Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.
Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.
Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.
Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.
Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.
Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30: Pembohong Tidak Pandai vs Wanita Polos
“Sekali lagi terima kasih banyak ya, Pak,” ucap Kayla sebelum masuk ke dalam taksi online yang sudah menunggu di halaman parkir Talitha Cafe.
“Iya, kamu hati-hati ya. Kasih kabar kalau sudah sampai,” pesan Azka.
Untuk mewujudkan bentuk rasa terima kasih, Kayla memeluk Azka, lagi. Matanya terlihat berkaca-kaca setelah pelukan tersebut. Kayla masuk ke dalam mobil, sedangkan Azka melambaikan tangan sebagai salam perpisahan.
Mobil pun segera pergi, meninggalkan Azka yang kemudian langsung melihat handphone, memeriksa keberadaan taksi online pesanannya.
***
Kembali ke dalam kamar hotel, Azka mulai membuka pesan dari Visha yang memberitahu posisinya sudah berada di bandara. Sudah check-in, sebentar lagi akan masuk pesawat menuju ibukota.
Tidak membalas, ia langsung menelepon Visha.
“Halo,” ucapnya pelan.
“Gimana kabarmu?” tanya Visha masih khawatir.
Azka berdalih baru bangun tidur. Ia merasa lebih baik dari sebelumnya. Visha tak henti memberikan perhatian untuk Azka. Sungguh istri yang sangat baik.
Meskipun begitu, Azka seperti tidak terlalu melihatnya. Sosok di dalam hatinya saat ini adalah Kayla. Ia telah dibutakan oleh cinta terlarang yang salah sejak awal. Dengan nyali tidak begitu besar, ia nekad bermain api.
Mereka menyudahi telepon setelah Visha mengatakan kalau pesawatnya akan segera lepas landas. Azka masih bersantai karena mengira semua sudah diatur sesuai rencananya.
Tapi ia baru ingat kondisi kamar masih sangat berantakan dengan sejumlah bungkus makanan, struk belanja, sampah roti dan pakaian yang digunakan Azka selama pergi bersama Kayla.
Pertama-tama ia mengumpulkan sampah-sampah, bahkan roti yang masih bisa dimakan pun juga ikut dibuang oleh Azka. Ia benar-benar ingin menghilangkan jejak.
Azka menggunakan tas kain yang biasa digunakan untuk memasukkan pakaian laundry mengumpulkan sampah tersebut.
Setelah semua terkumpul, ia pergi keluar kamar hotel, lalu mencari tempat sampah besar. Ia berjalan ke beberapa sudut, tidak berhasil menemukannya.
Ia kemudian bertemu salah satu pegawai hotel, minta tolong membuang tas sampah di tangannya. Sebagai imbalan, Azka memberikan sejumlah uang kepada pegawai tersebut.
Tak berlama-lama, Azka kembali ke kamar hotel, membereskan sisanya. Ia merasa bingung dengan pakaian kotor yang dikenakan sebelumnya.
Azka diketahui pergi sebanyak dua kali, pertama saat menemani Kayla menunggu resep obat di rumah sakit. Kedua, pergi ke Talitha Cafe.
Jika memasukkan pakaian ke laundry, Azka berpikir bahwa itu tidak mungkin, meski bisa selesai dalam waktu satu atau dua jam, pasti akan sangat merepotkan.
Ia juga menilai terlalu berisiko dan memutuskan melipat pakaian, memasukkannya kembali ke dalam koper.
Ketika sedang melipat, Azka teringat tentang tiket pesawat yang telah dibeli untuk Kayla. Apabila Visha ikut pulang dengannya, mereka akan bertemu.
Azka baru kepikiran.
Ia langsung menghentikan aktivitas, kepalanya menjadi pusing karena memikirkan cara menutupi kebohongannya sendiri. Tapi ia segera tersadar, lalu melanjutkan melipat pakaian karena tahu yang terpenting sekarang, ini harus segera dibereskan.
Dengan perlahan, Azka menyusun semua hingga rapi, membuat semirip mungkin seperti sebelumnya. Ia takut Visha akan memeriksa isi koper karena biasanya Visha memang suka mempersiapkan pakaian.
***
“Aku baru landing, tunggu aku ya,” ucap Visha di telepon.
Azka merespon datar. Ia masih berpura-pura sedang sakit. Padahal ia sedang bingung mengenai apa yang harus dilakukan saat ini.
Ia merasa kalau mengizinkan Visha menyusul merupakan ide yang sangat buruk. Tapi juga menyadari tak bisa menghentikan Visha.
Selain itu, Azka juga harus menyiapkan alasan-alasan terkait urusan kantor yang tertunda akibat ia sakit.
Hingga pada akhirnya, Visha tiba di kamar hotel. Azka berusaha untuk tetap tenang, menyambut dengan harapan Visha tidak menemukan apapun soal rahasianya.
Namun, baru saja datang, Visha langsung memperhatikan sekitar.
