Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Pembawa Sial, Tapi Waktu Tunduk Padaku

Aku Pembawa Sial, Tapi Waktu Tunduk Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: lizzy Bae

Sepanjang hidupnya, Bayu Rahaja selalu dijuluki si pembawa sial hingga puncaknya kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi yang memaksanya pulang ke rumah tua keluarganya. Di tengah keputusasaan saat ditagih hutang dan membereskan barang-barang usang peninggalan kakeknya, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah batu hitam kehijauan yang diam-diam mengaktifkan sebuah pusaka kuno. Waktu di sekitarnya mendadak berhenti, dan Bayu menyadari bahwa kesialannya selama ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Batu Waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Suara air mengalir deras dari pancuran kamar mandi yang sudah berlumut di rumah tua itu.

Bayu membasuh wajahnya berkali-kali dengan air dingin untuk mengusir sisa pening di kepalanya.

"Gila, energi waktu ini benar-benar menyedot tenaga fisikku sampai habis," keluh Bayu sambil mematikan keran air.

Ia mengusap cermin kusam di depannya dan menatap pantulan dirinya sendiri lekat-lekat.

Wajahnya tampak sedikit pucat, tapi matanya memancarkan tekad dan semangat baru yang belum pernah ada sebelumnya.

"Mulai hari ini, tidak ada lagi Bayu si pembawa sial yang bisa diinjak-injak oleh siapa pun," ucapnya mantap pada cermin.

Bayu keluar dari kamar mandi dan memakai pakaian terbaik yang ia miliki dari lemari reotnya.

Sebuah kaus polos berwarna hitam dan celana jins pudar menjadi pilihannya pagi ini.

Ia menepuk saku celananya yang kini tebal karena berisi uang rampasan dari Bagas si rentenir.

"Sepuluh juta rupiah ini harus kugunakan dengan bijak untuk bertahan hidup dan mencari informasi," batin Bayu sambil berjalan keluar rumah.

Ia mengunci pintu depan dan berjalan menyusuri gang sempit menuju jalan raya.

Sebuah layar biru transparan tiba-tiba muncul berkedip di sudut pandangannya.

[Sistem Batu Waktu aktif.]

[Energi Waktu: 7/10]

[Kondisi Fisik: Cukup pulih, stamina pada tingkat optimal.]

"Syukurlah energinya sudah naik lagi menjadi tujuh setelah aku beristirahat beberapa jam," gumam Bayu lega.

Ia menyetop sebuah angkot berwarna kuning yang lewat dan duduk di kursi belakang dekat jendela.

Pusat kota berjarak sekitar tiga puluh menit dari pinggiran desa tempatnya tinggal. Sepanjang perjalanan, Bayu terus memikirkan batasan kekuatan dari Batu Waktu miliknya.

"Jika aku tidak bisa memindahkan benda hidup saat waktu berhenti, maka aku harus menggunakan benda mati di sekitarku," pikir Bayu menganalisis.

"Aku juga harus memastikan staminaku tidak terkuras habis di saat-saat genting."

Angkot akhirnya berhenti tepat di depan sebuah minimarket besar bernama Lunara Minimarket.

Bayu turun dan membayar ongkos angkot sebelum melangkah masuk melewati pintu kaca otomatis.

Kring.

Suara bel elektronik berbunyi menyambut kedatangannya ke dalam minimarket ber-AC yang sejuk itu.

"Selamat datang di Lunara Minimarket, selamat berbelanja," sapa seorang kasir pria dengan nada malas.

Bayu hanya mengangguk pelan dan langsung mengambil sebuah keranjang belanja berwarna merah.

Ia berjalan menyusuri rak-rak makanan, memasukkan beras, mi instan, sarden, dan beberapa botol air mineral.

"Ah, aku juga harus membeli sabun dan sampo baru," ucap Bayu pada dirinya sendiri.

Saat ia berbelok ke lorong alat mandi, matanya menangkap sosok seorang gadis seumurannya.

