Luna berjalan menyusuri jalanan yang sepi di malam yang semakin pekat dan dari jauh dia melihat sosok anak kecil berlari kencang dengan napas tersengal-sengal dan di belakang gadis kecil itu terlihat seorang pria bertubuh tinggi berkulit hitam dengan wajah layaknya seorang penjahat, pria itu berlari mengejar gadis kecil itu sambil mengarahkan pistolnya ke udara memberi peringatan keras pada gadis kecil yang semakin ketakutan itu.
Merasa ada yang tidak beres dengan sigap Luna meraih tubuh mungil gadis kecil itu dan membawanya bersembunyi di dalam sebuah gang sempit sambil menutup mulut gadis kecil itu agar tidak bersuara.
Luna menatap gadis kecil yang ketakutan itu sambil meletakkan jari telunjuknya ke mulutnya memberi isyarat, gadis kecil itu menganggukkan kepalanya menurut.
Luna berhasil menyelamatkan gadis kecil itu dari kejaran para penjahat.
yuk ikuti kelanjutannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.2 Buronan yang kabur
Hari ini Luna sengaja mengambil lembur lagi demi untuk mendapatkan uang tambahan yang akan dia tabung.
"Lun, yakin kamu mau lembur lagi?" tanya Susan saat hendak berkemas pulang kerja.
"Iya, aku harus bekerja keras dari sekarang agar bisa segera terkumpul uang sewa rumah nanti," Luna tersenyum menatap sahabatnya itu.
"Ya aku tahu itu, tapi kamu harus jaga kesehatan juga jangan terlalu memforsir tubuhmu untuk bekerja terus-menerus," Susan memegang pundak Luna memberi nasehat.
Luna tersenyum dia tahu Susan sahabat yang paling perhatian pada dirinya "Terimakasih Susan, aku gak akan telat makan," ucap Luna.
Susan menyunggingkan senyumnya pada Luna sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan Luna sendiri.
"Luna, tolong ini di kerjakan dulu," ucap pemilik toko itu pada Luna sambil menyerahkan tumpukan nota pada Luna.
"Baik pak," ucap Luna sambil menerima tumpukan nota-nota itu, kemudian dia pun mulai menginput nota-nota pembayaran itu ke dalam komputer yang ada di hadapannya saat ini.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam ini dan Luna juga sudah menyelesaikan pekerjaannya.
Luna membereskan semua nota-nota yang sudah selesai dia kerjakan dan berkemas untuk pulang dan sebelum itu dia menghadap pada bos nya dulu untuk mengambil uang lemburnya selama tiga hari kemaren.
Luna mengetuk pintu ruangan bos nya dan masuk ke dalam "Duduk Lun," ucap bos Luna yang seperti nya sudah menunggu kedatangannya.
"Aku lihat kamu cukup rajin juga mengerjakan semua nota-nota pembayaran yang menumpuk itu," ucap bos Luna memuji.
Luna tersenyum mendengar perkataan dari bosnya itu lalu bos Luna berbicara lagi padanya "Kebetulan orang yang bagian mengerjakan nota-nota itu sudah berhenti mulai kemaren dan kamu sebagai gantinya, mulai besok kamu tidak usah menjadi kurir makanan lagi tapi kamu diam di toko mengerjakan nota-nota itu," ucap bos Luna menjelaskan padanya.
"Baik pak," jawab Luna tersenyum bahagia karena dia membayangkan kalau dia jadi admin pastinya gaji yang akan dia terima lebih besar.
Kemudian Luna bergegas pulang menuju ke rumah orang tua angkatnya, Luna berjalan menyusuri jalan kota yang sepi karena gerimis mulai turun, sambil berjalan Luna menunggu taxi yang biasa lewat di jalan itu.
Luna terus menyusuri jalanan yang mulai basah oleh gerimis dan sayup-sayup dia mendengar suara anak kecil meminta tolong, Luna semakin mempercepat jalannya dan suara anak kecil itu semakin jelas terdengar di telinganya.
Dari ujung jalan itu terlihat seorang gadis kecil berlari ketakutan sambil berteriak minta tolong, Luna memperhatikan gadis kecil itu yang terus berlari dan dari kejauhan di belakang gadis kecil itu terlihat seorang pria bertubuh tinggi besar bermuka layaknya seorang penjahat, pria itu memegang pistol dan mengacungkannya ke udara membuat gadis kecil itu semakin ketakutan.
"Mau lari kemana kamu tikus kecil!!" teriak laki-laki itu.
Luna yang merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan segera berlari ke arah gadis kecil itu dan menangkap tubuh gadis kecil itu membawanya masuk ke dalam sebuah gang sempit dan gelap, Luna menatap gadis kecil itu sambil meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya memberi isyarat untuk diam dan di gadis kecil itupun menurut sambil menganggukkan kepalanya.
Luna memeluk tubuh gadis kecil itu dan mengusap air mata yang masih mengalir di pipinya, gadis kecil itu menenggelamkan kepalanya ke dalam pelukan Luna karena ketakutan.
"Mau sembunyi di mana kamu tikus kecil!!" teriak laki-laki yang bertampang menyeramkan itu sambil berdiri tepat di depan tempat persembunyian Luna dan gadis kecil itu.
