Dunia tersusun atas struktur kosmologi yang agung: tujuh lapis langit yang suci, dunia bawah yang kelam, dan bumi yang terhampar di tengah-tengahnya.
Sejak awal penciptaan, Tuhan telah melahirkan dua entitas yang saling bertolak belakang demi mengisi semesta ras Elf Cahaya yang menguasai dunia langit, dan ras Iblis Kegelapan yang mendiami dunia bawah. Sementara di antaranya, hiduplah umat manusia yang mendiami bumi.
Namun, kedamaian itu runtuh akibat keserakahan manusia. Melalui ambisi tanpa batas, manusia menggali tanah teramat dalam demi mengeruk sumber daya, sekaligus menembak langit menggunakan uji coba senjata pemusnah massal terlarang yang bernama Nuklir.
Tanpa diduga, hantaman destruktif tersebut bergetar hebat hingga menjebol dinding dimensi semesta. Batas dunia runtuh; ras Iblis merangkak naik ke permukaan, sementara ras Elf turun ke bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIKI RIFEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukum IKN dan pria cantik berambut panjang
Secara kebetulan dan tidak terduga, Leo, Cheeta, dan Rheno berniat mencopet demi bertahan hidup sementara. Namun, mereka malah mendapati si Bos sebagai korbannya. Eksekusi dari Rheno yang sebenarnya tidak menyadari bahwa targetnya adalah sang bos berjalan sangat memuaskan. Teknik yang sukses dikarang oleh Leo itu mereka namai "Ramah Tamah Trauma Selamanya".
Mereka pun pergi menuju pojok taman yang kebetulan sangat strategis untuk bersembunyi. Di bawah naungan pohon dan semak yang cukup tinggi, mereka berjongkok, siap membongkar dompet premium milik si Bos.
"Hanya itu?" gumam Leo. Dari dalam dompet, ternyata hanya ada satu koin emas dan empat koin perak.
"Hmm... mungkin ini uang terakhirnya. Haruskah kita kembalikan?" ucap Rheno penuh simpati.
"Sebaiknya kita jaga jarak dari mereka," jawab Cheeta normal, karena memang begitu seharusnya.
Leo menepuk pundak Rheno. "Tenanglah, Rheno! Aku yakin dia pura-pura miskin hanya untuk menjebakmu. Bahkan kita selalu memanggilnya bos dan tidak tahu nama aslinya. Dia pasti menyembunyikan identitasnya."
Rheno mengangguk setuju.
Dalam batin Cheeta, ia merasa heran. Kecurigaan soal jebakan dari orang yang baru saja mereka jebak? Benar-benar sebuah lelucon. Cheeta yakin, jika Rheno mengembalikannya, si Bos justru akan berterima kasih dan menghadiahi mereka satu koin emas.
“Nama asliku adalah Bos! Ada masalah?” Ucap si Bos yang tiba-tiba nimbrung dalam percakapan mereka.
“AAaaaa….!” Teriak mereka kompak sambil langsung melarikan diri.
“Woy, mereka di sini, cepat!” seru Bos kepada anak buahnya.
Kegaduhan di pasar dan taman itu cukup mengganggu ketertiban umum. Sejak awal, si Bos memang sudah memancing perhatian keamanan Ibukota Kerajaan Nova Castra, sehingga pihak keamanan pun mulai bergerak.
“Bagaimana bisa...!” ucap Leo terpotong sambil terus berlari.
Cheeta paham betul apa yang dipikirkan Leo. Bagaimana si Bos bisa tahu mereka bersembunyi di sana? Padahal tempat itu sangat sempurna untuk bersembunyi.
“Bagaimana ceritanya ibu dan ayahnya menamai anaknya sendiri 'Bos'? Apakah ayah dan ibunya membenci dia?” lanjut Leo, menyuarakan apa yang sebenarnya ia pikirkan.
Dahi Cheeta mengkerut. Dalam benaknya, ia merasa malu karena sempat sok tahu tentang apa yang dipikirkan Leo. Mungkin Leo adalah satu-satunya orang yang tidak akan pernah bisa dimengerti oleh Cheeta.
Mereka masuk ke dalam gang dan mencoba melawan balik. Rheno bersembunyi di belakang tempat sampah besar, membiarkan Leo dan Cheeta pergi duluan.
“Woy, ke sini!” ucap Bos memandu anak buahnya.
Ketika Bos dan rombongannya mendekat, Rheno mengangkat tempat sampah lalu melemparkannya ke arah mereka.
Dengan refleks kilat, anak buah si Bos menembakkan bola api ke arah tempat sampah hingga hancur terbelah dua dan membuka jalan kembali.
