Evelyn mengira pernikahan rahasianya dengan Octavio Morello akan menyelamatkan hidup ibunya. Tiga bulan kemudian, ia baru sadar bahwa janji manis itu hanyalah jerat: suaminya seorang pewaris mafia yang kejam, pengkhianat, dan memakai pengobatan ibunya sebagai rantai untuk mengendalikan tubuh serta masa depannya.
Saat Don Theo Morello kembali ke New York, sandiwara putranya mulai runtuh. Pria paling ditakuti dalam Cosa Nostra itu melihat luka yang disembunyikan Evelyn, membongkar kelemahan Octavio, dan menyeret sang menantu ke bawah perlindungannya sendiri. Namun perlindungan dari seorang Don tidak pernah sederhana. Di antara rahasia, darah, pengkhianatan, dan hasrat terlarang yang seharusnya tidak terjadi, Evelyn harus memilih: tetap menjadi korban dalam nama Morello, atau merebut tempatnya di sisi pria yang bisa menghancurkan dunia demi dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naira Sousa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 01
Namaku Evelyn. Usiaku dua puluh sembilan tahun dan, di atas kertas, aku sudah menikah selama tiga bulan. Kenyataannya, aku hanya menandatangani selembar dokumen yang mengubahku menjadi tahanan dalam penjara mewah.
Awalnya, bersama Octavio, semua terasa seolah akan berbeda. Kami bertemu pada salah satu malam ketika aku hanya ingin melupakan tagihan yang menumpuk, kesibukan bolak-balik ke rumah sakit untuk ibuku, dan beban bahwa menjadi orang dewasa berarti ditemani begitu banyak tanggung jawab berat.
Dia muncul seperti jawaban atas semua masalahku: ramah, sopan, dengan senyum mudah milik orang yang terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya.
Berminggu-minggu kami saling berkirim pesan sampai larut malam. Dia menelepon saat jam makan siangku, mengirim bunga ke tempat kerjaku tanpa nama pengirim. Rasanya seolah aku dicabut dari kenyataan yang menyedihkan lalu dilemparkan ke dalam romansa manis yang hanya ada di internet.
Octavio menjemputku di rumah, mengantarku sampai pintu tempat kerja, menyusun terlalu banyak rencana untuk hubungan yang masih begitu baru. Aku tidak terbiasa menerima perhatian sebanyak itu, karena itulah aku keliru mengira intensitasnya sebagai cinta.
Ketika dia bicara tentang pernikahan, hal itu terasa tidak masuk akal sekaligus masuk akal.
Tidak masuk akal karena kami baru saling mengenal sebentar. Masuk akal karena aku sudah lelah merasa sendirian. Ibuku sakit parah, dan bukti besar pertama dari "cinta" Octavio adalah memakai pengaruh dan uangnya untuk mengeluarkan ibuku dari buruknya layanan rumah sakit umum, lalu memindahkannya ke klinik swasta berteknologi tinggi.
Dia bilang ingin menjaga aku, menjaga ibuku, menjaga hidup kami. Aku percaya. Aku menerima pernikahan itu, sekaligus menerima semua syaratnya: tidak ada pesta, tidak ada gaun pengantin mencolok, tidak ada keluarga. Pernikahan yang nyaris dirahasiakan.
Dia selalu punya alasan siap pakai:
"Sayang, ayahku sangat tradisional. Dia tidak suka sorotan."
"Ini hanya sementara. Begitu keadaan tenang, kita akan mengadakan sesuatu yang lebih besar."
"Pada akhirnya, yang penting adalah perasaan kita, bukan kue dan para tamu."
Kalimat-kalimat itu tertanam di kepalaku, karena lebih mudah memercayainya daripada mengakui bahwa mungkin aku sedang menyerahkan diri kepada pria bermuka dua.
Tiga bulan kemudian, topengnya jatuh sepenuhnya. Selain tahu bahwa suamiku sebenarnya seorang mafioso berbahaya, aku juga mengetahui bahwa dia mengkhianatiku.
Hari ketika semuanya runtuh dimulai seperti hari biasa. Aku mengunjungi ibuku di klinik swasta yang dibayar Octavio. Kamarnya sempurna, tertata rapi, sangat berbeda dari kekacauan rumah sakit umum tempat ibuku hampir meninggal.
Sepanjang pagi aku menemaninya, merapikan bantalnya, membantu perawat, dan mendengarkan dokter menjelaskan bahwa kondisinya stabil berkat obat-obatan generasi terbaru.
