Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku, Kamu Dan Sebuah Rasa

Aku, Kamu Dan Sebuah Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:507
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Badai di Kepala dan Rasa yang Terlambat

Perjalanan dari KUA Kecamatan menuju Kelurahan Sukamaju terasa seperti garis waktu yang merenggang lambat.

Di dalam mobil sedan hitam milik Dimas, keheningan merayap begitu pekat. Kiara menyandarkan keningnya pada kaca jendela yang dingin, memandangi deretan tiang listrik dan pepohonan yang berkelebat cepat hingga mengabur.

Suara Rian di teras KUA tadi terus berputar di kepalanya bagaikan kaset rusak yang diputar berulang-ulang tanpa henti.

Arga itu tergila-gila sama kamu...

mencintai kamu, Ra...

Dia menyimpan syal kamu...

Dia menangis sesenggukan malam-malam pas kamu bilang berhenti...

DEG. DEG. DEG

Dada Kiara berdenyut begitu nyeri, seolah-olah ada jemari tak kasat mata yang meremas jantungnya hingga remuk. Air mata merebak di pelupuk matanya, membuat pemandangan jalan raya di luar sana menjadi samar.

Kiara mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan sampai bukunya memutih. Kenapa? Kenapa kenyataan pahit itu harus hadir di saat seperti ini? Di saat namanya dan nama Dimas sudah tercetak rapi di lembaran lembaran berkas akad nikah? Di saat ia sudah bersusah payah menata kembali hatinya yang hancur berkeping-keping beberapa bulan lalu?

Kenapa Arga baru mencintainya—atau lebih tepatnya, kenapa Kiara baru mengetahui Arga mencintainya—ketika gaun pengantinnya sudah selesai dijahit?

Dimas yang duduk di balik kemudi sesekali melirik calon istrinya. Pria itu menyadari perubahan aura Kiara yang mendadak begitu rapuh dan terguncang seusai berbincang dengan Rian tadi.

Namun, sebagai pria dewasa yang sangat peka, Dimas tidak memburu Kiara dengan pertanyaan. Ia hanya mengulurkan tangan kirinya, menepuk pelan punggung tangan Kiara yang bergetar...saling bertaut di atas pangkuan.

"Mas tahu kamu lagi ada yang dipikirkan," ucap Dimas dengan suara rendah yang menenangkan.

"Nggak apa-apa, Ra. Ambil waktu kamu. Apapun itu, Mas ada di sini." suara Dimas mengalun sangat lembut.

Perlakuan Dimas yang begitu dewasa dan tidak protektif secara berlebihan justru menghantam hati Kiara dengan kehangatan yang luar biasa. Pria di sampingnya ini tidak pernah membuatnya menebak-nebak rasa, hal ini membuat dada Kiara makin dihantam rasa bersalah yang luar biasa.

Kiara menoleh, menatap wajah Dimas yang tulus, lalu mengangguk pelan tanpa sanggup bersuara. Tenggorokannya terlalu sempit, tersumbat oleh tangis yang ditahannya setengah mati.

Malam harinya, Sukamaju diguyur hujan deras. Petir menyambar samar di kejauhan, membasahi kaca jendela kamar Kiara.

Di dalam kamar berkain gorden merah muda itu, Kiara tidak mampu membendungnya lagi.

Gadis pemalu yang selama ini selalu berusaha tampil tegar di depan semua orang itu akhirnya runtuh. Kiara berlutut di samping tempat tidurnya, meremas sprei kainnya erat-erat, dan membiarkan tangisnya meledak dalam hening malam. Bahunya berguncang hebat. Air matanya menetes deras membasahi kasur.

"Kenapa, Ga...?" bisik Kiara di tengah isak tangisnya yang pecah. Suaranya terdengar begitu parau dan menyedihkan.

"Kenapa kamu diam aja selama belasan tahun ini...?"

Pikiran Kiara melayang bebas, melintasi lorong waktu menuju masa lalu yang kini terasa begitu menyiksa.

Ia teringat betapa bodohnya ia dulu—berlari-lari menembus hujan di perbatasan kelurahan hanya demi menyodorkan payung untuk Arga yang menunggunya di halte.

Ia teringat bagaimana tangannya gemetar saat menganyam syal wol warna abu-abu untuk Arga, begadang hingga larut malam hanya untuk memastikan setiap rajutannya rapi.

