Indonesia
NovelToon NovelToon
Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.

Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.

Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.

Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.

Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.

Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.

📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rak Buku dan Papan Catur

Madoc berdiri di depan pintu apartemen Gwen selama hampir satu menit sebelum akhirnya memberanikan diri mengetuk, tangan satunya memegang kantong plastik berisi buah dan sup yang dia beli dalam perjalanan.

Alasan yang sudah dia siapkan sejak di mobil terdengar cukup masuk akal di kepalanya: dia CEO yang peduli sama kondisi timnya, wajar kalau dia mau cek langsung perkembangan kesehatan salah satu manajer kunci yang sedang menangani krisis besar. Tapi begitu berdiri di depan pintu itu, alasan itu terasa semakin tipis, dan dia mulai bertanya-tanya apakah keputusan datang langsung ke sini, bukan sekadar mengirim pesan atau menyuruh Elias yang datang, adalah keputusan yang bijaksana.

Pintu terbuka sebelum dia sempat mengetuk untuk kedua kalinya.

"Pak?" Gwen berdiri di ambang pintu, mengenakan kaos oversized dan celana training, rambutnya tergerai berantakan, jauh berbeda dari penampilan rapi yang biasa dia tunjukkan di kantor. Wajahnya masih terlihat pucat, tapi matanya sudah lebih segar dari yang dia lihat kemarin. "Kok Bapak ke sini?"

"Mau cek kondisi kamu," katanya, mengangkat kantong plastik di tangannya sebagai bukti. "Sekalian bawain ini."

"Bapak gak perlu repot-repot, Pak. Saya udah mendingan kok."

"Tetep aja," katanya, tidak menyerah, "boleh masuk sebentar?"

Gwen ragu sejenak, agak canggung dengan situasi CEO-nya berdiri di depan pintu apartemennya yang kecil, jauh dari kesan mewah kantor tempat mereka biasa bertemu. Tapi kemudian dia mengangguk, membuka pintu lebih lebar.

"Silakan, Pak. Maaf berantakan."

---

Apartemen itu tidak besar, tapi rapi dalam caranya sendiri—bukan minimalis kosong seperti penthouse Madoc, melainkan penuh dengan detail personal yang langsung menarik perhatiannya begitu dia melangkah masuk.

Satu dinding penuh dengan rak buku, mulai dari lantai sampai hampir ke langit-langit, berisi campuran buku psikologi, strategi bisnis, dan—yang membuat Madoc berhenti sejenak—beberapa novel fantasi tebal dengan sampul yang terlihat sudah dibaca berkali-kali.

"Kamu suka baca novel fantasi?" tanyanya, tidak bisa menahan rasa penasaran, matanya masih tertuju ke rak buku itu.

Gwen mengikuti arah pandangannya, sedikit tersipu. "Iya, Pak. Guilty pleasure, sih. Gak pernah cerita di kantor karena kayaknya gak relevan sama image profesional."

"Kenapa harus disembunyiin?"

"Ya... orang-orang biasanya kaget kalau tau saya suka hal-hal kayak gitu. Kesannya gak nyambung sama kerjaan analitis yang biasa saya lakuin."

Madoc menatap rak itu lebih lama, memperhatikan judul-judul yang tersusun rapi berdasarkan urutan seri, tanda dari seseorang yang benar-benar mencintai koleksinya, bukan sekadar memajang untuk gaya.

"Saya kira kamu cuma baca buku strategi," katanya, jujur, "ternyata lebih kompleks dari itu."

---

Di sudut ruangan, sesuatu yang lain menarik perhatiannya—sebuah meja kecil dengan papan catur di atasnya, posisi bidak-bidak yang tersusun seperti sedang di tengah permainan yang belum selesai.

"Kamu main catur?" tanyanya, mendekat, memperhatikan papan itu dengan seksama.

"Iya, Pak. Hobi dari kecil." Gwen ikut mendekat, meski masih terlihat sedikit lemas. "Itu permainan sama Nadya yang belum kelar dari minggu lalu."

"Kamu jago?"

"Lumayan," katanya, dengan senyum kecil yang terlihat bangga tapi tidak berlebihan. "Sering menang lawan Nadya, meski dia juga makin jago belakangan ini."

Madoc mengangkat salah satu bidak, memperhatikannya dengan seksama—kayu yang terasa berkualitas baik, bukan set catur murahan sekadar pajangan. "Saya gak pernah main catur."

"Serius? Gak pernah sama sekali?"

"Waktu kecil sempet diajarin, tapi gak pernah lanjut. Terlalu sibuk sama urusan lain."

Gwen menatapnya sejenak, ekspresinya berubah jadi lebih hidup, energi yang tadi terlihat lemah karena sakit sekarang sedikit kembali karena topik yang jelas dia sukai. "Mau saya ajarin, Pak? Gak susah kok kalau udah paham dasarnya."

---

Mereka duduk berdua di sofa kecil dekat meja catur itu, dan untuk setengah jam berikutnya, Gwen menjelaskan aturan dasar permainan dengan antusiasme yang jarang Madoc lihat sepanjang mereka bekerja bersama—cara setiap bidak bergerak, strategi dasar membuka permainan, pentingnya melihat beberapa langkah ke depan sebelum mengambil keputusan.

