⚠️ PERINGATAN
Jika Anda hanya ingin membaca kisah salah satu karakter utama, silakan loncat tujuh bab sejak kemunculan pertama kali dari tujuh tokoh utama.
Contoh Fang Ye 1 > 8 > 15 >... >... >.. dst
Dalam berbagai legenda, Tujuh Kembaran dipercaya sebagai tujuh sosok yang berasal dari satu sumber, tetapi lahir dengan jalan hidup yang berbeda.
Ada yang mengatakan mereka adalah pecahan jiwa. Ada yang menyebut mereka sebagai tujuh kemungkinan dari satu keberadaan. Sebagian bahkan percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar ada.
Namun semua legenda memiliki satu kesamaan:
Tujuh Kembaran bukanlah tujuh orang yang sama. Mereka adalah tujuh kehidupan yang memilih menjadi berbeda.
Di tempat yang tidak memiliki nama, seseorang telah hidup terlalu lama. Ia telah melihat kerajaan bangkit dan runtuh, para penguasa menjadi debu, cinta berubah menjadi kebencian, dan kehidupan yang begitu panjang hingga tidak lagi memiliki arti.
Ketika seseorang telah memiliki segala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Gu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
Di sebuah tempat yang tidak memiliki nama—karena setiap makhluk yang cukup kuat untuk mencapainya sudah terlalu lelah untuk repot-repot memberi nama pada apa pun—seorang laki-laki duduk di atas kehampaan, seolah-olah kehampaan itu hanyalah bangku kayu di depan sebuah kedai teh.
Ia menyebut dirinya Fang Tianyi, meskipun nama itu sendiri sudah lebih tua daripada beberapa peradaban yang pernah menyembahnya sebagai dewa, mengutuknya sebagai iblis, atau melupakannya sama sekali.
Menurut Fang Tianyi, yang terakhir justru merupakan pencapaian paling jujur dari ketiganya.
Di tangannya terdapat sebuah biji catur.
Bukan biji catur biasa.
Dahulu, benda itu adalah sebuah bintang. Sampai suatu sore—atau apa pun yang bisa disebut sore di tempat tanpa matahari ini—Fang Tianyi merasa bosan dan memampatkannya hingga sebesar kelereng, hanya untuk membuktikan apakah ia bisa melakukannya.
Ternyata bisa.
Setelah itu, ia tidak melakukan apa-apa lagi dengannya.
Ia hanya menggenggamnya, memutar benda itu perlahan di antara jari-jarinya, sambil menunggu sesuatu yang tidak pernah datang.
Ia telah menyaksikan tujuh kerajaan lahir dari darah dan runtuh menjadi debu yang bahkan tidak sempat meninggalkan nama untuk dikenang.
Ia pernah melihat seorang budak menjadi kaisar, lalu menyaksikan kaisar itu—setelah seribu tahun—dilupakan lebih cepat daripada budak-budak yang pernah diperbudaknya.
Ia juga telah melihat cinta berubah menjadi pembantaian, dan pembantaian berubah menjadi legenda yang dinyanyikan anak-anak sebelum tidur.
Tidak ada lagi yang mampu mengejutkannya.
Dan itulah masalahnya.
Seekor phoenix—salah satu dari hanya tiga yang masih tersisa di seluruh eksistensi—terbang melintas beberapa ribu li di bawah tempatnya berada.
Di cakarnya, ia membawa sebutir telur emas yang konon mampu mengabulkan satu permintaan bagi siapa pun yang memakannya.
Fang Tianyi melambaikan tangan.
Phoenix itu, yang telah hidup selama sembilan ribu tahun dan menyaksikan kejatuhan tiga dinasti langit, nyaris jatuh dari udara karena terkejut melihat seseorang melambaikan tangan kepadanya seperti tetangga yang berpapasan di pagi hari.
Fang Tianyi tidak mengejar telur itu.
Ia sudah tahu seperti apa rasanya harapan yang dikabulkan.
Rasanya seperti minum air setelah perut kenyang—tidak buruk, tetapi juga tidak berarti apa-apa.
Ia berbaring.
Dari tempatnya, seluruh dunia kultivasi—tujuh benua, sembilan ribu sekte, dan entah berapa banyak kaisar yang mengira dirinya abadi—terlihat seperti sebuah papan kecil yang bisa ia balik dengan satu jari jika ia mau.
Masalahnya bukan karena ia bisa membalik papan itu.
Masalahnya adalah tidak ada satu pun bagian dari papan itu yang mampu membalik dirinya kembali.
Ia sudah mencoba semuanya.
Kekuatan.
Pengetahuan.
Bahkan, pada satu periode yang tidak ingin ia ingat, kematian.
Ia telah mengunjungi setiap ujung dari segala sesuatu yang masih mungkin dikunjungi. Dan di setiap ujung itu, yang selalu ia temukan hanyalah dirinya sendiri—menunggu dengan wajah yang sama bosannya.
Kebebasan, pikirnya, adalah hadiah yang hanya terasa nikmat selama masih ada dinding yang bisa didobrak.
Ia sudah menghancurkan semua dinding miliknya sendiri.
Tatapannya kembali jatuh pada biji catur di tangannya.
Bekas bintang.
Dahulu, bintang itu memiliki tujuh planet yang mengorbitnya.
Tujuh dunia kecil.
Masing-masing memiliki cuacanya sendiri, lautnya sendiri, dan mungkin—entah mengapa pikiran itu tiba-tiba muncul—makhluk hidupnya sendiri.
Makhluk-makhluk yang tidak pernah tahu bahwa mereka semua berasal dari nyala yang sama.