Ia teringat betapa sakit hatinya saat Arga menerima syal itu dengan senyum sopan dan ucapan, "Makasih ya, Ra. Tapi lain kali nggak perlu repot-repot begini. Aku nggak enak."

Nggak enak?

Ternyata dibalik kata 'nggak enak' itu, kamu menyimpan syal aku di kotak paling atas lemari kamu, Ga?!

Kiara memukul dadanya sendiri yang terasa amat sesak. Rasa dikhianati oleh takdir begitu menyengat.

Ia mengingat momen kejutan ulang tahun Arga tiga tahun lalu di halte jalan raya dekat perbatasan. Saat itu, Aina dan Daffa mengerjainya habis-habisan.

Sore itu, Kiara panik luar biasa. Ponselnya berdering menampilkan nama Aina. Dengan suara bergetar dan terengah-engah, Aina mengabarkan bahwa motornya mogok dan ia hampir menabrak pembatas jalan di dekat persimpangan raya arah kelurahan tetangga.

Tanpa berpikir panjang, Kiara yang pada dasarnya penakut dan pemalu, langsung berlari keluar rumah. Dengan napas memburu dan jilbab yang sedikit berantakan, Kiara berlari menembus gerimis tipis menuju titik tunggu yang disebutkan Aina di dekat halte jalan raya.

"Aina! Kamu nggak apa-apa?!" teriak Kiara panik saat melihat sosok berdiri di dekat lampu jalan yang remang.

​Namun, saat sosok itu berbalik... langkah Kiara terhenti mendadak.

​Bukan Aina yang berdiri di sana.

​Melainkan Arga.

​Arga berdiri mengenakan jaket mantel hitamnya, memegang sebuah kotak kue kecil dengan satu lilin yang menyala di tengahnya, terlindungi oleh lipatan tangannya agar tidak padam oleh angin sore.

Di balik pepohonan halte, Aina, Daffa, Bagas, Dave, Galang, dan Bintang mendadak muncul sambil tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Kiara yang syok berat.

​"Selamat! Kiara kena prank dari kita...!" seru Bagas sambil tertawa kencang.

​"Aina!" pekik Kiara sambil menutup wajahnya yang memerah padam karena malu dan campur aduk.

"Kamu jahat banget! Aku udah ketakutan setengah mati tau!"

​Aina tertawa sambil merangkul Kiara.

"Maaf ya, Ra! Tapi ini kan satu-satunya cara bikin kamu buru-buru datang tanpa curiga. Kan hari ini Arga ulang tahun, dan kamu yang dari kemarin sibuk nyiapin kado tapi bingung cara ngasihnya!"

​Kiara menatap Arga dengan napas yang masih naik turun. Arga di hadapannya tampak serba salah. Wajah pria pendiam itu ikut memerah, lalu mengusap tengkuknya kaku.

​"Maaf ya, Ra... anak-anak memang berlebihan," bisik Arga serak, menatap Kiara dengan binar mata yang teramat lembut—tatapan yang dulu tak pernah sanggup diartikan Kiara secara pasti.

"Tapi... terima kasih ya udah mau datang." tambah Arga

Malam itu berlanjut dengan kehangatan. Mereka berdelapan kumpul makan-makan di sebuah cafe bernuansa outdoor tak jauh dari sana. Meja kayu panjang dipenuhi piring makanan, es teh, dan gelak tawa.

Bagas dan Dave sibuk bernyanyi asal-asalan dengan gitar akustik, Daffa merangkul Aina dengan manis, sementara Bintang dan Galang sibuk memperebutkan potongan pizza terakhir.

Di ujung meja, Kiara duduk di samping Arga. Meski Arga tidak banyak bicara di tengah keriuhan teman-temannya, sesekali jemari Arga ketahuan merapikan posisi piring Kiara agar tak tersenggol, atau memastikan cangkir minuman hangat Kiara tidak kehabisan. Ada kebahagiaan sederhana namun pekat yang tercipta di antara mereka malam itu.

Dan ditengah riuhnya gelak tawa dan petikan gitar akustik, Arga sempat menatap mata Kiara. Sebuah tatapan yang sangat dalam, teduh, dan hangat. Tatapan yang malam itu membuat jantung Kiara berdebar kencang, namun dengan cepat Kiara tepis karena ia takut hanya percaya pada ke-PD-annya sendiri.

