Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Di ruang kunjungan kantor polisi Bali, suasana terasa begitu mencekam dan sarat akan amarah.
Suara langkah kaki yang tergesa-gesa memecah keheningan koridor dingin tersebut.
Kedatangan kedua orang tua Gea dan Papa Hermawan, ayah Andrew, langsung disambut oleh raut wajah Gea yang pucat pasi dan berantakan di balik jeruji besi.
Ibu kandung Gea melangkah maju dengan napas memburu, matanya membelalak menatap putri kesayangannya yang kini meringkuk hina.
"Bodoh kamu, Gea!" bentak ibunya tanpa memedulikan tatapan para petugas di sekitar.
"Seharusnya kamu pakai cara yang halus! Kenapa harus seceroboh ini sampai ditangkap polisi dan mempermalukan keluarga?!"
Gea memegang besi sel dengan tangan gemetar, air matanya menetes deras.
"Ma, aku cuma ikuti perintah Mas Andrew... aku takut miskin"
Papa Hermawan, yang berdiri tegak dengan tongkat di tangannya, menatap wajah menantunya dengan tatapan dingin tanpa sedikit pun rasa simpati tersisa.
Kekecewaan mendalam dan harga diri yang hancur membuat wajah pria tua itu tampak keras membatu.
"Papa tidak bisa menolongmu," sahut Papa Hermawan dengan suara rendah namun tajam menghujam.
"Dan, Andrew akan menceraikanmu karena kamu gagal."
Kata-kata itu bagaikan petir di siang bolong bagi Gea.
Dunia seolah runtuh seketika di hadapannya.
Bayangan masa depan yang hancur dan status janda dari narapidana miskin menyergap pikirannya secara brutal.
"Pa! Aku tidak mau bercerai!! Tolong aku, Pa! Jangan tinggalkan aku di sini!!" jerit Gea histeris, jemarinya mencengkeram besi sel makin kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Namun, Papa Hermawan tidak memedulikan jeritan memelas itu sedikit pun.
Ia membalikkan badannya secara tegas, membelakangi Gea yang menangis meraung-raung.
Dengan langkah dingin dan penuh keangkuhan yang tersisa, Papa Hermawan meninggalkan penjara, membiarkan menantunya membusuk meratapi nasib di dalam sel tahanan.
Di luar gedung kantor polisi, angin pantai Bali berembus kencang, menampar wajah kedua orang tua Gea yang berdiri mematung di samping mobil mewah Papa Hermawan yang perlahan melaju pergi.
Papa Hermawan benar-benar meninggalkan mereka tanpa sisa harapan sedikit pun.
"Mama, bagaimana ini?" bisik ayah Gea dengan suara gemetar, wajahnya yang kelabu memancarkan keputusasaan mendalam.
"Andrew mau menceraikan Gea, dan David tidak akan pernah melepaskan kita. Bisnis keluarga kita bisa runtuh sepenuhnya!"
Ibu Gea meremas tas tangannya dengan amarah yang memuncak. Wajahnya yang dipenuhi riasan tebal kini mengeras penuh dendam.
"Ini semua gara-gara Mili! Anak tak tahu diri itu pasti yang menghasut David untuk menghancurkan Gea! Dia tidak boleh bahagia di atas penderitaan adiknya sendiri!"
"Ma, jangan gila! David, bukan orang yang bisa kita lawan!" seru suaminya menahan lengan istrinya.
"Aku tidak peduli!" potong Ibu Gea melengking.
"Kalau Gea harus membusuk di penjara, Mili juga tidak boleh hidup tenang!"
Sementara itu, di lokasi proyek resor mewah di kawasan Uluwatu, suasana sangat bertolak belakang.
Angin laut membawa aroma segar saat helikopter pribadi David mendarat mulus di helipad area pembangunan yang menghadap langsung ke tebing dan samudera luas.
David melangkah keluar dari helikopter, mengenakan jas mewahnya yang kini dilepas kancing atasnya, memancarkan pesona dominan yang maskulin.
Tangannya tidak pernah melepaskan genggaman jemari Mili yang tampil begitu anggun dan memesona dengan gaun biru mudanya.
Para arsitek, investor, dan jajaran direksi proyek yang sudah menunggu langsung menunduk hormat saat David mendekat.
