Bagi Jema (24 tahun), hidup ini hanya tentang bau oli, tagihan listrik, dan obat Ibunya yang mahal. Lulusan S1 Elektro yang terpaksa jadi montir ini punya hati sedingin es dan tidak punya waktu untuk urusan cinta.
Sampai akhirnya, Maikel (18 tahun) datang mengacaukan segalanya.
Ceria, berisik, dan kaya raya. Bocah SMA bad boy itu sengaja merusak mobil sport mewahnya berkali-kali hanya agar punya alasan sah untuk menggoda Jema di bengkel.
Jema mati-matian menjaga jarak. Baginya, Maikel hanyalah gangguan berisik. Namun, saat Maikel pelan-pelan menyusup ke titik paling rapuh di hidup Jema, benteng pertahanan itu mulai goyah.
Sanggupkah Jema mengabaikan perbedaan usia enam tahun dan jurang status sosial di antara mereka? Apalagi ketika dunia remaja Maikel yang liar mulai menyeret hidup Jema ke dalam bahaya.
"Gue punya alasan sah buat ngerusak mobil gue tiap hari, biar bisa dapet servis dari montir pribadi hati gue." — Maikel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERSIAPAN UNTUK HARI JADI TUAN MUDA
Sinar matahari pagi baru saja menyentuh pekarangan rumah sederhana kami ketika suara ketukan di pintu depan memecah keheningan. Aku yang baru selesai menyetrika seragam teknisi abu-abu PT Purna Jaya segera melangkah ke depan dan membuka daun pintu.
Seorang pria berjaket kurir berdiri di sana sambil memegang sebuah kotak besar berwarna putih gading dengan pita satin emas yang mengikatnya rapi.
"Selamat pagi. Benar dengan Mbak Jema Juvita?" tanya kurir itu ramah.
"Iya, benar. Dari siapa ya, Mas?" tanyaku bingung sembari menerima kotak yang terasa cukup berat itu.
"Di sini tertulis dari pengirim anonim, Mbak. Silakan tanda tangan di sini," ujarnya menyodorkan papan digital. Setelah proses selesai, kurir itu pamit pergi.
Aku membawa kotak mewah itu masuk ke ruang tamu dengan kening berkerut dalam. Aku meletakkannya di atas meja kayu kecil, lalu perlahan membuka ikatan pitanya. Begitu tutup kotak terangkat, mataku langsung membelalak lebar.
Di dalam kotak itu, terbaring sebuah gaun malam berwarna biru dongker satin yang sangat elegan. Potongannya modern, tidak terlalu terbuka namun memancarkan kesan anggun kelas atas. Tidak hanya gaun, di bawahnya terdapat sebuah tas genggam (clutch) senada dan sekotak aksesori anting mutiara yang berkilau indah.
Di sudut kotak, terselip secarik kertas kecil dengan tulisan tangan yang agak berantakan. Aku mengambilnya dan membaca baris kalimat di sana:
“Dipakai ya, Kak. Dandan yang cantik, malam ini jam tujuh tepat gue jemput. Jangan pasang muka singa betina pas gue dateng nanti malam 😜 — Murid Tergantengmu, Maikel.”
Bibirku refleks menyunggingkan senyum tipis, dan dadaku kembali berdesir aneh. Bocah itu benar-benar tidak pernah kehabisan cara untuk membuatku mati kutu.
"Jem... itu paket apa? Besar sekali kotak jinjingannya?"
Suara Ibu memotong lamunanku. Beliau berjalan perlahan dari arah dapur dengan memegang secangkir teh hangat, menatap kotak mewah di atas meja dengan kening berkerut heran.
Aku agak gugup, buru-buru merapikan kembali kertas pesan dari Maikel ke dalam saku celanaku.
"Eh, ini Bu... ada paket kiriman dari Maikel."
"Dari Nak Maikel?" Ibu meletakkan cangkirnya, lalu melangkah mendekat untuk melihat isi kotak tersebut. Mata tua Ibu sempat berbinar kagum melihat keindahan gaun di dalamnya.
"Ya ampun, gaunnya bagus sekali, Jem. Bahannya halus. Nak Maikel ngirim gaun semewah ini buat apa?"
Aku menghela napas pelan, mencoba menetralkan degup jantungku.
