Di kampus, Reyhan Arkananta Wijaya adalah dosen muda yang dikenal killer karena sikap tegas dan tanpa pandang bulu yang dimilikinya. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat nilai mahasiswa melayang. Di mata Nadhira, mahasiswi semester enam yang ceroboh dan ahli panik, Pak Reyhan adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup akademisnya.
Namun, hidup Nadhira mendadak jungkir balik ketika perjodohan rahasia antar keluarga memaksanya menikah dengan sang dosen killer.
Kini, Nadhira harus menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, berpura-pura tidak saling kenal dan saling membenci di area kampus, lalu pulang ke rumah yang sama sebagai sepasang suami istri. Di tengah kejaran tenggat tugas, ancaman nilai E, gosip kampus yang memanas, dan rasa cemburu diam-diam sang dosen galak, mampukah rahasia besar mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Candaan Bagas
Sinar matahari sore menerobos celah-celah kisi jendela kaca laboratorium komputer Gedung B Fakultas Seni dan Desain. Suasana ruangan bertingkat dua itu relatif lenggang setelah sebagian besar mahasiswa kelas Desain Grafis menyelesaikan jam praktikum mereka.
Di lantai atas, tepatnya di koridor kaca yang mengoperasikan area kontrol laboratorium, berdiri Reyhan Arkananta Wijaya.
Pria itu menyandarkan satu tangannya di ambang jendela berbingkai aluminium hitam, sementara tangan lainnya terbenam di saku celana bahan kelabunya.
Dari posisi ketinggian ini, pandangan matanya tertuju lurus ke arah sebuah meja panjang di sudut bawah laboratorium. Di sana, Nadhira sedang sibuk menatap layar monitor besar, jemarinya lincah menggerakkan stylus pen di atas drawing tablet.
Wajah gadis itu tampak tertekuk serius, sesekali menggigit bibir bawahnya saat garis sketsa digitalnya tidak sesuai harapan. Rambutnya disanggul asal dengan jepit jedai, memperlihatkan leher jenjangnya yang terekspos jelas.
Reyhan tidak menggerakkan tubuhnya se-milimeter pun. Matanya terus mengunci sosok di bawah sana dengan tatapan datar yang datar, kaku, dan sulit diartikan.
Puk.
Sebuah tepukan cukup keras mendarat di bahu kanan Reyhan, menyentak heningnya sudut koridor tersebut.
"Wohoho Santai, Bro. Mata lo bisa lepas itu kalau melotot terus kayak gitu," suara kekehan jahil terdengar memecah konsentrasi Reyhan.
Reyhan tidak melompat kaget. Ia hanya mendengus tipis, menarik pandangannya perlahan dari jendela, lalu menoleh ke samping.
Di sana berdiri Bagas dengan dua cangkir kopi karton di tangan.
"Bicara apa kamu, Gas?" sahut Reyhan dingin. Suaranya datar, tanpa ekspresi, seolah-olah tidak ada yang terjadi.
Bagas menyeringai lebar, menyerahkan satu cangkir kopi ke arah Reyhan yang diterima pria itu tanpa mengucapkan terima kasih.
Bagas lalu menyandarkan punggungnya di dinding kaca, ikut melongokkan kepala ke bawah, tepat ke arah meja tempat Nadhira berada.
"Gue udah berdiri di belakang lo dari dua menit yang lalu, Rey," ujar Bagas sambil menyeruput kopinya.
"Dan selama dua menit itu juga, mata lo nggak bergeser se-mili pun dari mahasiswi yang namanya Nadhira itu. Gue kira lo lagi mengamati simulasi visual rendering, ternyata lagi mandangin mahasiswi bimbingan lo sendiri."
"Saya hanya memastikan mereka membereskan perangkat laboratorium dengan benar sebelum jam empat," balas Reyhan tenang, kembali menyesap kopinya dengan gaya yang amat formal. "Sebagai penanggung jawab laboratorium minggu ini, itu sudah menjadi bagian dari kewajiban saya."
Bagas menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkat pertahanan diri Reyhan yang kelewat kokoh itu.
"Alah, kaset lama diputar lagi. Alasan akademis terus yang lo pakai," goda Bagas enteng, menepuk dada bidang Reyhan dengan ujung cangkir kopinya.
"Sama orang lain lo boleh ngomong kaku gitu, Rey. Tapi ini gue, Bagas. Gue tahu betul tipe-tipe pandangan lo. Lo ngeliatin Nadhira bukan kayak dosen ngeliatin mahasiswa yang lagi ngerjain tugas, tapi kayak..."
Bagas sengaja menggantung kalimatnya, menyunggingkan senyuman penuh arti.
"Kayak apa?" potong Reyhan kaku, alisnya menukik tajam.
