Indonesia
NovelToon NovelToon
The Silhouette Of Class

The Silhouette Of Class

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Dosen
Popularitas:798
Nilai: 5
Nama Author: Midtwilight03

"Di kelas, dia adalah hukum. Di dunia luar, dia adalah takdir."

Ravian menjalani dua kehidupan yang berbeda. Di siang hari ia adalah dosen dingin di kampus dan setelahnya ia adalah CEO kejam Evander Corp.

Batasan yang ia buat runtuh seketika ketika ia tak sengaja jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mahasiswinya.

Kini Ravian terjebak di antara aturan etika akademis, profesionalisme perusahaan, dan getaran dada yang tak bisa ia kendalikan.

Sanggupkah Ravian mempertahankan rahasianya saat batas antara ruang kuliah, ruang rapat, dan hatinya makin menipis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Midtwilight03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10 Pengakuan yang Terpotong

Senin sore di pelataran taman Fakultas Ekonomi dan Bisnis Kampus Jagatara. Cahaya matahari perlahan menghilang di ufuk barat menyelusup di antara rimbunnya pepohonan, meninggalkan semburat jingga keemasan yang perlahan memudar di atas gedung-gedung kampus. Suasana kampus perlahan sepi seiring berakhirnya jam kuliah terakhir.

Suara langkah kaki mahasiswa yang sejak tadi memenuhi koridor mulai berkurang. Satu per satu mereka meninggalkan area kampus, sebagian menuju tempat tinggal, sebagian lagi bergegas mengejar kendaraan, sementara beberapa lainnya masih sibuk dengan kegiatan organisasi.

Namun, bagi Liora, hari belum benar-benar selesai.

Gadis itu berjalan seorang diri menyusuri jalan setapak menuju gerbang depan. Laptop tipis dan beberapa berkas analisis proyek ia dekap erat di depan dada. Pikirannya sudah dipenuhi jadwal magang, revisi laporan, serta analisis yang harus segera diselesaikan sebelum batas waktu pengumpulan.

Langkahnya sedikit dipercepat. Ia hanya ingin segera sampai ke gerbang. Namun, baru beberapa meter berjalan, langkah Liora mendadak terhenti. Seseorang berdiri di tengah jalan setapak, tepat di hadapannya.

"Kaivan?"

Liora mengerjapkan mata. Sosok laki-laki itu berdiri dengan kedua tangan yang sesekali mengepal dan terlepas di sisi tubuhnya. Wajah Kaivan yang biasanya santai dan penuh canda kini justru terlihat tegang. Bahkan rambutnya yang biasanya ia biarkan berantakan tampak berkali-kali disentuhnya seolah kegelisahan membuatnya tidak tahu harus melakukan apa.

"Liora, tunggu sebentar," panggil Kaivan.

Liora menghentikan langkah dan membenarkan letak kacamatanya. "Ada apa?"

Kaivan tidak langsung menjawab. Ia mengusap tengkuk, lalu menarik napas dalam-dalam seolah sedang mengumpulkan seluruh keberanian yang ia miliki. Dadanya terasa sesak oleh kalimat yang telah berkali-kali ia susun di dalam kepala.

Selama beberapa minggu terakhir, ia memperhatikan perubahan Liora.

Gadis itu semakin sibuk. Semakin sering melamun. Sering kali pergi terburu-buru setelah kelas selesai, lalu menghilang ke tempat magangnya sampai sore bahkan malam. Kesempatan untuk sekadar berbicara dengannya pun semakin sulit didapatkan.

Awalnya Kaivan berusaha memaklumi. Namun, semakin lama, perasaan takut kehilangan itu justru semakin membakar dadanya.

Ia takut suatu hari nanti Liora akan benar-benar menjauh tanpa pernah mengetahui apa yang selama ini ia rasakan.

"Gue mau ngomong sesuatu yang penting, Ra." Suara Kaivan akhirnya terdengar. "Cuma sebentar. Tolong dengarin gue."

Ia maju satu langkah. Tatapan matanya yang biasanya penuh percaya diri kini justru menyiratkan keraguan sekaligus kesungguhan.

