Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Penataran BP4 dan Rahasia yang Terkuak
Sinar matahari pagi menembus dedaunan pohon mangga di halaman Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan. Suasana di dalam ruang aula kecil itu terasa tenang dan hangat.
Beberapa pasangan calon pengantin duduk berdampingan, menyimak materi penataran BP4 yang disampaikan oleh petugas KUA mengenai pilar-pilar membangun rumah tangga.
Di barisan ketiga, Kiara duduk anggun mengenakan gamis simpel warna krem dengan jilbab senada. Di sampingnya, Dimas memperhatikan setiap penjelasan materi dengan fokus. Tangan kanan Dimas sesekali mencatat poin-poin penting di buku agenda kecilnya.
"Materi poin tentang komunikasi ini bagus banget ya, Ra," bisik Dimas pelan ke arah Kiara, tersenyum hangat.
"Penting buat kita biar nggak ada ganjelan kalau ada masalah."
Kiara menoleh dan membalas senyuman itu tulus. "Iya, Mas. Bagus banget materinya."
Di dalam hatinya, Kiara merasa sangat beruntung. Dimas tidak pernah ragu menunjukkan komitmennya. Pria itu selalu melibatkan Kiara dalam setiap keputusan dan memperlakukannya dengan rasa hormat yang tinggi. Bersama Dimas, masa depan terasa begitu nyata dan pasti.
Dua jam berlalu, sesi penataran pun selesai. Para peserta mulai berhamburan keluar ruangan untuk menyelesaikan verifikasi berkas administrasi terakhir.
"Ra, kamu tunggu di kursi teras depan aja ya? Mas mau serahin kelengkapan fotokopi berkas ke loket dua sebentar," ujar Dimas sambil merapikan map batik mereka.
"Iya, Mas. Kiara tunggu di luar," jawab Kiara ramah.
Kiara melangkah menuju teras KUA yang menghadap ke area parkir. Angin sepoi-sepoi membawa deru suara kendaraan dari jalan raya utama yang tak jauh dari sana. Kiara mendudukkan diri di salah satu kursi kayu, merapikan tas selempang ditangannya.
"Kiara??? Kiara Sukamaju, kan?"
Sebuah suara pria menyapa dari arah samping.
Kiara mendongak dan melihat seorang pria berkemeja kotak-kotak yang tampak familiar sedang menatapnya dengan raut terkejut sekaligus senang.
Kiara memiringkan kepalanya sejenak, mengingat-ingat. "Eh... Rian? Rian teman SD dulu?"
Pria itu tertawa lepas. "Wah, masih ingat ternyata...! Iya, ini aku, Rian! Ya ampun, Ra, udah lama banget nggak ketemu ya. Terakhir ketemu pas acara reuni TPQ Masjid Besar berapa tahun lalu gitu."
Kiara tersenyum senang. "Iya, lama banget. Kamu lagi ada urusan apa di KUA, Yan?"
"Ini, nemenin sepupuku ngurus berkas nikahan dia" jawab Rian ramah. Matanya melirik map yang dipegang Kiara.
"Kamu sendiri? Wah... jangan-jangan mau nikah juga nih?"
Kiara merona tipis lalu mengangguk pelan. "Iya, Yan. Insya Allah bulan depan."
"Alhamdulillah! Selamat ya, Ra!" Rian menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Sama siapa??? Sama Arga?"
Pertanyaan Rian yang polos namun spontan itu membuat senyum di bibir Kiara mendadak tertahan. Ada jeda sepersekian detik sebelum Kiara menggelengkan kepala pelan.
"Bukan, Yan. Sama calonku, namanya Mas Dimas," jawab Kiara tetap berusaha tenang dan sopan.
Rian melotot tipis, tampak benar-benar kaget. "Lho...??? Bukan sama Arga? Ya Allah... padahal dulu pas kita SD sama pas mengaji di Masjid Besar, aku pikir kalian berdua bakal berakhir di pelaminan lho..."
Kiara tertawa kecil, tawa yang sedikit dipaksakan untuk mencairkan suasana.
"Nggak, Yan. Aku sama Arga kan cuma teman mengaji dari kecil. Arga juga nggak pernah ada rasa apa-apa sama aku."
Rian mendadak menahan tawanya. Raut wajahnya berubah serius, memandang Kiara dengan kening berkerut dalam.
"Tunggu... kamu bilang Arga nggak ada rasa sama kamu???" tanya Rian keheranan
Kiara mengangguk perlahan, bingung melihat perubahan ekspresi teman lamanya itu.
"Iya. Dari dulu Arga kan bersikap biasa aja, selalu jaga jarak."
Rian menarik napas panjang, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan hembusan napas tak percaya.
"Ya Allah, Kiara... kamu beneran nggak tahu atau Arga yang kebangetan pinternya mendam rasa?"
Jantung Kiara berdesir aneh.
"Maksud kamu apa, Yan?" tanya Kiara, perasaannya mulai tak enak...