"Kemarin malam pas belajar, Maikel ngasih undangan, Bu. Nanti malam dia merayakan ulang tahunnya yang ke-19. Dia minta banget Jema dateng ke acaranya, makanya dia sengaja ngirim gaun ini karena tahu Jema enggak punya baju pesta."
Ibu terdiam sejenak, menatap gaun itu lalu beralih menatap wajahku dengan sorot mata keibuan yang teramat dalam. Ada jeda keheningan yang sempat membuatku khawatir jika Ibu akan melarangku pergi karena masalah batasan usia yang dibahas kemarin.
Namun, Ibu justru mengulas senyum hangat dan mengangguk pelan. "Ya sudah, kalau begitu kamu datang ya, Jem. Hadirlah dengan baik di sana."
Aku mengerjapkan mata, sedikit terkejut. "Ibu... izinin Jema pergi?"
"Tentu saja," sahut Ibu lembut, mengusap bahu kemeja kerjaku.
"Nak Maikel sudah sangat baik sama keluarga kita. Menolak undangannya di hari pentingnya justru akan kelihatan kasar. Tapi ingat pesen Ibu, Jem. Datanglah ke sana dengan sikap yang anggun, layaknya seorang wanita dewasa dan seorang guru les privat yang terhormat. Jaga batasan kamu di depan keluarganya."
"Iya, Bu. Jema pasti bakal jaga sikap di sana," jawabku mantap, merasa lega karena mendapatkan restu dari Ibu.
"Oh iya, satu lagi," Ibu menepuk dahinya pelan, teringat sesuatu.
"Kamu jangan datang dengan tangan kosong. Bagaimanapun juga dia yang punya acara. Belikan dia kado ulang tahun yang pantas juga, ya? Pakai sisa uang tabungan kamu dulu."
Aku menepuk jidatku sendiri. Astaga, benar juga! Saking paniknya memikirkan gaun dan pesta mewah keluarga Bach, aku sampai lupa memikirkan hadiah untuk bocah keras kepala itu.
"Iya, Bu! Untung Ibu ingetin. Nanti pas jam istirahat kantor atau pas pulang kerja, Jema bakal mampir ke pusat perbelanjaan sebentar buat cari kado," ujarku bersemangat sembari melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit.
"Aduh, Jema harus berangkat sekarang, Bu, takut telat absen di workshop."
Aku meraih tas kerjaku, lalu mencium punggung tangan Ibu dengan takzim.
"Jema berangkat kerja dulu ya, Bu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan ya, Nak. Pikirkan kado yang bagus buat Nak Maikel," pesan Ibu mengiringi langkah lebarku yang keluar melintasi pintu pagar.
Sembari berjalan menuju halte angkutan umum, pikiranku mulai berputar aktif. Kado apa yang cocok untuk seorang anak muda sekaya Maikel? Dia punya segalanya, mobil sport mewah pun ada. Membelikannya barang mahal jelas bukan tandinganku. Aku harus mencari sesuatu yang berharga, bermakna, dan... khas seorang Jema Juvita.
Waktu pun berlalu, jarum jam sudah menunjukan Pukul dua belas siang tepat, sirine tanda istirahat workshop PT Purna Jaya berbunyi nyaring.
Aku meletakkan tang potong dan menyeka sisa peluh di dahiku. Pikiranku masih buntu memikirkan kado ulang tahun untuk Maikel. Sambil melangkah menuju loker karyawan bersama Revan, aku memutuskan untuk membuka suara.
"Van," panggilku sembari membuka pintu loker abu-abuku.
"Gue boleh nanya sesuatu enggak? Agak di luar urusan kelistrikan sih."
Revan yang sedang merapikan ikat pinggang seragamnya langsung menoleh, mengulas senyum ramah andalannya.
"Tanya aja kali, Jem. Serius amat mukanya. Mau nanya soal sensor ECU lagi?"
"Bukan," aku terkekeh pelan, lalu berdeham canggung. "Lu... punya adik enggak? Yang umurnya sekitar sembilan belas tahunan gitu?"
Revan menaikkan sebelah alisnya, tampak sedikit heran namun tetap menjawab cekatan.
"Punya. Adik bungsu gue cowok, pas banget umurnya emang sembilan belas tahun sekarang. Kenapa emangnya, Jem?"
"Nah, kebetulan banget!" aku langsung berbalik menghadapnya dengan binar mata antusias.
"Biasanya cowok seusia adik lu itu kalau ulang tahun suka dikasih hadiah apa sih, Van? Yang bermakna tapi fungsional gitu."
