Miskin seumur hidup, ia bahkan harus mengakhiri hidupnya karena penyakit yang tak mampu ia obati.
Namun, ketika membuka mata, ia justru mendapati dirinya telah masuk ke dalam novel sebagai seorang wanita yang baru saja melompat dari sebuah gedung demi melarikan diri dari pernikahan perjodohan.
Seharusnya ia ikut kabur.
Tapi setelah mengetahui bahwa pria yang akan menjadi suaminya adalah seorang pewaris kaya raya, pikirannya berubah.
“Melarikan diri? Untuk apa? Bukankah lebih baik aku menikah dan hidup nyaman?”
Kini, ia bertekad mempertahankan pernikahan yang bahkan tidak diinginkan oleh pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Angin sore berembus lembut di taman ketika langkah Sebastian terdengar mendekat. Pria itu baru saja pulang dari kantor, jas hitamnya masih rapi meski dasi sudah sedikit dilonggarkan, seakan melepaskan sebagian beban hari itu. Saat melihat Elena yang berdiri diam dengan wajah serius, langkahnya perlahan melambat.
“Ada apa?”
Elena tidak langsung menjawab. Matanya menatap wajah pria itu, berusaha membaca sesuatu di balik ekspresi yang begitu tenang. Namun Sebastian Hale terlalu pandai menyembunyikan pikirannya.
“Kau sudah pulang,” ucapnya akhirnya pelan.
Sebastian mengangguk. “Ya.” Tatapannya beralih ke cangkir teh yang masih utuh di meja. “Kau belum makan?”
“Sudah.”
“Benarkah?”
Elena mengangguk kembali. Sebastian berjalan mendekat, lalu duduk di kursi di hadapannya.
“Kau terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat.”
Elena terdiam. Haruskah ia bertanya sekarang? Suara pria misterius yang menelepon kemarin masih terngiang jelas di telinganya. Tanyakan padanya tentang perjanjian antara keluarga Hale dan keluarga Arvienne. Jari-jarinya mencengkeram ponsel erat-erat.
“Sebastian.”
“Hm?”
“Bolehkah aku bertanya sesuatu?”
“Tentu.”
Elena menarik napas pelan. “Apakah… keluargamu pernah membuat perjanjian dengan keluargaku?”
Dalam sekejap, tatapan Sebastian berubah. Sangat cepat, hanya sepersekian detik, namun Elena sempat menangkapnya dan jantungnya seketika berdegup lebih kencang. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi, menatapnya lekat-lekat.
“Siapa yang memberitahumu?”
Jawaban itu sudah cukup menjadi bukti. Elena menelan ludah. “Jadi memang ada sesuatu.”
“Jawab saja pertanyaanku, Elena.”
“Jadi benar?”
Sebastian terdiam cukup lama, hingga hening di antara mereka terasa begitu berat. “Memang ada perjanjian antara kedua keluarga kita.”
Elena membeku. Meski sudah menduga, mendengar pengakuan itu secara langsung tetap membuat dadanya terasa sesak. “Perjanjian apa?”
“Itu urusan bisnis keluarga.”
“Kalau begitu, kenapa aku tidak tahu?”
“Karena itu tidak ada hubungannya denganmu.”
Elena tertawa kecil, namun suaranya terdengar getir. “Tidak ada hubungannya denganku? Aku istrimu, Sebastian.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa aku tidak boleh tahu alasan sebenarnya kau menikahiku?”
Sebastian ikut berdiri, menatapnya setara. “Karena aku tidak menikahimu demi perjanjian itu.”
Elena tertegun. “Lalu demi apa?”
Pertanyaan itu menggantung di udara, tertahan di antara hembusan angin sore. Sebastian membuka mulutnya, namun tak ada kata yang keluar.
“Aku akan menjelaskan semuanya,” ucapnya akhirnya.
“Kapan?”
“Ketika waktunya tepat.”
Elena mengerutkan kening, kecewa. “Selalu begitu. Kau selalu bilang akan menjelaskan nanti. Kalau memang tak ada yang disembunyikan, kenapa harus menunggu?”
Sebastian menatapnya dalam, berusaha menahan diri agar tidak membocorkan semuanya. Ia ingin bercerita tentang kesepakatan kedua keluarga, tentang kondisi keuangan keluarga Arvienne yang nyaris runtuh, tentang alasan pernikahan mereka harus dipercepat. Namun ada satu hal yang belum bisa ia ucapkan. Belum saatnya.
“Aku hanya tidak ingin kau terbebani,” ucapnya pelan.
“Aku bukan anak kecil, Sebastian.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu, jangan perlakukan aku seperti itu.”
Elena berbalik hendak pergi, namun tangan Sebastian tiba-tiba meraih pergelangannya dengan lembut namun tegas. “Elena.”
Langkahnya terhenti. Ia perlahan menoleh. Tatapan Sebastian begitu tulus, begitu serius.
“Aku tidak pernah menyesal menikahimu.”
Jantung Elena berdegup kencang. “Benarkah?”
“Benar. Dan apa pun alasan yang membawa kita ke pernikahan ini… aku tidak akan pernah mengubah keputusanku.”
Elena menatapnya lama, mencoba memahami setiap kata yang diucapkannya. Perlahan ia melepaskan tangannya. “Baik.” Tanpa kata lain, ia berjalan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Sebastian yang masih berdiri di taman, menatap punggungnya dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan.
...tp trus lanjuuut💪💪😘😘