Gadis itu mengenakan kemeja kotak-kotak rapi, kacamata bulat, dan rambut hitam sebahu yang diikat sebagian.

Ia tampak sedang berjinjit dan melompat-lompat kecil berusaha mengambil botol sampo di rak paling atas.

"Aduh, kenapa menaruh barang diskon di tempat setinggi ini sih," keluh gadis itu dengan suara pelan yang manis.

Bayu berhenti sejenak dan tersenyum tipis melihat tingkah lucu gadis tersebut.

"Biar saya bantu," tawar Bayu sambil melangkah mendekat dan dengan mudah mengambil botol sampo itu.

Ia menyodorkan botol tersebut ke hadapan gadis berkacamata yang kini menatapnya dengan kaget.

"Eh, terima kasih banyak ya," ucap gadis itu sambil tersenyum kikuk dan mengambil botolnya.

"Sama-sama, hati-hati kalau melompat seperti tadi, nanti barang di sebelahnya bisa jatuh," balas Bayu ramah.

Gadis itu mengangguk cepat dan buru-buru mendorong troli belanjanya menjauh dengan wajah sedikit memerah.

"Gadis yang manis, sayangnya aku sedang tidak ada waktu untuk mencari kenalan baru," batin Bayu sambil mengangkat bahu.

Bayu kembali melanjutkan belanjanya hingga keranjangnya penuh dengan kebutuhan pokok.

Ia berjalan menuju meja kasir dan bersiap mengantre di belakang gadis berkacamata tadi.

Brak.

Tiba-tiba pintu kaca minimarket didobrak dengan sangat kasar dari luar hingga retak.

Dua orang pria bertubuh tegap merangsek masuk dengan wajah tertutup helm hitam tertutup.

"Semua tiarap. Jangan ada yang berani bergerak atau berteriak." bentak salah satu pria itu dengan suara menggelegar.

Pria yang satunya lagi langsung mengangkat sebuah pistol revolver rakitan dan menembakkannya ke arah plafon.

Dor.

Suara tembakan yang memekakkan telinga itu membuat lampu neon di atas pecah berantakan.

Pecahan kaca berjatuhan ke lantai diiringi jeritan histeris dari para pengunjung minimarket.

"Tiarap kubilang." teriak pria bersenjata itu sambil menendang rak permen di dekat pintu.

Bayu langsung merendahkan tubuhnya dan berjongkok di balik rak makanan ringan dengan jantung berdebar kencang.

"Sialan, kenapa aku harus terjebak perampokan di saat baru pertama kali ke kota," rutuk Bayu dalam hati.

Gadis berkacamata tadi tampak gemetar hebat dan secara refleks mundur hingga menabrak mesin pendingin minuman.

Bruk.

Suara tabrakan pelan itu menarik perhatian pria kedua yang membawa sebuah parang panjang.

"Hei, kamu. Ke sini kamu." bentak pria berparang itu sambil menarik kasar lengan gadis tersebut.

"Ampun, tolong lepaskan saya." jerit gadis itu sambil menangis ketakutan.

Pria berparang itu menempelkan mata pisaunya ke leher gadis itu sebagai ancaman.

"Cepat masukkan semua uang di laci ke dalam tas ini, atau leher gadis ini putus." ancam pria berparang kepada kasir.

Kasir yang wajahnya sudah pucat pasi itu buru-buru membuka laci mesin kasir dengan tangan gemetar.

Bayu mengintip dari sela-sela rak dan melihat situasi yang semakin kritis.

"Kalau aku diam saja, gadis itu bisa benar-benar dibunuh oleh preman gila ini," batin Bayu dengan tegang.

Ia melirik layar biru yang kembali muncul di sudut matanya.

[Peringatan Ancaman Terdeteksi.]

[Saran Sistem: Pengguna dapat mengaktifkan Jeda Waktu untuk menghindari bahaya fatal.]

"Aku tahu, dasar sistem bawel," omel Bayu di dalam kepalanya.