Senyum di wajah ramah Revan mendadak sedikit tertahan. Sepasang matanya memicing tipis, memancarkan raut rasa penasaran sekaligus ada riak sedikit cemburu yang amat samar yang tertangkap oleh radar fungsional batin kecilku.
Pria dua puluh lima tahun itu melipat tangan di dada.
"Hadiah? Buat cowok sembilan belas tahun? Siapa yang ulang tahun, Jem? Lu... lagi deket sama cowok lain?"
"Eh, bukan begitu, Van!" ujarku setengah panik, buru-buru melambaikan tangan menolak asbuntunya.
"Itu... Maikel, murid les privat fisika dan matematika yang sering gue ceritain ke lu. Kebetulan nanti malam dia merayakan ulang tahunnya yang ke-19, dan Ibu gue nyuruh gue bawa kado sebagai tanda terima kasih."
Mendengar penjelasanku bahwa itu hanya untuk murid lesnya, ketegangan di bahu tegap Revan perlahan mengendur, meskipun tatapan penasarannya tidak sepenuhnya hilang.
Pria itu mengembuskan napas pendek, lalu menjentikkan jarinya.
"Oh, anak SMA yang lu lesin itu? Oke, kalau cowok seumuran segitu mah biasanya suka yang kasual tapi keren. Gimana kalau kita cari jam tangan? Kebetulan di pusat perbelanjaan seberang jalan ada toko jam yang bagus. Yuk, gue temenin cari sekarang!"
"Eh, beneran, Van? Enggak merepotkan lu nih?" tanyaku merasa tidak enak.
"Enggaklah, kayak sama siapa aja. Ayo keburu jam istirahatnya habis," sahut Revan manis, langsung berjalan menuntunku keluar area workshop.
Dua puluh menit kemudian, kami sudah berdiri di depan etalase kaca sebuah toko jam tangan bermerek di dalam diler perbelanjaan kompleks. Setelah memilah beberapa pilihan atas saran taktis dari Revan, pilihanku akhirnya jatuh pada sebuah jam tangan sport kasual berwarna hitam legam dengan aksen siling perak yang gagah.
"Mbak, saya ambil yang ini ya. Tolong dibungkus kado," ujarku pada pelayan toko.
Saat pelayan itu menyebutkan nominalnya di kasir, aku menarik dompetku dengan napas yang agak tertahan. Harganya sekitar dua juta rupiah. Bagi seorang pewaris Bach yang punya segalanya, angka dua juta mungkin tidak ada seberapa harganya.
Namun bagiku, uang dua juta dari sisa tabungan daruratku ini sudah terasa teramat sangat mahal dan menguras dompet. Aku hanya bisa berdoa dalam hati semoga bocah SMA keras kepala itu menghargai peluh keringatku di jam tangan ini.
Begitu kami keluar dari toko membawa kantong kertas kado, Revan menatapku dengan kening berkerut dalam penuh selidik.
"Jem, lu serius ngasih jam semahal itu untuk anak itu?" tanya Revan keheranan, nadanya terdengar agak keberatan melihatku mengeluarkan uang sebanyak itu untuk seorang murid les.
Aku tersenyum kecut, menyandarkan kantong kado itu di pelukan dadaku.
"Iya, Van. Harus sebanding. Soalnya... dia itu anak orang kaya. Gak mungkin kan gue dateng ke pesta mewahnya terus cuma kasih kado murah yang harganya puluhan ribu? Gengsi dong."
Revan terdiam sejenak, menatapku lurus-lurus sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang dan mengangguk paham.
"Iya sih, masuk akal juga. Anak orang kaya zaman sekarang seleranya emang tinggi-tinggi. Tapi lu beneran baik banget ya jadi guru les."
"Ini murni profesionalitas dan tata krama, Van," sahutku tegas sembari melirik jam di pergelangan tanganku.
"Aduh, sudah jam satu kurang sepuluh menit. Yuk, buruan kita balik ke tempat kerja sebelum Pak Yusuf nyariin obeng!"
"Hahaha, siap, Karyawan Tetap!" gurau Revan, mencoba mencairkan sisa kecemburuan tipisnya. Kami berdua pun setengah berlari melangkah lebar kembali menuju ruang epoksi abu-abu workshop PT Purna Jaya, bersiap menuntaskan sisa pekerjaan siang itu dengan ritme yang taktis.