"Soal apa, Van?" Liora bertanya hati-hati. "Kalau soal tugas kelompok manajemen..."

"Bukan soal tugas!" Potongan suara Kaivan membuat Liora terdiam.

Dalam satu gerakan spontan, Kaivan meraih kedua tangan Liora yang memegang map, menggenggamnya cukup erat hingga Liora terkejut.

"Kaivan, apa-apaan sih?" Liora mencoba menarik tangannya, tetapi Kaivan menahannya.

"Ra..." Kaivan menelan ludah. "Gue udah nahan perasaan ini sejak awal semester," ungkap Kaivan dengan suara bergetar namun jelas.

Liora membeku.

Kaivan menatap tepat ke dalam matanya.

"Gue suka sama lu. Gue sayang sama lu, Liora."

Kalimat sederhana itu seolah menggantung di antara mereka.

"Gue tahu lu sibuk banget belakangan ini. Gue juga tahu mungkin gue bukan orang yang paling sempurna buat lu." Ia menarik napas pendek. "Tapi gue mau jadi orang yang selalu ada buat lu. Gue mau dengerin semua cerita lu, nemenin lu kalau lu capek, dan ada di samping lu kalau suatu hari semuanya terasa terlalu berat."

Sorot mata Kaivan semakin dalam. "Jadi..." Ia menguatkan genggamannya sedikit. "Tolong kasih gue kesempatan buat jadi pacar lu."

Dunia Liora seperti berhenti beberapa detik. Jantungnya berdetak keras hingga ia sendiri bisa mendengarnya.

Ia tidak pernah menyangka.

Selama ini, ia hanya menganggap Kaivan sebagai teman seangkatan yang baik. Seseorang yang sering membantu ketika tugas kelompok terasa berat, seseorang yang terkadang membuatnya tertawa di sela-sela padatnya kegiatan kuliah.

Tak pernah sekalipun Liora berpikir bahwa di balik semua perhatian itu, Kaivan menyimpan perasaan sebesar ini.

"Kaivan... gue..."

Liora tergagap menundukkan pandangan, kebingungan menyusun kata-kata agar tidak melukai perasaan temannya itu. Ia tidak ingin memberikan harapan jika memang hatinya tidak berada di tempat yang sama.

"Kamu punya tugas analisis yang harus diserahkan sekarang, Miss Arwen."

Sebuah suara bernada rendah, dingin, dan penuh wibawa tiba-tiba terdengar dari belakang.

Kaivan dan Liora sontak menoleh bersamaan.

Di sana, berdiri sosok tegap dalam balutan setelan jas hitam yang begitu rapi dan elegan. Tidak ada satu pun bagian dari penampilannya yang terlihat berantakan. Rambutnya tertata sempurna, ekspresinya nyaris tanpa emosi, sementara sebuah map tebal berada di tangan kirinya.

Ravian Adhikara Evander.

Tatapan tajam pria itu langsung jatuh pada mereka. Lebih tepatnya...

Pada tangan Kaivan yang masih menggenggam tangan Liora.

Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir Ravian. Namun, sorot matanya sudah cukup untuk membuat Kaivan merasa seolah baru saja melakukan kesalahan fatal.

Aura dingin dan intimidatif yang dipancarkan Ravian mendadak membuat udara sore di pelataran kampus terasa jatuh ke suhu terendah.

"P-Pak Ravian?" Suara Kaivan terdengar gugup, refleks melepaskan genggaman tangannya dari Liora dengan terburu-buru.

Ravian melangkah mendekat.

Pelan.

Tenang.

Namun, setiap langkahnya seakan memiliki tekanan tersendiri.

Ia tidak perlu meninggikan suara. Tidak perlu menunjukkan kemarahan. Cukup dengan tatapan dinginnya, ia sudah mampu membuat orang-orang di hadapannya merasa harus mundur.

Ravian berhenti tepat di samping Liora. Posisinya secara tidak langsung menciptakan jarak yang jelas antara gadis itu dan Kaivan.