Setelah usahanya gagal, Rheno lanjut berlari. Di ujung sana, Leo dan Cheeta sudah bersiap memberikan serangan kejutan.
Brug! Bam!
Tendangan dan pukulan mereka mengenai barisan depan. Rombongan itu mendadak berhenti dan tertabrak oleh barisan belakang hingga semua terjatuh. Leo dan Cheeta pun lanjut berlari.
“Ahhh… seandainya kekuatan seperti waktu di hutan masih ada,” ucap Cheeta, tidak puas dengan efek tendangannya.
Sampailah mereka di sudut gang. Langkah Leo, Cheeta, dan Rheno terhenti; mereka terjebak di gang buntu.
Saat suara kerumunan langkah kaki terdengar semakin dekat, anak buah si Bos berdatangan dan menyudutkan mereka. Dengan angkuh dan geram, si Bos muncul berjalan dari tengah kerumunan.
“Halo Leo, Rheno... ,” sapa Bos, lalu entah mengapa nadanya melembut, “Cheeta.”
“Apa muncul dari kerumunan anak buahmu itu sudah menjadi kebiasaanmu sejak lahir?” ceplos Leo tanpa memikirkan situasinya.
“Hah! Ada masalah soal caraku muncul?!” teriak si Bos marah, sampai-sampai tikus di sekitar sana berlarian ketakutan.
“Hehe.. t-tidak Bos, estetik sinematik! Begitu kan, Rheno?” ucap Leo mencoba mengendalikan situasi. Seperti biasa Rheno menjadi tim mengangguk.
“Sebaiknya persiapkan dirimu, Leo,” ancam si Bos.
“Biar ku pertegas, dengan lima juta koin emas, Bos bisa bawa pulang Cheeta,” lagi-lagi Leo berucap asal-asalan, yang seketika membuahkan tamparan keras dari tas kecil Cheeta.
Melihat kelakuan mereka, kemarahan Bos sudah tidak terbendung lagi.
“Bukan begitu maksudku, bodoh!” bentak Bos. “Aku ke sini untuk memberi pelajaran pada tikus-tikus yang telah menghancurkan hidupku!” Sambil membuang pandangannya, Bos bergumam, “...tapi, lima juta koin emas, ya?”
Seperti nya bos tergoda dengan ucapan Leo soal lima juta koin emas untuk membawa pulang Cheeta
Seketika, tamparan tas untuk kedua kalinya mendarat di wajah Leo.
“Lihat sekarang! Dia menganggapnya serius!” ucap Cheeta kesal sambil menunjuk ke arah Bos.
Sementara itu di luar sana, para pasukan pengamanan kota dengan atribut lengkap mulai merapat ke lokasi keributan dan mengepung dengan langkah kaki senyap.
Kembali ke gang, si Bos sudah tidak sabar membalaskan dendamnya. Ia mengacungkan tongkat sihirnya bersamaan dengan seluruh anak buahnya.
“Tunggu tunggu tunggu!, aku punya senjata! Aku akan ledakkan tempat ini sekarang juga!” gertak Leo sambil menunjukkan batu magisnya.
“Leo, kami semua adalah pemakan buah magis,” ucap Bos memperjelas. “Kalian sudah kehilangan kekuatan kalian, iya kan?” lanjut Bos.
Leo, Cheeta, dan Rheno kaget karena si Bos mengetahui keadaan mereka.
“Huahahaha, habisi mereka!” perintah Bos.
Suasana di gang buntu itu menegang hingga ke titik tertinggi. Kilatan energi dari tongkat sihir si Bos berderit di udara, bersiap menyapu trio gubuk yang terkepung.
Namun, sebelum pasukan berjas sempat melangkah maju, atmosfer tiba-tiba koyak.
BOOM!
Entah muncul dari mana, seorang pemuda cantik berambut panjang melesat turun dari langit gang. Dengan gerakan yang luar biasa kokoh, ia menghantamkan sebuah palu raksasa ke atas permukaan tanah.
KRETEK... BRAK!
Efek hantaman itu seketika memicu getaran hebat pada tanah. Dinding-dinding tanah masif menjulang tinggi dalam sekejap, menciptakan barikade kokoh yang sedetik kemudian langsung runtuh secara brutal, menimbun si Bos dan seluruh pasukan berjas hitam di bawahnya.
Tanpa membuang waktu sedikit pun, pemuda cantik itu berbalik. Ayunan palu raksasanya kembali mendarat dan menghancurkan tembok batu di belakang Leo, Cheeta, dan Rheno, menyisakan lubang jalan keluar yang lebar.