Sebelum pergi, aku membungkuk di atas ranjang dan berjanji akan kembali pada jam besuk malam. Ibu menggenggam tanganku erat, seperti yang selalu ia lakukan saat takut.
"Semuanya akan baik-baik saja, mukjizatku," bisikku penuh semangat.
Ibu mengangguk, dengan senyum tenang di bibirnya, yakin bahwa ia sedang menerima perawatan terbaik yang mungkin didapat.
Aku keluar dari sana dengan niat mampir ke rumah, mandi cepat, lalu kembali. Namun rencanaku tidak terjadi.
Aku ingat suara kunci berputar di lubangnya, gagang pintu yang dingin di tanganku yang berkeringat. Aku masuk mengharapkan ketenangan apartemen kami, tetapi yang kudengar adalah suara lain. Erangan keras, tak tahu malu, bergema di lorong.
Selama sedetik, otakku mencoba menipu diri sendiri. Aku berpikir mungkin televisi menyala, mungkin film, apa saja. Namun beberapa langkah saja sudah cukup untuk membuat kenyataan menghantamku.
Itu suaranya. Paloma. Temanku. Atau perempuan yang dengan bodohnya kukira temanku.
Aku mengenali tawanya, cara dia memanjangkan nama Octavio, seolah setiap suku kata adalah kenikmatan.
Kubuka pintu kamar dengan tangan gemetar.
Mereka berada di atas ranjang. Ranjang kami. Kasur yang kubantu pilih, seprai yang kucuci sendiri.
Pemandangan itu terpatri di benakku: kulit terbuka, dua siluet saling menempel, dan jejak parfum favoritku pada tubuh Paloma. Dia bahkan berani memakai parfumku.
Paloma sama sekali tidak menutupi diri. Dia menoleh ke arahku, menatapku dengan tatapan penuh niat buruk, lalu tersenyum seolah aku hanya tamu yang mengganggu.
"Sayang, istrimu datang," katanya sambil tertawa.
Kata "istri" terdengar seperti ejekan paling telanjang.
Octavio hanya mengangkat kepala, kesal. Dia tidak tampak malu, tidak pula terkejut. Dia hanya terlihat terganggu karena disela.
"Evelyn, kamu pulang cepat," katanya dengan kewajaran yang membuatku mual.
"Kalian berdua menjijikkan dan tidak tahu malu," geramku.
Aku memandang mereka bergantian, mencoba menemukan di wajah Octavio bayangan pria yang pernah berjanji akan menjagaku. Aku tidak menemukan apa pun. Hanya dingin dan tak acuh. Darahku serasa mendidih di pembuluh.
"Aku mau bercerai." Kalimat itu meluncur begitu saja. Bukan sesuatu yang kurencanakan, melainkan naluri bertahan hidup.
Paloma tertawa keras, jelas puas membayangkan Octavio bebas untuknya. Namun Octavio tidak menganggapnya lucu. Dia mendorong Paloma ke samping dengan kasar hingga perempuan itu jatuh ke kasur. Lalu dia berdiri pelan, mengambil celana di lantai, dan berpakaian tanpa tergesa. Dia mendekatiku dengan ketenangan yang membuat tulang punggungku membeku.
"Kamu tidak akan bercerai dariku, Evelyn," katanya rendah, hampir seperti bisikan ancaman. "Kamu tahu kenapa?"
"Karena kamu mencintaiku?" tanyaku, sarkasme menetes dari lidahku.
Dia tersenyum miring. Pada detik itu, aku mulai membenci senyum tersebut.
"Karena ibumu berada di tanganku sejak hari pertama, dasar bodoh."
Kakiku terasa lemas.
"Apa maksudmu?"
"Kamu benar-benar mengira aku memindahkan perempuan tua itu ke klinik terbaik di kota ini murni karena amal?" Dia tertawa sengau. "Aku pemilik kompleks medis itu, Evelyn. Setiap mesin yang membuatnya tetap bernapas, setiap pil mahal yang dia telan, setiap perawat yang membersihkan wajahnya, semuanya milikku. Semuanya atas namaku. Di bawah kendaliku. Dia sudah berada di tanganku sejak awal."
Udara seolah lenyap seluruhnya dari paru-paruku. "Penyelamatan" yang dia lakukan di awal hubungan kami bukan tindakan cinta. Itu bayaran di muka untuk kalung tak kasatmata yang mengikat leherku.
"Kamu... kamu sudah merencanakan ini sejak awal?" tanyaku, merasakan jantung berdetak begitu keras sampai terasa sakit.
"Aku hanya memastikan propertiku tetap aman," jawabnya sambil mengusap wajahku dengan jemarinya. Aku mundur dengan jijik, menepis tangannya. Dia tidak peduli.