Liora mendongak. "Pak..."

"Jam kerja magangmu sudah dimulai sejak lima belas menit yang lalu, Liora." Nada suara Ravian terdengar datar dan profesional sebagai atasan seolah-olah apa yang baru saja ia lihat tidak berarti apa-apa.

Seolah ia hanya sedang mengingatkan seorang anak magang yang terlambat masuk kerja. Namun, hanya orang cukup jeli yang mungkin menyadari ada perubahan kecil dalam sorot matanya.

Ada sesuatu di sana.

Sesuatu yang jauh lebih gelap daripada sekadar ketegasan seorang atasan.

"Mobil saya sudah menunggu di depan." Ravian mengalihkan pandangan kepada Liora.

"Masuk sekarang."

Dua kata terakhir itu terdengar seperti perintah mutlak.

Liora menelan ludah. Entah mengapa, kehadiran Ravian yang begitu tiba-tiba justru membuat detak jantungnya semakin tidak beraturan. Bukan hanya karena ia sadar telah terlambat ke tempat magang, tetapi juga karena ia tahu persis bagaimana tatapan pria itu beberapa detik lalu.

Tatapan yang tertuju kepada Kaivan. Tatapan yang membuat tengkuknya terasa meremang.

Liora menoleh kepada Kaivan.

Laki-laki itu masih berdiri diam. Wajahnya memperlihatkan campuran kecewa, bingung, dan rasa tidak nyaman yang berusaha disembunyikannya.

"Kaivan..." suara Liora melembut. "Maaf. Gue harus pergi kerja sekarang. Kita bicarakan lagi nanti."

Kaivan tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, menatap kepergian Liora yang berjalan mengekori Ravian menuju mobil sedan hitam yang terparkir di area eksekutif kampus.

Kaivan tetap berdiri di tempatnya. Matanya mengikuti langkah Liora hingga gadis itu membuka pintu mobil dan masuk ke dalam.

Ravian menyusul beberapa detik kemudian. Sebelum masuk, pria itu sempat berhenti. Untuk sesaat, tatapannya berbalik ke arah Kaivan.

Tatapan mereka bertemu.

Tak ada senyum.

Tak ada ancaman.

Hanya sebuah tatapan dingin yang terasa jauh lebih jelas daripada kata-kata.

Kaivan menahan napas.

Kemudian Ravian masuk ke dalam mobil. Pintu tertutup. Sedan hitam itu bergerak perlahan meninggalkan area kampus, membawa Liora semakin jauh dari pandangan Kaivan.

Kaivan masih berdiri di tempat yang sama bahkan setelah mobil itu menghilang di balik gerbang.

Pengakuannya belum mendapatkan jawaban. Namun, ada sesuatu yang jauh lebih mengusik pikirannya sekarang.

Ia teringat cara Ravian berdiri di samping Liora. Cara pria itu menatap tangannya ketika masih menggenggam jemari Liora.

Cara Ravian memerintahkan Liora untuk pergi bersamanya tanpa sedikit pun memberi ruang untuk membantah.

Itu bukan sekadar tatapan seorang dosen kepada mahasiswanya.

Setidaknya, tidak menurut naluri Kaivan.

Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang jauh lebih personal.

Kaivan mengembuskan napas perlahan, sementara kecurigaan mulai tumbuh di dalam benaknya.

"Jangan-jangan..." Kalimat itu menggantung tanpa pernah selesai.

Untuk pertama kalinya, Kaivan mulai mempertanyakan hubungan sebenarnya antara Liora dan Ravian. Dan semakin ia mengingat tatapan pria itu tadi, semakin kuat satu kesimpulan yang muncul di dalam pikirannya.

Pak Ravian bukan hanya sedang mengawasi Liora.

Pria itu seperti sedang menjaga sesuatu yang dianggapnya milik sendiri.

Atau...

Seseorang yang dianggapnya tidak boleh disentuh oleh siapa pun.

1
Sandiakala_
Ceritanya menarik, sukakkk😌🫰🏻
Sandiakala_
Lanjutannya mana Thor?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!