"Ini bishop," katanya, menunjuk salah satu bidak, "cuma bisa jalan diagonal. Kalau kamu bisa manfaatin gerakannya bareng sama rook, kombinasinya bisa kuat banget buat nyerang."

Madoc mendengarkan dengan seksama, memperhatikan cara matanya berbinar setiap kali menjelaskan sesuatu yang dia sukai, cara dia lupa sejenak soal rasa lelah dan sakit yang masih menyisakan pucat di wajahnya, tenggelam sepenuhnya dalam kegembiraan sederhana membagikan hobinya.

"Ini beda banget," katanya, tiba-tiba, tanpa sadar mengucapkannya keras-keras.

Gwen berhenti, menatapnya bingung. "Beda apanya, Pak?"

"Kamu," katanya, jujur, tidak sempat menyaring kata-katanya sebelum keluar. "Di kantor, kamu selalu fokus, efisien, gak banyak nunjukin emosi berlebihan. Tapi sekarang, ngomongin catur, kamu jadi... beda. Lebih semangat."

Gwen tersipu sedikit, tidak sepenuhnya tahu harus merespons apa. "Ya, ini kan hobi, Pak. Wajar kalau lebih ekspresif kalau ngomongin sesuatu yang disukai."

"Saya suka versi ini," katanya, sebelum sempat berpikir dua kali, dan begitu kalimat itu keluar, dia sendiri sedikit kaget dengan kejujuran yang tanpa sengaja terlontar.

---

Keheningan sejenak mengisi ruangan itu, dan Gwen menatapnya, sedikit bingung dengan nada kalimat itu yang terasa lebih personal dari yang biasa dia dengar dari atasannya.

"Maksud Bapak?" tanyanya, mencoba mencari klarifikasi.

Madoc, menyadari dia hampir kelewat batas, buru-buru mencari cara untuk menetralkan kalimatnya. "Maksud saya, ini bagus buat kamu punya hobi di luar kerjaan. Kadang orang yang terlalu fokus kerja lupa punya keseimbangan hidup."

"Oh." Gwen mengangguk, menerima penjelasan itu apa adanya, tidak menangkap makna lain yang mungkin tersembunyi di baliknya. "Iya, Pak. Ini semacam pelarian saya kalau lagi stres kerjaan."

"Bagus," kata Madoc, lega karena kalimatnya berhasil dinetralkan, meski jauh di dalam hatinya, kekaguman yang baru saja tumbuh terhadap sisi lain Gwen—sisi yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan spreadsheet, strategi bisnis, atau laporan kerja—terasa jauh lebih dalam dari yang bisa dia jelaskan lewat alasan sesederhana "keseimbangan hidup".

Dia menatap papan catur di depannya, memikirkan betapa dia baru saja melihat versi Gwen yang mungkin tidak banyak orang lain tahu—seseorang yang menyimpan novel fantasi di rak bukunya, yang matanya berbinar saat menjelaskan strategi catur, yang tersenyum tulus tanpa perlu menjaga image profesional yang biasa dia tunjukkan di kantor.

Dan semakin lama dia duduk di ruangan kecil itu, semakin dia sadar betapa perasaannya terhadap Gwen bukan lagi sekadar kekaguman terhadap kompetensi kerjanya—tapi kekaguman yang jauh lebih personal, terhadap seseorang yang, di balik semua profesionalisme dan efisiensi kerjanya, ternyata punya dunia sendiri yang penuh warna, yang baru saja dia dapat kesempatan untuk intip sedikit.

---

"Bapak harus pulang, kayaknya," kata Gwen, setelah beberapa saat, melirik jam yang sudah menunjukkan hampir jam tujuh malam. "Saya gak enak udah ngerepotin waktu Bapak."

"Gak ngerepotin," katanya, meski dia tahu waktunya memang sudah cukup lama untuk sekadar "cek kondisi kerja tim". "Kamu istirahat aja. Jangan mikirin kerjaan dulu sampe bener-bener sehat."

"Siap, Pak. Makasih udah dateng."

Madoc berdiri, berjalan menuju pintu, tapi berhenti sejenak sebelum benar-benar keluar, menoleh ke arah papan catur yang masih tersusun di meja.

"Kapan-kapan," katanya, "ajarin saya lebih lanjut? Kayaknya menarik juga."

Gwen tersenyum, tulus, tidak menangkap makna lebih dalam dari permintaan itu selain sekadar minat baru dari atasannya. "Boleh, Pak. Kapan aja."

Dia keluar dari apartemen itu dengan perasaan yang sulit dia jelaskan—campuran antara bahagia karena berhasil melihat sisi Gwen yang belum pernah dia lihat sebelumnya, dan kesadaran baru bahwa perasaannya terhadap wanita itu sudah jauh melampaui apa pun yang bisa dia sebut sekadar kekaguman profesional biasa.

Sepanjang perjalanan pulang, dia terus memikirkan papan catur itu, rak buku penuh novel fantasi, dan cara mata Gwen berbinar ketika bicara soal sesuatu yang benar-benar dia cintai—detail-detail kecil yang, satu per satu, terus menambah lapisan baru pada perasaan yang sudah lama dia coba pahami sendiri, tapi baru sekarang benar-benar terasa begitu dalam dan begitu personal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!