Di Tanah Soul Martial, hukum rimba adalah segalanya — hanya kekuatan yang menentukan hidup dan mati. Para kultivator menembus langit, para raksasa mengguncang bumi, dan setiap jiwa bermimpi meraih matahari serta bintang.
Namun, takdir berputar.Qin Yuchen, Raja Dewa yang pernah menguasai Alam Atas, jatuh ke jurang kehancuran. Dari abu kehancuran itu, ia bangkit kembali dalam tubuh seorang pemuda biasa di perbatasan barat, membawa rahasia terlarang: Seni Dewa Naga Kekacauan
Dengan seni ilahi itu, ia menapaki jalan berdarah — menantang langit, menundukkan bumi, dan menyingkirkan segala jenius yang berani menghalangi. Perjalanan menuju takhta tertinggi pun dimulai, sebuah kisah tentang kebangkitan yang akan mengguncang seluruh jagat raya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Warisan Klan Naga Ilahi
"Aaargh!" Yan Bo menjerit seperti babi yang hendak disembelih.
Namun jeritan itu terhenti mendadak, berubah jadi suara tercekat seperti bebek yang lehernya dicengkeram — karena ujung pedang yang masih berlumur darah kini menempel di tenggorokannya.
Suara dingin Qin Yuchen terdengar. "Mengingat kita sama-sama murid selama dua tahun ini, hari ini aku hanya akan mematahkan satu tanganmu sebagai hukuman ringan. Sekarang, pergi!"
Dengan sentakan pergelangan tangan, *plak!* — badan pedang menghantam keras bahu Yan Bo, membuatnya terhuyung kesakitan.
Ketiganya tak berani berlama-lama lagi. Mereka langsung kabur dalam kepanikan.
Namun sebelum mereka menghilang dari pandangan, suara Qin Yuchen kembali menggema dari belakang. "Sampaikan pada Lu Chen, urusan hari ini belum selesai. Tiga hari lagi, tepat tengah hari, aku akan menantangnya bertarung hidup mati di Arena Bela Diri!"
Pertarungan hidup mati di Arena Bela Diri?
Bukan hanya Yan Bo dan dua temannya yang terkejut — seluruh murid luar yang menyaksikan keributan itu ikut terperangah.
Sekte Pedang Bintang adalah salah satu dari sembilan sekte peringkat bintang di wilayah Perbatasan Barat, terbagi menjadi Sekte Luar dan Sekte Dalam. Murid luar hanya bisa naik menjadi murid dalam jika berhasil memadatkan Jiwa Wu dan menjadi Master Jiwa sejati — kekuatan nyata di dunia ini.
Sekte Pedang Bintang menaungi tiga puluh ribu murid luar. Sebagian berbakat luar biasa, sebagian lagi berasal dari keluarga berpengaruh, tapi selama belum menjadi Master Jiwa, di mata para tetua mereka semua tetap dianggap orang biasa yang tidak layak diperhatikan lebih.
Para tetua sekte sengaja membiarkan persaingan keras tumbuh di kalangan murid luar. Selama tidak ada yang mati, penindasan, perebutan sumber daya pil, atau perampasan tempat kultivasi dianggap hal wajar. Arena Bela Diri sendiri didirikan khusus untuk menyelesaikan perselisihan semacam itu — dan pertarungan hidup mati adalah cara paling brutal, di mana begitu kedua pihak setuju melangkah masuk, hanya satu yang boleh keluar hidup-hidup.
Karena itulah semua orang syok. Qin Yuchen dikenal sebagai "sampah sekte" yang paling hina di kalangan murid luar. Sementara Lu Chen adalah jenius yang disegani — masuk sekte di tahun yang sama, tapi dalam tiga tahun sudah melesat dari Pemurnian Tubuh Alam Kedua ke Alam Ketujuh. Ditambah lagi, kakak seniornya adalah murid dalam sejati, seorang Master Jiwa. Hubungan itulah yang membuat Lu Chen begitu arogan, sampai murid-murid di Alam Kedelapan dan Kesembilan pun segan mengusiknya.
Wei Kun sempat terdiam mendengar tantangan itu, lalu wajahnya berubah senang.
Kalau si sampah ini memang ingin mati, biar saja keinginannya dikabulkan.
"Qin, akan kusampaikan pada Tuan Mudaku." Wei Kun menatap Qin Yuchen dengan pandangan penuh kebencian, lalu menoleh ke arah kerumunan sambil menahan sakit di perutnya. Ia mengepalkan tinju sebagai tanda hormat formal. "Tiga hari lagi, tengah hari — kuundang semua senior dan junior untuk datang ke Arena Bela Diri, menyaksikan pertarungan hidup mati antara Tuan Mudaku dan sampah ini!"
Mendengar itu, seringai sinis muncul di bibir Qin Yuchen.
Wei Kun dan dua temannya memang pelaku langsung kematian pemilik tubuh ini. Tapi dalang sebenarnya di balik semuanya adalah Lu Chen dan Keluarga Lu. Kebangkitanku di kehidupan ini akan dimulai dengan melenyapkan Keluarga Lu sampai ke akar-akarnya.
*Brak!*
Qin Yuchen menutup pintu tanpa peduli lagi pada keributan di luar.
---
Ia duduk di atas Ranjang Batu Awan Merah, memusatkan pikiran ke sebuah ruang aneh dalam kesadarannya — Ruang Indra Jiwa.