"Kayak laki-laki yang lagi pusing memikirkan cara naklukin ceweknya," kekeh Bagas riang.
"Jujur aja deh sama gue. Lo sebenarnya ada rasa kan sama Nadhira? Pengamatan gue beberapa minggu ini nggak pernah salah. Lo makin sering keliling lorong lorong fakultas tiap kali ada kelasnya Nadhira. Kemarin pas dia ngobrol sama si Dimas aja, muka lo langsung merengut kayak lipatan kemeja belum disetrika."
Dada Reyhan berdesir pelan mendengar ucapan Bagas, namun raut wajahnya tetap terkontrol dengan sangat sempurna. Tidak ada rona merah, tidak ada kegugupan. Hanya ada tatapan dingin yang tajam dan sikap gengsi setinggi langit.
Baginya, pernikahan ini adalah sebuah kebetulan yang tidak pernah ia rencanakan. Perjodohan mendadak yang disepakati oleh kedua keluarga besar mereka demi menuntaskan janji masa lalu.
Nadhira adalah gadis yang terlalu bising, ceroboh, dan sangat berbanding terbalik dengan keteraturan hidupnya. Mana mungkin ia jatuh hati pada gadis kekanak-kanakan seperti itu.
"Pikiran kamu terlalu liar, Bagas," tanggap Reyhan datar, suaranya sangat minim emosi.
"Saya tidak punya ketertarikan pribadi pada Nadhira. Dia hanya mahasiswi biasa yang kebetulan memiliki potensi di mata kuliah saya. Tidak lebih dan tidak kurang."
"Masa, sih?" goda Bagas tak percaya, memiringkan kepalanya.
"Kalau cuma mahasiswi biasa, kenapa draf tugas Tipografinya dia kemarin lo periksa sampai dua jam penuh di ruangan lo? Padahal draf mahasiswa lain cuma lo coret seperkian detik."
"Itu karena pengerjaannya sangat berantakan dan tidak memenuhi standar estetika. Saya perlu memberikan catatan yang detail agar dia tidak mempermalukan nama fakultas di ujian akhir," kelit Reyhan beralasan, argumentasinya terdengar sangat meyakinkan dan dingin.
Bagas melipat kedua tangannya di dada, menatap Reyhan dari atas ke bawah dengan senyum menyebalkan.
"Rey, Rey... Lo tuh gengsinya makin tua makin nggak tertolong ya," ledek Bagas tajam.
"Lo boleh ngeles pakai jargon-jargon akademik lo itu sampai bibir lo dower. Tapi bahasa tubuh lo nggak bisa bohong. Cara lo ngeliatin dia tadi dari jendela itu penuh perasaan Bro. Lo kayak orang yang kepikiran terus tapi gengsi buat ngakuin."
"Saya tidak kepikiran," tegas Reyhan, suaranya naik setengah oktav namun tetap kaku. "Terserah kamu mau berasumsi apa. Saya punya pekerjaan lain yang jauh lebih penting daripada mendengarkan bualan kamu."
Reyhan berbalik, bermaksud melangkah pergi meninggalkan koridor kaca tersebut untuk kembali ke ruangannya. Namun Bagas dengan cepat bergeser memblokir jalan sahabatnya.
"Eits, tunggu dulu. Gue belum selesai ngomong," cegah Bagas sambil tertawa.
Ia mendekatkan wajahnya sedikit, memecah jarak. "Gini deh, Rey. Kalau emang lo beneran nggak tertarik sama Nadhira dan cuma menganggap dia mahasiswi biasa... gimana kalau gue aja yang coba deketin dia?"
Langkah kaki Reyhan seketika berhenti total.
Aura di sekitar koridor sempit itu mendadak turun beberapa derajat. Reyhan berdiri mematung, menatap Bagas lurus-lurus dari balik kacamatanya. Tatapannya begitu tajam, seolah-olah siap menerkam kapan saja.
"Apa maksud kamu?" tanya Reyhan, intonasi suaranya sangat berat.
Bagas yang melihat respon kilat tersebut makin kegirangan di dalam hati. "Tuh kan, kena pancing juga ini es batu," batin Bagas bersorak.
"Ya kan dia jomblo, Rey. Cantik, manis, polos, agak konyol sih tapi gemesin," cengir Bagas santai, sengaja makin memanasi situasi.
"Gue kan juga masih single. Siapa tahu dia mau gue ajak jalan-jalan atau makan malam. Kan lo sendiri yang bilang tadi, dia bukan siapa-siapa lo dan lo nggak ada rasa sama sekali. Berarti aman dong kalau gue masuk?"
Reyhan mengepalkan tangan kirinya yang tersimpan di dalam saku celana. Rahangnya merapat kencang, menahan dorongan emosi dan rasa tidak terima yang mendadak meledak di dadanya.
