Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.
Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu. Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.
Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 - Debat Terbuka
Suasana di dalam interior Bus 000 terasa sesak, seolah-olah udara gaib di sekelilingnya berubah menjadi beton padat yang siap menghimpit.
Penolakan keras Mayor van Der Berg untuk memasuki area Benteng Tua menciptakan riak kegelisahan di antara para penumpang hantu lainnya.
Hawa mesiu bergulung panas dari tubuh sang komandan kolonial, membentur aura keemasan Madam Helga yang semakin tajam dan mengancam.
"Kalian sipil-sipil konyol tidak tau apa-apa!" bentak van Der Berg dengan intonasi kaku yang menggelegar. Tangannya mencengkeram gagang pedangnya hingga perunggu gaib itu berderit keras. "Benteng Willem pada sektor itu adalah tempat pembantaian! Batalyon saya dihujani meriam dan dijebak di dalam lorong bawah tanah tanpa jalan keluar! Membawa rombongan ini ke sana sama saja menyerahkan leher mereka ke tempat eksekusi!"
Madam Helga melangkah maju secara perlahan, setiap dentang sepatu hak tingginya memancarkan pendar sihir yang menekan lantai bus. Wajah cantiknya kaku bagaikan porselen dingin, matanya menyipit penuh kecaman.
"Cukup, Jiwa Usang," desis Madam Helga dengan suara rendah namun sanggup membekukan dinding interior bus. "Aku tidak peduli berapa banyak meriam yang menghancurkan tubuhmu seratus tahun lalu. Di atas armada ini, aku adalah hukum mutlak. Napak tilas Benteng Tua adalah poin itinerary resmi yang terdaftar di manifes. Kau akan turun di sana, menghadapi ingatan kekalahanmu, atau aku sendiri yang akan menghancurkan jiwamu menjadi debu tak berbekas detik ini juga."
Pendar emas di ujung kipas sutra Madam Helga memercik tajam, siap meluncur untuk menyegel sang mayor. Para hantu penumpang, termasuk Marlina, langsung menutup mata mereka, takut akan eksekusi sepihak dari sang pemilik agen.
"Hentikan, Madam!"
Damar melompat ke depan, berdiri tepat di garis tengah antara sihir Madam Helga dan pedang van Der Berg. Pemandu muda itu mematikan mikrofonnya, melempar clipboard-nya ke atas meja panggung, lalu menatap lurus ke arah mata Madam Helga tanpa berkedip sedikit pun.
"Jangan ikut campur, Damar!" gertak Madam Helga, alisnya terangkat tinggi oleh keheranan dan kemarahan. "Metode lunakmu tidak berlaku untuk entitas militer yang membangkang ini! Dia mengacaukan jadwal dan mempengaruhi emosi penumpang lain!"
"Metode Madam yang otoriter ini yang bikin situasi makin kacau!" balas Damar kencang, suaranya membelah keheningan bus tanpa bantuan pengeras suara. "Madam selalu menganggap semua masalah bisa diselesaikan dengan ancaman eksekusi! Madam gak mau dengerin kenapa dia menolak turun!"
Madam Helga tersentak, dadanya kembang-kempis oleh ketegangan yang mendadak meluap. "Aku adalah Pemilik Agen Last Trip Express! Aku yang menetapkan aturan di sini! Kau cuma seorang pemandu tur yang bekerja di bawah kontrakku!"
"Dan sebagai pemandu tur, tugas saya bukan cuma bawa hantu dari poin A ke poin B seolah mengangkut barang mati!" seru Damar lantang, matanya membara oleh keteguhan yang belum pernah ia perlihatkan sebelumnya. "Tugas saya adalah memahami emosi dan trauma mereka! Mayor van Der Berg bukan membangkang karena jahat atau sok berkuasa, Madam! Dia takut! Dia menahan trauma kegagalan karena tidak bisa menyelamatkan Batalyonnya di benteng itu!"
Kata-kata Damar menghantam keheningan bus bagaikan pukulan godam.
Mayor van Der Berg mematung di tempatnya. Wajah persegi yang keras itu mendadak luluh oleh rasa terkejut yang teramat sangat. Pria tua berdarah dingin itu tak pernah menyangka, seorang inlander pemandu tur mampu membaca luka terdalam di balik seragam militernya yang megah.
"Kau ...." Madam Helga menunjuk Damar dengan kipas terlipat, jemarinya sedikit bergetar. "Kau berani menentang keputusanku secara terbuka di depan seluruh penumpang? Kau lupa siapa yang menyelamatkan nyawamu saat kau hampir tewas di Sektor Satu?"
"Saya gak pernah lupa, Madam!" sahut Damar, suaranya melunak namun diisi oleh bobot emosional yang sangat mantap. "Saya menghormati Madam. Saya tau Madam luar biasa kuat dan selalu melindungi bus ini dengan sihir Madam. Tapi gaya otoriter tanpa empati seperti ini hanya akan membuat para arwah jadi Arwah Anarki karena tertekan! Kalau Madam hanya ingin memaksakan kehendak menggunakan kekerasan, lalu apa bedanya Last Trip Express dengan agen penindas seperti Eternity Horizon?!"
