minimarket tadi, Bu," jawab Akira tenang. Ia melangkah mendekati sofa Yuki, membungkuk sebentar untuk mengecup dahi istrinya dengan penuh kehangatan sebelum menyerahkan sekotak buah stroberi segar yang sudah dicuci bersih. "Aku belikan stroberi kesukaanmu."

"Terima kasih, Suamiku," sahut Yuki dengan binar mata bahagia, menerima kotak buah itu dengan suka cita.

Mama Akira menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum bangga menatap putra tunggalnya. "Mama tenang sekali melihat kamu begitu sigap menjaga Yuki, Akira. Tas persalinan untuk bawa ke rumah sakit sudah disiapkan di dekat pintu, kan?"

"Sudah, Ma. Tas bersalin utama, dokumen rekam medis Yuki dari trimester pertama, hingga setelan baju bayi pertama sudah saya kemas di dalam bagasi mobil sejak minggu lalu," jawab Akira lugas dan sangat terencana, khas seorang ilmuwan. "Jadi, kapan pun ketuban Yuki pecah atau ada tanda-tanda kontraksi, kami bisa langsung berangkat ke rumah sakit dalam hitungan menit."

Ibu Yuki dan Mama Akira saling bertatap mata, lalu tertawa lega. Penataan dan kesiapan Akira yang begitu sempurna membuat seluruh anggota keluarga merasa tenang dan aman.

Malam harinya, setelah kedua ibu mereka berpamitan pulang, suasana rumah kembali hening dan damai. Angin malam yang sejuk berhembus pelan membelai tirai kamar tidur mereka.

Yuki sudah berbaring miring di atas ranjang dengan bantal khusus kehamilan yang menopang perut dan punggungnya. Akira berbaring tepat di sampingnya, memiringkan tubuh menghadap Yuki. Satu tangan Akira dijadikan bantal untuk kepala Yuki, sementara tangan satunya lagi memeluk pinggang istrinya dengan penuh kehati-hatian.

"Akira..." panggil Yuki pelan dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi lampu tidur remang-remang.

"Iya, Sayang?" sahut Akira dengan suara berat yang menenangkan.

"Apakah kamu merasa takut?" tanya Yuki jujur, menatap manik mata hitam suaminya dari jarak dekat. "Maksudku... sebentar lagi kita akan resmi menjadi orang tua. Tanggung jawab kita akan menjadi jauh lebih besar."

Akira menatap mata bening istrinya dengan ketenangan yang luar biasa. Ia mengusap pipi Yuki dengan jemarinya yang hangat, lalu menggeleng pelan.

"Rasa cemas itu pasti ada, Yuki. Itu hal yang sangat manusiawi," tutur Akira tulus, menyatukan kening mereka berdua. "Tapi rasa takut itu kalah jauh oleh rasa syukur dan cintaku padamu. Selama bertahun-tahun aku bergelut dengan rumus dan teori sains, aku selalu percaya bahwa segala sesuatu bisa diperhitungkan. Namun, kehadiran bayi ini... dan cintaku padamu... adalah hal paling indah yang tak pernah bisa diukur oleh rumus apa pun."

Yuki tersenyum haru, menyandarkan dagunya di dada bidang Akira, mendengarkan detak jantung suaminya yang berirama teratur dan menenangkan.

"Kita akan menjadi orang tua yang baik bersama-sama, kan?" bisik Yuki pelan.

"Bukan hanya baik," balas Akira seraya mengecup puncak kepala Yuki dengan rasa cinta yang membuncah. "Kita akan memberikan dunia yang terbaik dan penuh kasih sayang untuk anak kita."

Di bawah naungan malam kota Tokyo yang tenang, pasangan suami istri itu saling berpelukan erat, menyalurkan kehangatan dan kekuatan satu sama lain. Mereka tahu, tinggal menghitung hari atau minggu sebelum tangisan pertama sang buah hati memecah kesunyian rumah mereka—membuka lembaran paling suci dan terindah dalam perjalanan hidup Akira dan Yuki.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!