Livia Prameswari, gadis lembut berusia delapan belas tahun, tanpa sengaja menyaksikan pembuangan mayat. Orang yang memergokinya adalah Keenan Adiprana—pewaris keluarga konglomerat nomor satu di Asia Tenggara sekaligus komandan tertinggi pasukan khusus yang ditakuti semua orang.
Keenan berusia dua puluh tiga tahun, tampan, berkuasa, arogan, dan berbahaya. Malam itu, pistolnya mengarah tepat ke kepala Livia. Seharusnya ia membunuh satu-satunya saksi tersebut, tetapi pelarian Livia justru membangkitkan obsesi yang tak pernah bisa ia kendalikan.
Livia takut, melawan, berbohong, mengkhianati, dan berkali-kali mencoba kabur. Namun semakin jauh ia melarikan diri, semakin kuat Keenan menariknya kembali ke dalam dekapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6
Kalau Begitu, Tunggu Aku Dewasa
Livia tiba di lantai paling atas Klub Imperia dan berdiri lama di depan kantor pribadi Nathan.
Lorong itu kosong. Begitu sunyi hingga suara jarum jatuh pun mungkin akan terdengar. Tangan kanannya sudah menggenggam gagang pintu, tetapi selama beberapa saat ia tak sanggup memutarnya.
Ketika masih kecil, ia sangat menyukai ruangan ini. Bahkan bisa dibilang bergantung padanya.
Saat itu, Livia sering terbangun karena mimpi buruk. Ia akan memeluk Nathan erat-erat dan melarang pria itu pergi bekerja pada malam hari. Karena tak tega meninggalkannya, Nathan akhirnya selalu membawa Livia ke klub.
Livia tidak pernah rewel. Tubuh mungilnya akan meringkuk manis seperti bola ketan di sofa kulit kantor, menunggu Nathan selesai bekerja dalam keadaan setengah tertidur.
Seusai bekerja, pria itu akan membangunkannya dengan lembut. Sebelum Livia sempat mengamuk karena dibangunkan, Nathan sudah lebih dulu menyelipkan permen, kue lembut, atau buah kering ke mulutnya. Setelah itu, ia akan menggendong Livia pulang.
Sejak kapan semuanya berubah?
Telapak tangan Livia menegang.
Klik.
Gagang pintu mengeluarkan bunyi sangat pelan. Dari dalam kantor, terdengar suara Nathan yang dalam dan berwibawa.
"Via?"
"Ya."
Livia mendorong pintu dan masuk.
Nathan duduk di kursi kerja di tengah ruangan. Sebuah kacamata berbingkai emas setengah lingkaran bertengger di wajahnya, meski kacanya hanya aksesori. Di sela jemarinya terselip sebatang cerutu.
Aroma tembakau yang samar mengambang di udara.
Pada usia tiga puluh dua tahun, Nathan adalah pemilik klub malam termuda di Kota Kayan. Kulitnya cerah, wajahnya rupawan, dan setiap geraknya memancarkan pesona seorang pria dewasa. Pembawaannya terlihat santun sekaligus berkelas.
Sebelum bertemu Keenan, Livia selalu mengira pria paling tampan di dunia mungkin adalah seseorang seperti Nathan.
Ia menutup pintu, lalu berjalan cepat menghampiri meja kerja. Dua tumpuk uang di tangannya diletakkan dengan hati-hati di hadapan Nathan. Setelah mengeluarkan buku catatan kecil, ia mulai mencatat jumlahnya.
"Om Nathan, ini komisi bulan ini. Totalnya dua ratus delapan puluh delapan juta rupiah. Kalau ditambah yang sebelumnya—"
Nathan mendengus pelan dan memotong kalimatnya.
Ia mengambil tumpukan uang itu, memandangnya sekilas dengan sikap meremehkan, lalu melemparkannya sembarangan ke samping.
"Kenapa kau pindah?"
Jemari Livia mengerat di sekeliling pena. Ia menunduk.
"Aku sudah delapan belas tahun. Aku bisa menghidupi diriku sendiri, jadi aku tidak perlu merepotkan Om Nathan lagi."
"Merepotkan?" Nathan meletakkan cerutunya, lalu berdiri dan menghampirinya. "Aku tidak pernah menganggapmu sebagai beban. Kau juga tidak perlu bekerja untuk mengembalikan uangku. Aku bersedia menanggung hidupmu. Kalau kau mau, kau bisa tinggal di Vila Pir selamanya."
