Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?
Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Dika masih berdiri di balik meja ketika ponselnya kembali bergetar. Ia melihat layar.
Sebuah pesan dari bagian keuangan perusahaan masuk.
Pak, ada beberapa transaksi lama yang perlu tanda tangan Bapak.
Dika mengernyit. Transaksi lama? Ia membuka lampiran yang dikirimkan. Beberapa dokumen muncul di layar. Semuanya berkaitan dengan pengelolaan aset perusahaan selama beberapa tahun terakhir.
Dika membacanya sekilas. Ada beberapa nama perusahaan yang terasa asing baginya.
"Ini apa?"
Ia langsung menghubungi kepala bagian keuangan. "Pak, kami menemukan beberapa pemindahan aset yang dulu disetujui melalui surat kuasa."
"Surat kuasa siapa?"
"Atas nama keluarga, Pak."
Dika terdiam. "Keluarga?"
"Iya. Dokumen itu menggunakan kewenangan yang diberikan kepada Ibu Miranda."
Rahang Dika mengeras.
"Miranda?"
"Iya, Pak. Kami kira Bapak sudah mengetahuinya."
Dika tidak langsung menjawab. Selama ini ia memang memberikan Miranda keleluasaan mengurus beberapa urusan rumah tangga dan sebagian aset keluarga. Ia tidak pernah merasa perlu memeriksanya satu per satu.
Baginya, Miranda adalah istrinya. Orang yang selama bertahun-tahun ia percaya.
"Berapa banyak aset yang dipindahkan?"
Suara di seberang terdengar ragu. "Belum bisa kami pastikan, Pak. Kami masih mencocokkan seluruh dokumen."
"Segera selesaikan."
"Baik, Pak."
Panggilan berakhir. Dika meletakkan ponselnya perlahan. Ada perasaan tidak nyaman yang mulai muncul. Namun ia segera menepisnya. Miranda mungkin hanya mengurus aset keluarga seperti yang selama ini ia izinkan.
Tidak ada alasan untuk mencurigainya. Setidaknya, belum. Dika kembali menatap alamat lama Rina yang masih berada di atas meja.
Aneh.
Dalam satu hari, dua hal dari masa lalu dan masa kini seolah datang bersamaan. Satu membawa nama Rina. Satu lagi membawa nama Miranda. Dika tidak tahu mana yang akan lebih dulu mengubah hidupnya.
Ia memasukkan kertas alamat itu ke dalam map, lalu mengambil jasnya. Kali ini ia tidak menuju rumah. Ia ingin melihat sendiri tempat yang pernah menjadi rumah Rina dan Azmira. Tempat yang selama dua puluh lima tahun tidak pernah ia pedulikan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Di tempat lain, Miranda baru saja memasuki sebuah restoran yang cukup sepi. Seorang lelaki sudah menunggunya di sudut ruangan.
Miranda duduk di hadapannya. "Bagaimana?"
"Data yang Anda minta sedang saya cari."
"Berapa lama?"
"Beberapa hari."
Miranda tampak tidak sabar. "Aku tidak punya waktu."
Lelaki itu menatapnya. "Kalau boleh saya tahu, sebenarnya siapa Azmira?"
Miranda tidak menjawab. Ia justru membuka tas dan mengeluarkan sebuah foto. Foto Azmira.
Tatapannya tertahan cukup lama pada wajah perempuan muda itu. Ada sesuatu pada wajah Azmira yang membuat Miranda semakin tidak tenang.
Bukan karena perempuan itu pernah mengganggunya. Tetapi karena semakin lama Miranda melihatnya, semakin kuat perasaan bahwa kehadiran Azmira akan membuka sesuatu yang selama ini terkubur.
"Yang penting, cari tahu semuanya," ucap Miranda akhirnya.
Lelaki itu mengangguk. Miranda menyimpan kembali foto tersebut.
"Dan satu lagi."
Lelaki itu menunggu.
"Jangan hanya mencari tentang Azmira. Cari tahu juga semua orang yang pernah dekat dengan Rina."
"Termasuk keluarga?"
"Semua."
Miranda menyerahkan sejumlah uang kepada lelaki tersebut. "Aku ingin laporan pertama sebelum akhir minggu."
Lelaki itu memasukkan uang tersebut ke dalam tas. "Baik."
Setelah lelaki itu pergi, Miranda masih duduk sendirian. Tangannya kembali meraih foto Azmira. Entah mengapa, wajah perempuan itu terus membuat pikirannya tidak tenang.
Selama ini Miranda selalu percaya bahwa masa lalu bisa dikubur selama seseorang cukup lama menyembunyikannya.
Namun sejak nama Azmira muncul dalam percakapan Dika, keyakinan itu mulai runtuh. Ia tidak boleh membiarkan Dika mengetahui terlalu banyak. Terutama tentang masa lalu yang sudah susah payah ia sembunyikan.
Miranda memasukkan foto itu ke dalam tas, lalu bangkit meninggalkan restoran. Ia belum tahu bahwa pada saat yang sama, orang-orang di perusahaan Dika mulai menemukan jejak transaksi yang selama ini tidak pernah diperiksa.
Dan ia juga belum tahu bahwa sebuah rahasia yang sudah disimpan selama bertahun-tahun perlahan mulai mendekati waktunya untuk terbongkar.
Rahasia tentang seorang anak dan juga tentang seorang suami. Dan sebuah pengkhianatan yang selama ini berhasil disembunyikan dengan sangat rapi.
Sementara Dika sedang berjalan menuju masa lalu untuk mencari anak yang pernah ia tinggalkan, tanpa disadarinya, masa lalu Miranda juga mulai mengejarnya.
Dan kali ini, bukan hanya perasaan yang akan dipertaruhkan. Harta, keluarga, bahkan nama baik yang selama ini mereka bangun bersama perlahan akan mulai runtuh.
Dika belum mengetahui bahwa perempuan yang selama ini ia percaya ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada yang mampu ia bayangkan.
Ia juga belum mengetahui bahwa Shiren, anak yang selama puluhan tahun ia banggakan sebagai darah dagingnya, kelak akan menjadi salah satu alasan terbesar mengapa hidupnya berubah.
Semua itu masih tersembunyi. Tetapi waktunya semakin dekat. Dan ketika kebenaran akhirnya terbuka, Dika akan dipaksa melihat kembali semua keputusan yang pernah ia ambil.
Termasuk keputusan paling kejam dalam hidupnya. Keputusan untuk meninggalkan Rina dan anak yang dulu tidak pernah ia inginkan. Sementara tanpa Dika sadari, karma itu sudah mulai mengetuk pintunya sendiri.
Bersambung...
dika bakal menyesal seumur hidup 🤭
🤣🤣🤣🤣
itulah karma Dika...
sakit tak berdarah ketika tau kenyataan yang sebenarnya 😆😆😆