Ia menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar.

"Batu Waktu, hentikan waktu sekarang juga," perintah Bayu dengan sangat fokus.

Wusss.

Dalam sekejap mata, keheningan mutlak kembali menyelimuti dunia di sekitarnya.

Lampu neon yang tadinya berkedip-kedip akibat korsleting kini berhenti menyala setengah terang.

Air mata yang mengalir di pipi gadis berkacamata itu membeku menjadi butiran kaca kecil di udara.

Bahkan asap sisa mesiu dari ujung pistol perampok itu melayang diam tanpa bentuk.

[Jeda Waktu diaktifkan.]

[Energi Waktu: 6/10]

[Peringatan: Penggunaan energi akan terus berjalan seiring interaksi fisik pengguna.]

Bayu berdiri dari tempat persembunyiannya dan melangkah keluar tanpa mengeluarkan suara langkah kaki.

Ia menatap wajah kedua perampok yang tertutup helm itu dengan tatapan dingin yang tajam.

"Kalian salah pilih hari untuk merampok," ucap Bayu santai di tengah keheningan absolut.

Ia tahu ia tidak bisa menarik gadis itu menjauh karena tubuh manusia hidup terkunci oleh inersia waktu.

Jika Bayu memaksa menariknya, lengan gadis itu malah bisa patah karena tertahan hukum ruang dan waktu.

"Aku harus melumpuhkan kedua cecunguk ini sekaligus tanpa banyak membuang tenaga," batin Bayu sambil melihat sekeliling.

Bayu berjalan ke arah rak alat tulis dan mengambil sebuah pemotong kertas cutter berukuran besar.

Ia mendorong tuas cutter itu hingga mata pisaunya yang tajam keluar.

Bayu melangkah ke arah pria yang memegang pistol dan membidik celah sempit di antara helm dan jaketnya.

"Maaf ya, ini mungkin akan terasa sedikit perih nanti," gumam Bayu.

Ia mengayunkan pangkal cutter itu dan memukul pergelangan tangan pria bersenjata itu sekuat tenaga berkali-kali.

Tuk. Tuk. Tuk.

Efek benturannya tertahan, tapi Bayu tahu tulang pergelangan tangan pria itu pasti akan retak saat waktu berjalan kembali.

Setelah itu, ia beralih ke pria berparang yang sedang menyandera gadis berkacamata.

Bayu menyelinap di antara mereka dan memposisikan dirinya tepat di belakang pria berparang tersebut.

Ia menendang lutut bagian belakang pria itu dengan keras menggunakan sepatu botnya.

Buk. Buk.

"Itu untuk membuatmu berlutut nanti," ucap Bayu sambil tersenyum puas.

Ia kemudian mengambil sebuah botol kecap kaca dari rak terdekat dan mengarahkannya ke helm pria itu.

"Dan ini untuk membuatmu tidur nyenyak," batin Bayu sambil menghantamkan botol kecap itu ke atas helm.

Trak.

Botol kecap itu tidak pecah saat membentur helm, ia hanya membeku di titik benturan.

"Sempurna, semua serangan sudah siap dieksekusi," gumam Bayu sambil mengangguk pelan.

Bayu kemudian mencari tempat yang aman dan kembali berjongkok di balik rak makanan ringan tempatnya semula.

Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan bersiap menikmati pertunjukan.

"Lanjutkan waktu," perintah Bayu di dalam pikirannya.

Wusss.

Suara bising minimarket dan jeritan ketakutan orang-orang langsung kembali menghantam telinga Bayu.

Namun, sebelum jeritan itu selesai, serangkaian kejadian brutal terjadi dalam waktu kurang dari satu detik.

Krak. Prang. Bruk.

Pria yang memegang pistol tiba-tiba menjerit melolong kesakitan yang amat sangat.

"Aaaargh. Tanganku. Tanganku patah." teriak pria itu sambil menjatuhkan pistolnya ke lantai.