"Ikut aku," ucap pemuda berambut panjang itu dengan nada dingin dan tegas, menuntun mereka untuk kabur dari wilayah tersebut.
Cheeta teringat bahwa pria cantik itu adalah orang yang sama yang pernah menolongnya di kedai.
Namun melihat ada celah, Rheno dan Cheeta secara refleks langsung menggerakkan kaki mereka untuk melangkah pergi. Belum sempat mereka mengambil dua langkah, sebuah uluran tangan kekar tiba-tiba menghadang di depan dada mereka.
Leo berdiri tegak dengan merentangkan tangannya, menghentikan langkah kedua temannya. Rheno dan Cheeta terpaksa mengerem mendadak, menatap Leo dengan kerutan bingung di dahi.
Sadar langkah kaki orang-orang yang ditolongnya terhenti, si pemuda cantik ikut menghentikan larinya. Ia berbalik, menatap Leo dengan sepasang mata tajam yang seolah-olah melempar pertanyaan tanpa suara: Ada apa? Tidak mau ikut?
Leo memasang wajah super serius yang jarang sekali ia tunjukkan.
"Mama bilang, tidak boleh sembarangan ikut dengan orang asing," ucap Leo lantang.
Detik itu juga, napas Cheeta tertahan. Di dalam benaknya, sebuah rasa kagum yang tak terduga mendadak muncul untuk Leo.
Hebat juga si bodoh ini... Di tengah situasi berbahaya begini, dia masih bisa berpikir logis dan waspada terhadap orang asing yang mencurigakan.
Walaupun dia pernah membantu, tapi tetap saja dia orang asing, puji Cheeta dalam hati.
Sementara Rheno tanpa basa-basi, dengan ekspresi yang kelewat lempeng dan sama sekali tidak merasa bersalah, Rheno menyahut datar,
"Kapan kamu punya ibu, Leo?"
Leo seketika menoleh patah-patah ke arah Rheno. Matanya menyipit tajam menatap wajah polos sahabat raksasanya itu.
"Terkadang, mulutmu itu berbisa sekali ya, Rheno," balas Leo dengan nada ketus.
Sementara itu, Cheeta hanya bisa memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Di dalam benaknya, ia mengomentari kepolosan Rheno barusan: Murid sudah pasti mirip dengan gurunya. Tidak ada yang waras di gubuk itu.
Di tengah drama perdebatan internal mereka yang kelewat absurd bagi orang luar, suara dingin dari sang penyelamat kembali memecah keheningan gang.
"Altur."
Seketika, suasana di sekitar mereka berubah menjadi hening total.
"Namaku Altur," ucap pemuda berambut panjang itu lagi demi memperjelas keadaan.
Wajah Leo yang tadinya tegang langsung berubah cerah dalam hitungan milidetik. Ia menjentikkan jarinya dengan heboh sambil menoleh ke arah Rheno.
"Oh... Altur! Iya, iya, namanya Altur! Dengarkan itu Rheno, namanya Altur!" ucap Leo penuh semangat, seolah-olah baru saja memecahkan misteri besar dunia.
Rheno yang berdiri di sampingnya seketika mengangguk-angguk paham. Tanpa rasa curiga lagi, Leo dan Rheno langsung melangkah ceria, berjalan beriringan mengikuti Altur dari belakang.
Di posisi paling belakang, Cheeta kembali dibuat kecewa berat entah untuk yang keberapa belas kalinya dalam hidup semenjak berteman dengan mereka.
Rasa kagum sebelumnya runtuh seketika. Kepalanya mendadak kosong. Sambil melangkah pasrah, ia meratapi penyesalannya yang sempat merasa kagum pada Leo tadi.
Dalam benaknya yang frustasi, ia berteriak kencang: Sejak kapan orang asing langsung berubah jadi aman dan tidak dianggap asing lagi hanya karena kita baru tahu namanya selama beberapa detik?!
BRUG... GRUDUK!
Suara gemuruh dari arah belakang mendadak memutus kekesalan batin Cheeta. Reruntuhan tembok tanah yang tadi menimbun si Bos dan pasukannya mulai bergerak-gerak kasar, pertanda para mafia berjas itu akan segera keluar dari timbunan.
Mendengar tanda-tanda bahaya itu, trio ugal-ugalan bersama pemuda bernama Altur itu langsung mempercepat langkah dan bergegas pergi. Mereka menyelinap, menghilang di balik labirin gang kota.
Saat si Bos dan anak buahnya berhasil keluar dari reruntuhan, pasukan keamanan kota sudah sampai dan mengepungnya. Mereka pun langsung ditangkap oleh pihak berwajib Ibukota Kerajaan Nova Castra.
Bersambung