Keira Sutanto sudah punya semua yang diimpikan perempuan lajang: karier sebagai ilustrator, tabungan sendiri, apartemen mewah… dan satu suami hasil perjodohan kilat yang bahkan tak tinggal serumah. Menikah tiga hari, suaminya sudah terbang ke luar negeri. "Suami tajir yang tak pernah pulang" — hidup macam apa lagi yang lebih tenang dari ini?
Yang Keira tak tahu: **Nathan Halim**, si "programmer" yang dinikahinya, adalah putra kedua konglomerat Halim sekaligus pendiri NARA — perusahaan AI bernilai dua miliar dolar. Tiga tahun lebih muda darinya, jenius, dingin di depan orang… dan diam-diam terobsesi padanya sampai ke ujung jari.
Begitu tahu Keira punya seorang "kakak" tanpa hubungan darah yang tak pernah rela melepasnya, Nathan memindahkan seluruh perusahaannya pulang ke Indonesia — kantornya, tepat di sebelah kantor sang istri.
"Kalau di kantor tak boleh kupanggil 'Sayang'," bisiknya sambil tersenyum, "kupanggil 'Cici' saja, ya?"
Keira kira ini cuma pernikahan kontrak yang akan cepat berakhir. Ia tak menyangka: suami berondong-nya ini akan melamarnya untuk kedua kalinya, memburunya sampai ke ujung dunia saat ia diculik, dan menghancurkan setiap orang yang berani menyakitinya.
Hanya saja… rahasia masa lalunya belum semuanya terbongkar. Ibu kandung yang membuangnya. Seorang adik yang bahkan tak tahu mereka sedarah. Dan seorang "kakak" yang, malam itu, memutuskan bahwa kalau tak bisa memilikinya, ia akan merebutnya dengan cara apa pun—
Ponsel Keira bergetar. Satu pesan dari nomor tak dikenal:
*"Kei, ayo pulang. Kita bicara berdua saja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20
Rasanya Menyenangkan Bersamamu
Keira pulang dan menemukan apartemen terlalu rapi.
Tidak ada aroma masakan Bi Surti. Tidak ada suara televisi dari dapur. Hanya Nathan yang berdiri di dekat jendela dengan kacamata bingkai perak tipis.
"Di mana Bi Surti?"
"Aku memintanya libur malam ini."
"Kenapa?"
"Beliau sudah bekerja keras."
Keira menyipitkan mata. "Kau punya rencana."
Nathan mendorong kacamata ke pangkal hidung. "Lebih dulu, apakah wajahku benar?"
Keira langsung teringat percakapan tentang tren suami dingin. Kacamata itu membuat garis wajah Nathan terlihat lebih tajam dan dewasa, tetapi senyum penuh harapnya merusak seluruh kesan dingin.
"Lumayan."
"Hanya lumayan?"
"Kau membeli kacamata tanpa lensa hanya untuk diuji?"
"Ada pelindung layar. Jadi tetap berguna."
Nathan mengambil tas Keira setelah meminta izin, lalu menggantungnya. Kemeja putihnya digulung sampai siku. Gerakan itu terasa familier dengan cara yang aneh.
Saat Keira hendak menuju kamar, Nathan menahan pintu dengan satu lengan dan berdiri di belakangnya. Tidak menyentuh, hanya membuat bayangan tubuhnya jatuh menutupi Keira.
"Mau makan dulu atau mandi?" tanyanya rendah.
Keira membeku.
Kalimat, posisi tangan, bahkan kemiringan kepala itu persis satu panel dari komik lama yang ia unggah lima tahun lalu: `CEO Bersuit Dingin dan Pegawai Baru`. Dalam panel berikutnya, tokoh laki-laki merapikan rambut sang perempuan, melepas kacamata, lalu mendekat.
Nathan melakukan hal yang sama.
Keira berbalik cepat. "Kau membaca komikku."
Nathan masih memegang kacamata. "Yang mana?"
"Jangan berpura-pura. Gerakan tadi sama sampai posisi jarimu."
"Aku melakukan riset."
"Kau menyentuh laptopku?"
Senyum Nathan hilang seketika. "Tidak. Aku tidak pernah membuka perangkat atau foldermu. Semua yang kulihat berasal dari akun publik yang memakai tanda tangan gambarmu. Aku menemukannya sebelum pertemuan kita dan membaca beberapa jam."
"Beberapa jam?"
"Mungkin lebih dari beberapa."
"Komik itu punya dua ratus panel."
"Dua ratus empat belas, termasuk bonus."
Keira menutup wajah. "Aku seharusnya menghapus internet."
Nathan menurunkan tangannya perlahan. "Kalau kau tidak nyaman, aku berhenti menirunya. Aku mengira akan lucu karena kau mengenali."
Keira memandangnya di antara jari. Ia malu, tetapi bukan karena batas dilanggar. Karya itu memang pernah ia buka untuk publik dewasa. Nathan bahkan mengingat jumlah panel tanpa menyentuh perangkat pribadi.
"Kau membaca komentar juga?"
"Tidak semuanya."
"Berarti ya."
"Ada pembaca yang bilang tokoh laki-lakinya terlalu sempurna. Aku setuju desain wajahnya kurang menarik."
"Keluar dari rumahku."
Nathan mundur satu langkah. "Apartemen ini memang atas namamu, tapi aku berharap itu bukan perintah sungguhan."
Keira akhirnya tertawa. Nathan ikut tersenyum, tetapi tetap menunggu.
"Kau boleh melanjutkan," kata Keira. "Jangan meniru kalimatnya. Dialogku waktu itu buruk."