Di saat yang bersamaan, lutut pria berparang tiba-tiba tertekuk secara paksa dengan suara berderak.

Pria itu kehilangan keseimbangan dan melepaskan cengkeramannya dari leher si gadis.

Belum sempat ia jatuh ke lantai, kepalanya terhentak keras ke depan.

Botol kecap yang entah dari mana asalnya hancur berkeping-keping menghantam helmnya.

Prang.

Cairan kecap hitam kental berhamburan mengotori kaca helm dan baju perampok itu.

Pria berparang itu langsung ambruk ke lantai minimarket dalam keadaan pingsan tak sadarkan diri.

Gadis berkacamata yang tiba-tiba terbebas itu langsung jatuh terduduk sambil memegangi lehernya yang tidak terluka.

"Apa... apa yang baru saja terjadi?" gumam gadis itu dengan suara gemetar kebingungan.

Semua orang di minimarket, termasuk kasir dan beberapa pengunjung lain, terdiam mematung melihat kejadian tak masuk akal itu.

Kedua perampok bersenjata itu tiba-tiba tumbang sendiri seolah dihajar oleh hantu yang mengamuk.

Pria yang tangannya retak itu mengerang di lantai sambil menatap sekeliling dengan ketakutan.

"Siapa yang memukulku? Keluar kamu, pengecut." teriak pria itu menahan tangis karena rasa sakit yang luar biasa.

Bayu hanya tersenyum tipis dari balik rak sambil memegangi kepalanya yang mulai terasa sedikit berdenyut.

[Jeda Waktu dinonaktifkan.]

[Energi Waktu tersisa: 4/10]

[Peringatan: Hindari penggunaan kekuatan berlebih dalam waktu yang berdekatan.]

"Lumayan, kali ini aku tidak sampai mual seperti tadi pagi," batin Bayu menganalisis kondisinya sendiri.

"Sepertinya tubuhku mulai beradaptasi secara perlahan dengan tekanan dari relik ini."

Suara sirene polisi terdengar meraung-raung dari kejauhan, menyadarkan semua orang di dalam minimarket.

Kasir pria itu langsung melompati meja kasir dan menendang jauh pistol serta parang milik perampok.

Bayu berdiri dari posisinya dan pura-pura merapikan bajunya dengan wajah ketakutan yang dibuat-buat.

Ia berjalan menghampiri gadis berkacamata yang masih terduduk lemas di lantai itu.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Bayu dengan nada lembut sambil mengulurkan tangan kanannya.

Gadis itu mendongak dan menatap wajah Bayu dengan mata yang masih basah oleh air mata.

"Iya... saya tidak apa-apa, terima kasih," jawab gadis itu sambil menyambut uluran tangan Bayu.

Tangan gadis itu terasa dingin dan bergetar hebat saat Bayu menariknya berdiri.

"Syukurlah perampok itu tiba-tiba kualat dan pingsan sendiri," ucap Bayu berbohong dengan lancar.

Gadis itu menatap kedua perampok yang terkapar lalu kembali menatap mata Bayu dengan tatapan penuh selidik.

"Namaku Anya," ucap gadis itu tiba-tiba sambil memegang erat keranjang belanjaannya.

"Siapa namamu?"Bayu sedikit terkejut dengan pertanyaan langsung itu, namun ia tetap tersenyum ramah.

"Bayu. Namaku Bayu Rahaja," jawabnya singkat sambil menatap mata Anya.

Tepat saat itu, beberapa petugas polisi bersenjata lengkap mendobrak masuk ke dalam minimarket.

"Angkat tangan. Polisi. Semua tetap di tempat." teriak komandan polisi tersebut memecah ketegangan.

Bayu tahu bahwa urusannya di sini akan menjadi sangat panjang karena harus menjadi saksi.

Namun melihat Anya yang terus berdiri di dekatnya mencari perlindungan, Bayu merasa perjalanannya ke kota hari ini tidak terlalu buruk.

1
lizzy Bae
Bagus banget ceritanya lanjutkan!!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!