Perasaan kepemilikan sebagai seorang suami seketika berontak hebat, meski gengsinya yang setinggi gunung tetap melarangnya untuk berteriak bahwa Nadhira adalah miliknya.
"Nadhira fokus pada studinya," kata Reyhan dingin, berusaha keras menjaga kestabilan suaranya. "Dia tidak punya waktu untuk hal-hal tidak penting seperti itu. Dan sebagai dosen, sangat tidak etis kamu mendekati mahasiswi aktif di fakultas ini."
"Lah, etika dari mana?" potong Bagas tertawa lepas. "Banyak kok dosen muda yang akhirnya nikah sama mahasiswanya sendiri. Lagian kalau sama-sama suka, kenapa nggak?"
"Tidak bisa," cetus Reyhan singkat.
"Kenapa nggak bisa, Pak Reyhan yang terhormat?" goda Bagas lagi, memancing ke titik terdalam.
Reyhan membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan sangat kaku. Matanya menatap Bagas tanpa kedip.
"Karena saya tidak mengizinkannya," jawab Reyhan dingin.
Bagas menaikkan alisnya, pura-pura bingung. "Lho? Atas dasar apa lo nggak mengizinkan? Lo kan cuma dosen pengajarnya, bukan bapaknya, bukan pacarnya, apalagi suaminya."
Pernyataan skakmat dari Bagas itu sukses membuat Reyhan bungkam. Kalimat 'apalagi suaminya' terasa seperti tamparan keras yang tepat sasaran.
Reyhan mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia tidak bisa membocorkan status pernikahan rahasia mereka, tetapi ia juga terlalu gengsi untuk menunjukkan bahwa ia terbakar cemburu.
"Saya memiliki tanggung jawab moral atas ketertiban mahasiswa di lingkungan kampus," alibi Reyhan dengan kalimat paling kaku yang bisa dipikirkan oleh otak akademisnya. "Saya tidak ingin ada kegaduhan yang mengganggu proses belajar mengajar. Itu saja."
"Ooh... tanggung jawab moral..." Bagas manggut-manggut dengan wajah yang dibuat-buat seolah percaya, padahal ekspresi wajahnya sangat mengejek. "Iya deh, si paling penanggung jawab moral fakultas."
Reyhan menatap Bagas dengan tatapan tajam, lalu mendorong pelan bahu sahabatnya itu untuk memberi jalan. "Permisi, Bagas. Saya harus kembali ke ruangan."
"Jangan lupa dikompres mukanya, Rey. Merah tuh sampai ke telinga!" teriak Bagas tertawa terbahak-bahak menggelegar di koridor saat melihat punggung Reyhan yang melangkah cepat meninggalkannya.
Reyhan tidak menoleh sama sekali. Pria itu terus berjalan tegap menyusuri koridor Gedung B, langkah kakinya terdengar teratur namun tergesa-gesa.
Begitu sampai di belokan koridor yang sepi, Reyhan menghentikan langkahnya. Pria itu menyandarkan punggungnya di dinding cat putih, memejamkan mata sejenak, lalu menghembuskan napas panjang yang sangat berat.
Ia mengangkat tangan tangannya, mengusap wajahnya yang terasa hangat. Kata-kata Bagas tadi masih bergema di telinganya.
Reyhan mendengus tipis, membetulkan posisi kerah kemejanya yang sebenarnya sudah sangat rapi.
Mana mungkin ia cemburu pada gadis konyol seperti Nadhira. Perjodohan ini adalah bentuk kepatuhan dan kewajibannya sebagai anak kepada orang tua.
Ia menerima Nadhira dalam hidupnya semata-mata karena komitmen dan tanggung jawab sebagai pria dewasa. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan perasaan sentimental semacam cinta atau ketertarikan romantis.
"Tidak masuk akal," gumam Reyhan pelan pada dirinya sendiri dengan nada kaku yang menjadi ciri khasnya.
Namun, saat pria itu melangkah menuju ruang dosen, matanya secara tidak sengaja melirik ke arah lapangan tengah kampus dari jendela koridor luar.
Di bawah sana, tampak Nadhira baru saja keluar dari Gedung Laboratorium. Gadis itu berjalan sambil bersenda gurau bersama Kania, melompat-lompat kecil seperti anak sekolah dasar yang baru bebas dari tugas.
Reyhan berdiri membeku di dekat jendela koridor. Matanya kembali mengunci sosok Nadhira yang makin menjauh menuju area parkiran.
Biarpun otak rasionalnya menolak keras dan gengsinya menuntut untuk tetap bersikap acuh tak acuh, Reyhan tidak bisa membohongi fakta bahwa matanya selalu menemukan keberadaan gadis itu secara otomatis di mana pun ia berada.
...Bersambung... ...