"Aku punya dialog sendiri."
Ia mendekat setelah Keira mengangguk. Jarinya merapikan rambut di belakang telinga, lalu kacamata dilepas dan diletakkan di meja. Ciuman pertama singkat, yang kedua lebih lambat. Setiap kali tangan Nathan berpindah, ia memberi ruang bagi Keira untuk menahan atau menariknya dekat.
Tidak ada satu gerakan pun yang terasa seperti adegan dipaksakan dari halaman lama. Di atas kertas, tokoh perempuan hanya punya ekspresi yang Keira gambar untuk pembaca. Di ruangan ini, Nathan membaca napas, jemari, serta setiap jawaban tubuh nyata di depannya.
"Kau bilang ingin mencoba semua adegan?" tanya Keira.
"Semua yang kau setujui. Tidak malam ini, dan tidak harus pernah."
"Jawaban yang aman."
"Jawaban yang benar."
Keira mengusap bingkai kacamata yang masih ada di tangan Nathan. "Ada satu adegan tokoh laki-lakinya jatuh ke kolam karena terlalu percaya diri."
"Kita boleh melewati itu."
"Katamu semua."
"Aku merevisi pernyataan."
Tawa mereka pecah dan menurunkan ketegangan. Nathan tidak berusaha mengubah setiap panel menjadi kenyataan. Ia membiarkan Keira memilih ritme, bahkan ketika pilihan itu hanya berbaring berdekatan dan mendengarkan hujan menimpa kaca.
"Masih lucu?" bisik Nathan.
"Sedikit."
"Menyenangkan?"
Keira menarik kerahnya. "Jangan banyak bertanya."
Nathan mencium senyumnya. Malam berlanjut dengan lampu kamar diredupkan dan pintu yang terkunci. Mereka berhenti jika salah satu ragu, bergerak lagi setelah jawaban jelas. Kedekatan itu tidak menghapus batas; justru menjadi mungkin karena keduanya tahu batas tersebut akan dihormati.
Beberapa waktu kemudian, Keira terbangun karena sisi ranjang kosong. Dari dapur terdengar bunyi wajan.
Di meja samping ranjang ada segelas air, handuk hangat, dan ponselnya yang sedang diisi daya. Semua benda ditempatkan terlihat jelas, tidak ada layar yang dibuka. Keira memeriksa notifikasi, lalu tersenyum karena batas paling sunyi pun masih dijaga.
Ia mengenakan kaus Nathan dan berjalan keluar. Nathan sedang memasak nasi dengan telur, tomat, dan udang. Kacamata peraknya kembali terpasang agar asap tidak membuat mata terlalu perih, menurut alasannya.
"Kau mengikuti resep?"
"Aku sudah membuat versi uji."
"Kapan?"
"Saat kau mandi sore kemarin. Bi Surti mengawasi."
Nathan menyendok nasi ke mangkuk, meniup satu suapan, lalu berhenti sebelum mendekatkannya. "Boleh?"
Keira membuka mulut. Rasa tomat asam manis bercampur telur lembut dan udang. Tidak sempurna, tetapi hangat.
"Enak," katanya.
"Itu pujian jujur?"
"Tujuh dari sepuluh."
"Aku akan mencapai sepuluh."
Mereka makan di meja dapur lewat tengah malam. Nathan kembali membahas peralatan telinga dan mengklaim hasil tidurnya membuktikan teknik tersebut bekerja.
"Kau menggunakan ASMR sebagai alasan menyentuh telingaku," tuduh Keira.
"Aku menggunakan pengetahuan ilmiah untuk membantu istri."
"Komentar pengguna bukan jurnal ilmiah."
"Data tetap data."
Nathan kemudian menyebut beberapa tag karya lama Keira: `romansa kantor`, `CEO posesif`, `pembaca dewasa`, dan `pria bersuit`.
Keira menutup telinganya. "Berhenti. Tipe gambar bukan tipe pribadi."
"Aku tidak bilang begitu. Tapi kebetulan aku CEO, posesif, dewasa, dan sedang memakai kemeja."
"Kau sangat menyebalkan."
"Tapi wajahku benar?"
Keira menatap kacamata perak, rambut berantakan, dan mangkuk nasi buatan Nathan. Lima tahun lalu ia menggambar fantasi laki-laki sempurna tanpa percaya orang seperti itu harus ada. Nathan jauh dari sempurna. Ia merencanakan terlalu banyak, bertanya terlalu sering, dan menyimpan kemarahan di balik suara tenang. Namun ia juga belajar, meminta izin, memasak setelah tengah malam, dan pulang melintasi benua.
"Rasanya menyenangkan bersamamu," kata Keira pelan.
Nathan tidak langsung menggoda. Ia hanya menatap, seolah kalimat itu lebih mahal daripada cincin yang mereka pesan.
"Aku juga," jawabnya. "Sangat."
Sabtu pagi, Keira terbangun dengan kepala di dada Nathan. Laki-laki itu sudah sadar dan tersenyum.
"Kenapa melihatku?"
"Tadi kau memanggil namaku saat tidur."
"Tidak mungkin."
"Nathan," tirunya dengan suara lembut. "Jangan pergi."
Keira menutup mulutnya dengan telapak tangan sebelum ia mengulang lebih banyak. Nathan mencium tengah telapak itu, lalu tertawa di baliknya.
"Jangan bicara," kata Keira.
Nathan menarik tangannya perlahan dan berbisik, "Baik, Ci. Tapi aku tidak akan pergi."