Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anggota Kedua
Ketukan pintu yang ramah memecah pagi tenang di rumah panggung Ki Wira, tiga kali berturut-turut dengan ritme yang terlalu ceria untuk pagi sesibuk ini.
Galih dan Sekar sedang membersihkan halaman belakang, Galih menyapu dedaunan kering yang berguguran semalam sementara Sekar merapikan peralatan latihan seperti rutinitas pagi mereka yang biasa, ketika suara keributan kecil terdengar dari arah gerbang depan rumah. Suara langkah kaki ringan, disusul dengan sesuatu yang terdengar seperti koper diseret di atas tanah berbatu. Udara pagi masih sejuk, embun belum sepenuhnya menguap dari rerumputan halaman.
"Kau dengar itu?" tanya Galih, menghentikan sapuannya sejenak.
Sekar mengerutkan kening, meletakkan bilah parang yang sedang ia rawat. "Sepertinya ada yang datang."
Mereka berjalan berdampingan menuju bagian depan rumah, penasaran dengan sumber keributan yang tidak biasa itu. Ketukan pintu kembali terdengar, kali ini disertai suara dehem kecil dari luar.
Sekar melangkah lebih dulu, membuka pintu kayu utama rumah panggung mereka. Begitu daun pintu terbuka lebar, ia mendapati sosok yang benar-benar tidak ia duga akan berdiri di sana pagi ini.
Larasati berdiri di ambang gerbang dengan senyum manis terkembang lebar di wajahnya, mengenakan pakaian bepergian sederhana namun rapi, tongkat sihirnya tersampir di punggung, dan sebuah koper kecil berisi pakaian tergenggam di tangan kanannya. Rambutnya yang sewarna madu diikat rapi ke belakang, jauh berbeda dari penampilannya yang biasa berantakan setiap kali mereka bertemu di tengah bahaya.
"Selamat pagi!" sapa Larasati riang, seolah kedatangannya yang tiba-tiba ini adalah hal paling wajar di dunia.
Sekar terpaku sejenak, matanya berpindah dari wajah Larasati ke koper di tangannya, mencoba mencerna apa yang sedang terjadi. "Larasati? Kenapa kau bawa koper sepagi ini?"
Galih yang berdiri di belakang Sekar ikut mengintip dari balik bahu gadis itu, sama-sama bingung melihat kedatangan tak terduga ini.
"Aku baru saja pindah," jawab Larasati santai, seolah baru saja mengumumkan cuaca cerah hari itu. "Rumah kosong tepat di seberang jalan ini, aku sudah menyewanya kemarin sore. Pemiliknya baik sekali mau memberi harga murah untukku."
"Pindah? Ke sini?" Sekar masih belum sepenuhnya mencerna informasi itu, alisnya berkerut semakin dalam.
"Iya. Aku sudah resmi keluar dari Naga Selatan tiga hari lalu," lanjut Larasati, nadanya tetap ringan meski yang ia ceritakan adalah keputusan besar yang mengubah seluruh arah hidupnya. "Dan sekarang aku ingin bergabung dengan Laskar Cakra. Kalau kalian mau menerimaku, tentu saja. Aku sudah menunggu waktu yang tepat untuk datang kemari."
Hening sejenak menyelimuti beranda rumah panggung itu.
"HAAH?!"
Teriakan itu meledak bersamaan dari mulut Sekar dan Galih, begitu serempak hingga terdengar seperti sudah dilatih sebelumnya. Keduanya saling berpandangan sekilas, sama-sama tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
"Tunggu, tunggu," Sekar mencoba mengumpulkan pikirannya yang berantakan. "Kau keluar dari Naga Selatan, kelompok terkuat di desa ini, cuma untuk pindah rumah dan gabung dengan kami? Kelompok yang baru punya dua anggota dan belum pernah selesai satu misi pun selain cari daun obat? Kau pasti sudah gila."
"Ditambah baru saja bertarung mati-matian melawan boss hutan," tambah Larasati, tersenyum lebih lebar lagi, seolah menganggap fakta itu justru menguatkan keputusannya, bukan meragukannya.