Rian menggeser duduknya sedikit lebih dekat ke arah Kiara, suaranya dipelankan.
"Ra, aku ini sahabat Arga dari zaman kita masih belepotan mukena dan peci di TPQ. Aku yang paling tahu seluk-beluk cowok itu."
Tenggorokan Kiara mendadak terasa menyempit. "Maksudnya...?"
"Arga itu Tergila-gila sama kamu Ra, dia sangat ... Sangat mencintai kamu" kata Rian tegas, tanpa keraguan sedikit pun.
"Dari kita SD! Kamu ingat syal wol yang kamu bikin buat dia? Barang itu masih disimpan rapi di kotak paling atas lemari kamarnya sampai sekarang. Setiap kali kamu bawain kue atau makanan ke rumahnya, Arga tuh nggak pernah langsung makan sebelum dia pandangin dan dia cerita ke aku betapa bahagianya dia."
Darah di tubuh Kiara rasanya berhenti mengalir. Matanya membelalak menatap Rian.
"Tapi... tapi Arga selalu dingin, Yan," bisik Kiara dengan suara bergetar.
"Dia selalu bilang 'nggak enak', dia selalu jaga jarak..."
"Karena dia penakut, Ra!" potong Rian dengan nada prihatin.
"Arga itu merasa dirinya terlalu membosankan, terlalu penuh kekurangan buat cewek sekeren dan secerah kamu. Dia takut kalau nanti dia masuk ke hidup kamu dan pacaran sama kamu, dia cuma bakal ngerusak kepolosan dan kebahagiaan kamu. Dia mengira dengan dia diam dan tetap ada di posisinya, kamu bakal selalu ada di sana." papar Rian menguak kebenaran tentang perasaan Arga.
Rian menghela napas berat, menatap Kiara yang kini mematung dengan wajah pucat.
"Waktu kamu bilang berhenti ngejar dia beberapa bulan lalu di Masjid... Arga hancur, Ra. Dia datang ke rumahku malam-malam, menangis sesenggukan kayak anak kecil. Itu pertama kalinya aku liat Arga nangis seumur hidupku. Dia menyesal setengah mati karena kebodohannya sendiri." lanjut Rian
DEG.
Dada Kiara terasa menghantam sesuatu yang sangat keras dan dingin. Bumi seolah berhenti berputar di bawah pijakan kakinya. Suara deru kendaraan di jalan raya utama di luar KUA mendadak lenyap, tergantikan oleh gemuruh hebat di dalam dadanya.
Arga... mencintaiku?
Jadiiiiii..... Selama belasan tahun ini... rasa itu tidak pernah bertepuk sebelah tangan?
Air mata yang hangat merebak di sudut mata Kiara. Kebenaran yang selama ini ia harapkan di masa lalu—kebenaran yang dulu ingin sekali ia dengar langsung dari bibir Arga—kini terungkap di tempat ini. Di halaman KUA, sebulan sebelum akad nikahnya.
"Kiara? Maaf ya, berkasnya tadi ada sedikit... eh, Kiara? Kamu kenapa?"
Suara Dimas mendadak memecah keheningan yang menghimpit itu. Dimas berjalan mendekat dari arah koridor loket dengan raut wajah cemas melihat calon istrinya berdiri dengan mata berkaca-kaca.
Rian cepat-cepat berdiri dan merapikan bajunya.
"Eh, calonnya Kiara ya? Maaf, Mas. Saya Rian, teman SD-nya Kiara."
Dimas menyalami Rian dengan ramah meski matanya masih memperhatikan Kiara yang kelihatan terguncang.
"Saya Dimas. Ada apa ya, Ra? Kamu sakit?"
Kiara dengan cepat mengusap sudut matanya, berusaha menyunggingkan senyuman di hadapan Dimas—pria baik yang telah memberikan kepastian dan kehormatan padanya.
"Nggak apa-apa, Mas," suara Kiara bergetar tipis, namun ia berusaha sekuat tenaga menahannya.
"Cuma... cuma kaget aja ketemu teman lama." Kiara berkilah tak ingin Dimas tahu tentang kegalauan hatinya pasca terkuak "kebenaran masa lalunya" .
Dimas menatap Kiara penuh perhatian, lalu mengelus lembut bahu calon istrinya itu.
"Ya sudah, berkas kita udah beres semua kok. Kita pulang ya? Kamu kelihatan lelah."
Kiara mengangguk pelan. Ia melirik Rian sekilas, memberikan anggukan pamit.
Saat melangkah mendampingi Dimas menuju mobil, kaki Kiara terasa amat berat. Kepala dan hatinya dipenuhi oleh bayangan Arga—laki-laki yang pernah mengisi seluruh mimpinya, laki-laki yang ternyata memendam cinta amat dalam untuknya, namun terlambat untuk mengatakannya.
Di antara kepastian masa depan bersama Dimas dan bayang-bayang kebenaran masa lalu Arga... kebimbangan terbesar dalam hidup Kiara baru saja dimulai...