Raelyn Elamora, mahasiswi cerdas yang keras kepala dan doyan balapan liar, mendadak lemas saat sang papa menjodohkannya demi melunasi utang. Calon suaminya adalah Alvarez Arran Danadiaksa CEO muda super dingin dan cekatan yang menguasai bisnis sekota. Raelyn bersumpah tidak akan tunduk pada si "balok es," sementara Alvarez punya seribu cara pintar untuk menjinakkan istri liarnya. Apakah si kepala batu bisa meluluhkan hati si raja es?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
"Gue tahu betul siapa lo di dunia luar. Lo itu Alvarez Arran Danadiaksa, pengusaha kejam yang kalau ada orang macam-macam sedikit aja, nasibnya bisa berakhir tragis. Gue takut... gue takut kalau gue jujur bilang Elang lancang peluk gue kemarin sore, lo bakal bertindak nekat dan ngehancurin masa depan dia dalam sekejap mata!"
Mendengar alasan yang keluar dari mulut istri kecilnya, rahang Alvarez semakin mengeras. Rasa cemburunya justru semakin tersulut ke tingkat yang lebih membakar.
"Jadi... kamu berbohong kepadaku demi melindungi pria itu? Kamu takut masa depan mantan kekasihmu itu hancur karena aku, begitu?!" cecar Alvarez dengan nada suara yang meninggi, menunjukkan luka ego seorang suami yang merasa dinomor duakan.
"Bukan begitu, Al! Lo salah paham!" bantah Raelyn cepat, sifat keras kepalanya kembali bangkit tidak terima dituduh demikian.
Dia memegang lengan tegap Alvarez, memaksa pria itu untuk mendengarkan penjelasannya dengan baik.
"Dengar ya, kakek diktator! Gue sama sekali gak ada niatan buat ngelindungin Elang karena gue masih cinta sama dia! Bagi gue, Elang itu udah mati dan hilang dari kehidupan gue sejak lima tahun lalu waktu dia milih mutusin gue sepihak! Gue benci sama keegoisan dia!" tegas Raelyn, matanya berkilat meyakinkan.
Raelyn menjeda kalimatnya sejenak, menatap mata Alvarez dengan pandangan yang mendadak melunak dan dipenuhi ketulusan.
"Gue bohong... karena gue gak mau ada keributan di antara kita, Al. Gue gak mau pernikahan kita ini makin rumit karena masalah masa lalu gue. Dan yang paling penting... gue gak mau lo ngelakuin tindakan kejam yang bisa bikin nama baik lo buruk cuma gara-gara cowok brengsek kayak dia. Gue gak peduli sama masa depan Elang, Al... yang gue khawatirin itu... situasi lo dan hubungan kita di rumah ini."
Mendengar untaian kalimat kejujuran yang mengalir dari bibir Raelyn, amarah yang sejak sore tadi membakar dada Alvarez mendadak padam seketika, seperti disiram oleh air es yang menenangkan. Seluruh otot tubuhnya yang tegang perlahan-lahan mulai mengendur. Tatapan mata elangnya yang tadinya berkilat tajam penuh kegelapan, kini berubah menjadi sangat lembut dan sarat akan emosi yang menghanyutkan.
Alvarez terdiam cukup lama, mencerna setiap kata yang diucapkan Raelyn. Jiwa posesifnya perlahan diredam oleh rasa lega yang luar biasa yang menjalar di hatinya. Wanita ini... ternyata mengkhawatirkan hubungannya di rumah ini, bukan mengkhawatirkan keselamatan sang mantan.
Alvarez menghela napas panjang yang terdengar jauh lebih ringan. Dia menurunkan kedua tangannya, lalu mendudukkan diri di tepi ranjang tepat di samping Raelyn.
Pria itu mengulurkan tangan kanannya, dengan gerakan yang teramat lembut dan penuh kasih sayang, dia menggenggam jemari tangan kiri Raelyn yang terluka, mengusap hansaplas yang membalut jarinya dengan ibu jari.
"Jangan pernah berbohong lagi kepadaku, Raelyn," ucap Alvarez dengan suara baritonnya yang rendah, terdengar sangat intim di keheningan kamar.
"Sekecil apa pun masalahnya, bicarakan denganku. Aku adalah suamimu. Dan melihatmu menyembunyikan sesuatu tentang pria lain... itu benar-benar membuatku tidak bisa berpikir dengan logis."
Raelyn menundukkan kepalanya, menatap genggaman tangan mereka yang terasa sangat pas dan hangat di atas kasur. Semburat merah jambu kembali muncul menghiasi kedua pipinya yang halus. Rasa bersalahnya kini berganti menjadi debaran manis yang begitu bising di dalam dadanya.
"Iya, iya... janji gak bakal bohong lagi," cicit Raelyn pelan, sifat ngeyelnya melunak total di depan kelembutan suaminya.
Dia kemudian mendongak, melirik Alvarez dengan pandangan jahil yang menggemaskan.
"Tapi jujur deh, Al... tadi di parkiran kampus... lo keren banget sih pas pamer cincin nikah kita ke muka Elang. Mukanya langsung pucat kayak kertas tahu gak! Hahaha!" Tawa renyah Raelyn pecah, memecah seluruh sisa ketegangan malam itu.
Alvarez yang melihat tawa lepas istrinya tidak bisa menahan senyum tulus yang sangat tampan di bibirnya. Dia menarik tubuh Raelyn ke dalam pelukan hangatnya, mengecup pucuk kepala gadis itu dengan penuh perasaan mendalam.
Perang dingin dan kecemburuan brutal sang monster bisnis akhirnya resmi berakhir malam itu di dalam kamar yang dipenuhi rasa cinta yang semakin nyata tumbuh di antara mereka.