Fang Tianyi perlahan duduk tegak.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang bahkan ia sendiri sudah malas menghitungnya, sesuatu bergerak di dalam dadanya.
Sesuatu yang sudah sangat lama tidak ia rasakan.
Dan ia benci mengakuinya.
Rasa ingin tahu.
Ia berdiri.
Kehampaan di sekelilingnya bergetar.
Bukan karena takut.
Kehampaan itu hanya mengenali bahwa sesuatu sedang terjadi—seperti udara yang tahu guntur akan datang bahkan sebelum suara petir terdengar.
Fang Tianyi mengangkat kedua tangannya.
Untuk sesaat, seluruh riwayat hidupnya mengalir keluar dari dalam dirinya.
Setiap pertarungan.
Setiap kekalahan yang tidak pernah diketahui siapa pun pernah ia alami.
Setiap malam ketika ia berbaring dan menatap langit yang sudah tidak menyisakan rahasia apa pun baginya.
Semuanya keluar dari dadanya.
Bukan sebagai cahaya.
Bukan sebagai suara.
Melainkan sebagai sesuatu yang jauh lebih jujur daripada keduanya.
Niat.
Ia membelah dirinya.
Bukan tubuhnya.
Tubuh hanyalah pakaian.
Yang ia belah adalah segala sesuatu yang membuatnya menjadi Fang Tianyi—kehendaknya, ketakutan yang ia kubur begitu dalam, kebijaksanaannya, kekejaman yang jarang ia tunjukkan, kelembutan yang bahkan lebih jarang ia perlihatkan, kekacauannya, kesendiriannya, dan satu bagian kecil yang bahkan dirinya sendiri tidak berani beri nama.
Semuanya terpisah menjadi tujuh nyala yang berbeda.
Nyala pertama tenang, seperti bilah pedang yang tidak pernah mengenal keraguan.
Nyala kedua berdenyut merah, riang sekaligus berbahaya, seperti tawa di tengah ruang bedah.
Nyala ketiga berkelap-kelip dengan sabar, seperti seseorang yang telah menyusun sepuluh langkah ke depan bahkan sebelum lawannya sempat menyusun satu.
Nyala keempat memancarkan kehangatan dan kelembutan, seperti tangan yang tahu persis di mana harus menyentuh untuk menyembuhkan—dan di mana harus menyentuh untuk memastikan bahwa sesuatu memang sudah tidak dapat diselamatkan.
Nyala kelima membakar segala sesuatu di sekitarnya hanya karena ia bisa.
Tanpa alasan.
Tanpa perlu alasan.
Nyala keenam nyaris tidak terlihat.
Ia lebih menyerupai sebuah pertanyaan daripada cahaya.
Dan nyala ketujuh—
Fang Tianyi mengernyit.
Nyala itu tidak menyala sebagaimana mestinya.
Ia berkedip.
Redup.
Terang.
Lalu redup lagi.
Seolah-olah belum memutuskan apakah ia ingin menjadi sesuatu sama sekali.
Untuk sepersekian detik—bahkan hampir tidak ia sadari sendiri—Fang Tianyi merasakan sesuatu yang sudah sangat lama tidak pernah ia rasakan.
Ragu.
Namun Fang Tianyi sudah lama berhenti percaya bahwa keraguan adalah sesuatu yang buruk.
Terkadang, keraguan hanya berarti sesuatu belum selesai ditulis.
Ia membiarkannya.
Tujuh nyala itu jatuh.
Tidak.
Fang Tianyi lebih suka menyebutnya sebagai berangkat.
Mereka menembus lapisan demi lapisan langit, menuju tujuh benua yang telah menunggu tanpa pernah tahu bahwa mereka sedang menunggu.
Di sana, mereka akan lahir kembali.
Sebagai bayi yang menangis.
Sebagai murid yang dibuang.
Sebagai yatim piatu di antara reruntuhan sekte.
Atau sebagai apa pun yang dibutuhkan dunia agar mereka benar-benar, sepenuhnya, hidup.
Fang Tianyi kembali duduk di atas kehampaan.
Biji catur bekas bintang masih berada di tangannya.
Sebuah senyum muncul di wajahnya.
Senyum yang sudah begitu lama tidak ia gunakan hingga wajahnya sendiri hampir lupa bagaimana bentuknya.
“Baiklah,” gumamnya kepada entah siapa—atau mungkin kepada bagian dirinya yang kini hanya tersisa seperujuh dari wujud semula.
“Tunjukkan padaku sesuatu yang belum pernah kulihat.”
Di suatu tempat jauh di bawah sana, di tujuh benua yang berbeda, tujuh bayi menangis untuk pertama kalinya.
Pada tujuh waktu yang tidak bersamaan.
Tidak satu pun dari mereka tahu bahwa tangisan pertama mereka merupakan jawaban atas sebuah pertanyaan yang diajukan oleh seseorang yang bahkan tidak yakin apa sebenarnya yang sedang ia tanyakan.
Dan di dimensi yang lebih tinggi daripada langit mana pun, Fang Tianyi kembali berbaring.
Ia memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya setelah waktu yang tak terhitung lamanya, ia benar-benar penasaran dengan apa yang akan terjadi besok.
Ia tidak tahu apakah semua yang baru saja dilakukannya akan menjadi keputusan terbaik dalam hidupnya.
Ia juga tidak tahu apakah keputusan itu justru akan menjadi sesuatu yang kelak ia sesali.
Tidak ada seorang pun yang tahu.
Bahkan Fang Tianyi sendiri.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama—
ketidakpastian itu tidak membuatnya bosan.