“Kok tumben kamarmu rapi sekali?”
Visha heran karena ia tahu kebiasaan suaminya yang suka membuat kamar berantakan, apalagi ketika berada di hotel.
“Wangi lagi, kamu pakai parfum di kamar?” tanyanya lagi, padahal pertanyaan sebelumnya sudah membuat Azka kebingungan.
Azka kemudian melemparkan protes kepada Visha. Ia menggunakan strategi menyerang lawan, sebelum diserang.
“Kamu ini datang jauh-jauh hanya untuk memarahiku? Memangnya tidak boleh kalau aku membereskan kamar? Terus juga tidak boleh aku pakai parfum supaya kamar jadi wangi?” ujarnya kesal.
“Aku kan bosan terus-terusan di kamar. Sakit seperti ini tidak enak sekali, lho,” sambungnya.
Mengetahui Azka marah karena ucapannya, Visha pun minta maaf. Ia mengalihkan pembicaraan mengenai kondisi kesehatan Azka.
Rencananya berhasil.
Visha memegang dahi Azka, ingin mengetahui apakah demam atau tidak. Ia juga mempertanyakan tentang apa yang dirasakannya sekarang.
Mereka mulai membahas topik-topik ringan atau hanya sekedar bercanda.
Tapi pertanyaan lainnya kembali muncul saat Visha masuk ke dalam kamar mandi. Ia merasa heran karena handuk yang menurutnya sangat basah seperti belum lama digunakan.
“Mungkin karena tadi aku pakai mencuci muka,” dalih Azka.
Meskipun Visha setengah percaya, ia berusaha tidak mempermasalahkan mengingat Azka yang masih sakit. Ia menilai Azka tidak mungkin berbohong.
“Sebentar lagi kamu mandi ya, pakai air hangat. Aku nyalakan water heaternya sekarang,” kata Visha.
“Iya,” sahut Azka singkat.
Visha sempat menawarkan apakah Azka ingin mandi sendiri atau dimandikan olehnya. Sambil bercanda, Azka menjawab, “Sendiri dong, memangnya aku anak kecil?”
Menanggapi itu, Visha membalas dengan sindiran, “Oh gitu ya, mandi berdua kalau ada maunya saja?”
Mereka kemudian tertawa bersama, posisi Visha masih di dalam kamar mandi sedangkan Azka di atas ranjang.
Perasaan Azka mulai tenang karena suasana sudah lumayan cair. Ia juga bisa mengendalikan situasi yang menurutnya tidak akan ada masalah berarti.
Tapi sayang ketenangan tidak berlangsung lama karena ia tiba-tiba menerima pesan baru dari Kayla. Ia mengirim gambar memperlihatkan foto selfie saat mengenakan kalung pemberiannya.
“Sumpah, bagus sekali, Pak. Kalungnya..” tulis Kayla pada caption foto tersebut.
Azka merasa senang sekaligus cemas lantaran Visha sedang berada di kamar mandi. Meskipun ia tahu Visha tidak pernah memeriksa, Azka mengantisipasi dengan segera mengganti kode pin di handphone.
Untuk sementara, ia juga tidak membalas pesan Kayla agar tak terjadi percakapan lanjutan yang mungkin akan berbahaya jika Visha melihatnya.
“Ayo, mandi sekarang,” kata Visha tiba-tiba keluar dari pintu.
Azka refleks melempar handphone ke bawah selimut. Ia terlihat cukup panik, Visha menyadarinya. Mereka saling tatap. Visha kemudian bertanya, “Kenapa? Kok lihat aku seperti itu? Memangnya aku hantu?”
Lagi-lagi Visha salah paham. Ia mengira Azka sedang minta Visha untuk mengizinkannya tidak mandi.
“Tidak, tidak boleh! Kamu harus mandi sekarang, jangan harap aku izinkan kamu tidak mandi,” tegasnya.
Azka merasa bersalah atas kepolosan Visha. Dengan cara wanita itu merawatnya, tanpa banyak tanya, ketulusan yang tak pernah berubah, bahkan di saat-saat seperti sekarang.
Ia menggeser selimut, bangkit dari ranjang. Tubuhnya masih berpura-pura lemah, tapi ada semacam dorongan hasrat karena perhatian Visha yang membuatnya ingin segera berdiri.
Visha sigap menghampiri, menyodorkan lengannya untuk dijadikan sandaran. Mereka berjalan bersama menuju kamar mandi. Langkah demi langkah pelan dan hati-hati seakan waktu memberi ruang pada kebersamaan yang hangat.
Meski hanya sandiwara.
“Aku mandiin aja deh ya? Kamu masih lemas seperti ini,” kata Visha.
“Ya sudah, boleh. Tapi, kamu juga mandi ya.”
Visha tertawa geli, “Apa sih kamu, sakit begini masih sempat-sempatnya kepikiran begitu. Nanti saja kalau kamu sudah sembuh!”
Mereka pun masuk ke dalam kamar mandi bersama-sama.