Bayangan tubuh tinggi pria itu menutupinya. Tekanan yang dibawa Nathan membuat Livia nyaris sulit bernapas. Ia mundur setengah langkah dengan gelisah.
"Selamanya terlalu lama. Om Nathan, aku... aku tidak mau."
Tidak mau.
Jemari Nathan bergetar. Tangannya yang semula hendak mengusap rambut Livia berhenti di udara.
Ia menunduk dan mengamati gadis keras kepala yang tampak begitu rapuh di hadapannya. Tatapannya menyapu wajah Livia yang berantakan, lalu berhenti di bahu kirinya.
Jaket tebal dan lapisan pakaian di dalamnya sama-sama memiliki bekas sayatan. Sebagian bahunya terekspos, sementara sebuah tato kupu-kupu kini menghiasi tulang selangkanya.
Inikah gadis yang telah ia lindungi dan besarkan dengan hati-hati selama dua belas tahun?
Baru saja menginjak usia dewasa, Livia sudah buru-buru mengumumkan bahwa ia ingin mandiri. Ia bahkan bekerja untuk membayar utang, seolah tak sabar melarikan diri dari sisinya.
Membuat tato, menjual minuman di klub, lalu dilecehkan pelanggan.
Cahaya dingin melintas di mata Nathan. Tiba-tiba ia mencengkeram tengkuk Livia dan membenturkan dahinya ke meja.
"Sudah kubilang aku tidak membutuhkan uangmu, dan aku tidak akan membiarkanmu meninggalkan Vila Pir! Apa selama ini aku terlalu memanjakanmu sampai kau tidak lagi mau mendengarkan perkataanku?"
Buk!
Benturan keras itu membuat kepala Livia seolah meledak. Ia bahkan belum sempat bereaksi ketika sudut dahinya menghantam permukaan meja dan meninggalkan lebam keunguan.
Tubuh bagian atasnya terkapar di atas meja. Beberapa detik kemudian, barulah ia menoleh perlahan dan memandang Nathan dengan tatapan tak percaya.
Ini pertama kalinya Nathan memukulnya.
Dahulu, saat Livia memecahkan guci antik kesayangan Nathan yang nilainya luar biasa, pria itu hanya tersenyum, lalu memasang wajah tegas dan memarahinya beberapa kalimat.
Nathan memang sering bersikap galak. Ia juga kerap mengancam dan menakut-nakutinya, tetapi tak pernah tega menyakitinya secara fisik.
Sekarang, ia memukul Livia hanya karena gadis itu ingin pindah dari rumahnya.
Padahal Nathan-lah yang lebih dahulu tidak menginginkannya lagi.
Perasaan Livia bergejolak. Air mata yang tak sanggup lagi ia tahan mengalir deras di pipinya. Bibirnya terbuka lemah, tetapi tak satu kata pun keluar.
Nathan tampaknya menyadari bahwa reaksinya telah kelewat batas. Setelah saling menatap beberapa saat, ia menekan amarah dalam dadanya dan lebih dulu memecah keheningan.
"Apa yang terjadi dengan pakaianmu?"
Tiga bulan lalu, Livia pasti sudah berlari kepadanya sejak pertama masuk. Ia akan mengadukan masalah yang dibuatnya sambil menangis, kemudian menunggu Nathan menyelesaikan semuanya.
Namun sekarang, ia tidak membutuhkannya lagi.
Livia menurunkan bulu matanya.
"Aku jatuh saat membawa nampan buah dan membuat seorang pelanggan marah. Dia merobek pakaianku untuk memberi peringatan."
"Siapa? Jordan?"
Livia tidak menjawab. Nathan mengerutkan kening dan kembali bertanya, "Dia menyentuhmu?"
"Tidak." Livia menggeleng. "Semua orang tahu Bang Jordan sangat mementingkan wajah. Dia merasa jijik hanya dengan melihatku. Mana mungkin dia mau menyentuhku?"
Itu memang benar. Kerutan di antara alis Nathan sedikit mengendur.
"Lalu kenapa ada tato?"
"Karena terlihat cantik."
"Cantik?"
Nathan tertawa dingin. Cengkeramannya terlepas dari tengkuk Livia, tetapi kemudian beralih menjepit dagunya dengan kasar. Bekas lima jari segera muncul di kulit gadis itu.