"Kalau kamu bersikeras dengan sandiwara perceraian ini, aku tinggal memberi satu perintah. Alat-alatnya kumatikan, obatnya kuhentikan, dan dia kukembalikan ke selokan tempat asalnya, tempat yang dulu kamu tidak punya uang untuk mengeluarkannya. Menurutmu, berapa jam dia bertahan tanpa dukungan klinikku?"
Paloma, kini duduk di ranjang dan sudah berpakaian, menyaksikan semuanya dengan senyum kemenangan. Dia mencoba ikut campur, memegang lengan Octavio.
"Octavio, biarkan dia pergi. Dia mau bercerai, berikan saja. Bukankah itu yang kamu janjikan padaku?"
"Diam, Paloma. Aku tahu apa yang kulakukan," potongnya kasar, tanpa melepaskan pandangan dariku. "Jadi, Evelyn? Pilihannya apa?"
Bayangan ibuku yang rapuh dan tersenyum di ranjang klinik berkelebat di depan mataku. Aku terpojok dalam penjara yang jerujinya telah dibangun berbulan-bulan lalu dengan dalih dongeng indah.
"Aku membencimu, Octavio," bisikku, sementara air mata akhirnya meluap.
Aku tidak mengambil koper lalu pergi sambil menangis di bawah hujan. Aku pergi ke kamar mandi, mencuci wajah, menelan tangis, lalu menuju ruang tamu. Aku duduk di sofa, memandangi satu titik di dinding, sementara dari kamar terdengar pintu menutup lagi. Mereka kembali bercinta. Aku harus menutup telinga untuk meredam erangan yang datang dari lorong.
Aku menangis tanpa suara. Bukan karena dia, melainkan karena ibuku, dan karena kebodohanku sendiri.
Keesokan harinya, dia memutuskan bahwa neraka masih bisa dibuat lebih buruk.
Aku terbangun dan menemukan Octavio duduk di tepi sofa. Untuk Sabtu pagi, dia tampak sempurna: setelan jas sesuai ukuran tubuh, dasi rapi, dan parfum mahal.
"Kita ada janji konsultasi hari ini," katanya sambil membolak-balik beberapa berkas.
Aku mengusap mata, perutku bergejolak hanya karena mendengar nada suaranya.
"Konsultasi apa?"
"Di klinik fertilitas," jawabnya dingin. "Ayahku akan segera kembali ke negara ini. Aku sudah mengambil alih bisnis keluarga, sudah menikahimu demi menjaga penampilan yang dia tuntut. Sekarang tinggal pewaris. Kita mulai perawatannya. Inseminasi, pemeriksaan, induksi ovulasi. Cepat saja."
Gelombang panik menghantamku. Sungguh, untuk itukah dia menikahiku? Semua demi mendapatkan kekaisaran yang dijanjikan ayahnya? Jadi semuanya memang untuk itu?
"Octavio, aku tidak mau melakukan ini..."
Dia mengangkat tangan, langsung memotongku, dengan tatapan beku milik orang yang memegang kendali penuh.
"Kamu ingin ibumu tetap mendapat oksigen dan dokter pribadi, bukan, Evelyn?"
Semua itu tidak masuk akal, dan bagian yang paling tidak masuk akal? Aku masih perawan.
Belum pernah ada pria di dalam diriku. Aku bahkan belum pernah benar-benar mencium suamiku sendiri. Dia tidak pernah menyentuhku secara intim. Paling jauh, dia menggenggam tanganku di depan umum ketika perlu memerankan pria yang sedang dimabuk cinta di hadapan masyarakat.
Sekarang, dia menganggap wajar mengirimku ke klinik agar para dokter memasukkan alat ke tubuhku hanya untuk menghasilkan pewaris yang begitu dia butuhkan.
Masih pagi itu juga, dari mulutnya sendiri aku mengetahui alasan dia tidak pernah menyentuhku. Dia memuja Paloma. Perempuan itu satu-satunya wanitanya, agamanya. Aku hanya latar sempurna untuk panggung sandiwara yang harus dia tampilkan kepada patriark mafia.
Beberapa jam kemudian, aku duduk di atas ranjang periksa yang dingin di sebuah ruang konsultasi, mengenakan gaun tipis yang tidak sanggup menutupi rasa hinaku. Dengan suara gemetar, aku menjelaskan kepada dokter perempuan itu bahwa aku belum pernah berhubungan seksual dan datang untuk prosedur reproduksi berbantu. Tatapan iba sekaligus heran yang dia berikan kepadaku nyaris tak tertahankan.