Galih menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, masih berusaha memproses informasi yang datang bertubi-tubi ini. "Tapi... kenapa? Kau bisa tetap jadi bagian dari kelompok besar, hidup lebih aman, misi lebih mudah didapat. Kenapa pilih kami?"
Larasati menggeleng pelan, ekspresinya berubah sedikit lebih serius meski senyumnya tidak sepenuhnya hilang. "Aku sudah cukup lama merasa Naga Selatan bukan tempatku. Mereka menang karena jumlah dan kekuatan, bukan karena saling percaya satu sama lain. Malam itu, di hutan, aku melihat sesuatu yang tidak pernah kutemukan di sana. Kalian saling melindungi tanpa perhitungan. Itu jauh lebih berharga dari kelompok besar mana pun."
Kata-kata itu membuat Sekar dan Galih terdiam sejenak, tidak menemukan bantahan yang cukup kuat untuk menolak alasan yang begitu tulus itu. Angin pagi berembus pelan menerbangkan beberapa helai rambut Larasati yang lepas dari ikatannya, dan untuk sesaat gadis itu terlihat begitu ringan, seolah beban dari kehidupan lamanya sudah benar-benar tertinggal jauh di belakang.
Dari dalam rumah, terdengar suara kursi goyang berderit pelan. Ki Wira, yang sedari tadi duduk di beranda samping sambil menikmati teh paginya, akhirnya bangkit dan berjalan mendekat, wajahnya dihiasi senyum maklum yang tidak menunjukkan sedikit pun keterkejutan.
"Aku sudah menduga kau akan datang, Nak," kata Ki Wira ramah, menyambut Larasati dengan tatapan hangat seolah sudah lama mengenalnya. "Silakan masuk. Kau pasti lelah membawa koper sejauh itu."
Sekar menoleh cepat ke arah kakeknya. "Kakek sudah tahu?"
"Firasat orang tua," jawab Ki Wira santai, mengedipkan sebelah matanya. "Lagipula, kelompok kalian butuh dukungan sihir. Keputusan Larasati ini bukan kebetulan belaka. Semesta punya cara sendiri mempertemukan orang-orang yang memang seharusnya berjalan bersama."
Larasati tersenyum lebar mendengar sambutan hangat itu, meletakkan kopernya di lantai beranda dengan lega, seolah beban berat yang ia bawa selama tiga hari terakhir akhirnya bisa ia turunkan.
"Jadi," katanya, menatap Sekar dan Galih bergantian dengan mata berbinar penuh harap, "boleh aku bergabung dengan Laskar Cakra?"
Sekar menghela napas panjang, masih berusaha mencerna kecepatan keputusan gadis di hadapannya, namun sudut bibirnya perlahan tertarik membentuk senyum kecil yang sulit ia sembunyikan. "Kau ini benar-benar nekat, tahu tidak? Pindah rumah dalam semalam saja sudah gila, apalagi keluar dari Naga Selatan."
"Aku sudah dengar itu berkali-kali minggu ini," sahut Larasati ringan, tertawa kecil.
"Tapi," lanjut Sekar, menyilangkan tangan di dada, nada suaranya melunak, "kita memang butuh orang sepertimu. Selamat datang di Laskar Cakra."
Tawa renyah Larasati meledak seketika, mencairkan seluruh suasana canggung yang sempat menggantung di beranda pagi itu. Galih ikut tersenyum lega, menyaksikan kehangatan yang perlahan menyelimuti mereka bertiga, ditambah Ki Wira yang berdiri sambil menyeruput tehnya dengan puas, seolah adegan pagi ini adalah hadiah kecil yang sudah lama ia nantikan.
Pagi itu, di depan rumah panggung sederhana di Desa Wanasari, lembaran baru bagi Laskar Cakra resmi dimulai, ditandai dengan tawa dan koper kecil yang tergeletak santai di lantai beranda, menyimpan harapan besar bagi kekuatan mereka yang perlahan mulai tumbuh dari kelompok kecil menjadi sesuatu yang jauh lebih berarti. Matahari pagi menyinari ketiga sosok muda itu, membuat bayangan mereka memanjang berdampingan di atas lantai kayu beranda, sebuah gambaran sederhana namun penuh makna tentang keluarga baru yang mulai terbentuk dari orang-orang yang dulunya asing satu sama lain.