Dari balik bingkai kacamata, tatapan tajam Nathan seakan menembus riasan tebal yang menyembunyikan wajah cantik Livia.
"Secepat itu kau melupakan perkataanku? Di Kota Kayan, kau tidak perlu terlihat cantik. Kau juga tidak boleh membiarkan siapa pun mengetahui bahwa kau cantik."
Delapan belas tahun adalah usia ketika seorang gadis sedang mekar. Siapa yang tak ingin terlihat menarik? Livia pun sama.
Hanya saja, ia tidak berani.
Sejak usianya enam belas tahun, Nathan tak pernah lagi mengizinkannya menunjukkan wajah asli di hadapan orang lain.
Pria itu berkali-kali memperingatkannya bahwa gadis cantik di Kota Kayan akan dilahap para iblis sampai tak bersisa.
Nathan bahkan pernah membawanya ke beberapa tempat mengerikan. Dari balik kaca satu arah, Livia dipaksa menyaksikan sendiri nasib perempuan-perempuan yang menjadi korban orang berkuasa.
Pemandangan itu membuatnya muntah tanpa henti dan demam tinggi selama berhari-hari.
Itulah mimpi buruk yang bahkan tidak berani ia kenang.
"Aku tidak lupa. Aku tidak lupa... maaf, Om Nathan. Tidak akan ada lagi. Aku tidak mau cantik. Aku tidak mau..."
Ketakutan yang hebat membongkar ingatan yang telah lama dikubur. Seperti ular berbisa, rasa takut itu merayapi jantung kecil Livia. Suaranya bergetar hebat dan tangisnya terdengar jelas.
Barulah Nathan melepaskannya.
Ia menarik Livia dari atas meja, lalu memeluknya dengan hati-hati. Suaranya melunak saat mencoba menjelaskan.
"Via, ada masalah dalam bisnis di luar negeri. Tiga bulan ini aku harus terus berada di sana untuk mengurusnya. Aku tahu kau marah karena aku pergi begitu lama. Ini salahku, aku membuatmu menunggu. Aku—"
Pelukan mendadak itu membawa kembali aroma tembakau yang begitu dikenalnya. Napas hangat Nathan menyentuh telinganya. Jantung Livia bergetar, dan buku catatan serta pena di tangannya jatuh bersamaan ke lantai.
Tanpa menunggu Nathan menyelesaikan kalimat, Livia menumpukan kedua tangan di pinggang pria itu dan mendorongnya sekuat tenaga.
"Aku tidak sedang marah."
Livia yang sekarang bukan lagi anak kecil yang akan berguling-guling merengek hanya karena tidak mendapatkan sepotong kue.
Ia tahu berterima kasih. Ia juga tahu bahwa utang budi harus dibalas.
Nathan telah menyelamatkan nyawanya dan membesarkannya tanpa kekurangan. Di benak Livia yang telah lama dibentuk oleh rasa takut dan utang budi, ia bahkan merasa tak berhak protes jika Nathan mengabaikan, memarahi, menakut-nakuti, atau memukulnya. Pikiran keliru itu berbisik bahwa sekalipun pria ini mengambil nyawanya, ia pantas menerimanya.
Karena itu, Livia merasa dirinya tidak memiliki hak untuk marah kepada Nathan.
Dorongannya begitu tegas dan kuat hingga tubuh Nathan terhuyung. Kacamatanya melorot ke ujung hidung, tetapi ia tak membetulkannya. Dengan sorot mata kelam, ia justru kembali mendesak Livia selangkah demi selangkah.
"Kalau bukan karena marah, kenapa kau pindah? Kenapa pula harus ke distrik timur? Kau tahu betapa kacaunya wilayah itu? Dua kelompok terbesar di Kota Kayan sedang memperebutkannya. Sedikit saja lengah, nyawamu bisa melayang! Livia Prameswari, sebenarnya apa yang kau inginkan?"
"Om Nathan akan bertunangan."
Suara Livia tercekat. Punggung tangan kanannya menyeka air mata yang menggantung di dagu.
"Kak Jolene akan menjadi istri Om. Vila Pir adalah rumah kalian. Kelak kalian juga akan memiliki anak sendiri. Aku hanya... ingin berada sedikit lebih jauh darimu."
Nathan terpaku.
"Aku dan dia..."
Ia berhenti seolah ada sesuatu yang ingin dikatakan, tetapi tak sanggup diteruskan.