Kiara membuka matanya kembali. Hawa dingin kamar mengembalikannya ke kenyataan masa kini.

Air mata menetes perlahan di pipi Kiara. Kenangan itu indah. Sangat indah. Dan kini ia tahu, rasa cinta Arga di malam itu memang nyata. Arga tidak berpura-pura. Arga memang menyimpannya di dalam dada.

Ternyata tatapan itu beneran rasa cinta kamu, Ga... Kenapa kamu nggak pernah mengucapkannya? Kenapa kamu biarkan aku sendirian menebak-nebak di dalam kegelapan sampai aku capek dan milih menyerah?!

Kiara meraba laci meja belajarnya dengan tangan bergetar. Ia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil yang sudah lama tak dibukanya.

Di dalamnya, tersimpan pita-pita bekas bungkus kado, foto-foto masa kecil mereka saat masih mengaji di TPQ Masjid Besar, dan pembatas buku buatan Arga yang tak sengaja tertinggal di rehal masjid belasan tahun lalu.

Kiara memeluk kotak kayu itu di dadanya. Ia menangis sejadi-jadinya, meratapi masa mudanya yang dihabiskan untuk mencintai seorang pria yang sama-sama mencintainya dalam keheningan yang sia-sia.

Rasa sakit itu begitu nyata. Kiara merasa seperti berdiri di persimpangan jalan yang kejam.

Di satu sisi, ada Arga—cinta pertamanya, cinta masa kecilnya, pria yang ternyata memendam perasaan sedalam samudra untuknya namun terlambat untuk bertindak.

Di sisi lain, ada Dimas—pria yang datang membawa kepastian, pria yang menyembuhkan lukanya, pria yang telah berdiri di hadapan kedua orang tuanya dengan keberanian penuh.

"Aku harus gimana...?" tangis Kiara terdesak.

Malam itu terasa begitu panjang bagi Kiara. Antara penyesalan atas masa lalu yang ternyata saling mencintai, dan kenyataan bahwa masa depan tidak bisa diputar balik.

Hingga menjelang azan Subuh berkumandang dari toa Masjid, Kiara masih duduk terpaku di lantai kamarnya. Matanya sembap dan bengkak, wajahnya pucat pasi.

Namun, seiring dengan redupnya suara hujan dan bergantinya langit malam menjadi kebiruan sore, napas Kiara perlahan-lahan mulai tertata.

Ia menatap foto dirinya dan Dimas yang terpajang di atas meja rias—foto saat acara pertunangan mereka bulan lalu, di mana Dimas tersenyum begitu bangga menggandeng tangannya di depan semua orang.

Kiara mengusap sisa-sisa air mata di pipinya. Rasa sakit di dadanya masih ada, merintih pelan. Namun di balik kehancuran hatinya malam ini, sebuah pemahaman yang amat dewasa merayap masuk ke benaknya.

Cinta Arga memang nyata. Namun cinta Arga adalah cinta yang penakut. Cinta yang mengurung diri dalam benteng keraguan.

Seandainya pun Kiara membatalkan wedding ini dan kembali pada Arga, apakah masa lalu yang hilang bisa terulang? Apakah luka belasan tahun itu bisa terhapus begitu saja?

Tidak.

Dimas tidak pernah membuat Kiara menangis dalam ketidakpastian. Dimas tidak pernah bersembunyi di balik kata "nggak enak". Dimas memberinya kehormatan, kepastian, dan tempat berteduh yang nyata.

Kiara menutup kotak kayu kenangan masa kecilnya rapat-rapat. Ia memasukkannya ke dalam dus terdalam di dalam lemari.

"Maafkan aku, Arga..." bisik Kiara dengan suara serak, kini menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan mata yang pasrah namun mantap.

"Kamu memang cinta pertama aku... tapi Mas Dimas adalah takdir yang aku pilih."

Dilema batin itu akhirnya pecah dalam tangisan semalam suntuk. Kiara telah melewati badai terbesar di kepalanya tanpa keraguan lagi ...

Sebulan dari sekarang, ia akan melangkah menuju akad nikah bersama Dimas—pria yang telah dipilihkan takdir untuk menjadi takdir masa depannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!