"Musuh kalian bukanlah orang asing, tapi orang terdekat kalian sendiri"
Suara itu terdengar begitu jelas di telinga tiga pemuda yang berada di sebuah kampung penuh misteri.
Akankah mereka bisa menemukan siapa musuh terdekat mereka itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah serangan
Tak hanya Hamka dan Liam yang bersiap, ada Gatra juga yang memanggil pasukan harimau miliknya karena dia adalah siluman harimau yang memiliki banyak pasukan gaib juga di wilayah kampung itu.
Malam itu selain langit yang gelap dan hanya diterangi bulan purnama, suara berisik dari jin harimau dan dari para sosok monyet memenuhi tebing tempat Sudarso tinggal.
Liam dan Hamka juga sudah bersiap melawan monyet monyet itu dengan energi yang mereka keluarkan. Liam dengan energi putih miliknya dan Hamka dengan energi hitam miliknya. Sudarso juga sempat terkejut karena ternyata energi Hamka itu berwarna hitam, sama dengan milik Ki Suro yang di lumpuhkan Haris ayah dari Hamka dan di ketahui Sudarso sebagai Arwah hidup yang memiliki kesaktian yang mampu menandingi semua sosok pemimpin di tanah mahoni itu.
"Maju secara serempak, buat mereka kewalahan dan habisi mereka! jangan beri mereka ruang untuk bisa menyerang balik kalian!" perintah Sudarso bersila di depan teras rumahnya dan mengeluarkan energi berwarna hitam kemerahan di sertai dengan tali hitam yang terhubung ke tubuh setiap jin monyet yang dia kendalikan.
"Gggrrrrrr"
"Hamka, berdiri saling membelakangi, pasang tameng" ucap Liam
"Lo konsentrasi aja untuk membunuh mereka sebanyak mungkin" jawab Hamka
"Bismillahirrahmanirrahim" ucap keduanya saat sosok sosok itu semakin mendekati dan maju bersamaan, membuat dua Pemuda itu tertutupi awan hitam dan tidak bisa di lihat Arsana, Ireng, Kalia ataupun Gatra.
Bugh. Bugh. Bugh.
Hanya suara pukulan yang dapat di dengar oleh mereka yang ada di luar, tapi tidak tahu siapa yang terkena pukulan, apakah pihak lawan atau Liam dan Hamka. Hanya Kalia yang bisa menembus pertarungan dari dalam awan hitam Itu.
"Pasukan! Bersiap!" perintah Gatra
Para harimau mengelilingi tebing itu supaya mereka bisa langsung menebas monyet itu yang terlempar karena kalah dengan cakar mereka yang tajam, tubuh monyet monyet itu akan di cabik sampai hancur oleh para pasukan siluman dari Gatra.
Liam dan Hamka segera membunuh para monyet itu dengan pusaran api yang keluar dari dalam angin beliung milik Hamka, bahkan Hamka sengaja membiarkan api itu terus berkobar di tebing yang untungnya berada cukup jauh dari pemukiman penduduk itu.
Sleb. Dhuar.
Hamka melemparkan energi hitamnya yang langsung membuat beberapa benang hitam di tubuh para monyet itu putus bahkan karena itu juga Sudarso jadi terluka.
"Akaahhhh apa itu! Panas!" teriak para sosok monyet itu lari terbirit-birit dari sana karena sekarang mereka sudah terbebas dari Sudarso
"Uhuk.."
"Lihatlah Sudarso! Tiga pangeran kami adalah pelindung pohon keramat sesungguhnya!" sombong Arsana karena ketiga pemuda itu berhasil menang. Dan berhasil membuat Sudarso muntah darah.
"Aku masih belum kalah anak sialan!" umpat Sudarso
"Dan kami tidak menyerang orang yang sedang terluka!" jawab Hamka
Mereka yang masih memeriksa sekitar tempat itu dan juga memastikan awan hitam tidak menganggu rumah juga pohon ajaib tiba tiba saja di datangi pasukan yang cukup banyak, mereka bersimpuh di depan ketiga penjaga pohon keramat dan menunduk pada Lintang yang menyusul mereka karena khawatir.
"Siapa kalian?" tanya Lintang
"Hormat kami pangeran" ucap para pasukan tak bertuan bersimpuh di depan Liam, Lintang dan Hamka.
"Siapa mereka Om?" tanya Liam karena para pasukan itu juga muncul setelah pertarungan itu selesai.
"Mereka pasukan tak bertuan pangeran, tuan mereka adalah pelindung pohon keramat sebelumnya yang sudah meninggal" jawab Arsana
"Mulai sekarang, kami adalah pasukan pangeran Lintang Langit Danendra" ucapnya dan semuanya pasukannya.