Livia mengangkat wajah dan menatap lurus ke matanya. Setiap kata yang diucapkannya terdengar ringan, namun menghantam dada Nathan seperti palu berat.
"Om Nathan, aku sudah dewasa."
Tatapan mereka bertemu. Kantor itu kembali tenggelam dalam keheningan.
Nathan berusia dua puluh tahun ketika menyelamatkan Livia. Saat itu, ia telah membangun nama besar di Kota Kayan dengan kemampuannya sendiri. Ditambah wajahnya yang menawan, tak pernah ada kekurangan perempuan cantik yang mengejarnya.
Dalam tiga tahun pertama saja, Livia pernah melihat delapan kekasih datang dan pergi. Tak satu pun bertahan di sisi Nathan lebih dari tiga bulan.
Alasan mereka ditinggalkan selalu sederhana.
Livia tidak menyukai mereka.
Perangai Nathan memang buruk, tetapi ia benar-benar memanjakan Livia. Gadis kecil itu seperti gantungan hidup yang selalu dibawanya ke mana-mana, dan kebutuhannya selalu didahulukan.
Karena itulah kekasih Nathan yang kesembilan, Mira, memperlakukan Livia dengan sangat baik.
"Keponakan kecil ini manis sekali," pujinya setiap kali datang. Mira juga sering membawakan banyak boneka berbulu untuk menyenangkan hati Livia.
Namun Livia tahu, Mira bersikap baik karena ingin menikah dengan Nathan.
Pada usia sembilan tahun, Livia belum memahami perasaan rumit antara pria dan wanita. Ia hanya tahu bahwa jika Nathan menikah dan memiliki keluarga sendiri, mungkin pria itu tidak akan sempat lagi mengurusnya.
Ia telah dibuang oleh orang tua kandung sejak lahir, lalu dijual oleh ayah angkatnya.
Livia tak mampu membayangkan siksaan seperti apa yang harus dihadapinya seorang diri di Kota Kayan jika kembali kehilangan perlindungan Nathan.
Karena itu, suatu malam ia kembali mendorong pintu ruang kerja Nathan dan bertanya dengan hati-hati.
"Om Nathan, apakah Om akan menikahi Kak Mira?"
Nathan memahami kecemasan di balik pertanyaan itu. Ia mengambil sebuah buku cerita dari rak, memangku Livia di sofa, lalu membuka halaman pertama sambil menjawab datar.
"Kalau kau tidak menyukainya, aku tidak akan menikahinya."
Namun Nathan pasti akan menikah suatu hari nanti. Jika bukan Mira, akan ada perempuan lain.
Livia kecil pun menemukan jalan keluar yang menurutnya bisa menyelesaikan masalah untuk selamanya. Ia menutup buku cerita, lalu berkedip menatap Nathan dengan mata bulat yang polos.
"Kalau begitu, Om menikah denganku saja, ya?"
Nathan langsung tertawa. Tawanya begitu lepas hingga matanya menyipit. Ia mengangkat tangan dan mencubit hidung Livia cukup keras, membuat gadis kecil itu nyaris melompat dari pangkuannya.
"Dasar anak kecil. Jangan bicara sembarangan!"
Livia menatapnya dengan sangat serius.
"Kalau begitu, tunggu aku dewasa."
Saat itu, Livia sama sekali tak memahami arti sesungguhnya dari kalimat tersebut. Ia hanya ingin memegang erat satu-satunya payung yang melindunginya, agar dirinya bisa terus hidup dengan aman.
Senyum Nathan menghilang.
Ia tidak menjawab. Setelah menyelesaikan satu cerita, ia menyuruh Livia kembali ke kamar.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Kasih sayang Nathan kepadanya pun tidak berubah. Hanya ada satu perbedaan.
Nathan tidak pernah memiliki kekasih lagi.
Keadaan itu berlanjut hingga ulang tahun Livia yang kedelapan belas.
Hari itu, ketika Livia sedang menunggu perayaan kedewasaannya dengan penuh sukacita, Nathan datang sambil merangkul pinggang seorang wanita. Dengan senyum tipis, ia menjatuhkan sebuah kabar yang terasa seperti hantaman berat.
"Via, dia Jolene Halim, kekasihku. Kami berencana bertunangan enam bulan lagi. Kalung ini hadiah ulang tahun darinya untukmu. Selamat ulang tahun."
Livia sama sekali tidak merasa bahagia.