Ruang semacam ini seharusnya hanya bisa dimiliki oleh Master Jiwa sejati. Tapi kini, di level Pemurnian Tubuh Alam Keempat sekalipun, Qin Yuchen sudah memilikinya. Kalau para tetua sekte tahu soal ini, mereka pasti akan membedah tubuhnya demi penelitian.
Melayang di tengah ruang itu, sebuah token giok hijau gelap — Token Naga Ilahi, benda yang mampu memerintah seluruh Naga Surgawi. Dan token inilah yang justru menjadi penyebab kematian Qin Yuchen di kehidupan sebelumnya.
"Luar biasa, token ini ikut bersamaku sampai ke kehidupan ini!"
Wajahnya berbinar gembira. Ia segera menyentuh token itu dengan pikirannya.
Seketika dunia di sekitarnya berubah total. Ia kini berdiri di sebuah altar kuno raksasa di tengah kehampaan, diapit oleh dua kerangka naga sepanjang satu juta zhang masing-masing. Aura sunyi nan luar biasa menyelimuti seluruh tempat itu.
Di samping altar berdiri sebuah singgasana naga yang diselimuti cahaya bintang, dan di sisi kirinya melayang sebilah pedang panjang merah kebiruan yang memancarkan panas menyengat hanya dari tatapan mata.
Qin Yuchen buru-buru mengalihkan pandangan dari pedang itu, lalu memperhatikan dua kerangka naga raksasa di kedua sisi altar. Tubuhnya gemetar — ia mengenali mereka sebagai Jenderal Naga Hum dan Ha, yang telah lenyap selama jutaan tahun.
Singgasana bercahaya bintang itu adalah Singgasana Kristal Naga Grandmist Primordial, artefak legendaris Klan Naga Ilahi yang sudah lama hilang. Pedang merah kebiruan itu adalah Pedang Naga Ilahi Primordial, ditempa langsung oleh leluhur klan dari inti Kristal Kekacauan — Artefak Ilahi sejati yang jumlahnya bisa dihitung jari bahkan di Alam Atas.
Meski dulu Qin Yuchen adalah Raja Dewa Alam Atas, saat ini ia merasa seperti orang kelaparan tujuh hari tujuh malam yang tiba-tiba disodori hidangan mewah — nyaris pingsan saking senangnya.
Ia menarik napas dalam, menenangkan diri, lalu memandang sebuah titik cahaya keemasan yang mengambang di atas altar. Matanya memancarkan campuran kegembiraan dan tekad.
"Naga Tua, mari. Aku akan membantumu mewariskan kembali kemampuan tertinggi klanmu secara utuh."
*Wusss!*
Titik cahaya keemasan itu berubah jadi garis cahaya dan menembus dahinya. Sesaat kemudian kepalanya terasa hampir meledak akibat derasnya arus informasi yang membanjiri kesadarannya.
Entah berapa lama waktu berlalu. Ketika ia tersadar kembali, tiga warisan telah tertanam di benaknya:
**Seni Dewa Naga Kekacauan** — teknik kultivasi tertinggi Klan Naga Ilahi.
**Sembilan Revolusi Tubuh Naga Ilahi** — teknik pemurnian tubuh tertinggi klan.
**Sembilan Jurus Naga Ilahi** — sembilan jurus mematikan terhebat klan tersebut.
Dua yang terakhir langsung ia kesampingkan — dengan kekuatan tubuhnya sekarang, mustahil bisa mempelajarinya. Yang terpenting justru teknik kultivasi dasarnya. Sebagai mantan Raja Dewa Alam Atas, Qin Yuchen tentu menguasai banyak teknik kultivasi lain, tapi tak satu pun sebanding dengan Seni Dewa Naga Kekacauan — teknik tertinggi yang sudah lama dianggap punah.
Tak lama kemudian, raungan naga menggema dari dalam perutnya. Di bawah kulitnya, gelombang panas seperti kerumunan tikus kecil bergerak liar. Serangkaian ledakan kecil seperti petasan terus terdengar dari dalam tubuhnya.
Batasan Pemurnian Tubuh Alam Keempat yang selama tiga tahun tak mampu ditembus, kini runtuh begitu saja. Energi dahsyat mengalir deras ke seluruh tubuhnya.
Dua jam berlalu.
Ruang aneh itu berkilau terang, lalu sosok Qin Yuchen lenyap dari sana. Ia mengepalkan tinju, lalu melayangkan satu pukulan — *DUAR!* — menghantam kehampaan hingga udara di sekitarnya meledak.
Baru tahap pertama Seni Dewa Naga Kekacauan yang teraktivasi, tapi tubuh Qin Yuchen sudah mengalami pembersihan dan pencucian sumsum total. Levelnya melonjak dari Pemurnian Tubuh Alam Keempat langsung ke Alam Keenam — kecepatan yang mengerikan.
Yang lebih penting, tubuhnya yang telah bertransformasi kini setara kekuatannya dengan murid Pemurnian Tubuh Alam Delapan, jauh melampaui rata-rata murid Alam Ketujuh di sekte luar.
Namun Token Naga Ilahi di ruang kesadarannya kini warnanya memudar. Tanpa diisi ulang energinya, ruang itu tak bisa dibuka lagi untuk berkultivasi.
Setelah menyelesaikan proses itu, Qin Yuchen membuka pintu kamarnya dan melangkah keluar.