"Si Lintang jadi raja nanti, raja polos, jangan sampai saat ada yang nawarin anak gadisnya ke dia, dia langsung main pegang aja" ungkap Hamka.
"Nggak tahu deh gue, tuh anak nggak belajar dari pengalaman saat sama Laily dulu" jawab Liam yang terlihat mengantuk.
"Nanti Lo bisa tidur nyenyak, awan itu sudah hilang, meski mungkin hanya sementara, gue lihat aki aki itu masih sangat kuat" ungkap Hamka
"Lo benar, kalau di kota, orang setua itu akan masuk panti jompo, ini malah cari ilmu abadi" jawab Liam
Sampai di rumah, Hamka langsung mandi dan mengobati lukanya di bantu Lintang, Liam mandi di kamar Hamka dan meminjam baju Hamka karena takut Kenanga khawatir, dia juga di obati Lintang yang saat itu menunggu mereka pulang barulah dia masuk ke kamarnya.
Ceklek.
"Hiks... Iii.. An" lirih Kenanga saat Liam masuk dan mendapati Kenanga sedang menangis
"Kenapa menangis?" tanya Liam mendekat dan duduk di samping Kenanga.
Puk. Puk.
"Kamu terbangun dan mencari ku?" tanya Liam saat Kenanga menepuk nepuk bantal yang biasa di pakai Liam tidur di sofa.
"Aa"
"Maaf tadi aku keluar sebentar" jawab Liam menghapus air mata Kenanga.
"Ayo tidur lagi" bujuk Liam mengambil bantalnya tapi di tahan Kenanga yang langsung memeluknya sampai Liam terjengkang ke kasur dengan Kenanga di atas tubuhnya, memeluk lehernya erat.
"Aku tidak akan kemana mana lagi" bujuk Liam mencoba melepaskan Kenanga tapi Kenanga terus menggelengkan kepalanya tanda kalau dia tidak percaya.
"Aku tidak bisa tidur seperti ini Kenanga"
"Aaa"
"Kamu bisa aku engap, ayo tidur yang benar ,kamu boleh memelukku sekarang, aku akan tidur di sini" bujuk Liam dan Kenanga mendongak dengan mata memicing.
"Iya, aku tidak bohong, ayo tidur, kamu peluk aku sepuasnya deh" ungkap Liam terkekeh, perih di tubuhnya langsung hilang padahal saat di obati Lintang terasa begitu perih.
"Iii.... An"
"Iya, aku Liam, tidurlah" jawab Liam membalas pelukan Kenanga.
"Besok kita akan belajar menulis nama kamu ya, Kenanga" ucap Liam dan Kenanga mengangguk.
"Aku melihat sesuatu yang indah dari atas sana, besok akan aku berikan padamu" ucap Liam
"Aaa?"
"Rahasia"
#######
Pagi hari itu hutan Mahoni terlihat cerah, tidak ada lagi awan hitam yang menaungi rumah dan hutan milik Sagara, bahkan para pasukan milik Lintang sudah bisa masuk kembali ke hutan itu setelah punya pemilik baru di sana berdampingan dengan pasukan Arsana juga Kalia, kecuali pasukan Ireng yang memang tersebar di beberapa tempat.
"Apa lagi Kenanga, kamu sudah mandi, sudah pakai baju Lyra, rambut kamu juga sudah di sisir rapi" keluh Liam yang sejak subuh terus sibuk mengurus bayi besarnya yang terus rewel menempel padanya.
"Aaaa"
"Ayo ke depan, nanti kamu bicara deh apa yang kamu inginkan" ajak Liam menuntun Kenanga ke depan teras rumahnya.
"Aku mau di ikat rambutnya, seperti yang di kotak kecil punya kak Lintang" ucap Kenanga
"Yang mana aku tidak tahu" ucap Liam
"Di kepang, tapi banyak, cantik dan Kenanga mau" jawab Kenanga
"Aku tidak bisa, coba kamu minta tolong Laily sana" balas Liam
"Tidak mau, mau sama Liam, kan Liam suami Kenanga"
"Aku suami kamu tapi bukan pengasuh kamu Kenanga" gemas Liam
"Ngalah aja bang, ini ada tutorialnya kok, kemarin Hamka bawa handphone gue dan download video itu, katanya bisa buat Kenanga anteng" bujuk Lintang
"Mana ada anteng, yang ada dia malah tambah rewel" jawab Liam mendelik ke arah Hamka yang sedang santai makan sarapannya.
"Nanti aku ikatkan, sini makan dulu, ada ikan pulu pulu" bujuk Hamka
"Mau, mau ikan pulu pulu" jawab Kenanga berlari ke dalam dan duduk di samping Hamka.