DEG.
Nama Eternity Horizon yang terucap dari bibir Damar seolah menjadi tamparan tak terlihat bagi Madam Helga. Wanita anggun itu berdiri mematung di udara. Pendar sihir keemasan di jemarinya perlahan-lahan meredup dan padam sepenuhnya.
Madam Helga menatap Damar dengan pandangan yang sangat kompleks. Di balik rasa marah atas insubordinasi stafnya, ada kilatan rasa kagum yang mendalam. Pemuda introvert yang dulunya ketakutan melihat bayangan hantu kini berdiri tegak, pasang badan membela harga diri sesosok arwah asing, bahkan berani menantang pemilik agen paling ditakuti di Sektor Lima demi prinsip panduannya.
Sebaliknya, di dalam dada Damar, meskipun jantungnya berdegup kencang karena nekat membantah sang atasan, ia tidak bisa memungkiri rasa hormatnya pada wanita itu. Madam Helga, di balik wujud dingin dan otoriternya, adalah satu-satunya sosok yang menjaga batas hukum dan memberikan perlindungan mutlak bagi perjalanan mereka.
Keheningan melingkupi panggung depan selama beberapa saat yang terasa sangat lama.
"Kau ...." Madam Helga membuka kipas sutranya pelan, menutupi separuh wajahnya seraya memalingkan pandangan ke arah jendela. "... kau pemandu tur paling menyebalkan yang pernah kubayar, Damar."
Damar menghela napas panjang, bahunya yang tegang perlahan rileks. "Saya anggap itu sebagai pujian, Madam."
Madam Helga mendengus dingin, meski sudut matanya memercikkan kehangatan samar. Ia melirik ke arah Mayor van Der Berg yang masih berdiri kaku di tengah lorong.
"Dua puluh menit," kata Madam Helga pelan dengan nada bicara yang kembali tenang. "Aku berikan waktu dua puluh menit untuk metode empati konyolmu di Benteng Tua. Jika Mayor itu masih menolak menjalankan napak tilas ... aku tidak akan mendengarkan pembelaanmu lagi, Damar."
Madam Helga memutar tubuhnya dengan anggun, melayang kembali ke kursi kebesarannya di barisan paling belakang, menarik gorden hitam untuk membatasi diri.
Damar memungut clipboard-nya dari meja, membetulkan letak kemejanya, lalu berjalan mendekati Mayor van Der Berg. Sang mayor menatap Damar dengan pandangan yang sangat berbeda—tak ada lagi keangkuhan militer, yang tersisa hanyalah rasa hormat dari seorang perwira kepada seorang pemimpin.
"Petugas Damar," bisik van Der Berg dengan suara serak, membetulkan posisi topi komandonya. "Anda ... Anda berani berdiri melawan atasan demi mempertahankan martabat seorang prajurit tua yang gagal?"
Damar tersenyum tipis, menepuk bahu gaib sang mayor yang terasa dingin dan kaku. "Kita tidak ada yang gagal di sini, Komandan. Mayor van Der Berg tidak pergi ke Benteng Tua malam ini sebagai korban yang kalah. Mayor pergi ke sana sebagai Pemimpin Evakuasi yang akan membawa kenangan pasukan Mayor kembali pulang ke kedamaian."
Mata kebiruan van Der Berg bergetar halus. Ia menegakkan tubuhnya, memberikan penghormatan militer paling formal dan sempurna tepat di hadapan Damar.
"Rombongan Evakuasi Batalyon ... siap di bawah komando Anda, Petugas Damar!" ucap sang mayor dengan lantang dan penuh kebanggaan.
Damar membalas penghormatan itu dengan senyuman hangat, lalu berbalik mengarahkan mikrofonnya ke panggung. "Sopir ... arahkan Armada 000 langsung ke gerbang utama Benteng Tua Willem!"
Tiiiiiiiiiinnnnn ...!
Bus raksasa itu memotong kabut malam dengan kecepatan penuh, meluncur menuju kompleks benteng batu peninggalan sejarah yang membisu di kegelapan.
Namun, tepat saat roda-roda Armada 000 melindas area jembatan gantung bekas parit benteng, hawa aneh yang sangat pekat berembus dari balik dinding batu kuno. Bau belerang dan aroma sihir penyegel yang sangat dikenal Damar mendadak merebak di udara.
Gabriel dan Eternity Horizon telah menunggu di sana. Jaring perangkap gaib yang dirancang khusus untuk melumpuhkan kekuatan Madam Helga telah terpasang rapi di seluruh penjuru benteng, siap meledak saat Bus 000 menginjakkan rodanya di pelataran utama.
judulnya gantii yaa 🤔
ada kesempatan ke 2 untuk menuntaskan urusan dunia
pasti tak kan ada arwah gentayangan
😂
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
tour kemana kita yakk
ngga ngompol di tempat
😂😂
serreemmm bgt