Jantung Luna berdegup semakin kencang dan si gadis kecil itu semakin menenggelamkan kepalanya di bawah lengan Luna yang sedang memeluk tubuhnya.
Langkah kaki penjahat itu semakin mendekat ke arah tempat persembunyian Luna, badan Luna gemetar dia takut kalau penjahat itu akan menemukan dirinya dan gadis kecil yang menjadi buronan mereka.
"Hah, di sini ternyata kamu tikus kecil," penjahat itu menemukan Luna dan gadis kecil yang di lindunginya itu.
Badan Luna menjadi lemas seketika dia tidak sanggup berbuat apa-apa, tapi tekadnya tetap bulat untuk menyelamatkan gadis kecil itu dan dengan mengumpulkan tenaganya di sela-sela rasa takutnya yang semakin mencekam Luna berusaha menggendong gadis kecil itu yang histeris menangis saat melihat penjahat itu menemukan mereka.
Luna menggendong gadis itu dan berlari dengan sekuat tenaga menjauh dari penjahat itu sambil menenangkan gadis kecil yang sangat ketakutan itu "Tenang sayang, tante tidak akan biarkan penjahat itu menangkap kamu, tante akan bawa kamu pergi ya," ucap Luna sambil terus berlari dengan kencang.
"Hei...!!!berhenti kamu perempuan jalang, jangan buat aku meluncurkan tembakanku ini ke kepala kalian berdua!!" ancam penjahat itu saat melihat Luna berlari menggendong gadis kecil itu.
Tapi Luna terus saja berlari dia tidak memperdulikan ancaman dari penjahat itu meskipun dia harus mati untuk menyelamatkan gadis kecil itu.
Penjahat itu semakin geram dan kehilangan kesabaran saat ancamannya tidak di hiraukan oleh Luna.
Penjahat itu mulai membidik Luna dengan senjata api yang ada di tangannya bersiap untuk meluncurkan tembakan jitunya ke arah kepala Luna yang masih berlari itu.
"Dorr...!!!" Luna menghentikan langkahnya seketika, tubuhnya lemas dan ambruk ke aspal jalanan memeluk gadis kecil itu dengan erat.
Luna tersentak seketika dia meraba kepalanya yang menjadi sasaran peluru penjahat itu tapi Luna tidak merasakan apapun yang terjadi di kepalanya dan seketika Luna menoleh ke belakang, betapa terkejutnya Luna saat melihat tubuh penjahat yang akan menembaknya tadi itu jatuh tersungkur bersimbah darah, dan di belakang tubuh penjahat yang tergeletak itu berdiri seorang pria berperawakan tinggi kekar di tangan kanannya menggenggam sebuah pistol yang sudah di gunakan baru saja untuk menembak kepala penjahat yang mengejar dirinya dan gadis kecil itu.
Bibir Luna bergetar tubuhnya kembali lemas melihat pemandangan yang terpampang di hadapannya itu. Dia tidak tahu bahaya apalagi yang sedang mengancam dirinya dan gadis kecil itu, dia juga tidak tahu apakah laki-laki itu laki-laki baik atau dia juga menginginkan gadis kecil yang sedang di peluknya saat ini.
Tapi tiba-tiba gadis kecil itu mengeluarkan kepalanya dari pelukan Luna dan berlari menghambur ke arah pria yang sudah menembak penjahat itu sambil berteriak memanggil papa "Papa...!!!" teriak gadis kecil itu.
"Emily, kamu tidak apa-apa sayang?" ucap laki-laki itu yang ternyata adalah papa dari gadis kecil itu.
Pria kekar itu kemudian menggendong Emily dan berjalan ke arah Luna yang masih duduk bersimpuh di aspal jalanan.
Laki-laki kekar itu mengulurkan tangannya pada Luna untuk membantunya berdiri, Luna menatap laki-laki kekar itu dan merasa ragu sesaat tapi kemudian Luna menyambut uluran tangan laki-laki itu dan kini dia berdiri tepat berhadapan dengan papa Emily nama gadis kecil yang di tolong Luna.
"Terimakasih, kamu sudah menyelamatkan putriku dari kejaran mereka," ucap laki-laki itu suaranya yang tegas tapi tetap ramah pada Luna.
Luna menganggukkan kepalanya pelan dan tidak berani menatap laki-laki itu, laki-laki itu sadar mungkin Luna takut dengan dirinya lalu dengan segera laki-laki itu berkata pada Luna "Aku Leon, papanya Emily," ucap Leon tanpa senyum menatap lurus ke arah Luna.
"Luna," balas Luna agak takut.
"Jangan takut, aku bukan kawanan penjahat seperti mereka," ucap Leon lebih lanjut.
"Iya, Tante Luna jangan takut sama papa, papa Emily baik gak jahat kayak orang yang mau culik Emily tadi," ucap Emily pada Luna.
Luna tersenyum menatap Emily dan hatinya pun sedikit lebih rileks, Tiba-tiba Emily turun dari gendongan Leon dan berdiri di samping Luna sambil berkata " Papa, aku mau Tante Luna pulang ke rumah bareng kita," ucap Emily sambil menggandeng tangan Luna.