"Selamat pagi, Tuan David, Nyonya Mili. Semua persiapan peninjauan lokasi tahap pertama sudah siap," lapor kepala arsitek penuh kehati-hatian.
David hanya mengangguk dingin, matanya beralih menatap Mili dengan kelembutan yang sangat kontras dari auranya yang menakutkan.
"Kamu suka pemandangannya, Sayang?"
Mili menatap hamparan laut biru lepas dari atas tebing, terpesona oleh keindahan alam Bali.
Senyum manis terukir di bibirnya. "Indah sekali, David. Ini luar biasa."
David mendekatkan bibirnya ke telinga Mili, berbisik penuh intonasi posesif, "Resor ini dibangun atas namamu, Mili. Seluruh tempat ini... milikmu."
Mili menatap David dengan mata berbinar terkejut, antara tidak percaya dan terharu mendengar pernyataan suaminya.
Pemandangan tebing megah dan samudera luas di hadapannya mendadak terasa begitu berharga, namun besarnya hadiah ini tetap membuat dadanya berdebar pesat.
"David, apa ini tidak berlebihan?" bisik Mili pelan, melirik malu ke arah jajaran direksi dan arsitek yang berdiri tak jauh di belakang mereka, berpura-pura sibuk memeriksa denah demi memberi ruang pribadi untuk sang CEO.
David menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kehangatan mutlak.
Ia menarik pinggang Mili lebih rapat, melingkarkan lengannya di perut sang istri dan mendaratkan dagunya di bahu mulus Mili tanpa memedulikan tatapan segan dari para bawahannya.
"Tentu saja tidak, Sayang. Ini hadiah karena kamu tidak takut dengan monster," balas David dengan suara berat nan rendah, tepat di samping telinga Mili.
Mili tertawa kecil, memiringkan kepalanya dan menyentuh rahang tegas David yang terasa hangat.
"Kamu bukan monster, David. Kamu suamiku."
"Hanya untukmu, Mili. Hanya di depanmu aku menjadi manusia biasa," bisik David penuh intonasi posesif, meremas pelan pinggang istrinya.
"Tempat ini akan menjadi milikmu sepenuhnya. Dan siapa pun yang berani mengusikmu—termasuk keluargamu yang serakah itu—akan kupastikan hancur tanpa sisa."
Mili mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya di dada bidang David.
Di atas tebing Bali yang indah itu, rasa aman melingkupi hatinya sepenuhnya, menyadari bahwa tak ada satu pun ancaman yang mampu menembus benteng perlindungan pria yang amat mencintainya ini.
Setelah menyelesaikan peninjauan lokasi proyek, David tidak membiarkan istrinya kelelahan lebih lama.
Ia langsung mengajak Mili meninggalkan area pembangunan menuju sebuah restoran gourmet eksklusif di tepi tebing Uluwatu untuk makan siang.
Restoran tersebut telah dikosongkan sepenuhnya atas perintah Jonas, menyajikan pemandangan spektakuler Samudera Hindia dari ketinggian tanpa ada gangguan dari pengunjung lain.
"Aku tahu kamu belum sempat sarapan dengan benar tadi pagi," ujar David seraya menarikkan kursi untuk Mili dengan penuh perhatian, membiarkan angin laut bertiup lembut memainkan helai rambut istrinya.
Mili duduk anggun dengan gaun biru mudanya, menatap deretan hidangan laut segar dan sajian internasional terbaik yang sudah tertata rapi di atas meja.
"Kamu selalu tahu cara memanjakanku, David," ucap Mili dengan senyum manis, matanya berbinar menatap suaminya yang kini duduk di hadapannya.
David menyesap wine merahnya perlahan, menatap Mili dengan pandangan penuh intensitas dan kepemilikan.
'Tugasku di dunia ini hanya dua, Mili: menghancurkan siapa pun yang berani menyakitimu, dan memastikan kamu mendapatkan semua kebahagiaan di dunia."
Mili tertawa kecil, mengambil garpunya dan menyuapkan sepotong hidangan ke mulutnya.
"Kalau begitu, mulailah dengan menghabiskan makan siang ini bersamaku tanpa membahas soal pekerjaan atau keluarga gila itu lagi."
"Sesuai perintahmu, Nyonya David," balas David dengan terkekeh rendah, menyunggingkan senyum hangat yang hanya ia persembahkan khusus untuk wanita di hadapannya.