Alya adalah Ratu mafia yang memimpin sebuah organisasi Order Tabir Hitam dengan nama First Order.
Tapi sayangnya ia mencintai pria kantor biasa saat ia sering menjelajahi tempat yang akan menjadi misinya.
Dan saat itulah ia memutuskan untuk keluar dari dunia hitam dan membuang mahkotanya ke dalam lumpur demi bisa menjalani hidup bahagia bersama sang suami.
Sayangnya pernikahan itu tidak berlangsung lama, mertua tidak menyukainya, dan suaminya menikah dengan manager di tempat kerjanya.
Pembalasan di mulai, Alya kembali mengambil mahkotanya dan menjadi Ratu Mafia kembali dan membawa putri kecilnya menjadi orang ternama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
"M-maksud kamu apa?!" pekik Ranti tak percaya. "Kamu kan dibayar sama keluarga Gunawan!"
"Mau bagaimana lagi Nyonya, biaya jasa saya sudah dihentikan. Saya ke sini hanya untuk menyerahkan surat pemutusan hubungan kerja dan menyarankan satu hal..."
Hendra melangkah lebih dekat, menatap Ranti tepat di matanya. "Jangan pernah berpikir untuk membalas dendam. Tuan Andi di dalam sana masih bernapas hanya karena orang itu masih bermurah hati menyisakan nyawanya. Jika Anda makin berulah, seluruh sisa keluarga ini akan lenyap tanpa jejak."
Ranti bungkam, tangannya bergetar makin hebat hingga meremas kertas di genggamannya.
Sebelum Ranti sempat meluapkan amarahnya, pintu ruang tindakan terbuka. Dokter bedah keluar seraya melepas masker medisnya.
"Ibu, suami Ibu ini harus segera dioperasi. Saya minta tanda tangan dan izin dari keluarganya," kata dokter tersebut dengan raut wajah tegang.
"Ba-baik, Dokter. Saya akan tanda tangan," kata Ranti mengangguk pelan sambil menyeka air matanya yang terus menetes.
"Sekalian urus administrasinya ya, Bu, agar operasinya berjalan dengan lancar dan bisa segera dijadwalkan," kata dokter itu lagi.
"Baik, Dokter," angguk Ranti lagi, suaranya sangat lirih.
Dokter itu mengangguk lalu berjalan menuju meja perawat. Ranti berbalik menatap Pengacara Hendra dengan mata memerah dan penuh keputusasaan.
"Pak Hendra... tolong saya..." bisik Ranti, merendahkan seluruh harga dirinya. "Gunakan simpanan aset kantor untuk bayar operasi Andi... Tolong..."
Hendra menggelengkan kepala. "Saya tidak bisa, Nyonya. Seluruh rekening Tuan Andi sudah dikunci oleh konsorsium milik orang itu. Jangankan untuk biaya operasi ratusan juta, untuk membayar kamar malam ini pun Anda harus menggunakan uang dari dompet Anda sendiri."
"Bagaimana mungkin?!" jerit Ranti histeris. "Lalu bagaimana dengan suami saya?! Dia bisa membusuk kalau tidak dioperasi!"
"Itu konsekuensi dari tindakan kalian," sahut Hendra tanpa rasa iba. Ia berbalik dan melangkah pergi menyusuri koridor rumah sakit, meninggalkan Ranti yang berdiri mematung di tengah kepungan bau karbol yang menyengat.
Raya yang sejak tadi bersembunyi di balik gaun ibunya menarik-narik ujung baju Ranti sambil menangis sesenggukan.
"Mama... Papa kenapa? Kenapa Papa nggak bangun-bangun?" kata Raya ketakutan. "Raya lapar, Ma... Raya mau pulang ke rumah kita..."
Ranti merosot terduduk di lantai koridor rumah sakit yang dingin. Ia memeluk Raya erat-erat, meratapi kemalangannya.
"Siapa sebenarnya orang itu yang terus disebutkan Hendra?!" bisik Ranti histeris pada dirinya sendiri. matanya menatap liar ke sekeliling koridor rumah sakit yang sepi.
Ia berpaling, menatap nanar ke arah jendela kaca kamar perawatan. Di dalam sana, Andi terbaring lemah.
Selang oksigen terpasang di hidungnya, dadanya naik turun tak teratur, dan tubuhnya dibalut perban tebal dari dada hingga kaki.
Andi adalah satu-satunya orang yang tahu persis apa yang sebenarnya terjadi malam itu, siapa orang-orang yang menyerangnya dan siapa sosok mengerikan yang memerintahkan semua ini.
Ranti melangkah mendekati calon suaminya, menempelkan telapak tangannya yang gemetar pada kaca dingin yang memisahkan mereka.
"Bangun, Andi... Tolong bangun..." bisik Ranti dengan air mata yang menetes deras di pipinya. "Katakan padaku siapa yang melakukan hal keji ini padamu! Katakan kalau semua ini bukan karena Alya! Tolong jawab aku, Andi!"
...⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️...